Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 25.Takut Jatuh Cinta


__ADS_3

Ternyata Raka adalah si penelepon misterius saat kepindahan dulu. Setiap sore dan malam acap kali menelpun tetapi hanya memperdengarkan denting-denting gitar. Lantas ia tak mengindahkan si penelepon itu, setiap kali ada telpun untuknya, ia tak mau menerimanya. Buat apa ? pikirnya tak mau bersuara mengenalkan namanya. Apa yang kak Raka inginkan darinya? Ternyata dia mulai mendekati  sejak kejadian di bandara itu.


Kemudian pertemuan-pertemuan yang tak sengaja hingga kemarin saat kudanya tak terkendali.


'Bukankah kak Raka ada di belakang saat mereka naik kuda, ia melihat sosoknya yang berlambat-lambat bahkan berhenti untuk main air laut bersama kudanya. Oh, Mardo mendekap mulutnya. Jangan-jangan kak Raka yang menyebabkan hal itu. Kak Raka yang menakuti kudanya hingga meronta dan lari tak terkendali.


Pemikiran itu menyebabkan Mardo takut pada Raka. Laki-laki itu bisa melakukan apa saja demi keinginannya.Ia harus berhati-hati dan menjauh. Pria itu selalu mengincernya, sejak kepindahannya.


"Mardo! torang su bangun kah?"


Suara Zamzam serta ketukkan di pintu.


Mardo segera membuka pintu untuk teman-temannya. Agaknya mereka ingin tau keadaannya.


"Hei, torang sudah sembuh kah? kita semua cemas pada torang, mau buru-buru pulang malah mobil bannya kempes."


Zamzam bercerita panjang lebar, "Kitong pulang sudah malam, jam setengah dua belas. Semua orang su tidur."


"Hah! semalam itu?"  Mardo membesarkan matanya. Teman-temannya duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Iya, kitong juga terjebak keramaian di perumahan nelayan ya."


Rossy menambahkan cerita kemalangan mereka malam itu, "Lengkap sudah he he he."


"Ya ampun kasihan sekali kalian, tapi asyiik kan? kalian selalu bareng-bareng."


"He he he, benar."


"Yuk, kita sarapan, nanti  kita rencanakan lagi kemana liburan hari ini?"


Gadis-gadis janjian untuk turun bareng, mereka juga menelpun Richi, Sulaiman, Husen dan Wiliam.


"Mari mo, Richi dan teman-temannya sudah ada di restoran."


"Oh, mereka su duluan, mariiii kita cepat turun."


"Mariiii, mariiii."


Setengah bergegas dan terburu, semua menuju restoran untuk sarapan.


Namun mendadak Mardo menggamit tangan Vana, gadis itu menolehi Mardo yang berhenti.


"Kenapa? ayo, kita akan menikmati sarapan lalu pergi ke tempat rekreasi."


Mardo melihat sosok Raka di restoran bersama Deni dan Sammy. Jantungnya berdebar-debar


oleh sosok tersebut.


"Van, kamu pergilah duluan, mendadak perutku sakit."


Mardo beralasan. Tak menunggu Vana mengucapkan sesuatu  Mardo segera berbalik pergi ke kamarnya.


Vana hanya mengangkat bahu, lantas bergegas bergabung dengan teman-temannya.


"Mana Mardo? tadi ia bersamamu kan Van?"


Semua mata menatapnya. Menunggu penjelasan dari Vana. Mereka takut terjadi sesuatu lagi.


"Mendadak sakit perut!"

__ADS_1


"Oh. Sakit perut, ya ampun, semoga dia cepat turun."


"Nanti, beta liat ke atas, kalian tahu? Mardo seperti pingsan kemarin, Dia bangun jam sembilan."


Teman-teman mendengarkan cerita Sarah Lee yang memang bersamanya. Jadi Sarah Lee tau tentang yang terjadi.


"Dokter bilang, hanya trauma dan ketakutan, Mardo akan sembuh dan pulih."


Semua mengangguk-angguk, lantas menatap Richi, "Apakah kita pergi jalan-jalan?"


Richi terdiam lantas menjawab, "Terserah, coba nanti Sarah Lee, torang lihat keadaan Mardo ya.


Kalau dia bisa pergi, maka kita pergi."


"Ok, Beta naik sebentar ya, sarapan dulu."


Selanjutnya gadis-gadis yang sudah mengenakan kaos serta celana jeans itu menikmati sarapan . Raka memperhatikan gadis-gadis di sebrangnya. Ia tak melihat Mardo. Kenapa dia tak turun ya? bukannya dia sudah sembuh? bahkan tadi malam merasa lapar. Atau mungkin lemas lagi.


Aku akan ke atas, untuk menengoknya. Tapi, teringat betapa hesterisnya gadis itu saat ia terbangun dan melihat dirinya ada didekatnya. Raka menjadi ragu-ragu. Tak lama ia melihat  Sara Lee naik ke atas. Raka yakin gadis itu akan melihat keadaan Mardo. Lebih baik ia menunggu.


Sarah Lee mengetuk pintu dan memanggil Mardo.


"Do, apa kamu baik-baik saja? kami menunggumu di restoran,"


Mardo membuka pintu, menatap pada Sarah Lee.


"Apa dia masih di sana?"


Mardo menatap mata Sarah Lee.


"Siapa? siapa yang dimaksud?"


Mardo menjadi jengah, sekaligus kesal.


O, Sarah Lee, baru mengerti. Tapi memberi pengertian pada sahabatnya itu.


"Memang kenapa? kak Raka sudah baik sekali padamu Mardo, dia menolongmu."


Mardo tak mau mendengarnya.


"Kalau dia masih di sana aku nggak mau turun, biar aku tak sarapan."


"Oh, kalau begitu aku bawakan sarapanmu ya, kemudian kita berangkat jalan-jalan."


"Ok, baiklah."


"Thanks ya Sarah Lee, kamu baik sekali."


Sarah Lee tersenyum,lantas bergegas turun dan melapor pada Richi, bahwa Mardo siap pergi jalan-jalan.


Hore!!!


Semua bersorak gembira. Richi pergi diikuti Sulaiman. Ia akan melihat mas Arif.


Akhirnya kita pergi jalan-jalan, asyiikkk. Mereka semua tersenyum dan ceria.


"Betapa sedihnya jika seorang diantara kita sakit, atau tak bisa ikut menghabiskan liburan ini."


"Tentu saja!, kita harus selalu bersama, selalu kumpul dan kompak."

__ADS_1


"Juga saling memperhatikan dan menjaga selalu."


Siappp bosku!


Husen menyahut paling keras, semua tersenyum dan senang.


"Ayo, hari ini mas Arif mau membawa kita ke taman Wasur, kalian sudah siap?"


Mobilnya sudah terparkir di halaman hotel.


Taman Wasur menurut Mas Arif  adalah kawasan lindung. Taman itu tempat tinggal beberapa hewan yang hanya ada di Merauke. Seperti burung Kasuari, Kanguru dan terutama rusa. Hewan itu suka berkelompok di berbagai tempat. Hewan yang imut dan lucu.  Selain itu ada tiga ratus lebih jenis burung yang hidup di sana. Termasuk taman terbesar di Asia.  Memuat flora dan fauna yang unik dan langka. Mardo merasa beruntung bisa datang ke taman tersebut. Jika Papi tak mengajaknya pindah ke kota Eksotik tentu ia tak akan bertemu dengan Richi dan teman teman lainnya.  Mardo tersenyum sepanjang jalan. Ia merasa selalu beruntung dalam kehidupannya.


Taman itu tidak terlalu jauh dari hotel, sekitar sepuluh kilo


Tempat itu  berada sekitar sepuluh kilo meter dari hotel  dan pusat kota Merauke.


Di dalam mobil Betty bermain gitar dan mengajak teman-temannya bernyanyi. Mas Supir tersenyum oleh kegembiraan penumpangnya.


'Ini teluk kami, laut kami


Kami lahir untuk negeri ini


Ini gunung kami tanjung kami


Bukan pilihan tapi karena takdir


Dibangun atas falsapah


Satu tungku tiga batu


Negeri ini akan selalu menghiburmu


Ini negeri kami ya Tuhan


Biarkanlah kami tetap berjalan


Bersama janjimu leluhur


Sampai napas ini berakhir


Idu idu Manina


Kami selalu hidup dengan tenang


Idu idu Manina


Kami selalu hidup dengan damai.


Note lihat You tube


(Lagu People Papua Barat,Satu Tungku tiga Batu)


Sahabat penulis, Halima Haremba selalu menyanyikan lagu ini


dan mengajarkannya pada penulis.


Halima dimanakah torang sekarang? beta rindu padamu.


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2