Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 16. Raka Cemburu.


__ADS_3

Richi dan teman-temannya sudah meluncur ke luar kota. Tujuan mereka ke sebuah pantai yang sangat indah.


Pantai yang terkenal di kota Merauke, dan juga dikenal oleh para petualang  yang menyukai keindahan laut, ombak, serta pemandangan sunset. Menurut mereka yang sudah pernah kesana, pantai lampu satu laut Arafura merupakan pantai yang terpanjang dibanding yang lain. Keindahan saat sunset juga lebih memukai dikarenakan sudut pandang letak pantainya. Para petualang tahan berhari-hari menunggu saat-saat kemunculan sunset yang indah dan unik. Mereka berkemah, membawa perlengkapan tidur serta makanan yang cukup. Setelah terkenal pantai lampu satu laut Arafura berkurang keindahannya. Akibat banyaknya pengunjung yang membuang sampah sembarangan, menggali pasir dan membuat api unggun.


Mas Aris yang mengemudikan mini bis selintas menceritakan tentang pantai yang akan mereka kunjungi. Ada yang mendengar, namun gadis-gadis rupanya suka juga pemandangan  sepanjang jalan. Rumah-rumah nelayan yang kumuh dan sederhana. Di depan rumah teronggok  perahu-perahu tua yang sedang di perbaiki, kapal yang sudah tidak bisa berlayar lagi. Teronggok menjadi sebuah kenangan bagi nakhodanya. Bentangan jala untuk menjaring  ikan juga bertebaran sepanjang tepi jalan. Ada jala-jala yang diperbaiki, sebagian lainnya jala yang sedang dalam pembuatan. Unik sekali rumah-rumah nelayan itu. Anak-anak bertelanjang dan berkejaran di halaman rumah mereka. Beberapa perempuan kelihatan menjemur ikan, setelah memberi bumbu yang wanginya menyebar hingga ke jalan. "Bau apa nih?' cewe-cewe mengendus-ngendus. Bau yang sedap seperti ikan bakar. Iya kata mas Aris perempuan-perempuan itu membuat ikan asap. Ikan-ikan yang tidak terjual biasanya di buat ikan asap agar awet. Ikan -ikan asap itu nantinya bisa dibuat berbagai lauk.


Setelah melewati perkampungan nelayan, kemudian hutan belantara di kiri dan kanan  jalan. Huh! Keren banget hutan ini, hijau sejauh mata memandang. Cowo-cowo memandangi bentangan kebun tersebut, ada wangi yang harum, ternyata di antara kerimbunan rumput-rumput itu ada hektaran kebun kopi yang sedang berbunga. Dan wangi yang sedap itu adalah wangi bunga kopi. Mereka semua baru tau kalau bunga kopi juga harum tak kalah dengan bunga mawar.


Menurut Mas Aris, bentangan hutan tersebut adalah bagian dari hutan Kaimana yang juga sangat terkenal. Sebuah lagu mengabadikan betapa eksotiknya tempat itu, 'Senja di Kaimana.' Cewe-cewe semua membuat bentuk bibir mereka dengan O. "Saya pernah dengar lagu itu, jadi senja di Kaimana itu di sini ya?"


Sepanjang jalan beraspal yang membelah hutan rimba Kaimana, mereka berdecak-decak oleh berbagai keunikkan dan indahnya hutan serta pemandangan lainnya. Bunyi burung serta hewan hutan mewarnai perjalanan itu.


Hingga akhirnya mereka melihat bangunan besar yang menjulang di pantai. Ternyata itu adalah bangunan sebuah mercusuar."Kita sudah sampai ke pantai lampu satu!" Cowo-cowo  berdiri menatap pada ombak yang berkejaran dan menampar pantai. "Wau! ombaknya besar sekali! ngeri!"


Cewe-cewe juga tercekat oleh besarnya ombak  yang bergulung-gulung dan berdebur ke pantai. Beberapa remaja tertawa kesenangan oleh air laut yang menerpa mereka sangat keras. Remaja-remaja itu berkejaran, saling melempar pasir dan menangkap sesuatu yang bergerak-gerak naik ke pantai. Ramai juga suasana pantai saat itu.


Mas Arif menghentikan bis mini yang memuat Richi dan teman-temannya. Mobil Raka tak terlihat. Agaknya mereka tertinggal, atau sengaja berlambat-lambat.


"Inilah pantai Lampu Satu Arafura Merauke, lihat ombaknya dikenal ganas dan penuh misteri. Saat mereka ke pantai itu laut sedang pasang. Kelihatan ombak yang berkejaran bergulungan dan menghempas ke pantai. Jika sedang surut, air laut menjadi sangat jauh dari bibir pantai. Kapal-kapal nelayan tak terlalu banyak. Sebab ombak yang besar.


Richi menyilahkan teman-temannya menikmati suasana pantai yang indah tersebut. Ia sendiri bersama Aris membentangkan karpet besar untuk nanti teman-temannya beristirahat. Juga memasang tenda besar. Mereka bakal lama menghabiskan waktu di pantai tersebut.


Beberapa waktu berlalu, Richi melihat Mardo duduk sendirian memandangi teman-temannya yang bermain dengan ombak. Mereka berdiri di tepi pantai menunggu ombak, begitu ombak datang mereka berlarian menjauh. Yang terlambat tentu saja kena sembur ombak,  menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Mardo terkekeh kegelian melihat Halima beberapa kali terkena terjangan ombak. Halima terlempar ke pantai dengan tubuh yang basah.


Richi ikut tertawa melihat tingkah cewe-cewe yang bermain di pantai. Ia duduk di dekat Mardo. Raka yang baru saja tiba melihat pemandangan itu. Serta merta ia menginjak gas tanpa pikir panjang hingga mobil terlonjak kencang ke arah Richi dan Mardo. "Hei! awas! jangan pacaran di pantai ini."


Pasir beterbangan terkena ban mobil yang berlari kencang, Richi menarik tangan Mardo berusaha menghindar. Namun semburan pasir telah mengenai baju dan rambut mereka.


"Kak Raka! brengsek!"


Richi berteriak sekuat tenaga, ia kesal karena bajunya kotor, juga rambutnya. Untung saja tidak, mengenai matanya.


Richi membantu menepiskan pasir yang menempel di baju gadis itu. Mardo terlihat kaget.


"Kakakmu seperti orang gila, dia ingin menabrak kita."

__ADS_1


Richi menatap wajah Mardo yang kesal.


"Bu-bukan, dia hanya menggodaku, kita jalan-jalan saja yuk."


Richi mengajak Mardo menyusuri pantai yang memang sangat panjang.


Mardo tak menolak, mereka melupakan kejadian tadi dan berjalan menyusuri sembari bercengkrama.


Raka memutar mobilnya dan kembali mendekati Richi dan Mardo.


Mardo melihat keong yang lucu. Ia merunduk untuk memperhatikannya. Richi mengikuti perbuatan gadis itu.


"Rich, keong yang lucu. Keduanya asyik bermain dengan keong laut yang seperti kelaur dari laut.


Richi membuat tembok dari pasir, Mardo menaro keong-keong tersebut yang berusaha keluar dan memanjat tembok pasir buatan Richi. Mereka tertawa melihat keong-keong yang berusaha keluar.


Sebuah semburan pasir kembali menerpa tubuh yang sedang asyik bermain di pasir.


"Oh, ya ampun apa ini?"


"Rich, kakakmu lagi tuh, kenapa siah dia?"


Mardo menepiskan pasir yang mengenai bajunya.


Raka dan teman-temannya tertawa melihat keadaan Richi dan Mardo.


Deni dan Sammy menganggapnya perbuatan bercanda, sementara Raka melakukannya karena ia sangat marah melihat Richi bersama Mardo. Darahnya mendidih oleh rasa cemburu.


Rasanya Raka ingin menghajar adiknya itu, tapi ia hanya bisa meluapkan rasa marah dan cemburunya dengan menginjak gas sekuat-kuatnya hingga pasir beterbangan di dekat adiknya dan Mardo.


Mata Raka terus memperhatikan pasangan itu. Ia lihat adiknya berjalan ke arahnya. Ia dengan gemas mematikan mesin mobil, keluar dan membanting pintu. Ia menunggu adiknya itu untuk memarahinya.


"Apa-apaan kak Raka? seperti orang gila! bajuku dan Mardo terkena pasir tau!"


Raka menoleh dan menatap sembari menahan kecemburuannya.

__ADS_1


"Pantai ini bukan untuk pacaran!, jangan macam-macam!"


"Siapa yang pacaran?, aku dan Mardo berteman dan bermain-main, masa begitu saja tidak boleh."


"Tidak boleh! cepat ajak gadis itu ke tempat teman-temannya, jangan berdua-duaan."


"Suka-suka aku, kak Raka jangan mengaturku!"


Keduanya saling berpandangan, sama-sama marah.


"Aku dipeprintahkan Papi menjaga kalian!"


Raka merasa perbuatannya benar. Tapi Richi berpikir lain.


"Aku bukan anak kecil!, menjauh dariku dan teman-temanku."


"Kamu melawan kakakmu yah!"


Raka mendorong adiknya hingga mundur beberapa langkah. Hampir saja Raka menampar mulut adiknya itu. Untungnya Deni menarik Richi dan memisahkan mereka. Namun peristiwa itu banyak yang melihat.


Mardo tertegun berdiri melihat yang terjadi. Ia terbengong.


 


 


Bersambung.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2