
Prita memasuki kamar kostnya, bibirnya tersenyum. Hari ini bahagia sekali. Gadis itu
menyandarkan kepalanya ke pintu masih dengan bibir yang tersenyum dan mata berbinar.
Ia dan Rakasiwi semakin dekat, dan mereka sudah banyak sekali mengobrol sepanjang
hari. Entah berapa kali saling tatap, dan tadi Rakasiwi menyentuh jemarinya saat menyebrang.
Melindungi dirinya dengan berjalan di sebelah kanannya. Indah sekali hari itu.
Rasanya malam ini keduanya tak akan bisa tidur, mengingat kejadian tadi siang. Memang tidak
ada yang istimewa. Hanya menjemput di stasiun, melakukan perjalanan dengan mobil online,
makan dan menikmati suasana di lingkungan gedung seribu pintu. Lalu pulang ke kost, bertemu
dengan teman-teman kost dan mereka semua di traktir oleh Rakasiwi. Baru sekali ini rasanya
merasakan bahagia serta perasaan berbunga-bunga, hatinya terpaut terus menerus pada
Rakasiwi. Wajah tampan itu, matanya yang bersorot lembut, senyumnya dengan sedikit lekuk
di pipi, diamnya dan sesekali konyolnya. Dia, yah dirinya jatuh cinta pada Rakasiwi. Tak
dipungkiri lagi, jatuh cinta yang pertama. Telah memiliki seseorang di hatinya, yakni Rakasiwi.
Sementara si putra sulung dari Raka Bramantyo dan Mardo yakni Rakasiwi, juga merasakan
bahagia serta dada yang meletup-letup seperti kembang api. Di dalam mobil online yang
membawanya ke hotel di tengah kota Semarang, bibirnya yang tidak terlalu tebal itu, melainkan
sedang, sesuai dengan wajahnya juga tak lepas dari senyuman. Tak bisa lepas dari saat-saat
ia bersama Prita. Wangi rambut dan tubuhnya masih tercium, suara tawa yang renyah serta
bulu-bulu mata yang lentik meneduhi matanya begitu indah dan bosan menatapnya. Satu hal
ia telah jatuh cinta pada Prita, dan cinta itu semakin hari tak terkendali pertumbuhannya. Hingga
ia berani datang ke kota tempat Prita menetap.
Rakasiwi memang laki-laki yang tak mudah bergaul dengan teman-teman perempuannya. Ia
sulit didekati dan mendekati. Bukannya dia tidak tau kalau beberapa teman perempuannya
di sekolah dan kampus yang sekarang berusaha menarik perhatiannya. Tapi ia mengacuhkan
mereka semua. Tidak ada rasa yang timbul di hatinya terhadap perempuan-perempuan yang setiap
hari bertemu dan bergaul dengannya. Ia memang tidak bisa menjauh, sebab sama-sama
seruangan dan satu gedung perkuliahan. Ia menganggap mereka semua sekedar teman saja.
Tidak pernah berubah dari sekedar teman.
Berbeda dengan Prita, meski awalnya pertemuan mereka terjadi karena gadis itu sedang
terburu-buru dan menabrak dirinya. Keduanya sama-sama melotot dan masing-masing
melemparkan kata-kata omelan, namun sepersekian detik pertemuan mata telah membuat
keduanya terdiam, telah menimbulkan sebuah rasa yang sukar diungkapkan. Keduanya
sama-sama menolak dan merasa itu tak mungkin, Prita segera berlalu demikian juga
__ADS_1
Rakasiwi. Tetapi dewi cinta tak mau gagal, ia membuat Prita menjatuhkan dompet
mungilnya, tetapi itu pun hampir gagal, karena Prita hanya merespon dengan ucapan
terima kasih.
Dewi cinta hampir tak bisa berbuat apa-apa kepada dua orang yang mengacuhkan
cinta. Dua orang yang sama-sama fokus dan hanya memikirkan study. Merasa keduanya
masih kecil dan belum pantas untuk bercinta dan memiliki kekasih. Rakasiwi berpikir
kalau keuangannya saja masih berasal dari pemberian orang tua. Sementara Prita
memang terobsesi menyelesaikan studynya kemudian bekerja dan bisa membahagiakan
perempuan ibunya.
Takdir cinta pada akhirnya menang, mereka telah terpanah dengan tepat ketika
bertemu lagi di rumah Bramantyo. Siapa yang menduga Prita menjadi guru les
bagi Tria dan Dode, adik-adik Rakasiwi. Pertemuan-demi pertemuan, serta keakraban
adik-adiknya, bunda dengan Prita semua hal tersebut ikut menumbuh subur dan
kembangkan benih-benih cinta antara keduanya.
Hingga ke hari ini, Rakasiwi merasakan rasa suka dan cintanya tumbuh subur. Prita
ada di matanya, ada di langit-langit kamarnya, di tempat tidurnya saat ia merebahkan
tubuhnya seusai membersihkan dirinya di kamar mandi hotel.
"Puspita, camammu udah sampai hotel, dah dari tadi sih, sekarang udah mau bobo."
Prita juga belum bisa tidur, ia tengah menonton film korea yang direkomendasiin oleh
teman-temannya. Biasa memang Prita sebelum tidur terlebih dahulu menonton
drama-drama Korea yang bersambung hingga ratusan episode. Tetapi anehya tak
jenuh menonton dan mengikutinya. Entah telah berapa ratus drama korea yang usai
ia tonton, dan kesemuanya tak membuatnya kecewa. Kisah-kisahnya bagus dan
tragis namun berakhir happy ending, menyenangkan.
"Oh, alhamdulillah kalau udah sampai, mat bobo aja ya hape nice dream."
Prita membalas dan memberikan emotion selamat tidur, Ia lihat Rakasiwi sedang
mengetik, "Makasih, kamu juga mat bobo ya semoga mimpi indah tentang kau dan
aku,"
Rakasiwi tersenyum, kok bisa ya dia lancar sekali mengirim pesan pada seorang
perempuan. Dan perasaan malunya sudah tak terlalu banyak.
"Makasih camamku, istirahatlah."
"Muah."
Prita membesarkan matanya, Rakasiwi menulis apa itu? wahhh, darah menjalar cepat
__ADS_1
kesemua tubuhnya, pipinya pasti telah merah, apa jawabnya ya. Aduh, masa muah
juga ichhhh nggak ah.
Gadis itu risau, ia akhirnya hanya menulis, "He he he."
"Kok ketawa?"
"Bobo sana!"
"Yuk bobo sekarang, ngantuk banget."
Lalu Rakasiwi tertidur amat lelap, begitu juga Prita. Gadis itu memiringkan tubuhnya
setelah menaro hpnya di meja tak jauh dari tempat tidur. Ia memeluk bantal guling
yang wangi karena baru saja diganti, lantas tersenyum dan memejamkan matanya.
Malam adalah waktunya berhenti dari keseluruhan aktifitas. Tubuh dan otak juga
perlu istirahat setelah bekerja keras sepanjang hari. Tanpa istirahat, tubuh bisa
mengalami ketidak seimbangan, dan menyebabkan mudahnya terserang penyakit.
Diciptakan malam untuk berhenti, dan jika pencipta kita menghendaki kita bisa bangun
lagi dan mengisi hari dengan bekerja yang berkah dan bermanfaat.
'Apa camamku sudah bobo ya?'
hati Prita masih saja memikirkan laki-laki yang sekarang ada di satu kota dengannya.
'Apakah dia memikirkan aku, seperti aku memikirkannya? mengingatku? karena
aku juga mengingatnya. Kata teman, jika kita mengingat seseorang berarti orang
yang sedang kita ingat itu juga ingat pada kita.'
'Kuharap aku yang selalu di hatinya, ingatannya.'
Barulah Prita terlelap, terdengar halus napasnya yang teratur.
Betapa banyak hatinya bicara hari ini, mungkin karena ketakutan-ketakutan kecil
yang sebenarnya lumrah bagi yang pertama merasakan yang pertama. Takut ia
terlihat jelek, tak pantas, salah juga terlihat bodoh.
Tetapi hati juga menghibur, bahwa dia di sana juga mengingatmu, merindukanmu
hingga ia rela melakukan perjalanan hanya untuk bertemu denganmu. Apa itu
bukan pertanda kalau dirimu sangat berarti baginya. Kau special!"
Cikidot, sampai jumpa lagi. dukung Pria idola ya teman-teman.
__ADS_1
Bersambung