Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 50. Tujuh Tahun Kemudian


__ADS_3

Masih dini hari ketika Mami mengajak anak-anaknya kembali ke Jakarta. Lajeni dan seorang karyawan dari kantor yang mengurus semua urusan kepulangan Mami dan anak-anaknya. Lajeni menjemput dan membawa mereka ke dermaga. Karena Mami keberatan dengan buruk serta sulitnya jalan yang menuju ke bandara. Lajeni akhirnya  memesan tiket kapal laut, itu atas persetujuan Mami. Mardo dan Pat hanya menurut saja. Sekali lagi sebelum naik ke kapal. Mardo menatap kota eksotik, begitu banyak kenangan yang manis dan lucu. Bahkan di kota eksotik hatinya telah tersentuh seorang pria. Begitu mengesankan  dan menyentuh. "Kak Raka, selamat tinggal."


Gadis itu mengigit bibirnya menahan air mata yang berjatuhan. Yah, ia masih sangat muda, seperti kata Papi ia harus belajar dengan giat untuk menggapai cita-citanya. Mardo membalikkan tubuhnya meninggalkan semua kenangan di kota eksotik.


***


Tujuh Tahun Kemudian


Perempuan muda itu menatap sebuah gedung di depannya. Ia tersenyum penuh harapan. Pak satpam menyambut dan menyilahkannya duduk untuk menunggu. Beberapa hari yang lalu Ia mendapatkan alamat kantor ini. Pak Usman bilang, ia bisa mencoba menawarkan naskahnya ke sebuah penerbit baru. Serta merta harapannya terkembang. Hampir sebulanan ini ia mondar mandir ke beberapa penerbit untuk menawarkan naskah novelnya. Tapi sejauh ini belum ada yang mau menerbitkan novelnya. Hingga ia bertemu dengan pak Usman, dan ia mendapatkan sebuah nama sekaligus juga alamatnya. Pak Usman adalah seorang editor di sebuah majalah wanita. Ia dan pak Usman sudah cukup lama bekerjasama.  Naskah-naskah cerpennya banyak dimuat di majalah tempat pak Usman bekerja. Beberapa tahun belakangan ia dan pak Usman selalu saling email yang berhubungan dengan  naskahnya. Pak Usman banyak membantunya memperbaiki tulisan, memberi ide hingga info-info cerpen yang diharapkan. Cerpen-cerpennya telah banyak merambah media di Jakarta. Ia sangat senang dan kemudian berpikir untuk lebih berkembang lagi, ia ingin ada penerbit yang menerbitkan novelnya.


"Bu, silahkan masuk."


Sebuah suara membuyarkan lamunannya, Ia cepat berdiri dan bergegas masuk ke sebuah ruangan.


"Assalamualaikum, selamat pagi," Perempuan itu menyapa sembari tersenyum.


"Waalaikumsalam, pagi. Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?"


Seorang perempuan muda, yang sangat cantik menyilahkannya duduk dan seolah mengatakan ia siap mendengarkan maksud kedatangannya.


"Terima kasih mba, perkenalkan saya, Triana. Saya mendapatkan nama dan alamat ini dari pak Usman yang editor majalah Kartika."


"Oh, iya iya."


Perempuan itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Saya ingin mengajukan naskah novel saya mba."


Perempuan bernama Triana tersebut mengeluarkan sebuah map berisi sinopsis naskahnya.


Sesaat mereka berbincang-bincang tentang dunia kepenulisan.


"Oh, ternyata mba Mardo juga suka menulis ya."


Triana menatap lekat-lekat wajah cantik dan lembut itu.


"Iya, saya suka menulis cerita anak, dunia mereka itu indah."


Saling mengangguk-angguk.

__ADS_1


Kemudian Mardo memberikan emailnya dan menyuruh Triana mengirimkan keseluruhan naskahnya. Ia akan mempelajari dan mempertimbangkan naskah Triana.


Mereka juga saling menyimpan nomer telepon, selanjutnya Triana berterima kasih dan pamit pulang.


Mardo mengantar keluar hingga pintu. Ia sekali lagi tersenyum pada Triana dan melambaikan tangan.


"Alhamdulillah ya Rabb, aku bertemu seseorang yang perhatian dan dia sangat cantik juga lembut, semoga ini pertanda baik."


Perempuan itu lalu memanggil taxi. Ia sangat terkesan dengan perempuan muda yang bernama Mardo Paristiowati, yang ternyata  adalah direktris dari perusahaan penerbitan itu.


Mardo, memasuki ruangannya. Ia memeriksa naskah Triana. Lalu tenggelam membacanya. Hingga bunyi handphone memanggil.


'Putri call'


"Hello, makan di mana say?"


"Di tempat yang paling enak dong, jemput ya."


"Ok say, tunggu aja ya, bentar lagi kita lewat kantor Loe."


"Siap say,"  Mardo memutuskan sambungan handphone, memasukkan hp ke tasnya.


Hampir setiap siang mereka bertemu dan janjian pergi sama-sama makan siang. Biasanya di mall-mall yang bertebaran di kota Jakarta itu. Karena setelah makan mereka pasti cuci mata. Melihat-lihat barang yang ekslusif dan cantik. Sampai-sampai terlambat kembali ke kantor.


Putri, sahabat sejak SMP, menjalin kembali pertemanan mereka saat Mardo kembali ke Jakarta tujuh tahun yang lalu. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan posisinya sebagai kepala sebuah divisi membuatnya memiliki banyak waktu. Kemudian Sashinata, juga teman SMP yang sama, dia  bekerja di sebuah koperasi sekolah. Dan seorang lagi yang bernama Emily, juga bekerja di sebuah perusahan join venture. Posisinya juga lumayan tinggi sehingga bisa mengatur waktunya sendiri.


'Tinnn! tinnn! tinnn!


Bunyi klakson membuat Mardo terlonjak, senyumnya melebar dan buru-buru  ke jalan dan naik ke bangku belakang. Giliran Sashinata yang membawa mobil menjemputi teman-temannya. Di sebelah Sashi duduk Putri yang menyambut kedatangan Mardo dengan godaannya, "Selamat datang bu direktris, silahkan masuk."


Mereka semua terkekeh, melihat bibir manyun Mardo. "Makasih bu presdir, sudah menjemput."


"Hah! masa presdir yang jemput gimana sih?" "


"Ini buatmu Do, produksi kami yang baru, icip-icip lumayan."


Emily memberi bungkusan pada Mardo, agaknya semua sudah mendapat bagian. Emily setiap ketemu pasti selalu membawa kotak holland bakery. Mereka semua menjadi akrab dengan holland bakery. Gara-gara si Emely sekarang di rumah mereka semua selalu ada kotak holland bakery. Bukan itu saja, sekarang orang tua mereka juga setiap ada acara menghubungi Emily. Coba bayangkan keuntungan Emily. Itu berkat sering-sering berbagi Holland bakery.


"Ada cafe baru, juga ada makanannya, kita cobain yuk."

__ADS_1


"Kita sih nurut aja sama tuan rumah."


Mereka keluar dari mobil dan memasuki sebuah mall yang megah.


"Tempatnya di lantai tujuh say.'


"Nggak apa-apalah, baru juga lantai tujuh."


"Iya yah he he he."


Gadis-gadis itu masuk ke dalam lift dan menunggu hingga tiba di  lantai tujuan.


Hamparan tempat minum dan makan di depan mereka.


Ramai dan banyak sekali. Ke empat gadis itu sampai bingung mencari cafe yang dimaksud.


Sashina dan putri berpegangan tangan menuju ke bagian kanan, menatapi nama-nama toko diatasnya. Sedang Emily dan Mardo mengikuti di belakang.  Sudah setengah yang dilewati, tempat yang dimaksudkan oleh Sashinata belum juga ketemu. Akhirnya gadis itu mendekati seorang satpam.


"Oh, di sana Non,  putar balik aja. nggak terlalu jauh kok."


Gadis-gadis itu terpaksa putar balik, dan akhirnya ketemu. Untung masih ada meja yang kosong. Mereka segera menempati meja tersebut. Seorang pelayan membawa daftar menu dan membagikannya pada keempat gadis itu yang sedang mencobai posisi duduk yang enak.


"Taro aja Mas." Kata Sashinata.


Selanjutnya gadis-gadis itu mulai melihat dan memilih menu.


 


 


Bersambung


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2