
Pagi itu, sebuah kenderaan yang memuat tiga penumpang gadis cantik meluncur
menuju luar kota. Pengendaranya seorang pria muda yang penuh tanggung jawab.
Mereka tak lain adalah. Mardo yang mengenakan kacamata berwarna kebiruan yang
duduk di dekat supir. Gadis itu membiarkan rambutnya yang sebahu tergerai. Ia terlihat
tengah menikmati perjalanan tersebut. Pandangannya tak lepas dari perkebunan
kelapa sawit sepanjang jalan yang terlewati.
Kenderaan melaju menuju kota Labuan Batu. Mentari mulai menghangat namun belum
mengusik kesejukkan pagi.
Mereka mulai meninggalkan kota menuju sebuah kota kecil lainnya. Sekitar dua jam
mereka akan sampai di kediaman bibi Shanen di kota Labuan Batu.
"Bibi Shanen ini anak opung kita yang nomer tiga kak, dia menikah dengan pria dari kota
Labuan Batu."
Khairani menceritakan tentang bibi Shanen, ia juga sebenarnya tidak terlalu mengerti
silsilah keluarga. Sampai ayahnya membuatkan sebuah lukisan yang dipajang di rumah
mengenai silsilah keluarga mereka. Khairani pernah mengunjungi paman dan bibi-bibinya
sebelum keberangkatan ke Jakarta untuk menuntut ilmu.
Khairani ingin sepupunya juga mengenali paman dan bibinya. Meski sekali seumur
hidup. Karena Mardo segera akan kembali ke Jakarta dan tidak tau kapan memiliki waktu
ke kampung halaman. Dan Mardo menyambut gembira ide tersebut. Ia sangat ingin mengenali
kakak dan adik-adik Papi, sepupu-sepupunya. Seumur dirinya ia belum pernah bertemu
bibi dan paman, juga sepupu-sepupunya. Hanya Khairani, yang ia kenal.
Setelah melewati perkotaan dan pasar, mereka akhirnya berbelok ke sebuah jalan
menuju rumah bibi Shanen. Sepanjang jalan yang hanya cukup untuk sebuah mobil saja.
Perkebunan karet membentang di kiri dan kanan, serta bunyi burung-burung yang
menyambut mentari.
"Setelah kebun karet ini, barulah kita sampai ke perumahan penduduk kak."
Kata Khairani, " Sejuk banget ya di sini, suasananya damai dan sejuk."
"Hemmm, segar banget di sini Khairani, tak sabar ingin ketemu bibi Shanen,apa dia mengingatku ya?"
Mardo tak lepas memandangi pohon-pohon karet yang berjajar di kiri dan kanan.
Matanya merasa segar dan
jiwanya tenang. Sangat berbeda dengan suasana di jakarta.
Dan suara-suara bocah yang berteriak, tertawa terdengar sayup-sayup.
Aroma sebuah perumahan tercium, mereka memasuki pedesaan itu.
Terhenti di pintu gerbang sebelum lebih jauh memasuki perumahan.
Beberapa anak muda berlompatan dari dalam sebuah rumah panggung
yang disebut rumah godang.
Riza dan Khairani membuka pintu dan menemui anak-anak muda itu.
"Todio do hamu abang dan kakak?" (Mau kemana kalian abang dan kakak?"
Mereka bicara sesuatu dalam bahasa daerah, Riza dan Khairani mangut-mangut
__ADS_1
dan kembali ke mobil.
"Makasih Bang!"
Riza melambaikan tangannya.
Anak-anak muda itu kembali naik ke rumah godang, dan mereka bercengkrama
di atasnya. Ada yang membaca kitab Al'quran. Merdu dan menenangkan jiwa.
Kata Khairani, rumah godang itu tempat bertemu dan berkumpul para lelaki
untuk mengurus kampung dan warga.
Sebulan sekali para lelaki berdatangan ke rumah Godang tepat di pintu gerbang
kampung itu. Banyak yang mereka bicarakan. Tentang kebun karet, tentang
undak-undak pemandian yang perlu di perbaiki, madrasah hingga permasalahan
penduduk yang sakit, anak yang putus sekolah, hingga jalan yang mulai dipenuhi rumput
dan ilalang. Masing-masing orang mengutarakan permasalahan penduduk yang mereka
wakili.
Riza menepikan kenderaan di halaman rumah panggung yang sepi dan lenggang.
Hampir semua rumah di kampung itu merupakan rumah panggung. Alasannya karena
kampung tersebut masih banyak di huni oleh binatang-binatang liar. Demi keamanan
maka semua penduduk membuat rumah panggung. Ada yang sangat tinggi, sedang serta
rendah, tergantung selera. Kebetulan rumah bibi Shanen ini termasuk yang tinggi.
Ada beberapa tangga yang mesti mereka lewati hingga bisa masuk ke dalam rumah.
Harus hati-hati dan tidak boleh salah, karena bisa terpeleset dan jatuh. Di bawah
banyak terdapat kerikil.
Seorang gadis menyembul di depan pintu, tersenyum ramah dan menyilahkan
naik, dia anak bibi Shanen. " Mari kak, kubantu."
Ia mengulurkan tangan untuk membantu Mardo naik. Gadis itu dengan susah payah
melangkahkan kakinya satu demi satu melewati tangga pertama, kedua, ketiga,
keempat, kelima, keenam hingga yang terakhir. Ada tujuh tangga. Semua menahan
napas melihat sulit serta takutnya gadis itu. Riza sampai mendekat untuk berjaga-jaga
sekiranya Mardo kehilangan keseimbangan. Tapi akhirnya ia berhasil, dan mengucapkan
alhamdulillah dengan riangnya.
Selanjutnya Khairani, Yulia dan Riza, mereka tidak ada kesulitan melalui tangga
tersebut. Membuat Mardo terbengong. "K-kok kalian santai banget ya melewati
tangga itu? luar biasa."
"Jelas lah Kak, udah sering kami naik-turun tangga kayak begini, di kota pun masih
banyak rumah-rumah panggung yang tinggi, lebih tinggi dari rumah bibi kita ini."
Mardo hanya membulatkan bibirnya membentuk hurup O.
"Kak duduklah kalian di sini, aku buatkan dulu teh untuk kalian ya."
Gadis itu bergegas ke belakang.
"Jangan repot-repot Amlan, kemana rupanya bibi dan paman?"
Khairani mengikuti ke belakang sedang Mardo, Yulia dan Riza memperhatikan
__ADS_1
kue-kue yang beraneka di atas tikas yang terbentang.
"Ini dodol kak Mardo, kalau lebaran semua penduduk kampung memasaknya.
Mereka bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya. Memasaknya bergotong
royong beramai-ramai."
Kembali Mardo membuat bulat bibirnya.
"Kok di rumahmu nggak ada Li, sudah habis ya?"
Mardo melihat makanan itu, ada yang sudah di potong-potong. Tapi ada juga
yang masih di dalam tempatnya yakni anyaman dari daun kelapa. Hemmm
makanan yang unik, pikir Mardo. Ia mencoba memakannya sepotong dan
hemm ia merasakan gurih manis di lidah. Ia menyukainya.
"Omak dan ayah sedang ke sebrang kak, ada penjualan getah hari ini.'
Amlan, anak bungsu bibi Shanen memberitahu Khairani.
"Omak bilang supaya melayani kakak-kakak kalau datang kesini."
Gadis itu ramah dan santun, ia membawa gelas-gelas ke ruang tamu
dan menuangkan teh manis yang panas.
"Ayo kak, bang di minum, tapi masih panas."
Amlan, tersenyum. Mereka mengobrol tentang banyak hal, sehingga tak terasa waktu telah
beranjak siang. Amlan menyiapkan mereka makan siang. Ibu/Omak
telah memasak gulai ayam tadi pagi sebelum berangkat ke pelelangan getah.
Amlan tinggal menghangatkan dan mengaturnya di piring dan menghidangkannya.
Tidak terlalu banyak yang bisa dihidangkan, hanya nasi yang hangat, gulai ayam,
tumis daun siminyak, tempe, tahu, kerupuk, lalap dan sambal.
Kembali Mardo merasakan sensasi kenikmatan makanan khas sebuah kampung.
Daun siminyak hampir mirip dengan daun melinjo di Jakarta dan di jawa. Hanya saja
daun siminyak lebih licin dan gurih. Enak sekali rasa daun hutan tersebut.
Khairani sudah menceritakan tentang daun siminyak.
Setelah menikmati makanan yang luar biasa enaknya, hembusan angin yang bertiup
melalui jendela membuat gadis-gadis itu merasa mengantuk. Bibi dan Paman belum
juga kembali. Mardo, khairani dan Yulia jatuh ke tidur yang lelap.
Sedangkan Riza sudah pulang. Khairani menyuruhnya kembali ke kota.
Khairani memutuskan akan menginap satu malam di rumah bibi Shanen, karena
mereka belum bertemu bibi dan paman. Ayah pasti mengerti dan tidak akan
memarahi Riza.
Bersambung.
__ADS_1