Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 61 Bersiap Ke Pesta


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Riza sudah datang menjemput gadis-gadis. Mardo mengucapkan terima kasih dengan


memberikan ciuman dan pelukkan ketat pada tubuh bibi Shanen. Menyalami Paman dan memeluk


sepupunya Amlan yang baik.


"Makasih masakkannya ya Bi, juga suasana kampung ini yang tak terlupakan."


Mardo melambaikan tangan serta memberikan senyum cantik.


"Hati-hati yang Nang, salam untuk papi dan mamimu, salam rindu."


Siap Bi!


Perlahan Riza melajukan mobilnya menuju pintu gerbang dan kemudian bentangan pohon karet


serta gerumbul rumput dan ilalang. Burung-burung berciap, seperti mengantar kepergian gadis-


gadis. Berkesan sekali menginap satu malam di rumah Bibi Shanen. Banyak cerita tentang


masa kecil  bibi dan adik-adiknya. Tentang Papi yang suka menjitak kepala kakak dan adiknya


saat makan bersama. Papi sangat usil, dan paman yang paling tua pemarah. Keduanya


sering bergelut, berkejaran hingga rumah berantakan. Semalaman itu bibi bernostalgia tentang


kelucuan masa kecil. Apa lagi bibi bercerita dengan bersemangat. Sebentar-sebentar terdengar


suara geer, ha ha ha.


"Bibi Shanen lucu ya, aku sakit perut dibuatnya tertawa."


 Di perjalanan pulang, ketiga gadis itu mengomentari tentang bibi dan keluarganya.


Hingga tak terasa akhirnya sampai di di kota Langga Payung. Mereka beristirahat


hari itu. Mardo merapikan alisnya, mengunting kuku dan membersihkan wajah dengan


perlengkapan kosmetik yang ia bawa.


Menjelang senja kakak-kakak sepupu berdatangan, rupanya pesta pernikahan di kota


sebelah telah tiba. Kakak sepupunya ingin berangkat  barengan dengan Mardo, Khairani dan


Yulia yang tak mau ketinggalan. Ramai sekali rumah di tengah kebun tersebut. Nenek dan


Inang memasak lebih banyak dari biasanya. Inang juga mengajak gadis-gadis sepupu membicarakan


tentang waktu membuat dodol untuk oleh-oleh ke Jakarta.


Gadis-gadis sepupu bersemangat untuk melakukannya. Mereka siap bekerja dua puluh empat


jam. Inang, ayah dan nenek berseri-seri wajahnya karena mereka bisa mengandalkan tenaga


gadis-gadis dan perjaka untuk membuat dodol yang pembuatannya sangat berat dan sulit.


"Kalau begitu Inang mau kepasar membeli bahan-bahan, jadi kita membuat dodol hari rabu.


Begitu kan kesepakatannya?"


"Siap nantulang, beres lah kalau membuat dodol serahkan saja pada kami, nantulang


beli saja bahan-bahannya, bukan begitu teman-teman."


"Betul, siap membuat dodol!"


Mereka semua berteriak dan bersemangat.


"Bibi! aku pengen tau cara membuat dodol!"


Mardo berteriak kencang, mengejutkan kakak sepupu dan juga Inang.


"Itu lah kesempatannya cantik!"


Sahut Inang, ibu Khairani dan Yulia.

__ADS_1


"Inang!,"


Yulia merajuk, mulutnya mencebik-cebik lucu.


"Apa? kalau kau ya Uli, cuci piring dulu sana."


Kwa kwa kwa, semua mentertawai Yulia yang sedang merajuk.


"Hemmm, inang nggak pernah panggil aku cantik."


"Oi da Nang, kau adalah segalanya, yang paling cantik, seperti bidadari."


Inang memuji-muji gadis bungsunya sembari mengerling kepada kakak sepupunya


yang berjumlah lima orang.


"Kalau tak begitu, tak mau dia membantu-bantu mencuci piring atau menyapu. Anak


gadis  kerjanya makan tidur saja, sampai badannya udah bulat begitu."


Semua tersenyum mendengar kata-kata Inang. Sampai ayah memanggil agar


berangkat ke pasar, Riza sudah menunggu di halaman. Inang  segera beranjak


pamit karena akan berbelanja cukup banyak.


Dan gadis-gadis bersama membicarakan tentang malam minggu . Karena akan


ada pertemuan dengan laki-laki kenalan di sungai nanti malam di pesta itu. Mereka


bersiap memulai dengan mandi mangir.


"Aku sudah membawa mangir wangi ini, ampuh membuat kulit halus dan putih."


Kakak yang bernama Kana mengeluarkan bungkusan berisi butiran-butiran mangir.


"Mana putih kalau hanya sekali pakai, mesti berkali-kali baru ada hasilnya."


Kakak Tania membantah.


biar tubuh kita wangi  dan bersih."


Sumirah menengahi


"Iya betul, ayo ayo kita ke perigi, waktu itu cepat sekali berjalannya loh, tau-tau sudah


sore dan malam."


Mereka beranjak ke belakang membawai perlengkapan mandi, Mardo hanya menggeleng


saat diajak ikut mandi ala sepupu-sepupunya. Belum lama ia sudah ke salon dengan


teman-temannya. Sudah spa, pedicure, merapikan rambut. Masih enak rasanya


tubuhnya. Jika nanti tubuh terasa agak lelah, kusam segera ia dan teman-teman


pergi ke tempat spa langganan.


Mardo memilih beristirahat di kamar. Sekejap berikutnya terdengar napasnya


yang turun naik dengan teratur. Khairani membuka tirai dan melihat tubuh


kakak sepupunya itu tergolek. Wajah nan manis tak bosan dipandang itu, diam


oleh lelap. Tubuhnya yang ramping dan berisi, terlihat indah. Dirinya saja


yang perempuan suka dan memuji keindahan dan molek tubuh kakaknya. Apa lagi


laki-laki. Pasti tiada bosannya. Pantas mata jeli Bang Donny itu selalu melihat


pada kakaknya.


Hanya, kenapa sampai sekarang kak Mardo belum memiliki kekasih ya? Atau


aku yang tidak tau? mana mungkin orang secantik kakak ini tidak ada kekasihnya.

__ADS_1


Khairani berpikir-pikir tentang Mardo, mereka berdua sangat dekat. Tak mungkin


ia tak tau Mardo memiliki kekasih. Empat tahun ia tinggal di rumah Mardo. Tak


ada pria yang datang dan mengunjungi kakaknya itu. khairani yakin sekali kalau


Mardo memang belum memiliki kekasih.


Dan menurut Azhar kekasihnya, Donny sedang mencari pendamping hidup.


Donny memang memiliki banyak teman wanita dan berganti-ganti kekasih. Jika


Ia sudah bosan, maka ia memutuskan wanita tersebut sangat mudahnya. Hanya saja


untuk pendamping hidup ia memiliki pemikiran yang berbeda. Mestilah seorang


perempuan baik-baik, yang lembut, anggun, cantik serta mampu mempesonanya


secara hati, bukan melulu nafsu. Sebab itu masih menurut Azhar hampir setahun


ini Donny fokus mencari wanita itu. Ia meninggalkan kesenangannya berhura-hura


dan menghabiskan malam dengan pesta. Usianya sudah cukup untuk mulai


membangun sebuah keluarga kecil yang indah.


"Bang Donny itu menyukai kak Mardo, Ia banyak menanyakan perihal dan


segala macam tentang dia."


Azhar sempat membicarakan hal itu berdua dengan Khairani.


Azhar bilang, Donny sudah sangat mapan. Dia memiliki perusahaan dan banyak


usaha. Azhar salah satu kepercayaan Donny di perusahaannya.


Khairani, melihat kecocokkan antara kak Mardonya dengan Donny.


Perlahan Ia membiarkan dan memberi kesempatan untuk Donny mendekat.


Tin!, Khairani terkejut oleh suara kenderaan. Ia segera ke depan dan melihat


mobil yang dikenalnya.


"Hei, kapan kalian pulang?"


Azhar dan Donny turun dari mobil, bekas memar pukulan masih terlihat.


"Tadi pagi, bagaimana luka kalian? kelihatannya sudah membaik."


Kedua laki-laki gagah dan tampan itu meraba-raba wajah mereka dan meringis.


"Pengalaman tak terlupakan, kwa kwa kwa."


Mereka tertawa dan menuju bangku-bangku di bawah pohon.


"Mau minum apa, nanti kubuatkan,"


"Apa saja, terserah asal  jangan racun he he he."


Khairani memajukan bibirnya lima senti, "Mana mungkin."


Khai!


Donny memanggil, dan Khairani menoleh.


"Dia ada?"


Mata itu sangat berharap. Khairani tak menjawab, kakak Mardonya baru saja terlelap.


Sanggupkah ia mengecewakan laki-laki itu.


 


 

__ADS_1


Cikidot masih lanjut


__ADS_2