Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 125 Berbeda Kepala


__ADS_3

"Lima juta belum dengan tip-tip pengunjung ya pak? wahhh gede juga."


Yunna kelihatan tak ragu untuk memasuki dunia itu, begitu juga Elsa.


Prita bimbang, ia takut terseret arus bila tak kuat-kuat iman. Dan memilih


keluar ketika semakin banyak pengunjung yang datang, mata laki-laki


di sana berkeliaran mencari mangsanya.


"Prita! sebentar! aku pamit dulu dengan pak Angga!"


Gadis itu tetap keluar dan menunggu di tempat parkir yang telah sesak


hingga sulit mengeluarkan motornya.


"Kalian mau bekerja di tempat itu? kalau aku maaf ya lebih baik mencari


pekerjaan lain."


Prita langsung memberitahu teman-temannya tentang keputusannya.


"Kamu jangan naif Prita! selagi kita bisa menjaga diri kenapa tidak? pekerjaannya


mengantar minuman dan sedikit bersikap genit, dan berdansa, kita perlu uang


untuk membeli baju-baju bagus, tas, sepatu dan pergi ke salon."


Yunna mengutarakan pemikirannya, bahwa ia ingin kelak menikah dengan


orang kaya, tetapi saat itu ia  sudah menjadi  seorang yang sama, yakni memiliki


kekayaan juga.


Hingga tidak perlu merasa minder seperti yang sering  terjadi. Prita mengelak bahwa


ia tidak pernah minder dengan keadaannya. Ia tidak perduli apa tanggapan seorang


pria padanya, kalau memang seorang pria menyukainya ya pria itu harus menerimanya


apa adanya.


"Lalu kenapa Lu kemarin buru-buru menghindar saat ada tiga cowo yang terlihat


pengen kenalan? kelihatan banget kalau kita  dipandang sebelah mata."


Prita terbengong, jadi itu persoalannyaa? sampai-sampai membeli koran lowongan


bekerja untuk mendapatkan uang yang banyak.


"Itu bukan masalah minder Yunna! aku memang ada problem dengan laki-laki itu


aku bukan minder atau apalah yang membuat pemikiranmu, kita perlu mencari


uang di tempat itu, aku nggak mau!"


Yunna dan Elsa saling pandang, "Jadi kau kenal dengan tiga laki-laki yang


di cafe itu? lalu kenapa kau terburu-buru pergi, seharusnya kau mengenalakan  bas


mereka padaku dan Elsa Pris."


Ketiganya meninggalkan tempat itu, mereka tak langsung pulang tetapi pergi


ke tempat minum es kelapa dan juga memesan seporsi baso. Seharian mereka


di bar yang mewah tapi tak ada yang memberi mereka minuman apa lagi


seporsi makanan, masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan urusannya.


"Kau gimana Elsa? apa kau mau lanjut di bar itu?"


"Asal ada Yunna, aku tidak masalah."


Prita terdiam, agaknya dia juga harus mencari kerja, untuk menambah uang


sakunya? sepertinya memang ide bagus. Ia bisa memanfaatkan waktu berlibur


dengan bekerja, tapi dimana ia akan mencari kerja? Prita  memutar otaknya


tetapi tak mendapatkan ide.


Setelah selesai menikmati minuman dan makanan, mereka langsung kembali.


Prita memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang lelah, sekejap berikutnya


ia telah tertidur di tepi tempat tidur.  Ibunya,  membuka kamarnya dan melihat anak


gadisnya itu yang cuman semata wayang telah tidur. Ingin membangunkannya tetapi kasihan, sore


seperti ini seorang anak gadis pamali  tidur.


Yunna dan Elsa masih berbincang-bincang, mereka berjanji menjaga jangan sampai


orang tua mereka tau rencana itu. Yunna tadi sebelum keluar sudah memberitahu pak


Angga bahwa besok ia akan datang lagi. Yunna yakin ia bisa menjaga dirinya meski


berada di tempat seperti itu. Semua tergantung diri-sendiri, kalau memang anaknya

__ADS_1


mau diajak bersenang-senang maka itu akan terjadi. Itu lah keyakinan Yunna yang


luar biasa. ia  beyakin bisa mengatasi tamu-tamu yang genit.


Elsa sendiri sudah mulai mencari baju-baju untuk bekerja besok pagi. Bagaimana pun


uangnya akan habis dan hanya menggenggam uang ala kadarnya, Yunna benar untuk


mencari seorang pria tampan dan kaya mestilah memiliki bekal, paling tidak kecantikan


dan penampilan mesti dimiliki.


Yunna dan Elsa pernah merasakan masa-masa sangat sulit bersama keluarganya.


Sering tidak ada uang untuk  makan. Mereka bergantian pergi ke warung untuk


berhutang beras, indomie dan telur. Terasa nikmat saat makanan itu menjadi


rebutan ia dan adik-adiknya. Terkadang sebutir telur agar menjadi banyak diberi


tepung dan bumbu, sehingga menjadi banyak dan cukup dibagi dengan semua


anggota keluarga.


Saat di sekolah pun menjadi tidak menyenangkan karena selalu terlambat membayar


uang sekolah. Setiap senin ia berdebar karena namanya dan nama Yunna kerap


disebut dan dipanggil ke ruang adminis untuk segera menyelesaikan pembayaran. Setiap


kali ujian ia dan Yunna menjadi yang terakhir menerima kartu ujian, karena belum juga


melunasi pembayaran.


Mereka menjadi anak yang terkucil dan dibelakangkan, karena ketidak beradaan. Ayah


sering sekali harus merunduk-runduk meminta keringanan dan menambah waktu, sangat


menyedihkan mengingat itu. Sedikit berbeda dengan Prita, meski tidak ada keluarga yang


mendukungnya, tetapi guru-gurunya sejak sekolah taman kanak-kanak yang datang


kesekolah meminta pembebasan biaya untuk Prita sehingga ia selalu luput dari pengalaman


seperti Yunna dan Elsa.


Selain memang Prita berbakat dan pintar, Sejak smp Prita selalu menjadi juara pertama


di kelasnya, begitu juga masa smu, nilai-nilainya selalu sembilan atau sepuluh. Ia seorang


gadis yang tekun. Mewakili sekolah dalam olimpiade matematika dan bahasa Inggris, pernah


guru. guru tetap membanggakan seorang Prita.


Bagaimana dia dulu mendapat uang saku? dengan mengajari anak-anak


orang kaya les privat bahasa Inggris dan matematika. Yah kenapa ia tak mengulangi hal


itu? kreatif mesti menjadi orang yang kreatif dan memanfaatkan semua kemampuan


diri.


Prita mulai mendesain sebuah brosur yang menarik di laptopnya tentang tawaran


les privat untuk bahasa Inggris dan matematika dan kemudian memperbanyaknya. Setelah


itu Prita berangkat dan door to door menawarkan brosur, sebelumnya ia menanyakan


terlebih dahulu apakah ada anak sekolah dasar, atau bahkan smu. Prita merasa pede


dan yakin bisa memberikan yang terbaik dari ilmunya.


 


Pagi harinya ia berkemas untuk membagikan brosur-brosur ke rumah yang megah


dan besar. Ia memilih sedemikian rupa karena menurut pemikirannya hanya orang-orang


kaya saja yang bisa membayarnya dengan cepat dan sesuai dengan biaya yang


ia inginkan. Ia tidak mencari banyak anak, tetapi cukup beberapa orang saja dengan


hasil yang maksimal, sekali datang mereka harus membayar dua ratus lima puluh


ribu rupiah, selama tiga jam. Wah bisa berbisa mulutnya nanti. Tetapi Prita sudah


memikirkan bahwa ia tidak akan melulu bicara, tetapi juga menulis.


 


 


Sebelum pergi membagikan brosurnya ia singgah ke rumah Yunna untuk memeriksa


apakah Yunna sudah pergi ke bar bersama Elsa, agaknya mereka hari ini akan


belajar menari, melentukkan tubuh.


"Yunna sudah berangkat barusan, ibu  pikir pergi ke tempat neng Prita tadi."

__ADS_1


Ibu Yunna muncul di pintu dengan  daster kesayangannya, sebab setiap kali Prita


melihatnya selalu dengan daster tersebut, sehingga Prita pikir itu adalah daster


kesayangan beliau.


"Oh begitu Bu, ok saya akan menyusulnya."


Prita menghidupkan kenderaannya dan lantas melaju di jalanan, ia memikirkan


Yunna dan Elsa, bagaimana kalau ia memberitahu orang tua mereka? sebaiknya


ia tidak diam saja. Dua sahabatnya sedang berada di pintu yang berbahaya. Prita


bimbang tetapi ia sudah sampai ke pintu gerbang sebuah rumah yang sangat


megah dan berhalaman luas.


Ia melihat penjaganya sedang ada di depan gerbang agaknya baru saja mengantar


sebuah mobil, karena si penjaganya sedang berusaha menutup pagar. Serta merta


ia berhenti di depan pintu gerbang itu dan berteriak, "Tunggu pak?"


"Ada apa Kak?"


Pak satpam yang masih terlihat muda tersenyum ke arahnya.


"Pak maaf nih, di rumah ini ada anak sekolahan sd, smp atau smu? saya mau


menawarkan les privat bahasa Inggris dan matematika pak, untuk biaya kuliah."


Prita mengutarakan maksudnya dengan jujur dan terus terang.


"Ada kak."


"Oh ada ya boleh saya ketemu dengan ibu atau bapak mereka?"


"Baru saja keluar kak, sayang sekali."


Prita menggigit bibirnya ia tak beruntung tetapi ia tetap tersenyum, "Kalau begitu saya


menitip brosur ya pak, tolong sampaikan saya ingin menjadi guru les anak mereka


untuk membayar kuliah pak."


"Ok Kak, nanti saya sampaikan."


 


Prita memberikan brosur yang ia buat tadi malam, lalu mengucapkan terima kasih dan


kembali menaiki motornya yang besar, si penjaga sampai terkesiap melihat betapa


gagahnya Prita dengan motor itu.


Prita berlalu dan pergi untuk membagikan brosur, ia hanya berhenti dan bertanya di depan


pintu sebuah rumah yang mewah, sebab menurut pemikiran gadis itu tentu hanya mereka


yang bisa membayarnya tiga ratus ribu rupiah setiap ia datang  mengajar. Ia tidak mencari


banyak anak yang belajar kepadanya, cukup beberapa orang saja. Untuk mengisi waktu


selama liburannya.


 


 


 


 


 


 


Bersambung


 


 


Jangan lupa untuk memberikan like, komen dan votenya ya


penulis sangat berterima kasih


 


 


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan like, komen dan votenya ya


penulis sangat berterima kasih


 

__ADS_1


 


__ADS_2