
Dua hari lagi kapal akan bersandar di pelabuhan Merauke. Ternyata kapal yang sama.
Padahal beritanya kapal Watam pone ada kendala sehingga keberangkatan tertunda. Nyatanya kapal Watam pone lancar berlayar. Semua senang mendengar kabar itu. Mereka semua bersiap dan berkemas.
Menyempatkan ke mall bersama, membeli oleh-oleh untuk keluarga. Lantas mengepak dan menyusun dalam koper.
Mardo membeli banyak gantungan kunci bergambar kota dan tulisan Merauke. Ia akan membagi oleh-oleh itu untuk teman sekelasnya. Ingatannya juga selalu pada Patricia adiknya. Ia membelikan kaos main yang panjang. Pat pasti lucu saat memakainya, Mardo tersenyum membayangkannya. Ia juga membelikan Papi, Mami dan Mangara. Untung ia punya uang tabungan yang disisihkan selama bertahun-tahun. Saat ia melihatnya ternyata sudah sangat banyak, lebih sepuluh juta. Ia menaro uangnya di sebuah tas besar di dalam lemari. Setiap hari Mami memberinya uang saku, lebih sering uang sakunya tak terpakai dan ia menaronya di tas yang besar itu. Papi juga setiap mengambil gajinya atau saat dapat proyek selalu memberi anak-anaknya bonus. Kadang satu juta namun lebih sering lima ratus ribu. Dengan uang itu ia bisa leluasa membeli apa saja. Bahkan berbagi dengan yang membutuhkan. Ia juga bisa membelikan Halima, yang sangat diinginkan gadis itu yakni celana jeans warna biru dan hitam. Halima cantik sekali memakai jeans itu, dengan tubuhnya yang tinggi langsing.
Besok pagi mereka akan berangkat ke kota eksotik. Cewe cewe tak sabar ingin segera ke kapal. Rasanya hari ingin cepat berganti. Apa lagi kapal yang tiba ternyata adalah kapal yang sama dengan kapal yang membawa mereka ke Merauke. Bakal ketemu lagi awak awak kapal yang ganteng dan ramah. Ada dada yang berdebar debar. Bibir yang merekah, senyum kebahagian bertemu lagi dengan pria-pria tampan.
Selebihnya perasaan rindu pada keluarga, rindu kebiasan dan bercengkrama.
Jadi Richi menyilahkan gadis-gadis temannya menghabiskan waktu di kota Merauke.
Banyak sekali tempat yang indah dan unik. Mereka datang sebentar, pergi lagi ketempat lain.
Ketempat-tempat penjualan daging rusa, dan menikmati sate rusa. Mardo menanyakan apakah ada daging sapi? kata pemilik rumah makan, daging sapi sangat mahal dan sangat sedikit. Oh, Mardo akhirnya menikmati maksi dengan sate daging rusa.
Setelah kenyang mereka menyusuri jalan sembari melihat-lihat souvenir. Sulaiman membuat foto-foto yang seru berlatar kota Merauke. Huuuu! Haiiii! berbagi pose yang heboh, tercipta. Semua gembira dan akan menyimpan kenangan indah dan berharga. Tak akan terlupakan. Halima melamun, betapa indahnya kota Merauke, jika nanti ia telah menyelesaikan sekolah maka Merauke bisa menjadi pilihan tempat bekerja yang nyaman. Siapa yang tau ia kelak bisa bertemu dengan cintanya. Ia bersama keluarga kecilnya akan tinggal di kota yang indah itu.
Tak sabar ingin cepat dewasa.
Malam harinya ada pesta ulang tahun kebetulan dia pemilik club dansa, jadi akan ada kelas dansa malam itu. Bagi yang ingin tau apa itu club dansa boleh bergabung. Ada dansa bareng-bareng juga. Teman-teman Raka merayakannya sambil reuni. Richi memberikan undangan pada teman-temannya.
"Mari kitong semua ikut pesta ya, sebagai malam terakhir di kota Merauke, Ada teman kak Raka yang ulang tahun kita semua diundang."
"Wah asyiiik, aku pengin tau apa itu club dansa."
Gadis-gadis melompat ceria dan gembira, pengalaman baru lagi, nyanyi dan dansa.
Zamzam dan Betty tak mau melewatkannya. Mereka bilang akan bergabung. Tentu juga Halima, Sarah Lee, Rose, Vana dan Mardo. Mereka akan pergi ke pesta itu bersama-sama. Peraturan bagi yang mau bergabung adalah mengenakan gaun serta high heels. Gadis-gadis cemberut, mereka tidak ada yang membawa sepatu tinggi. Kebanyakkan hanya membawa sepetu kets.
"Ambil di mall, nanti beta kasih tau manager,"
"Ki-kita bisa mengambil kebutuhan pesta di mall Rich?"
"Iya, cepat kalian ke mall, dan bersiap, kita bertemu di lantai dansa, ok."
"Ok, terima kasih Richi, torang sangat baik, tidak pelit, tidak sombong, I love you!"
Sulaiman yang bersama Richi menggeleng-gelengkan kepala, "Kamu memanjakan gadis-gadis itu."
"Biar saja, uangku banyak kok."
__ADS_1
Malam harinya hotel terasa meriah. Tempat ultah pemilik club dansa sudah di hias meriah.
Musik ceria dan lagu-lagu dansa telah berkumandang. Beberapa orang menjadi panitia di area pesta.
Kursi-kursi di atur mengelilingi arena dansa di tengah-tengah. Beberapa anggota club yang mengenakan gaun dan high heels yang sama sedang dancing, " Yuhyuiii Goyang Maumere mariiiii kitong dansa!"
Tamu tamu ikutan bergoyang kepala dan pinggul. Gadis-gadis berdatangan ke tamu-tamu undangan, mengajak turun dancing. Arena dancing mulai ramai. Gerakkan mereka sudah serasi dan serentak.
Ruangan cukup luas untuk tempat dancing ratusan orang. Panitia sudah mengatur sedemikian rupa.
Karena diantara acara ultah akan ada dancing masal. Tamu tamu dan undangan menunggu dancing masal.
Acara pun sudah di mulai. Seorang gadis cantik pembawa acara menyapa tamu tamu yang dijawab dengan antusias dan gembira. Lantas doa, pemotongan kue.
Tiba-tiba terdengar petikkan gitar yang kuat dan menyayat-nyayat dan suara lelaki muda, "
'Hari ini., hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun usiamu
Bahagialah selalu
Yang kuberi, bukan jam dan cincin
juga kalung hati.
Maaf, bukannya pelit
ini semua untuk kamu sahabat kami
Yang ingin aku beri padamu
doa setulus hati...
Raka bermain gitar dan beryanyi untuk si gadis cantik.
Teman-temannya mengikuti menyanyikan lagu ulang tahun.
Semoga Tuhan, melindungi kamu
serta tercapai semua angan dan cita-citamu
Mudah-mudahan diberi umur panjang
Sehat selama-lamanya
__ADS_1
Sesaat hikmat dan fokus menyanyikan lagu ulang tahun bersama Raka, lalu menyalami gadis yang berulang tahun dan memeluk serta menciumnya bergantian. Selanjutnya Raka diajak dansa. Semua memandang tercekat dan terpesona.
Mardo dan teman-temannya menatap dan membisu. Gadis itu mengajari kak Raka berdansa hingga bisa. Kemudian mereka lancar berdanca cha cha.
"Mari kitong berdansa, mari sama-sama."
Mardo dan teman-temannya yang sudah mengenakan gaun dan high heels segera turun. Gadis itu mengacuhkan kak Raka yang sedang berdansa.
Selanjutnya dancing masal. Tamu tamu segera turun mengambil tempat. Zamzam menolehi teman temannya, ayo katanya. Halima Haremba menatap Mardo, gadis itu selalu menjadi contoh baginya. Mardo tersenyum."
"Mari kitong dansa Halima."
"Mari nona cantik."
Halima dengan wajah berseri dan senyum yang tak lepas dari bibirnya bergandengan tangan turun ke lantai.
Instruktur sudah memberi aba aba di depan.Musik yang akrab di telinga pun memenuhi rungan.
Tamu tamu mengikuti gerak gerakkan instruktur. Lagu Senorita mengajak berdance gembira. Wauuu!!! wauuu!!! Halima tak henti berteriak dan tertawa. "Mari Kitong dancing wauuuu."
Seru sekali, cewe cewe pada mulanya salah dan kikuk mengikuti gerakkan yang cepat dan agak sulit. Apa lagi Halima, dia hanya mengerak gerakkan tangan dan kepalanya. Kaku sekali gerakkannya. Zamzam, Betty, Rose, Vana dan Mardo lumayan luwes . Karena mereka sering janjian ikutan senam di taman kota eksotik. Sebentar saja sudah bisa mengikuti gerakkan dancing.
Tetapi mana Sarah Lee? Halima menengok kekiri dan kanan tetapi gadis itu tak ada. "Eeee, kemana itu beta punya temankah? pergi tidak bilang bilang, su terlalu."
Halima mengomel dalam hati. Dia merasa paling nyaman dengan Sarah Lee.Cewe itu memang tidak hitam seperti dirinya,karena ayahnya asli Papua dan ibunya perempuan dari Jawa.Kulit Sarah Lee perpaduan ayah dan ibunya.Tapi dari semua teman yang ada Halima paling merasa cocok dengan Sarah Lee.Lagu berlanjut dengan lagu goyang dumang. Tamu dan undangan tak ada yang meninggalkan lantai dansa.Semua asyik bergoyang.
Sarah Lee,ternyata sedang sibuk di dapur hotel.Ada karyawan yang tidak bisa hadir.Cewe itu yang memesan minuman terlalu lama kemudian menanyakan pesanannya. Dan akhirnya Sarah Lee tau mereka sangat sibuk hari itu, dan kekurangan tenaga. Sarah Lee menawarkan diri untuk membantu mengantar minuman dan makanan yang di pesan. Dan manager menyetujuinya.Sarah Lee memang cewe yang selalu siap menyingsingkan lengan bajunya.
Jadilah Sarah Lee mondar mandir mengantarkan pesanan pesanan tamu. Sulaiman sempat melihatnya juga. Tapi sudah menduga pasti Sarah Lee berusaha membantu. Diam diam Sulaiman respek pada cewe itu.Yah, Sarah Lee cewe yang mandiri dan berani. Sepulang sekolah dia langsung pergi bekerja di sebuah cafee di kota Eksotik. Saat menjelang malam barulah kembali dengan beberapa lembar uang.
Bersambungb
__ADS_1