Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 217. Pesta Pernikahan Perak Raka Dan Mardo III


__ADS_3

Langit biru cemerlang. Hari itu suasana hangat dang tenang. Gerumit-gerumit suara terdengar dari dalam rumah yang besar itu. Seluruh keluarga sudah berkumpul. Pak Bramantyo, istrinya bahkan juga Richi, Laura serta anak-anak mereka. Dari pihak Mardo tentu saja pak Wijaya bersama istri, Patriacia dan suami  juga dua anak mereka. Manggara juga kebetulan sedang mengambil cuti dan ikut berkumpul di rumah tersebut sejak semalam. Tak ketinggalan teman-teman Mardo yakni Putri, Sashi serta Grace. Meriah sekali hari itu.


Tak lama rombongan Deni, Sammy juga telah sampai dan bergabung. Suara-suara tawa kebahagian terpancar dari orang-orang yang bergabung di sana. Makanan melimpah ruah berdatangan dari belakang. Edo, Alan, Rakasiwi  mempersilahkan tamu-tamu yang merupakan keluarga dekat itu sarapan terlebih dahulu. Acara akan dimulai sekitar jam sembilan pagi. Masih banyak waktu untuk bercengkrama dengan anggota keluarga yang jarang bertemu. Pak Bramantyo dan Pak Wijaya  mengenang kembali pertemuan mereka puluhan tahun silam. Siapa yang menyangka pada akhirnya mereka terikat menjadi sebuah keluarga.  Mangara dan Richi juga tengah mengobrol dan sesekali keduanya tertawa lepas.


Di dalam kamar. Raka dan Mardo tengah berpelukkan. Hari itu adalah pernikahan mereka 25 tahun lalu. Saat Mardo tengah bercermin dengan gaun indah yang dikenakannya Raka mendekat dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya ke bahu Mardo. Perempuan itu tercenung, lalu menyentuh lembut lengan suaminya yang membelit pinggangnya dan balik menyandarkan kepalanya juga ke pundak Raka.


"Kamu tau Mi, sebelum aku bertemu denganmu di bandara itu aku bermimpi tentang seorang gadis yang tidak kukenal. Ia tersenyum kepadaku dan bersikap hangat. Gadis itu memasuki mimpiku sebanyak tiga kali, lalu aku bertemu denganmu, dan merasakan bahwa gadis dalam mimpiku itu adalah dirimu."


"Yang benar Pi, kok Pipi nggak pernah cerita, baru sekarang ini aku tau tentang mimpi Pipi itu."


"Karena aku lupa Mi, baru sesaat tadi aku teringat mimpiku itu. Meski pun aku tidak begitu jelas dengannya tapi aku merasakan gadis itu memiliki persamaan denganmu, membuatku nyaman dan merasa bahagia."


Mardo tersenyum lalu membalikkan tubuhnya.


"Tak terasa ya Pi, kita sudah berumah tangga selama 25 tahun. Selama itu kau tak pernah marah padaku, selalu kegembiraan dan kebahagiaan yang kudapatkan darimu Pi."


Air mata tergenang begitu saja di kelopak mata dan jatuh ke pipi yang halus.


"Setiap kali Mimi terbangun dan melihat Pipi disampingku, aku menyadari sudah menjadi perempuan satu-satunya  yang Pipi cintai. A.ku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu dalam hidupku Pi. A-aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu Raka Bramantyo."


Mardo membenamkan wajahnya lebih dalam ke pelukkan Raka. Pria itu memeluk lebih erat dan mengecul puncak kepala istrinya.


"Mi, betapa aku pun selalu bersyukur telah Allah berikan istri terbaik dalam hidupku. Perempuan yang tak pernah mengeluh. Yang selalu mendukungku, mengurusku penuh cinta dan ketulusan. Aku tak akan pernah lupa setiap kenangan manis dan indah yang kita lalui bersama. Jangan sampai hilang rasa cinta kita ini Mi. Akan menjadi kekuatan bagiku, penyemangat dan pendorong keberhasilanku. Selamat ulang tahu pernikahan ke 25 ya Mi. Semoga kita selalu bersama untuk selamanya, aamiin yra."


"Aamiin yra."


Keduanya bertatapan, saling mengusap air mata yang berjatuhan ke pipi. Raka memiringngkan wajahnya lalu menjatuhkan ciuman di sudut bibir istrinya, kemudian keseluruhan bibir yang manis itu. Mardo menyambut dengan gairahnya. Berdua tenggelam oleh cinta yang demikian dalam. Hingga si bungsu mereka yang baru berusia satu setengah tahun menangis.


"Pi, Rama bangun tuh."


Mardo mendorong tubuh suaminya. Raka beranjak melihat anak bungsu mereka yang jaraknya jauh sekali dari putra keempat.  Sekitar delapan tahun. Mereka menamai anak bungsu mereka dengan nama Rama Regawa Bramantyo. Rama adalah singkatan dari Raka dan Mardo.


"Mi, aku bawa Rama ke luar ya."


"Iya Pi, sebentar lagi aku menyusul."


Mardo meneruskan berdandan. Ia memandangi tubuhnya yang langsing berisi, padat serta kenyal. Meski pun sudah tak muda lagi, namun pesona Mardo demikian kuat. Keindahannya terpancar oleh aura kebaikan hati, ketulusan serta rasa keperduliannya. Mardo menghapus air mata kebahagian yang melingkupi hatinya. Tak lama ia pun bergabung dengan keluarganya. Semua mengenakan gaun-gaun yang indah hadiah dari Raka. Brokat mahal berwarna sama untuk semua keluarga. Para laki-lakinya kemeja dan jas.


Teman-teman Mardo juga mendapatkan bahan brokat yang indah untuk mereka pakai di acara itu. Deny, Sammy serta istri-istri mereka menggunakan baju berbahan sama. Putri, Grace dan Sashi mulai mengatur acara tersebut. Raka dan Mardo menempati pelaminan indah bersama anak-anak mereka. Rakasiwi, Cindy, Tria, Dode dan di gendongan Raka putra bungsu Rama.  Keempat anak-anak mereka mengapit di kiri dan kanan. Lalu para orang tua berada di sisi kiri dan kanan.


Para tamu akan memasuki rumah untuk memberikan selamat serta doa. Kemudian  panitia mengiring para tamu undangan ke kebun belakang untuk menikmati banyak sekali sajian. Tentu saja sebelumnya ada pembukaan, tarian, pembacaan kisah cinta Raka dan Mardo serta doa serta ucapan dari para orang tua. Puluhan kamera sudah siap mengabadikan kejadian pesta perak Raka dan Mardo.

__ADS_1


Tamu-tamu mulai berdatangan, diantaranya ada Prita dan ibunya. Rakasiwi segera pergi menyambut gadis cantik tersebut. Mardo juga memberikan brokat kepada Prita dan ibunya.


"Hello Prita, cantik sekali kekasihku."


Rakasiwi terpukau oleh kecantikan Prita. Ia membawa Prita dan mengenalkan pada keluarga. Semua memandangi Prita dan mengagumi kecantikan gadis itu. Selanjutnya  pembawa acara mulai mengarahkan tamu-tamu untuk mengambil tempat dan duduk tenang sebab acara segera di mulai. Tepat jam sembilan pagi terdengar suara host yang mengucapkan Bismillahirohmanirrohim pertanda sudah akan dimulai. Seluruh yang hadir menahan napas, menunggu.


"Hari ini adalah sesuatu yang istimewa untuk bapak Raka Bramantyo serta ibu Mardo Prameswari. 25 Tahun yang lalu mereka mengucapkan janji setia untuk bersama dalam suka dan duka. Mereka berdua telah melalui ribuan hari bersama. Saling mencintai, membantu, bekerjasama membesarkan lima anak-anak mereka yakni, Rakasiwi, Cindy, Tria, Dode serta yang paling bungsu Rama Regawa Bramantyo."


Tepuk tangan dari para tamu undangan, senyum dan kekaguman. Hari itu mereka semua melihat sebuah hubungan yang sempurna dari sebuah pernikahan. Saling mencintai, menghargai dan tidak pernah ada saling menyakiti. Jalan yang berat bisa mereka lalui berdua.


Raka mendapatkan kesempatan untuk bicara. Laki-laki gagah dan berkharisma itu mengucapkan terima kasih pada orang tua yang mendidiknya. Tauladan yang mereka berikan hingga ia menjadi yang sekarang. Lalu ucapan terima kasih dan cinta untuk Mardo yang telah bersamanya selama 25 tahun.


"Saya bukanlah orang yang sempurna. Sebab itu aku selalu berdoa kepada Allah Swt agar diberikan kekuatan untuk terus bisa mendampingi istri, hingga usia lanjut, bersama saling menjaga dan mengantarkan anak-anak pada kehidupan mereka kelak. Tidak mengapa jalan terjal menghalang, asal kamu bersamaku. Terima kasih ya Allah telah diberikan pendamping hidup terbaik, selamat ulang tahun pernikahan dari aku suami dan ayah anak-anak kita."


Kembali terdengar tepuk tangan, selanjutnya Mardo juga mengucapkan sepatah dua patah dan berakhir dengan tangisan dan pelukkan. Selanjutnya ada nasehat dari orang tua mereka, sepanjang jalan kenangan tentang kisah percintaan Raka-Mardo. Dan berakhir dengan saling berpelukkan antara orang tua dan anak-anak. Selanjutnya tamu-tamu menikmati hidangan dan hiburan di taman belakang. Semua beranjak ke sana. Sebab Raka dan anak-anaknya akan bermain gitar.


Seperti yang sudah kita tahu, Raka di masa mudanya adalah pemetik gitar yang mumpuni. Ia jago memainkan gitar dan menyayat-nyayat hati pendengarnya. Kali ini ia bernostalgia lagi memainkan gitarnya dengan lagu lama yang menurutnya lagu ini dulu untuk meluluhkan hati Mardo. Semua yang mendengar tertawa.


"Mengering sudah bunga di pelukkan


Merpati putih berarak pulang terbang menerjang badai


Tinggi di awan


Slamat berpisah, kenangan bercinta


Sampai kapankah jadinya aku harus menunggu


Hari bahagia seperti dulu


Bersama kasih kembali mesra


Bercumbu rayu memadu satu


Janji berjuta bintang


Dalam pelukkan, sehangat pagi yang cerah.


Denting-denting gitar yang di petik begitu menghentak dari seorang pria yang sangat berbakat


Bersama kasih kembali mesra

__ADS_1


Bercumbu lagi  memadu satu


Janji berjuta bintang


Dalam pelukkan, sehangat pagi yang cerah.


Setelah tepuk tangan yang membahana itu Raka kembali mendentingkan petikkan gitarnya, ia mengawali dengan cerita jika menjelang malam, ia akan menelpon Mardo dan bernyanyi dengan petikkan gitar lagu selamat malam.


"Setiap malam saya berusaha menina bobokannya dengan lagu selamat malam, sebab petikkan gitar dan nyanyian juga yang akhirnya membuat istri saya bertekuk lutut pada cinta saya he he he."


Kwa kwa kwa, tamu undangan kembali tertawa, membayangkan kisah cinta Raka dan Mardo.


"Malam ini, sunyi sepi, kau terlena dalam mimpi


Kau tersenyum kedamaian


Menikmati cinta kita


Malam ini sunyi sepi


Bermimpilah tentang cinta


Ku ingin selalu


Bersamamu di sisimu


Selamat malam hoo cintaku,


Raka mengakhiri petikkan gitarnya lalu memberikannya pada Rakasiwi, dan sempat bercanda bahwa pria muda di sebelahnya ini adalah hasilnya bersama Mardo selama ini juga empat lagi. Lumayan banyak hasilnya. Katanya membuat semua tamu undangan yang mendengar kembali geer. Laki-laki itu seperti masa mudanya memang banyak akal dan ceplas-ceplos.


Setelah Rama turun host berkata.


"Sejak muda beliau telah dijuluki oleh gadis-gadis sebagai pria idola, hingga sekarang pun begitu. Perempuan-perempuan dan istrinya selalu menganggapnya sebagai pria Idola. Ia selalu berpesan pada para pria, agar jangan meninggalkan jejak dengan menyakiti hati seorang pun wanita."


"Luar biasa, pesan yang sangat luar biasa pada kita kaum pria, jadilah pria Idola dan jangan pernah meninggalkan jejak dengan menyakiti hati seorang wanita."


Plok! plok! plok! plok


Hidup Pria Idola!


Hidup Pria idola!.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2