Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 250. Mengurus Pernikahan Bos


__ADS_3

Hari yang melelahkan gumam Prita. Ia bersiap pulang setelah menyelesaikan tugas-tugasnya.  Saat hendak memasuki lift ia berpapasan dengan bosnya yakni Boy Indra. Laki-laki itu mengerutkan keningnya dan menyuruhnya kembali. Terpaksa Prita berbalik.


"Pak Boy kemana saja? banyak yang ingin bertemu dan membuat perjanjian."


"He he, nanti kujelaskan."


Katanya santai sambil terus berjalan ke ruangannya. Prita mengambil berkas-berkas yang ia simpan dan membawanya ke ruangan direktur.


"Ini berkas laporan hasil meeting dengan klien."


"Taro saja di sana."


"Aku dan gadisku akan melangsungkan   pernikahan. Aku ingin kau membantuku dan Melani mempersiapkannya."


"Kapan? kok sepertinya tergesa-gesa."


Boy membalikkan tubuhnya dan mereka berhadap-hadapan.


"Tergesa-gesa katamu? kebetulan aku sudah menemukan seseorang yang membuatku cocok dan nyaman, tak masalah kan menilah lebih cepat, dari pada berhubungan belasan tahun namun berakhir menyedihkan. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi padaku."


"Jadi gadis itu telah membuat pak Boy mengambil keputusan untuk menikahinya?"


"Iya. aku yang memutuskan hal itu. Dan dia juga telah nyaman denganku."


"Siapa gadis itu? aku merasa kagum dengannya yang telah berhasil mencuri hati bos ku."


"He he he, seandainya kau tahu siapa dia, kau pasti merasa sangat beruntung dan berterima kasih padaku."


Prita membesarkan matanya.


"Apa maksudmu?"


"Agar lebih jelas, bagaimana kalau kita ke tempatnya."


Pak Boy meraih jaket di tempat duduknya dan mengajak Prita mengikutinya. Dan gadis itu tercekat sebab Boy mengajaknya ke cafe pria Idola.


Prita dan Boy memarkir kenderaan mereka bersisian. Lantas naik ke lantai dua.


"Kenapa mengajakku  ke sini? ini tempat..."


"Karena calon istriku bekerja di sini."


Prita penasaran dan akhirnya mengikuti saja direkturnya itu. Mereka menghenyakkan tubuh di sebuah bangku sofa di sudut ruangan. Boy mengeluarkan handphonenya dan menelpon seseorang. Seorang gadis cantik mendatangi mereka dan tersenyum sangat ceria.


"Hello, kalian ke sini? mau pesan apa nih?"


ia menyalami Boy dan Prita, jemarinya yang halus dan lembut menyentuh Prita.


"Aku ingin mengenalkan wakilku di perusahaan, Prita Pujaningrum,"


Gadis itu memandang pada Prita dan keduanya saling melemparkan senyum.


"Aku memintanya membantu persiapan pernikahan kita yang akan sangat meriah dan spektakuler, aku tak ingin kau lelah sebab itu aku meminta Prita mengurus semuanya.  Dia seorang yang sangat handal."


Prita mendengarkan saja kata-kata Boy, ia memang memiliki pengalaman di sebuah EO terkenal di kota Semarang. Ia ikut membantu pesta pernikahan seorang artis.


"Memangnya kalian menikah kapan?"

__ADS_1


Sedari tadi, pak Boy belum memberitahu kapan ia dan gadis itu menikah. Membuat Prita penasaran.


"Bulan Juli."


"Hah Juli?"


Prita menekap mulutnya, kenapa bisa secepat itu.


"Sebab itu, kami ingin kau membantu kami."


Gadis itu terdiam seribu bahasa. Dia sendiri juga sedang mengurus pernikahannya  sendiri. Ia tengah berpikir untuk menerima atau menolak. Tetapi ia tau sifat Boy yang tak suka jika ia mengabaikan permintaannya.


"Aku akan mempertimbangakannya."


"Bukan sesuatu yang sulit, kau hanya menjadi koordinator saja, aku sudah menghubungi sebuah eo yang mengurusi semuannya. Mereka semua akan menghubungimu untuk keperluan pesta tersebut."


"Iya, aku mengerti, tetap saja aku minta waktu. Jangan sampai mengecewakan."


"Tidak akan, nanti jika kau menikah pasti aku dan Melani juga akan membantumu. Saat ini aku hanya ingin seseorang yang sangat kupercaya mengurus pernikahanku."


Prita bingung sekali, Boy mendesaknya. Ia berpikir akan membicarakannya dengan Rakasiwi. Akhirnya Boy memberinya waktu hingga besok sorenya. Mereka kemudian berpisah. Ia menyempatkan diri mampir di kediaman Rakasiwi. Cindy menyambutnya ramah dan memanggilkan kakaknya di kamar atas.


"Hello sayang, pantas saja hatiku berdebar dari tadi. Rupanya calon istriku yang datang."


"Ada yang ingin kubicarakan!."


Prita mengatakannya saat ia telah duduk bersisian dengan Rakasiwi. Cindy membawakan minuman hangat untuk sang calon kakak ipar. Prita mengucapkan banyak terima kasih dan mengihrup minumannya.


"Bos ku pak Boy."


"Dia kenapa?"


"Dia ingin menikahi pegawaimu yang di cafe."


Rakasiwi terkejut, wajahnya tampak terperangah.


"Namanya Melani."


"Apa? Melani."


Rakasiwi menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ia cukup terkejut oleh berita itu.


"Dia manager marketing di kantorku, mereka kok bisa tiba-tiba bertunangan dan menikah."


Keduanya sama-sama bingung menghadapai persoalan itu. Tetapi Rakasiwi sama sekali belum mendapat pemberitahuan dari Melani dan memutuskan menunggu. Ia belum bisa memberi persetujuan Prita untuk terjun di pernikahan Boy dan Melani.


Sementara Boy dan Melani yang melihat keraguan di dalam diri Prita sedikit kecewa. Tetapi ia harus mendapatkan persetujuan gadis itu secepatnya sebab waktu sangat cepat berjalan. Boy akhirnya menelpon Prita sekaligus juga Rakasiwi. Mereka berempat akan bertemu untuk makan malam di sebuah tempat. Di sana nanti Boy akan menjelaskan yang ia inginkan. Baik Rakasiwi maupun Prita tak keberatan.


Sebab itu setelah sholat magrib, Rakasiwi menjemput Prita dan pergi bersama ke tempat yang ditentukan oleh Boy. Keduanya mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Mereka memasuki sebuah mall yang megah di tengah kota Jakarta. Berputar-putar dan naik  ke beberapa lantai hingga akhirnya tiba di lantai 9. Prita berpikir-pikir apakah ia bisa membawa mobilnya ke ketinggian seperti itu? Seluruh gedung-gedung di Jakarta membuat tempat parkir seperti itu. Bertingkat-tingkat hingga beberapa lantai. Dari tempat parkir mereka bisa mencari pintu masuk langsung ke mall yang sesuai tempat parkir. Jika  parkir di lantai 9, berarti itu juga mall lantai 9. Mereka naik satu lantai lagi menuju restoran tempat pertemuan.


"Hello! di sini!"


Boy setengah berteriak dari sebuah meja. Gadis yang bersamanya ikut berdiri dan menyambut.


"Kau! hei Melani!"


Rakasiwi agak terkejut, meski ia telah diberitahu oleh Prita tentang gadis yang bernama Melani itu adalah manager di perusahaanya. Tak urung ia terkejut melihat Melani bersama Boy.

__ADS_1


"Melani! kamu  di sini bersama Dia?"


Gadis itu juga terkejut oleh kedatangan Rakasiwi dan Prita. Wajah keduanya sempat berubah sebelum sama-sama menguasai dirinya. Saling bersalaman dan mempersilahkan masing-masing duduk pada tempat yang telah tersedia.


Setelah mereka berempat duduk saling berhadapan.


"Jadi, gadis itu kau Mel? aku tak menduga sama sekali."


Prita juga terbengong. Ia ingat cerita bunda Mardo tentang gadis yang dekat dengan Rakasiwi. Ia memastikan pasti dialah gadis yang bunda ceritakan. Bukankah saat itu menurut Mardo keduanya tengah berhubungan dekat. Hingga ia jatuh sakit. Oh! Prita mendekap mulutnya. Gadis itu berusaha merangkai satu demi satu kejadian yang membawanya kembali bersama Rakasiwi.


"Sudah saling kenal kan? aku tidak perlu memperkenalkan calon istriku lagi."


"Hei Rakasiwi! dia adalah manager di cafe pria idola milikmu, tak asing toh?"


,


"Iya lah, kapan kalian bertemu? pasti belum lama kan?"


"Betul, kami belum lama bertemu. Aku melihatnya di sebuah tempat minum. Ia sedang menangisi nasibnya yang ditinggal oleh kekasihnya yang juga adalah bosnya."


Merona wajah Rakasiwi oleh kata-kata yang lugas dari Boy. Untung malam hari sehingga menutupi perubahan wajahnya.


"Ok biarlah masa lalu memupus dan pergi dari kehidupan kita. Mari menyongsong masa depan. Sudah takdir kita, aku bertemu dengan managernya Rakasiwi dan jatuh cinta, begitu pun Prita yang adalah wakil direktur di perusahaanku, sejak lama sudah menjadi kekasih Rakasiwi. Aku harap kita bisa bersahabat dan menganggap saudara."


Boy memandangi bergantian Rakasiwi dan Prita.


"Aku setuju, sejak lama aku merasa dirinya adalah kakak laki-laki yang tak pernah aku miliki."


Prita mengeluarkan isi hatinya, membuat Boy jengah.


"Tapi kau tak pernah mengatakannya, pantas saja  sikapmu sering seperti anak-anak."


"Ah mana mungkin, aku seorang yang profesioanal!"


Boy menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya tapi tak berkata apa pun.


Rakasiwi dan Melani tertawa.


"Iya kan, kalian percaya, ia selalu bilang dirinya yang terbaik."


"Iya dong, dari pada nggak ada yang muji, lebih baik memuji diri sendiri, iya kan mba Melani?"


"Betul, setidaknya hal itu lebih sehat dari pada berkeluh kesah dan menyalahkan diri sendiri."


Melani setuju dengan pendapat Prita, agaknya mereka akan cocok sebagai teman yang dekat.


"Hidangan sudah datang, sebaiknya kita makan dulu ya, baru membahas pekerjaan."


Boy menyilahkan mereka semua menikmati makanan yang telah di pesan, merupakan menu andalan restoran tersebut. Ia menyilahkan jika ada yang ingin pesan minuman atau makanan yang lain. Sambil menikmati makanan masing-masing berpikir tentang apa yang akan terjadi nanti.


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2