
Boy berusaha mendekati Prita. Mencari tahu tentang gadis itu serta melihat tanggapan-tanggapannya saat Ia mendekati. Sayangnya Rakasiwi mengabari bahwa ia akan pulang dan mengundang Prita merayakan syukuran
pernikahan ayah dan bundanya. Rakasiwi tak menjelaskan ulang tahun keberapa. Ia hanya mengirim pesan akan pulang minggu depan karena acara keluarga. Ia berharap Prita dan mama Risa hadir bersamanya.
Prita senang sekali dan tak sabar menunggu. Ia menjadi lebih ceria dan bersemangat. Membuat wajah muda yang cantik segar itu kian merona oleh kebahagian di dalam dirinya. Boy melihat hal itu dan merasa penasaran.
"Kau terlihat merona dan jengah begitu, seperti gadis yang jatuh cinta."
Prita menegadahkan wajahnya bersitatap.
"Pak Boy ini, sok tau deh."
Meski berkali-kali boy menyuruhnya jangan memanggil bapak, karena ia merasa tua. Tetap saja Prita memanggilnya pak atau bapak. Menurutnya itu penghormatan serta pemgakuan bagi dirinya sebagai seorang karyawan. Prita tak mau memberi kesempatan meski hal-hal kecil seperti itu. Ia di mana saja berada selalu memanggil dengan pak. Akhirnya Boy menyerah. Terserahlah, apa arti sebuah panggilan.,
"Weekend kemana nih?"
Boy memancing, kalau Prita menjawab di rumah saja. Ia akan bilang mau datang untuk menemani Prita menghabiskan malam. Namun gadis itu tersenyum.
"Saya ada acara keluarga pak Boy."
"O, gitu ya? acara keluarga apa?"
"Ulang tahun pernikahan!"
"Oh, apakah mau di temani?"
Prita mengangkat wajahnya dan berpandangan dengan Boy.
__ADS_1
"Aku bareng mamaku."
"Oh, aku temani kalian ya, bagaimana?"
Prita tersenyum dan menggelengkan kepala. Mana mungkin. Prita terseyum kecil.
"Itu acara keluarga!"
Gadis itu menekankan kata keluarga. Jelas bahwa Boy belum lagi menjadi anggota keluarga. Kerena tak berhasil mengajak Prita weekend bareng dengannya Boy cemberut dan meninggalkan gadis itu. Ia bersungut-sungut dan kecewa.
Sabtu siang Prita melajukan mogenya ke stasiun.
"Sebentar lagi sudah sampai Baby."
Mereka saling mengirim dan membalas pesan. Hingga akhirnya pertemuan itu terjadi. Keduannya bertatapan dan saling tersenyum. Rakasiwi mengembangkan tangannya, Prita membenamkan dirinya kedalam pelukkan Rakasiwi. Selanjutnya keduanya berjalan bersisian dengan wajah sepenuh senyuman.
"He he, nggak apa-apa kok, kita ke cafe Pria idola dulu ya, haus."
Prita mengangguk. Setelah di cafe Rakasiwi menceritakan tentang acara syukuran ayah dan bundanya. Rakasiwi bilang keduanya sudah menikah dua puluh lima tahun lamanya. Setiap tahun ayan dan bundanya merayakan hari ulang tahun bersejarah itu. Tapi kali ini teman-teman ibundanya ingin merayakan dengan meriah. Mereka mengundang semua teman-teman dekat, saudara serta kenalan.
"Ulang tahun perak!"
"Iya, kalau 25 tahun, disebut pernikahan perak."
"Aku tak mengingatnya, Mereka memang sudah menikah selama itu."
"Luar biasa ya."
__ADS_1
Rakasiwi mengajak Prita ke ruangannya di atas. Ia ada pertemuan dengan managernya. Prita ingat bahwa cafe itu adalah tempat Yunna dan Elsa bekerja. Ia baru tahu kalau cafe itu milik Rakasiwi. Prita membesarkan matanya takjub. Ia lihat Rakasiwi bicara dengan managernya, selanjutnya Rakasiwi menanda tangani beberapa berkas. Selanjutnya mereka pulang.
Suasana rumah ceria dan semarak. Hiasan-hiasan serta balon, kuntum-kuntum bunga mawar yang segar terlihat di ruangan tengah. Besok acara syukuran itu berlangsung. Beberapa anak muda tengah membuat latar yang indah serta tak terlupakan. Mereka sesaat menolehi Rakasiwi dan Prita.
"Kak Prita!"
Cindy terlihat berdiri saat melihat Rakasiwi datang bersama Prita. Seorang pria muda juga ikutan bangun dan menyambut keduanya.
"Hei Cindy."
Prita melambaikan tangannya. Kedua gadis itu tidak terlalu berbeda usia, Cindy kadang ramah dan perhatian. Tetapi memang lebih sering sibuk sendiri. Kali ini dia terlihat welcome.
"Apa kabar Cindy? kau tak mengabariku, kalau aku tau pasti dari pagi sudah di sini."
"Tenang aja kak Prita, banyak yang membantu kok, tuh lihat."
Prita memajukan mulutnya membentuk hurup o. Keduanya segera bergabung dengan yang lain sementara Rakasiwi dan Edo berbincang-bincang. Mereka membicarakan Alan yang tak kelihatan.
"Aku sudah memberitahu kalau ada acara di rumahmu, agaknya Alan masih di luar kota."
"Iya, katanya kalau bisa ijin dia akan datang."
Bersambung
__ADS_1