
Pagi-pagi sekali Riza sudah datang menjemput gadis-gadis. Mardo mengucapkan terima kasih dengan
memberikan ciuman dan pelukkan ketat pada tubuh bibi Shanen. Menyalami Paman dan memeluk
sepupunya Amlan yang baik.
"Makasih masakkannya ya Bi, juga suasana kampung ini yang tak terlupakan."
Mardo melambaikan tangan serta memberikan senyum cantik.
"Hati-hati yang Nang, salam untuk papi dan mamimu, salam rindu."
Siap Bi!
Perlahan Riza melajukan mobilnya menuju pintu gerbang dan kemudian bentangan pohon karet
serta gerumbul rumput dan ilalang. Burung-burung berciap, seperti mengantar kepergian gadis-
gadis. Berkesan sekali menginap satu malam di rumah Bibi Shanen. Banyak cerita tentang
masa kecil bibi dan adik-adiknya. Tentang Papi yang suka menjitak kepala kakak dan adiknya
saat makan bersama. Papi sangat usil, dan paman yang paling tua pemarah. Keduanya
sering bergelut, berkejaran hingga rumah berantakan. Semalaman itu bibi bernostalgia tentang
kelucuan masa kecil. Apa lagi bibi bercerita dengan bersemangat. Sebentar-sebentar terdengar
suara geer, ha ha ha.
"Bibi Shanen lucu ya, aku sakit perut dibuatnya tertawa."
Di perjalanan pulang, ketiga gadis itu mengomentari tentang bibi dan keluarganya.
Hingga tak terasa akhirnya sampai di di kota Langga Payung. Mereka beristirahat
hari itu. Mardo merapikan alisnya, mengunting kuku dan membersihkan wajah dengan
perlengkapan kosmetik yang ia bawa.
Menjelang senja kakak-kakak sepupu berdatangan, rupanya pesta pernikahan di kota
sebelah telah tiba. Kakak sepupunya ingin berangkat barengan dengan Mardo, Khairani dan
Yulia yang tak mau ketinggalan. Ramai sekali rumah di tengah kebun tersebut. Nenek dan
Inang memasak lebih banyak dari biasanya. Inang juga mengajak gadis-gadis sepupu membicarakan
tentang waktu membuat dodol untuk oleh-oleh ke Jakarta.
Gadis-gadis sepupu bersemangat untuk melakukannya. Mereka siap bekerja dua puluh empat
jam. Inang, ayah dan nenek berseri-seri wajahnya karena mereka bisa mengandalkan tenaga
gadis-gadis dan perjaka untuk membuat dodol yang pembuatannya sangat berat dan sulit.
"Kalau begitu Inang mau kepasar membeli bahan-bahan, jadi kita membuat dodol hari rabu.
Begitu kan kesepakatannya?"
"Siap nantulang, beres lah kalau membuat dodol serahkan saja pada kami, nantulang
beli saja bahan-bahannya, bukan begitu teman-teman."
"Betul, siap membuat dodol!"
Mereka semua berteriak dan bersemangat.
"Bibi! aku pengen tau cara membuat dodol!"
Mardo berteriak kencang, mengejutkan kakak sepupu dan juga Inang.
"Itu lah kesempatannya cantik!"
Sahut Inang, ibu Khairani dan Yulia.
__ADS_1
"Inang!,"
Yulia merajuk, mulutnya mencebik-cebik lucu.
"Apa? kalau kau ya Uli, cuci piring dulu sana."
Kwa kwa kwa, semua mentertawai Yulia yang sedang merajuk.
"Hemmm, inang nggak pernah panggil aku cantik."
"Oi da Nang, kau adalah segalanya, yang paling cantik, seperti bidadari."
Inang memuji-muji gadis bungsunya sembari mengerling kepada kakak sepupunya
yang berjumlah lima orang.
"Kalau tak begitu, tak mau dia membantu-bantu mencuci piring atau menyapu. Anak
gadis kerjanya makan tidur saja, sampai badannya udah bulat begitu."
Semua tersenyum mendengar kata-kata Inang. Sampai ayah memanggil agar
berangkat ke pasar, Riza sudah menunggu di halaman. Inang segera beranjak
pamit karena akan berbelanja cukup banyak.
Dan gadis-gadis bersama membicarakan tentang malam minggu . Karena akan
ada pertemuan dengan laki-laki kenalan di sungai nanti malam di pesta itu. Mereka
bersiap memulai dengan mandi mangir.
"Aku sudah membawa mangir wangi ini, ampuh membuat kulit halus dan putih."
Kakak yang bernama Kana mengeluarkan bungkusan berisi butiran-butiran mangir.
"Mana putih kalau hanya sekali pakai, mesti berkali-kali baru ada hasilnya."
Kakak Tania membantah.
biar tubuh kita wangi dan bersih."
Sumirah menengahi
"Iya betul, ayo ayo kita ke perigi, waktu itu cepat sekali berjalannya loh, tau-tau sudah
sore dan malam."
Mereka beranjak ke belakang membawai perlengkapan mandi, Mardo hanya menggeleng
saat diajak ikut mandi ala sepupu-sepupunya. Belum lama ia sudah ke salon dengan
teman-temannya. Sudah spa, pedicure, merapikan rambut. Masih enak rasanya
tubuhnya. Jika nanti tubuh terasa agak lelah, kusam segera ia dan teman-teman
pergi ke tempat spa langganan.
Mardo memilih beristirahat di kamar. Sekejap berikutnya terdengar napasnya
yang turun naik dengan teratur. Khairani membuka tirai dan melihat tubuh
kakak sepupunya itu tergolek. Wajah nan manis tak bosan dipandang itu, diam
oleh lelap. Tubuhnya yang ramping dan berisi, terlihat indah. Dirinya saja
yang perempuan suka dan memuji keindahan dan molek tubuh kakaknya. Apa lagi
laki-laki. Pasti tiada bosannya. Pantas mata jeli Bang Donny itu selalu melihat
pada kakaknya.
Hanya, kenapa sampai sekarang kak Mardo belum memiliki kekasih ya? Atau
aku yang tidak tau? mana mungkin orang secantik kakak ini tidak ada kekasihnya.
__ADS_1
Khairani berpikir-pikir tentang Mardo, mereka berdua sangat dekat. Tak mungkin
ia tak tau Mardo memiliki kekasih. Empat tahun ia tinggal di rumah Mardo. Tak
ada pria yang datang dan mengunjungi kakaknya itu. khairani yakin sekali kalau
Mardo memang belum memiliki kekasih.
Dan menurut Azhar kekasihnya, Donny sedang mencari pendamping hidup.
Donny memang memiliki banyak teman wanita dan berganti-ganti kekasih. Jika
Ia sudah bosan, maka ia memutuskan wanita tersebut sangat mudahnya. Hanya saja
untuk pendamping hidup ia memiliki pemikiran yang berbeda. Mestilah seorang
perempuan baik-baik, yang lembut, anggun, cantik serta mampu mempesonanya
secara hati, bukan melulu nafsu. Sebab itu masih menurut Azhar hampir setahun
ini Donny fokus mencari wanita itu. Ia meninggalkan kesenangannya berhura-hura
dan menghabiskan malam dengan pesta. Usianya sudah cukup untuk mulai
membangun sebuah keluarga kecil yang indah.
"Bang Donny itu menyukai kak Mardo, Ia banyak menanyakan perihal dan
segala macam tentang dia."
Azhar sempat membicarakan hal itu berdua dengan Khairani.
Azhar bilang, Donny sudah sangat mapan. Dia memiliki perusahaan dan banyak
usaha. Azhar salah satu kepercayaan Donny di perusahaannya.
Khairani, melihat kecocokkan antara kak Mardonya dengan Donny.
Perlahan Ia membiarkan dan memberi kesempatan untuk Donny mendekat.
Tin!, Khairani terkejut oleh suara kenderaan. Ia segera ke depan dan melihat
mobil yang dikenalnya.
"Hei, kapan kalian pulang?"
Azhar dan Donny turun dari mobil, bekas memar pukulan masih terlihat.
"Tadi pagi, bagaimana luka kalian? kelihatannya sudah membaik."
Kedua laki-laki gagah dan tampan itu meraba-raba wajah mereka dan meringis.
"Pengalaman tak terlupakan, kwa kwa kwa."
Mereka tertawa dan menuju bangku-bangku di bawah pohon.
"Mau minum apa, nanti kubuatkan,"
"Apa saja, terserah asal jangan racun he he he."
Khairani memajukan bibirnya lima senti, "Mana mungkin."
Khai!
Donny memanggil, dan Khairani menoleh.
"Dia ada?"
Mata itu sangat berharap. Khairani tak menjawab, kakak Mardonya baru saja terlelap.
Sanggupkah ia mengecewakan laki-laki itu.
__ADS_1
Cikidot masih lanjut