
"Lima juta belum dengan tip-tip pengunjung ya pak? wahhh gede juga."
Yunna kelihatan tak ragu untuk memasuki dunia itu, begitu juga Elsa.
Prita bimbang, ia takut terseret arus bila tak kuat-kuat iman. Dan memilih
keluar ketika semakin banyak pengunjung yang datang, mata laki-laki
di sana berkeliaran mencari mangsanya.
"Prita! sebentar! aku pamit dulu dengan pak Angga!"
Gadis itu tetap keluar dan menunggu di tempat parkir yang telah sesak
hingga sulit mengeluarkan motornya.
"Kalian mau bekerja di tempat itu? kalau aku maaf ya lebih baik mencari
pekerjaan lain."
Prita langsung memberitahu teman-temannya tentang keputusannya.
"Kamu jangan naif Prita! selagi kita bisa menjaga diri kenapa tidak? pekerjaannya
mengantar minuman dan sedikit bersikap genit, dan berdansa, kita perlu uang
untuk membeli baju-baju bagus, tas, sepatu dan pergi ke salon."
Yunna mengutarakan pemikirannya, bahwa ia ingin kelak menikah dengan
orang kaya, tetapi saat itu ia sudah menjadi seorang yang sama, yakni memiliki
kekayaan juga.
Hingga tidak perlu merasa minder seperti yang sering terjadi. Prita mengelak bahwa
ia tidak pernah minder dengan keadaannya. Ia tidak perduli apa tanggapan seorang
pria padanya, kalau memang seorang pria menyukainya ya pria itu harus menerimanya
apa adanya.
"Lalu kenapa Lu kemarin buru-buru menghindar saat ada tiga cowo yang terlihat
pengen kenalan? kelihatan banget kalau kita dipandang sebelah mata."
Prita terbengong, jadi itu persoalannyaa? sampai-sampai membeli koran lowongan
bekerja untuk mendapatkan uang yang banyak.
"Itu bukan masalah minder Yunna! aku memang ada problem dengan laki-laki itu
aku bukan minder atau apalah yang membuat pemikiranmu, kita perlu mencari
uang di tempat itu, aku nggak mau!"
Yunna dan Elsa saling pandang, "Jadi kau kenal dengan tiga laki-laki yang
di cafe itu? lalu kenapa kau terburu-buru pergi, seharusnya kau mengenalakan bas
mereka padaku dan Elsa Pris."
Ketiganya meninggalkan tempat itu, mereka tak langsung pulang tetapi pergi
ke tempat minum es kelapa dan juga memesan seporsi baso. Seharian mereka
di bar yang mewah tapi tak ada yang memberi mereka minuman apa lagi
seporsi makanan, masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan urusannya.
"Kau gimana Elsa? apa kau mau lanjut di bar itu?"
"Asal ada Yunna, aku tidak masalah."
Prita terdiam, agaknya dia juga harus mencari kerja, untuk menambah uang
sakunya? sepertinya memang ide bagus. Ia bisa memanfaatkan waktu berlibur
dengan bekerja, tapi dimana ia akan mencari kerja? Prita memutar otaknya
tetapi tak mendapatkan ide.
Setelah selesai menikmati minuman dan makanan, mereka langsung kembali.
Prita memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang lelah, sekejap berikutnya
ia telah tertidur di tepi tempat tidur. Ibunya, membuka kamarnya dan melihat anak
gadisnya itu yang cuman semata wayang telah tidur. Ingin membangunkannya tetapi kasihan, sore
seperti ini seorang anak gadis pamali tidur.
Yunna dan Elsa masih berbincang-bincang, mereka berjanji menjaga jangan sampai
orang tua mereka tau rencana itu. Yunna tadi sebelum keluar sudah memberitahu pak
Angga bahwa besok ia akan datang lagi. Yunna yakin ia bisa menjaga dirinya meski
berada di tempat seperti itu. Semua tergantung diri-sendiri, kalau memang anaknya
__ADS_1
mau diajak bersenang-senang maka itu akan terjadi. Itu lah keyakinan Yunna yang
luar biasa. ia beyakin bisa mengatasi tamu-tamu yang genit.
Elsa sendiri sudah mulai mencari baju-baju untuk bekerja besok pagi. Bagaimana pun
uangnya akan habis dan hanya menggenggam uang ala kadarnya, Yunna benar untuk
mencari seorang pria tampan dan kaya mestilah memiliki bekal, paling tidak kecantikan
dan penampilan mesti dimiliki.
Yunna dan Elsa pernah merasakan masa-masa sangat sulit bersama keluarganya.
Sering tidak ada uang untuk makan. Mereka bergantian pergi ke warung untuk
berhutang beras, indomie dan telur. Terasa nikmat saat makanan itu menjadi
rebutan ia dan adik-adiknya. Terkadang sebutir telur agar menjadi banyak diberi
tepung dan bumbu, sehingga menjadi banyak dan cukup dibagi dengan semua
anggota keluarga.
Saat di sekolah pun menjadi tidak menyenangkan karena selalu terlambat membayar
uang sekolah. Setiap senin ia berdebar karena namanya dan nama Yunna kerap
disebut dan dipanggil ke ruang adminis untuk segera menyelesaikan pembayaran. Setiap
kali ujian ia dan Yunna menjadi yang terakhir menerima kartu ujian, karena belum juga
melunasi pembayaran.
Mereka menjadi anak yang terkucil dan dibelakangkan, karena ketidak beradaan. Ayah
sering sekali harus merunduk-runduk meminta keringanan dan menambah waktu, sangat
menyedihkan mengingat itu. Sedikit berbeda dengan Prita, meski tidak ada keluarga yang
mendukungnya, tetapi guru-gurunya sejak sekolah taman kanak-kanak yang datang
kesekolah meminta pembebasan biaya untuk Prita sehingga ia selalu luput dari pengalaman
seperti Yunna dan Elsa.
Selain memang Prita berbakat dan pintar, Sejak smp Prita selalu menjadi juara pertama
di kelasnya, begitu juga masa smu, nilai-nilainya selalu sembilan atau sepuluh. Ia seorang
gadis yang tekun. Mewakili sekolah dalam olimpiade matematika dan bahasa Inggris, pernah
guru. guru tetap membanggakan seorang Prita.
Bagaimana dia dulu mendapat uang saku? dengan mengajari anak-anak
orang kaya les privat bahasa Inggris dan matematika. Yah kenapa ia tak mengulangi hal
itu? kreatif mesti menjadi orang yang kreatif dan memanfaatkan semua kemampuan
diri.
Prita mulai mendesain sebuah brosur yang menarik di laptopnya tentang tawaran
les privat untuk bahasa Inggris dan matematika dan kemudian memperbanyaknya. Setelah
itu Prita berangkat dan door to door menawarkan brosur, sebelumnya ia menanyakan
terlebih dahulu apakah ada anak sekolah dasar, atau bahkan smu. Prita merasa pede
dan yakin bisa memberikan yang terbaik dari ilmunya.
Pagi harinya ia berkemas untuk membagikan brosur-brosur ke rumah yang megah
dan besar. Ia memilih sedemikian rupa karena menurut pemikirannya hanya orang-orang
kaya saja yang bisa membayarnya dengan cepat dan sesuai dengan biaya yang
ia inginkan. Ia tidak mencari banyak anak, tetapi cukup beberapa orang saja dengan
hasil yang maksimal, sekali datang mereka harus membayar dua ratus lima puluh
ribu rupiah, selama tiga jam. Wah bisa berbisa mulutnya nanti. Tetapi Prita sudah
memikirkan bahwa ia tidak akan melulu bicara, tetapi juga menulis.
Sebelum pergi membagikan brosurnya ia singgah ke rumah Yunna untuk memeriksa
apakah Yunna sudah pergi ke bar bersama Elsa, agaknya mereka hari ini akan
belajar menari, melentukkan tubuh.
"Yunna sudah berangkat barusan, ibu pikir pergi ke tempat neng Prita tadi."
__ADS_1
Ibu Yunna muncul di pintu dengan daster kesayangannya, sebab setiap kali Prita
melihatnya selalu dengan daster tersebut, sehingga Prita pikir itu adalah daster
kesayangan beliau.
"Oh begitu Bu, ok saya akan menyusulnya."
Prita menghidupkan kenderaannya dan lantas melaju di jalanan, ia memikirkan
Yunna dan Elsa, bagaimana kalau ia memberitahu orang tua mereka? sebaiknya
ia tidak diam saja. Dua sahabatnya sedang berada di pintu yang berbahaya. Prita
bimbang tetapi ia sudah sampai ke pintu gerbang sebuah rumah yang sangat
megah dan berhalaman luas.
Ia melihat penjaganya sedang ada di depan gerbang agaknya baru saja mengantar
sebuah mobil, karena si penjaganya sedang berusaha menutup pagar. Serta merta
ia berhenti di depan pintu gerbang itu dan berteriak, "Tunggu pak?"
"Ada apa Kak?"
Pak satpam yang masih terlihat muda tersenyum ke arahnya.
"Pak maaf nih, di rumah ini ada anak sekolahan sd, smp atau smu? saya mau
menawarkan les privat bahasa Inggris dan matematika pak, untuk biaya kuliah."
Prita mengutarakan maksudnya dengan jujur dan terus terang.
"Ada kak."
"Oh ada ya boleh saya ketemu dengan ibu atau bapak mereka?"
"Baru saja keluar kak, sayang sekali."
Prita menggigit bibirnya ia tak beruntung tetapi ia tetap tersenyum, "Kalau begitu saya
menitip brosur ya pak, tolong sampaikan saya ingin menjadi guru les anak mereka
untuk membayar kuliah pak."
"Ok Kak, nanti saya sampaikan."
Prita memberikan brosur yang ia buat tadi malam, lalu mengucapkan terima kasih dan
kembali menaiki motornya yang besar, si penjaga sampai terkesiap melihat betapa
gagahnya Prita dengan motor itu.
Prita berlalu dan pergi untuk membagikan brosur, ia hanya berhenti dan bertanya di depan
pintu sebuah rumah yang mewah, sebab menurut pemikiran gadis itu tentu hanya mereka
yang bisa membayarnya tiga ratus ribu rupiah setiap ia datang mengajar. Ia tidak mencari
banyak anak yang belajar kepadanya, cukup beberapa orang saja. Untuk mengisi waktu
selama liburannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like, komen dan votenya ya
penulis sangat berterima kasih
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like, komen dan votenya ya
penulis sangat berterima kasih
__ADS_1