Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 59. Ke kota Labuan Batu.


__ADS_3

Pagi itu, sebuah kenderaan yang memuat tiga penumpang gadis cantik meluncur


menuju luar kota. Pengendaranya seorang pria muda yang penuh tanggung jawab.


Mereka tak lain adalah. Mardo yang mengenakan kacamata berwarna kebiruan yang


duduk di dekat supir. Gadis itu membiarkan rambutnya yang sebahu tergerai. Ia terlihat


tengah menikmati perjalanan tersebut. Pandangannya tak lepas dari perkebunan


kelapa sawit sepanjang jalan yang terlewati.


Kenderaan melaju menuju kota Labuan Batu. Mentari mulai menghangat namun belum


mengusik kesejukkan pagi.


Mereka mulai meninggalkan kota  menuju sebuah kota kecil lainnya. Sekitar dua jam


mereka akan sampai di kediaman bibi Shanen di kota Labuan Batu.


"Bibi Shanen ini anak opung kita yang nomer tiga kak, dia menikah dengan pria dari kota


Labuan Batu."


Khairani menceritakan tentang bibi Shanen, ia juga sebenarnya tidak terlalu mengerti


silsilah keluarga. Sampai ayahnya membuatkan sebuah lukisan yang dipajang di rumah


mengenai silsilah keluarga mereka. Khairani pernah mengunjungi paman dan bibi-bibinya


sebelum keberangkatan ke Jakarta untuk menuntut ilmu.


Khairani ingin sepupunya juga mengenali paman dan bibinya. Meski sekali seumur


hidup. Karena Mardo segera akan kembali ke Jakarta dan tidak tau kapan memiliki waktu


ke kampung halaman. Dan Mardo menyambut gembira ide tersebut. Ia sangat ingin mengenali


kakak dan adik-adik Papi, sepupu-sepupunya. Seumur dirinya ia belum pernah bertemu


bibi dan paman, juga sepupu-sepupunya. Hanya Khairani, yang ia kenal.


Setelah melewati perkotaan dan pasar, mereka akhirnya berbelok ke sebuah jalan


menuju rumah bibi Shanen. Sepanjang jalan yang hanya cukup untuk sebuah mobil saja.


Perkebunan karet membentang di kiri dan kanan, serta bunyi burung-burung yang


menyambut mentari.


"Setelah kebun karet ini, barulah kita sampai ke perumahan penduduk kak."


Kata Khairani, " Sejuk banget ya di sini, suasananya damai dan sejuk."


"Hemmm, segar banget di sini  Khairani, tak sabar ingin ketemu bibi Shanen,apa dia mengingatku ya?"


Mardo tak lepas memandangi pohon-pohon karet yang berjajar di kiri dan kanan.


Matanya  merasa segar dan


jiwanya tenang. Sangat berbeda dengan suasana di jakarta.


Dan suara-suara bocah yang  berteriak, tertawa terdengar sayup-sayup.


Aroma sebuah perumahan tercium, mereka memasuki pedesaan itu.


Terhenti di pintu gerbang sebelum lebih jauh memasuki perumahan.


Beberapa anak muda berlompatan dari dalam sebuah rumah panggung


yang disebut  rumah godang.


Riza dan Khairani membuka pintu dan menemui anak-anak muda itu.


"Todio do hamu abang dan kakak?" (Mau kemana kalian abang dan kakak?"


Mereka bicara sesuatu dalam bahasa daerah, Riza dan Khairani mangut-mangut

__ADS_1


dan kembali ke mobil.


"Makasih Bang!"


Riza melambaikan tangannya.


Anak-anak muda itu kembali naik ke rumah godang, dan mereka bercengkrama


di atasnya. Ada yang membaca kitab Al'quran. Merdu dan menenangkan jiwa.


Kata Khairani, rumah godang itu tempat bertemu dan berkumpul para lelaki


untuk mengurus kampung dan warga.


Sebulan sekali para lelaki berdatangan ke rumah Godang tepat di pintu gerbang


kampung itu. Banyak yang mereka bicarakan. Tentang kebun karet, tentang


undak-undak pemandian yang perlu di perbaiki, madrasah hingga permasalahan


penduduk yang sakit, anak yang putus sekolah, hingga jalan yang mulai dipenuhi rumput


dan ilalang. Masing-masing orang mengutarakan permasalahan penduduk yang mereka


wakili.


Riza menepikan kenderaan di halaman rumah panggung yang sepi dan lenggang.


Hampir semua rumah di kampung itu merupakan rumah panggung. Alasannya karena


kampung tersebut masih banyak di huni oleh binatang-binatang liar. Demi keamanan


maka semua penduduk membuat rumah panggung. Ada yang sangat tinggi, sedang serta


rendah, tergantung selera. Kebetulan rumah bibi Shanen ini termasuk yang tinggi.


Ada beberapa tangga yang mesti mereka lewati hingga bisa masuk ke dalam rumah.


Harus hati-hati dan tidak boleh salah, karena bisa terpeleset dan jatuh. Di bawah


banyak terdapat kerikil.


Seorang gadis menyembul di depan pintu, tersenyum ramah dan menyilahkan


naik, dia anak bibi Shanen. " Mari kak, kubantu."


Ia mengulurkan tangan untuk membantu Mardo naik. Gadis itu dengan susah payah


melangkahkan kakinya satu demi satu melewati tangga pertama, kedua, ketiga,


keempat, kelima, keenam hingga yang terakhir. Ada tujuh tangga. Semua menahan


napas melihat sulit serta takutnya gadis itu. Riza sampai mendekat untuk berjaga-jaga


sekiranya Mardo kehilangan keseimbangan. Tapi akhirnya ia berhasil, dan mengucapkan


alhamdulillah dengan riangnya.


Selanjutnya Khairani, Yulia dan Riza, mereka tidak ada kesulitan melalui tangga


tersebut. Membuat Mardo terbengong. "K-kok kalian santai banget ya melewati


tangga itu? luar biasa."


"Jelas lah Kak, udah sering kami naik-turun tangga kayak begini, di kota pun masih


banyak rumah-rumah panggung yang tinggi, lebih tinggi dari rumah bibi kita ini."


Mardo hanya membulatkan bibirnya membentuk hurup O.


"Kak duduklah kalian di sini, aku buatkan dulu teh untuk kalian ya."


Gadis itu bergegas ke belakang.


"Jangan repot-repot  Amlan, kemana rupanya bibi dan paman?"


Khairani mengikuti ke belakang sedang Mardo, Yulia dan Riza  memperhatikan

__ADS_1


kue-kue yang beraneka di atas tikas yang terbentang.


"Ini dodol kak Mardo, kalau lebaran semua penduduk kampung memasaknya.


Mereka bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya. Memasaknya bergotong


royong beramai-ramai."


Kembali Mardo membuat bulat bibirnya.


"Kok di rumahmu nggak ada Li, sudah habis ya?"


Mardo melihat makanan itu, ada yang sudah di potong-potong. Tapi ada juga


yang masih di dalam tempatnya yakni anyaman dari daun kelapa. Hemmm


makanan yang unik, pikir Mardo. Ia mencoba memakannya sepotong dan


hemm ia merasakan gurih manis di lidah. Ia menyukainya.


"Omak dan ayah sedang ke sebrang kak, ada penjualan getah hari ini.'


Amlan, anak bungsu bibi Shanen memberitahu Khairani.


"Omak bilang supaya melayani kakak-kakak kalau datang kesini."


Gadis itu ramah dan santun, ia membawa gelas-gelas ke ruang tamu


dan menuangkan teh manis yang panas.


"Ayo kak, bang di minum, tapi masih panas."


Amlan, tersenyum. Mereka mengobrol tentang banyak hal, sehingga tak terasa waktu telah


beranjak siang. Amlan menyiapkan mereka makan siang. Ibu/Omak


telah memasak gulai ayam tadi pagi sebelum berangkat ke pelelangan getah.


Amlan tinggal menghangatkan dan mengaturnya di piring dan menghidangkannya.


Tidak terlalu banyak yang bisa dihidangkan, hanya nasi yang hangat, gulai ayam,


tumis daun siminyak, tempe, tahu, kerupuk, lalap dan sambal.


Kembali Mardo merasakan sensasi kenikmatan makanan khas sebuah kampung.


Daun siminyak hampir mirip dengan daun melinjo di Jakarta dan di jawa. Hanya saja


daun siminyak lebih licin dan gurih. Enak sekali rasa daun hutan tersebut.


Khairani sudah menceritakan tentang daun siminyak.


Setelah menikmati makanan yang luar biasa enaknya, hembusan angin yang bertiup


melalui jendela membuat gadis-gadis itu merasa mengantuk. Bibi dan Paman belum


juga kembali. Mardo, khairani dan Yulia jatuh ke tidur yang lelap.


Sedangkan Riza sudah pulang. Khairani menyuruhnya kembali ke kota.


Khairani memutuskan akan menginap satu malam di rumah bibi Shanen, karena


mereka belum bertemu bibi dan paman.  Ayah pasti mengerti dan tidak akan


memarahi Riza.


 


 


Bersambung.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2