Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 85. Cinta Dan Tugas


__ADS_3

Pak Bramantyo dan Richi segera berangkat ke lokasi kampus. Jaraknya tidak terlalu jauh.


Suasana yang semarak serta kemeriahan menyambut mereka. Para wanita berpakaian


kebaya dan pria memakai jas.


"Pi, acara Wisuda?"


"Yes, nanti Papi akan memperkenalkan kamu, agar semua orang tau Papi memiliki seorang


yang bisa diandalkan."


"Aku belum siap kalau menjadi rektor Pi, sekelas purek saja dulu."


Richi seorang yang rendah hati, meski pun Papi tau kemampuan anaknya itu, namun ia


akhirnya mengalah dan berpikir menjadikan putranya itu menjadi  purek satu, Richi akan mewakili


tugas-tugas seorang rektor. Sebelum akhinrya ia menjadi rektor.


Beberapa orang segera menyambut mereka dan menyalami penuh penghormatan serta kekaguman.


Aula yang telah tersedia sejak enam tahun lalu dimanfaatkan untuk acara-acara kampurs seperti


wisuda dan rapat penerimaan mahasiswa baru. Richi sempat melihat kebahagiaan mahasiswi dan


mahasiswa yang menyempatkan berfoto-foto di depan kampus. Wajah-wajah sumringah karena


kerja keras akhirnya terbayar.


Tepat jam sembilan acara wisuda di mulai. Para orang tua mengikuti acara keberhasilan anak


mereka. Tak berkedip oleh kemegahan dan khikmat pembukaan acara. Selanjutnya setelah doa,


serta kata sambutan dari bapak Direktur Unmer, yang mengakhiri dengan mengatakan bahwa dirinya


sudah mulai tua dan lelah, jadi sudah selayaknya ia memberi kesempatan kepada yang muda-muda


untuk menggantikannya. Di acara itu juga pak Bramantyo mengatakan bahwa dirinya didampingi


putranya yang perlahan akan menggantikannya dari sekarang. Ia serta merta memanggil Richi Bramnatyo


dan memberi kesempatan kepada laki-laki muda itu mengenalkan dirinya.


Richi terkejut, Ia tak siap bicara di hadapan orang sebanyak itu. Tetapi ia juga tak ingin mengecewakan


Papinya akhirnya dengan agak gugup ia pun memberi kata sambutan di acara yang luar biasa tersebut.


"Asssalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh


Richi kemudian memperkenalkan dirinya sebagai putra nomer dua dari bapak Bramantyo


Sebenarnya ia tidak siap dengan penunjukkan itu, tetapi ia telah di todong olah pak Bramantyo


mau tidak mau ia menerima dan siap melaksanakan tugas besar tersebut.


Tepuk tangan membahana seusia laki-laki muda itu memberi sedikit kata sambutan. Kemudian acara


berlanjut hingga akhinya tiba penyerahan dokumen dan kenangan-kenangan. Satu persatu nama mahasiswa di


panggil ke depan untuk peresmian mereka sebagai seorang sarjana.


Menjelang dhuhur acara resmi itu pun berakhir. Para Dosen, karyawan  serta staf.  tampak beramah tamah


dan selanjutnya menikmati makan siang dengan kebersamaan yang kental. Richi langsung menyukai dunia


barunya itu. Ia dan Papi selanjutnya duduk di ruangan kerja. Berdiskusi dan meminta pendapat putranya itu


tentang pembaruan yang akan diterapkan pada semester berikutnya. Richi bilang ia akan mempelajari dulu


dan melihat apa sekiranya yang perlu diperbaiki serta yang akan dibuang.


"Baiklah, selamat bekerja!"

__ADS_1


Papi menyalaminya dan juga beberapa orang-orang kepercayaan papi.


"Mereka semua akan membantumu."


Pak Bramantyo tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya kepada


beberapa purek yang ia undang membicarakan langkah-langkah yang akan diambil


di tahun-tahun mendatang dengan dunia yang berubah dengan cepat.


Cukup melelahkan, besok Richi akan memulai pekerjaan barunya. Yakni menjadi wakil


direktur sekaligus rektor. Ia yang akan menyusun berbagai program awal tahun ajaran


yang baru hingga berakhir. Ia yakin bisa bekerja dan mengatasi berbagai kendala yang


mungkin terjadi.


Begitu sibuk dan menyenangkan dunia barunya hingga ia tidak teringat sedikit pun pada


Laura dan keluarganya. Setelah mencapai hotel barulah ia ingat gadis cantik jelita itu.


Sedang apa dan ada di mana ya gadis itu dan keluarganya. Ia sampai lupa kalau sudah


berjanji akan menemani gadis itu dan keluarganya menikmati sunrise dan sunset.


Ia pamit pada Papi kekamarnya. Dan Papi mengangguk. Beristirahatlah!


Kata papi sembari pergi ke kamarnya.


Dalam kamarnya  Richi sangat penasaran, kemana Laura. Ia mencoba menghubungi


orang kepercayaannya. Dan mendapat jawaban, bahwa keluarga tersebut sedang


berada di pantai. Mereka menggunakan kenderaan dari hotel. Richi menjadi tenang.


Sebenarnya ia ingin pergi menyusul. Tetapi hari telah benar-benar terlihat gelap. Laura


dan keluarganya mungkin sudah di jalan. Richi lantas membaringkan tubuhnya dan


dan cantik untuk ditinggali bersama Laura. Di rumah itu ia dan laura akan menjalin


kasih dan kemudian memiliki anak-anak yang cantik dan lucu.


Terdengar panggilan anak mereka, "Daddy! Mommy!"


Richi berguling dan memeluk bantal. Ia teringat pada Mardo. Apakah gadis itu


cinta pertamanya? Ia berguling ke kiri dan wajah Laura yang lembut dan cantik


muncul di sana. Ia bergolek ke kanan lantas muncul wajah Mardo.


"Oh Mardo! tiba-tiba Richi merasakan air matanya membuncah. Ia tidak tau


sebab apa yang membuat air mata itu berjatuhan. Bahkan ia terisak.


Kenangan bersama Mardo, begitu manis dan ceria. Ia selalu datang ke kelas


Mardo untuk mengajaknya pergi.  Ia sering menyelamatkan gadis itu dari


kejahilan gadis yang iri padanya. Hal-hal kecil yang berdampak apa-apa.


Berbeda dengan yang dilakukan kak Raka. Mereka berdua berusaha


membantu Vana, meski akhirnya gadis itu tetap meninggal. Raka juga tak


berpikir panjang mengejar kelompok Theo saat menculik Mardo ke dalam hutan


belantara pedalaman Papua. Kak Raka yang memberikan dadanya saat Mardo


menangis oleh kesedihan kakaknya Mangara ketika kehilangan kekasihnya


yang meninggal akibat pemerkosaan.

__ADS_1


Kak Raka selalu ada saat kesedihan dan kesulitan menimpa Mardo. Mereka


bertemu di cafe, di pelabuhan, kapal dan berbagai tempat. Bahkan ia hesteris


memanggil Raka saat seekor kuda melarikan gadis itu dengan liar dan tak


terkendali.


"A-aku terlalu lemah untuk Mardo, dia bukan untukku.."


Richi menghapus air matanya. Ia harus menghapus kenangan dirinya bersama


Mardo. Perempuan itu kini adalah saudaranya. Itu kenyataan yang tak terpungkiri.


Ia lantas merasa sangat lapar. Ternyata hari telah malam, ia bergegas bersiap


turun untuk makan malam. Dan pria itu tersenyum ketika melihat keluarga


Laura ada di restoran. Mereka sedang bercengkrama sangat asyik.


"Hello! Om dan Onty, Laura, Gerry?"


Richi dengan wajah berseri-seri menyapa semuanya. Laura dan keluarganya


membalas senyuman, "Hello Nak Rich, kemana saja onti  tidak melihatmu seharian


ini."


"Oh, saya bekerja Onti."


Richi tersenyum agar dimaklumi.


"Oh, jadi kamu bekerja di kota ini?"


Semua menatap wajah Richi. Pria seperti dia bekerja di kota unik ini.


"Bagus sekali! kota ini indah, udaranya segar, bersih, membuat paru-paru


sehat."


Om Benny kagum sekali dengan anak muda yang memiliki dedikasi


seperti hal Richi.


"Nanti Gerry juga bekerja seperti Richi, dikirim ke luar kota, ke tengah hutan rimba."


Om Benny menatap pada putranya.


"Iya, aku ingin seperti Daddy, menjadi tentara. Aku akan melindungi negaraku."


Mereka semua mengangguk-angguk dan tersenyum. Makanan telah datang, Richi juga


sudah menyusulkan pesanannya.


"Mari, selamat menikmati makan malamnya."


Terima kasih telah membaca Pria Idola


Jangan lupa Like, komen dan votenya


pasti balas dukung.


Bersambung






__ADS_1



__ADS_2