
Pak Bramantyo dan Richi segera berangkat ke lokasi kampus. Jaraknya tidak terlalu jauh.
Suasana yang semarak serta kemeriahan menyambut mereka. Para wanita berpakaian
kebaya dan pria memakai jas.
"Pi, acara Wisuda?"
"Yes, nanti Papi akan memperkenalkan kamu, agar semua orang tau Papi memiliki seorang
yang bisa diandalkan."
"Aku belum siap kalau menjadi rektor Pi, sekelas purek saja dulu."
Richi seorang yang rendah hati, meski pun Papi tau kemampuan anaknya itu, namun ia
akhirnya mengalah dan berpikir menjadikan putranya itu menjadi purek satu, Richi akan mewakili
tugas-tugas seorang rektor. Sebelum akhinrya ia menjadi rektor.
Beberapa orang segera menyambut mereka dan menyalami penuh penghormatan serta kekaguman.
Aula yang telah tersedia sejak enam tahun lalu dimanfaatkan untuk acara-acara kampurs seperti
wisuda dan rapat penerimaan mahasiswa baru. Richi sempat melihat kebahagiaan mahasiswi dan
mahasiswa yang menyempatkan berfoto-foto di depan kampus. Wajah-wajah sumringah karena
kerja keras akhirnya terbayar.
Tepat jam sembilan acara wisuda di mulai. Para orang tua mengikuti acara keberhasilan anak
mereka. Tak berkedip oleh kemegahan dan khikmat pembukaan acara. Selanjutnya setelah doa,
serta kata sambutan dari bapak Direktur Unmer, yang mengakhiri dengan mengatakan bahwa dirinya
sudah mulai tua dan lelah, jadi sudah selayaknya ia memberi kesempatan kepada yang muda-muda
untuk menggantikannya. Di acara itu juga pak Bramantyo mengatakan bahwa dirinya didampingi
putranya yang perlahan akan menggantikannya dari sekarang. Ia serta merta memanggil Richi Bramnatyo
dan memberi kesempatan kepada laki-laki muda itu mengenalkan dirinya.
Richi terkejut, Ia tak siap bicara di hadapan orang sebanyak itu. Tetapi ia juga tak ingin mengecewakan
Papinya akhirnya dengan agak gugup ia pun memberi kata sambutan di acara yang luar biasa tersebut.
"Asssalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh
Richi kemudian memperkenalkan dirinya sebagai putra nomer dua dari bapak Bramantyo
Sebenarnya ia tidak siap dengan penunjukkan itu, tetapi ia telah di todong olah pak Bramantyo
mau tidak mau ia menerima dan siap melaksanakan tugas besar tersebut.
Tepuk tangan membahana seusia laki-laki muda itu memberi sedikit kata sambutan. Kemudian acara
berlanjut hingga akhinya tiba penyerahan dokumen dan kenangan-kenangan. Satu persatu nama mahasiswa di
panggil ke depan untuk peresmian mereka sebagai seorang sarjana.
Menjelang dhuhur acara resmi itu pun berakhir. Para Dosen, karyawan serta staf. tampak beramah tamah
dan selanjutnya menikmati makan siang dengan kebersamaan yang kental. Richi langsung menyukai dunia
barunya itu. Ia dan Papi selanjutnya duduk di ruangan kerja. Berdiskusi dan meminta pendapat putranya itu
tentang pembaruan yang akan diterapkan pada semester berikutnya. Richi bilang ia akan mempelajari dulu
dan melihat apa sekiranya yang perlu diperbaiki serta yang akan dibuang.
"Baiklah, selamat bekerja!"
__ADS_1
Papi menyalaminya dan juga beberapa orang-orang kepercayaan papi.
"Mereka semua akan membantumu."
Pak Bramantyo tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya kepada
beberapa purek yang ia undang membicarakan langkah-langkah yang akan diambil
di tahun-tahun mendatang dengan dunia yang berubah dengan cepat.
Cukup melelahkan, besok Richi akan memulai pekerjaan barunya. Yakni menjadi wakil
direktur sekaligus rektor. Ia yang akan menyusun berbagai program awal tahun ajaran
yang baru hingga berakhir. Ia yakin bisa bekerja dan mengatasi berbagai kendala yang
mungkin terjadi.
Begitu sibuk dan menyenangkan dunia barunya hingga ia tidak teringat sedikit pun pada
Laura dan keluarganya. Setelah mencapai hotel barulah ia ingat gadis cantik jelita itu.
Sedang apa dan ada di mana ya gadis itu dan keluarganya. Ia sampai lupa kalau sudah
berjanji akan menemani gadis itu dan keluarganya menikmati sunrise dan sunset.
Ia pamit pada Papi kekamarnya. Dan Papi mengangguk. Beristirahatlah!
Kata papi sembari pergi ke kamarnya.
Dalam kamarnya Richi sangat penasaran, kemana Laura. Ia mencoba menghubungi
orang kepercayaannya. Dan mendapat jawaban, bahwa keluarga tersebut sedang
berada di pantai. Mereka menggunakan kenderaan dari hotel. Richi menjadi tenang.
Sebenarnya ia ingin pergi menyusul. Tetapi hari telah benar-benar terlihat gelap. Laura
dan keluarganya mungkin sudah di jalan. Richi lantas membaringkan tubuhnya dan
dan cantik untuk ditinggali bersama Laura. Di rumah itu ia dan laura akan menjalin
kasih dan kemudian memiliki anak-anak yang cantik dan lucu.
Terdengar panggilan anak mereka, "Daddy! Mommy!"
Richi berguling dan memeluk bantal. Ia teringat pada Mardo. Apakah gadis itu
cinta pertamanya? Ia berguling ke kiri dan wajah Laura yang lembut dan cantik
muncul di sana. Ia bergolek ke kanan lantas muncul wajah Mardo.
"Oh Mardo! tiba-tiba Richi merasakan air matanya membuncah. Ia tidak tau
sebab apa yang membuat air mata itu berjatuhan. Bahkan ia terisak.
Kenangan bersama Mardo, begitu manis dan ceria. Ia selalu datang ke kelas
Mardo untuk mengajaknya pergi. Ia sering menyelamatkan gadis itu dari
kejahilan gadis yang iri padanya. Hal-hal kecil yang berdampak apa-apa.
Berbeda dengan yang dilakukan kak Raka. Mereka berdua berusaha
membantu Vana, meski akhirnya gadis itu tetap meninggal. Raka juga tak
berpikir panjang mengejar kelompok Theo saat menculik Mardo ke dalam hutan
belantara pedalaman Papua. Kak Raka yang memberikan dadanya saat Mardo
menangis oleh kesedihan kakaknya Mangara ketika kehilangan kekasihnya
yang meninggal akibat pemerkosaan.
__ADS_1
Kak Raka selalu ada saat kesedihan dan kesulitan menimpa Mardo. Mereka
bertemu di cafe, di pelabuhan, kapal dan berbagai tempat. Bahkan ia hesteris
memanggil Raka saat seekor kuda melarikan gadis itu dengan liar dan tak
terkendali.
"A-aku terlalu lemah untuk Mardo, dia bukan untukku.."
Richi menghapus air matanya. Ia harus menghapus kenangan dirinya bersama
Mardo. Perempuan itu kini adalah saudaranya. Itu kenyataan yang tak terpungkiri.
Ia lantas merasa sangat lapar. Ternyata hari telah malam, ia bergegas bersiap
turun untuk makan malam. Dan pria itu tersenyum ketika melihat keluarga
Laura ada di restoran. Mereka sedang bercengkrama sangat asyik.
"Hello! Om dan Onty, Laura, Gerry?"
Richi dengan wajah berseri-seri menyapa semuanya. Laura dan keluarganya
membalas senyuman, "Hello Nak Rich, kemana saja onti tidak melihatmu seharian
ini."
"Oh, saya bekerja Onti."
Richi tersenyum agar dimaklumi.
"Oh, jadi kamu bekerja di kota ini?"
Semua menatap wajah Richi. Pria seperti dia bekerja di kota unik ini.
"Bagus sekali! kota ini indah, udaranya segar, bersih, membuat paru-paru
sehat."
Om Benny kagum sekali dengan anak muda yang memiliki dedikasi
seperti hal Richi.
"Nanti Gerry juga bekerja seperti Richi, dikirim ke luar kota, ke tengah hutan rimba."
Om Benny menatap pada putranya.
"Iya, aku ingin seperti Daddy, menjadi tentara. Aku akan melindungi negaraku."
Mereka semua mengangguk-angguk dan tersenyum. Makanan telah datang, Richi juga
sudah menyusulkan pesanannya.
"Mari, selamat menikmati makan malamnya."
Terima kasih telah membaca Pria Idola
Jangan lupa Like, komen dan votenya
pasti balas dukung.
Bersambung
__ADS_1