
Semua memandang pada Cindy, dan Fani.
"Hadiah ulang tahun yang terindah bagi kami adalah jika kalian berbaikan, please perbaikan untuk kami."
"Ayo."
Ara memeluk Cindy dan mendekatkan tubuh gadis itu ke dekat Fani. Wina juga mendorong Fani agar lebih dekat.
"Ayo, kita semua menyaksikan momen ini loh."
Cindy tersipu mengigit bibirnya, bukan rahasia lagi beberapa bulan ini ia dan Fani seperti Tom and Jerry.
"So sorry..."
"Cintah, please hadiah paling indah buat Gwe, Ulum dan Delon adalah kalian berbaikkan di depan kami..."
"Setuju!!!"
Semua anak-anak berteriak kompak , Ara kontan menarik lengan Cindy dan Wani menghampiri Fani menyeretnya
ke tengah-tengah di depan Alay, Ulum dan Delon.
" Please berbaikan."
Cindy melirik sebaliknya Fani juga menoleh.
Please deh....
"Cindy maafin Fani ya.".
Fani menjulurkan jari kelingkingnya.
"I-iya Cindy juga minta maaf."
Malu-malu memberikan jari kelingking dan menautkannya dengan jari Fani
Horeeeee!!!!!
Berpelukkkan!!!!
Cindy dan Fani saling berpandangan lantas bergerak cepat untuk berpelukkan, Alay ikut memeluk, Ulum dan Delon juga, tak ketinggalan anak-anak sekelas. Akibatnya mereka berjatuhan dan tersiram adonan martabak
"Aaaahhhh....gila habis."
Setelah acara gila-gilaan itu, barulah tumpeng dikeluarkan, sebelumnya Alay, Ulum dan Delon buka kado yang berlapis-lapis dan menemukan kaos u can see warna pink ha ha ha semua anak-anak ketawa. Tapi apa boleh buat dari pada pakai baju basah dan bau, terpaksa ketiganya mengenakan baju seksi tersebut.
"Guprakkkk...kado apaan sih ini? keterlaluan!"
***
Di Sebuah tempat yang dilalui bolak balik kenderaan
Anak laki-laki itu memasuki rumah besar yang melompong, tidak ada satu orang pun di dalam.
'Ah, Mami pasti sibuk ngurusin bisnisnya di sebelah rumah.'
Anak ;laki-laki itu lumayan bijaksana, ia tau pasti mami ada di rumah sebelah yang di buat untuk usaha i yakni
menjadi distribotur tunggal suatu branded tas. Siang seperti ini banyak pembeli yang berdatangan untuk
berbelanja untuk keperluan sendiri atau untuk di jual lagi. Wanita-wanita sekarang merasa lebih baik
memanfaatkan waktu untuk mencari penghasilan tambahan dari pada bergosif ria. Demikian halnya dengan
Maminya.
Agaknya ia sudah terbiasa dengan keadaan rumah yang seperti itu. Orang tuanya cuma punya satu anak. Mami sejak lama sudah merintis usaha penjualan tas wanita dengan segala macam pernak-pernik lainnya. Papi tidak membolehkan mami bekerja, tapi tidak otomatis mengekangnya. Melainkan membolehkan istrinya mengaktualisasikan dirinya dengan bisnis sendiri di rumah dan tidak mengabaikan keluarga. Untuk hal tersebut Papi terpaksa membolehkan mami membangun sebuah ruko di sebelah rumah.
Kebetulan juga letak rumah berada di satu jalan yang lumayan ramai, sehingga plang usaha Mami nampak
dari berbagai arah jalan,
"Rama! Ma, kasepnya Mami, perasaan anaknya Mami dah ada di rumah."
Anak laki-laki yang bernama Rama itu menolehi Mami yang memasuki ruangan sembari bersenandung. Senyum Mami mengembang ketika melihat putra terkasihnya tengah menikmati makan siang.
"Eh, si ganteng tampan lagi makan yaa, Mami masak pepes ikan mas presto kesukaanmu loh Nak, makan yang banyak ya Nak."
" Mami sini makan juga dong."
Rama sambil menelan makanan.
Mami mendekat, menarik kursi dan duduk dekat Rama, menyendokkan nasi ke piring Rama dan piringnya.
__ADS_1
"Mami, aku udah kenyang, nanti badanku tambah gendut dong."
"Tapikan tetap ganteng, ihhh ikan masnya habis yaa, Mami kebagian yang kecil."
"Ah Mami serba salah nih, kalau makan sedikit marah, giliran makan banyak kena sindir juga."
Bibir Mami mengembang, "Kata siapa marah? Mami senang kalau Ganteng makan ikan pepes yang paling gede,
kalau papi yang kecil aja."
"Mam, dah ngomong sama Papi belum?"
"Apaan tuh?"
"Yah Mami gimana? Rama minta dibeliin motor Harley."
"O_ udah, tapi Papi nggak setuju, takut nanti buat kegiatan nggak benar."
"Kegiatan nggak benar gimana Mi? buat dikenderai ke sekolah aja."
"Kata Papi lebih aman naik mobilmu itu loh, papi bilang lagi kalau mau ganti mobil baru ok, tapi kalau motor
kayaknya Papi kurang setuju."
"Papi atau Mami yang kurang setuju?"
"He he he, sebenarnya Mami...tau sendiri Papi, apa aja keinginan Ganteng pasti dikabulin, tapi Papi nggak tau
gimana keadaan di jalan dan pengendaranya ugal-ugalan."
"Ah, mami begitu."
Rama memotong lantas meninggalkan Mami, " Pokoknya kalau Mami nggak ngijinan, Rama mogok les."
"Ya udah, ya udah...nanti Mami pertimbangkan lagi yaa Ganteng, nanti pergi les musik ya, Mami nanti siapin
bekal yang paling enakkkk."
Rama manyun, emang Rama anak taman kanak-kanak apah Mi?
Anak laki-laki kelas dua SMU itu, lantas duduk di sofa dan menghidupkan tivi, menonton tapi pikirannya tertuju pada seseorang. Hemmm dia cantik sekarang. Dan ingin naik motor Harley keliling kota sama seseorang. Teringat
Rama teringat suatu siang ia dan beberapa teman tidak langsung pulang melainkan mampir ke pertokoan terbesar di kota itu, ada pameran moge. Banyak pengunjung di sana, diantaranya gadis-gadis SMU dan SMP.
"Ra, keren banget. Seandainya bisa mengenderainya dengan seseorang pada malam berdua saja berkeliling kota ouhh! hebat!!!"
"Naik moge di malam minggu dibonceng sama seseorang aih!"
Sembari melompat oleh khayalan indahnya, hingga mengenai seseorang.
"Aduhhhh!!!"
"Eh, maaf nggak sengaja."
Itu awal pertemuan dengan gadis smp cantik itu, dan selanjutnya Rama tak pernah tidak memikirkan sosok itu.
Setiap waktu, sepulang sekolah ia mengawasi kemana dan dimana dia pergi. Semakin mudah karena ternyata gadis itu berasal dari alumninya di smp. Mereka sering ketemu.
***
Di kelas Cindy menjelang pulang sekolah.
"Pulang sekolah jangan pada pulang ya."
Sabrina si kenes dan ganjen berdiri di depan kelas meminta perhatian.
"Memang kenapa nggak boleh pulang Sab?"
" Sab! Sab!.. Ina gituh dong."
Sabrina paling kesal kalau dipanggil Sabrina, karena di kelas lain ada cewe yang dipanggil Sab juga kepanjangan
Sabariah. Tapi dasar anak-anak senang banget kalau Sabrina sewot. Tetap aja manggil Sab meski sudah diperingatkan kira-kira 100 kali kurang lebihlah.
"Kasih tau nggak ya yahhh?"
Bikin anak-anak sekelas dongkol bin eneq.
"Udah cepatan kasih tau, belum pernah sepatu nemplok di pipi ya?"
"Maksouddd loeh?"
Alay melepas sepatu kucel kira-kira setahun belum pernah dicuci.
"I-iya iya...gitu aja marah."
__ADS_1
Sabrina buru-buru serius, mana tahan kalau itu sepatu lewat di depan hidung..ihhh amit-amit..
"Tau Dea? itu teman kita juga. Tadi doi titip pesan ke gwe pulang sekolah di tunggu di Wendys Grage, doi ulang tahun."
"Asyiiii."
"Tong khilap yaa!!! ditunggu kituh."
'Iyaaaa!!!'
Semua anak-anak melebarkan bibir pertanda bahagia. Pulang sekolah? sedang lapar dan haus-hausnya gituh kan?
Betapa senang dan bahagianya ada undangan ultah di saat yang tepat hemmm....terbayang potongan ayam goreng renyah nan hangat plus sambal plus dingin dan segarnya segelas juece, Dea top banget deh. Anak-anak saling menunjukkan jempol.
"I like!! I like."
Kata mereka tak sabaran untuk mengakhiri pelajaran, bahkan nyaris semua anak-anak berharap guru yang mengajar terserang penyakit diare gituh, atau mendadak saudaranya ada yang meninggal hwe hwe hwe...
"Kira-kira Deni diundang nggak yaa?"
"Cie cie...kok ingat Deni si manusia ikan...mencurigakan nich."
Ups...Cindy menutup mulutnya, kok bisa keceplosan nyebut nama si Deni ya?
Replek saja mulut. Mungkin karena beberapa hari ini, Deni sering ketemu secara nggak sengaja. Tadi pagi aja sama-sama berlarian ke arah pintu gerbang dan berebut masuk, sampe-sampe pintu pagar sekolah nyaris ambruk. emang terbuat dari papan tuh pagar hwe hwe hwe.
Sepulang sekolah anak-anak teman Dea sejak dari kelas satu yang dekat sama dia diundang semua. Dea booking restoran ayam goreng Wendys khusus special ultahnya doi. Maklum Dea anak pengusaha, booking wendys mah imut banget bagi dia.
Ultah tahun yang lalu Dea booking hotel Aston dan buat acara besar-besaran. Kalau Cindy ultahnya selalu di kebun belakang yang luas. Suatu hari nanti Cindy akan minta di rayakan di cafe ayah aja. Di sana makanan dan minumannya tak kalah dengan Wensys, bahkan lebih banyak pilihan.
Dad and mom banyak duitnya tetapi dia nggak bakal boros-boros gituh kalih, tau aja Cindy super pelit dan perhitungan. Semua serba timbang sana-timbang sini, maklum juga bintangnya bintang libra yang gambar timbangan itu. Padahal bunda itu agak-agak boros dan tidak njelimet, anehnya dia njelimet banget dan kata teman-temannya pelit. Barangkali ketularan tetangga waktu bunda hamil. Tetangga disalahin he he he
Waktu Cindy, Fani, Ara serta Wani dan beberapa kelompok anak-anak sekelas di pojokkan ada dua anak smu. Apa mereka tidak tau tempat itu dah di booking Dea? Cuma waktu Cindy menjulur-julurkan kepala cari posisi meja yang enak agak kaget karena dua anak SMU itu kak Rama dan temannya, ups terpaksa deh Cindy senyum.
Sejak dikatain miss marah-marah dan jutek sedunia oleh anak-anak sekelas ia berangsur berubah. Mulai memberi senyum kalau bertemu seseorang, mulai ramah. Itu membuatnya cantik. Kata bunda, bagi teman dekatnya dia tetap miss jutek, yang kalau ngomong seperti kereta api expres, tanpa titik koma apa lagi tanda tanya.
"Hai Vie."
Rama melambaikan tangan.
Fani melihat lebih dulu lambaian itu membalas, heiii....
Ara tak menerima, menarik lengan Fani."
"Jangan geer deuh, Kak Rama melambai pada Cindy tau."
"Masa sih?"
"Sashi cuek."
Sementara Rama yang tersihir oleh Cindy menatap tak berkedip.
" Ma, itu si Olive ya?"
" Olive?""
Rama tercenung, "kok Olive sih?"
"Dulu dia kurus dan ceking kaya Olive istri Popaye, skarang hemmm...dah mulai cantik tuhhh."
Keduanya sama menatap pada Via, adik kelas mereka dua tahun yang lalu.
Semakin lama tempat itu makin penuh dan ramai, akhirnya Rama serta temannya memutuskan keluar, sesaat
Rama menghampiri meja Via, "Hai, Cindy ada acara apa nih?"
"Ulang tahun kak."
"O, ok deh kak Rama pulang duluan."
"I-iya kak."
Setelah kakak kelas mereka keluar, dan pesanan berdatangan. Mereka semua menikmati makan siang bersama di tempat itu. Wajah-wajah riang, gembira dan bahagia.
__ADS_1
Bersambung