Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 249. Saling Mendahului


__ADS_3

Hello, semoga kabar kalian baik ya. Selalu sehat dan ceria, aamiin.  Mau mengucapkan banyak terima kasih buat yang selalu mengikuti kisah Pria Idola. Othor sangat berterima kasih. Setiap hari perfomancenya perlahan naik terus. Menjadikan Othor semangat untuk menulis. Meski terkadang sudah merasa lelah dan kehabisan ide. Alhamdulillah berkat dukungan kalian melalui, like, komen, vote dan masuk ke favorit. Di samping itu Othor juga selalu berusaha membalas/ saling suppour. Maaf jika sering telat, sebab othor hanya bisa menulis saat pulang kerja. Usai magrib baru Othor berada di depan laptop.  Kadang ketika libur juga ada saja yang dikerjakan. Othor sendiri heran kok bisa ya menulis sepanjang ini, sudah episode 248. Ini sungguh luar biasa. Karena Othor selama ini pembosan dan suka jenuh. Semoga Othor selalu sehat, begitu juga teman othor semua, dan pembaca hingga bisa menyelesaikan kisah ini.


Cikidot yuk lanjut.


Prita bekerja kembali setelah acara lamaran selesai.  Ia tak bertemu direkturnya selama beberapa hari. Dan hari ini pria itu ada meeting dengan seorang pengusaha. Ia beberapa kali menelpon si direktur tapi tak aktif.  Bagaimana pun pak Boy yang harus membicarakan masalah penting itu. Tapi bagaimana kalau laki-laki itu menyuruhnya menggantikan dirinya.  Prita kadang kesal dengan pak Boy. Tak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Mana hari itu ia lupa mengenakan high heelnya.


Masalah kelupaan high heelnya, diakibatkan ia tak bisa menyetir dengan mengenakan sepatu. Ia bertelanjang kaki saat menyetir.  Akibatnya high heel ketinggalan. Untuk mengantipasi ia menelpon Dian meminjam sepatunya. Gadis itu mengomel panjang pendek karena wakil direktur kok bisa ketinggalan sepatu. Prita membesarkan matanya, wakil direktur juga manusia tau!


Dian dan Marlina menutup mulut mereka, he he he iya juga sih. Prita itu manusia yang pasti memiliki kesalahan dan lupa. Harap maklum. Sambil ia terus menelpon pak Boy. Hingga terdengar suara yang besar di telinganya.


"Hello! ada apa sih? saya sedang kencan! harap jangan menggangu."


Apa?


Prita tercekat. Bisa-bisanya dia kencan di saat kantor sedang sibuk dan membutuhkan dirinya.


"Pak Boy Indra! jangan lupa jam sebelas bapak ada meeting dengan bos perusahaan gluk."


"Jabatanmu apa?"


Terdengar suara besar di sana yang agaknya sedang menikmati makanan. Prita menggigit bibirnya.


"Kok pak Boy lupa?"


"Wakil direktur bukan?"


"Iya."


"Kamu yang meeting!"


"Ta-tapi..."


Klik.

__ADS_1


Handphone mati. Laki-laki itu telah kembali pada sikap konyolnya, mengabaikan perusahaan. Terpaksa Prita menyiapkan diri dan semua file yang diperlukan. Sementara  Boy dan Melani tertawa senang bisa membebaskan dirinya dari kerja yang membuatnya jemu. Menurut Boy, Prita seorang yang bisa ia percaya dan   andalkan. Sebab itu ia tak sayang memberikan gaji besar serta berbagai fasilitas pada Prita. Sebab ia bisa bersenang-senang di belakang Prita.


"Enak saja! sekarang giliranku mengurus acara lamaran."


Melani tersenyum bergelayut di lengan Boy. Mereka sedang berbelanja keperluan lamaran. Agaknya Boy dan Melani tak mau kalah dengan Rakasiwi dan Prita.  Keduanya berencana akan mengadakan acara lamaran secepatnya. Kemudian menikah dan pergi bulan madu ke sebuah tempat yang indah. Kalau bisa ia dan Melani lebih duluan mengadakan acara pernikahan.


Boy khawatir Prita mengambil cuti yang lama untuk berbulan madu.  Setelah bulan madu Rakasiwi bisa saja tak membolehkan istrinya bekerja.  Sebelum hal itu terjadi, ia ingin mengantipasi. Dirinya dan melani lah yang lebih dulu menikah. Boy  dengan pikirannya yang konyol ingin menyalip Prita dan Rakasiwi.


"Enak saja!"


"Apa sih?"


Melani tersenyum merasa lucu dengan sikap Boy.


"Aku tak akan membiarkan Prita menikah duluan, melainkan kita lah yang lebih dulu."


"Ah kau ini, menikah nggak perlu saling mendahului, kayak angkot aja, dilarang saling mendahului he he he."


"Kalau Prita yang duluan menikah, ada kemungkinan ia tak kembali lagi ke perusahaan, nanti siapa yang menjaga perusahaan saat aku menikah denganmu? saat kita bulan madu?"


Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar laki-laki yang hanya memikirkan dirinya-sendiri. Tetapi entah kenapa Ia tetap menyukai sepak terjang Boy. Maaf yang Prita, ia tersenyum sendiri.


"Terserah Mas Boy aja."


"O, jelas dong."


Mereka berjam-jam menghabiskan waktu berbelanja berbagai keperluan. Melani telah membuat list kebutuhan acara lamaran tersebut. Keduanya saling berjanji akan mengurus berdua hingga ke acara pernikahan. Sama-sama tak menyangka betapa keduanya sama-sama menemukan pelabuhan hati. Melani seketika jatuh cinta dan  sangat sayang pada laki-laki itu. Begitu juga boy. Ia merasakan ketertarikkan bak magnet terhadap Melani. Boy merasa nyaman bersama gadis itu.


Beberapa hari berikutnya Boy dan keluarga inti telah datang kekediaman Melani. Acara lamaran berjalan lancar. Pihak laki-laki segera mencari waktu yang baik untuk Boy dan Melani naik ke pelaminan. Dua bulan setelah lamaran itu kedua belah pihak sama-sama setuju.


Prita terkejut mengetahuinya. Ia membesarkan matanya saat bertemu pak direkturnya.


"Bapak akan menikah dengan siapa? kok saya nggak di beritahu?"

__ADS_1


"Nanti kalau acara resepsi pernikahan baru diberitahu kesemuanya."


Prita hanya terdiam. Ia belum sempat memberitahu tentang Riri.


"Lalu bagaimana dengan Riri? ia menunggu pak Boy selama bertahun-tahun."


Boy melengos, ia tak menanggapi.


"Dia sudah menikah, untuk apa aku mengurusinya?"


Prita bimbang, apakah perlu ia menyampaikan pesan dari Riri? sementara Boy sedikitpun tak lagi perduli pada gadis cinta pertamanya.


"Pak Boy, aku ingin bicara tentang Riri."


"Oh yaa, tentang apa? jika kau berharap aku kembali kepadanya, itu percuma. Aku sudah gembok hatiku."


Keduanya duduk berhadapan di meja pak Boy. Prita lantas menceritakan semua kejadian yang Riri alami. Semuanya tak ada yang terlewat. Dan Boy tidak mengubah sikapnya.


"Cerita itu tidak akan membuatku membatalkan pernikahanku dengan Melani."


Boy mengucapkannya dengan tegas. Cintanya telah memupus terhadap Riri. Masa depannya terbentang bersama Melani.  Prita mengangguk-angguk, tahu atau tidak tahu mengenai cerita Riri tidak akan mengubah apa pun. Ia dan Melani akan menikah. Riri adalah masa lalunya.


Prita terdiam. Begitu dalam laki-laki itu  mengubur semua kisah kasihnya bersama Riri. Memang ia tak memusuhi gadis itu. Ia menerima kehadiran gadis itu sebagai teman. Menolaknya kembali sebagai kekasih. Tidak ada yang bisa memaksa sebuah hubungan. Juga kisah yang memilukan. Prita mengigit bibirnya berusaha memahami dan tak ingin mencampuri urusan Boy.


Hanya rasa penasaran di hatinya tentang siapa gadis yang bisa menaklukan  laki-laki keras hati seperti Boy. Di mana Boy bertemu gadis itu dan sejak kapan mereka menjalin hubungan? sebuah keingin tahuan yang besar. Namun agaknya Boy masih merahasiakan tentang gadis itu. Hingga Prita menarik bibirnya ke kiri dan kanan. Pasti nanti ia akan mengenalnya juga. Terlebih lagi Boy sangat ketergantungan dengan dirinya. Hampir seluruh urusan perusahaan dan pribadinya telah diketahui gadis itu.


Bagaimana tidak, laki-laki direkturnya itu sama sekali tidak mengetahui tentang kekayaan yang dimilikinya, aset, perusahaan serta berbagia hal lainnya. Prita yang telah bekerja siang dan malam mendata semua milik laki-laki itu.  Kekayaannya yang besar, perusahaan serta aset-aset  yang tak ternilai harganya. Prita mengetahui dan ikut menjaganya.


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2