
Priti memutuskan tinggal lebih lama untuk mengurus mama Risa yang masih trauma pada kejadian yang menimpanya.
Mama Risa tidak berpikir panjang lagi langsung mengurus perceraiannya dengan Abidin. Ia mantap bercerai dengan laki-laki itu.
Pagi itu, ia diantar oleh Prita ke kantor pengadilan agama untuk mendaftarkan gugatan cerai.
Setelah menuliskan kronologi serta alasan bercerai, ia harus mengeluarkan uang untuk membayar ke bank yang ditunjuk oleh pengadilan agama, ia terpaksa mengeluarkan uang sebesar sejuta.
Selanjutnya setelah membayar biaya tersebut ia tinggal menunggu jadwal persidangan. Cukup merepotkan juga, tetapi satu-satunya cara untuk ketenangan hidup mama adalah berpisah total dengan Abidin.
"Mama, gimana kalau rumah dijual dan kita pindah ke perumahan yang
keamanannya terjaga, atau mama sementara ikut Prita ke Semarang."
Prita dan mamanya berbincang sambil menikmati makan siang. Mereka makan sop balongan yang panas serta sepuluh tusuk sate. Nikmat sekali.
"Iya, Mama juga sudah ada rencana untuk menjual rumah tersebut, mencari suasana baru dan tempat yang lebih tenang. Mama juga ingin buka warung kecil-kecilan untuk kegiatan mama nantinya."
"Betul ma, saat ini mama ada rumah
lima dengan rumah petak yang dikontrakkan, mama jual satu atau dua, yang lainnya biarkan aja untuk penghasilan juga."
Ibu dan anak berbincang-bincang tentang langkah kedepan selanjutnya, dan keduanya sudah sepakat untuk memulai kehidupan serta tempat yang baru. Prita mungkin harus mencari lokasi rumah yang cocok untuk ibunya.
"Kalai begitu mumpung ada waktu kita pergi mencari lokasi perumahan yang baru, bagaimana kalau kita lihat-lihat rumah di dekat
teman mama yang baru pindah itu?"
"Bu Sofia?"
"Iya."
"Ok baiklah."
Selanjutnya Prita dan ibunya menghabiskan waktu dengan pergi melihat rumah yang sekiranya cocok.
***
Rakasiwi sejak sore sangat gelisah, ada sesuatu yang sedang ia pikirkan yang membuatnya resah serta gelisah. Undangan reuni dari teman-teman dekatnya semasa sekolah menengah.
Tody yang memprakarsai acara tersebut berharap teman-temannya membawa pacar atau kekasih mereka, agar acaranya bertambah meriah.
Tapi hingga saat ini Rakasiwi sama sekali belum memiliki pacar. Dan ia baru menyadari hal tersebut. Bukannya tidak ada gadis yang ia taksir, tapi sejauh ini hanya sekedar suka saja. Hatinya belum tergetar dan mengalami jatuh cinta yang sesungguhnya.
Sejak kejadian pertemuannya dengan Prita di stasiun, ia mengalami perasaan yang sulit ia ungkapkan. Hatinya berdebar dan
terkadang ia blank saat bertemu dengan gadis itu. Gemuruh rasa menguasainya tiap kali teringat sosok gadis itu.
"Aku pengen pergi bersamanya, tapi bagaimana caranya aku mengatakan ini padanya?
Hai Prita, apakah besok kamu ada acara? maukah kamu pergi bersamaku?"
"Ah kenapa terasa formal sekali, jelek ah!
__ADS_1
Prita, malam minggu pergi denganku yuk, kebetulan temanku
mengundangku."
Beberapakali Rakasiwi mencoba untuk menghafalkan kata ajakan kepada Prita tapi ujung-ujungnya selalu merasa janggal dan jelek.
"Harus tenang dan santai, sudahlah lebih baik mengajaknya dengan kata-kata apa adanya!"
Rakasiwi menggigit bibirnya. Ia sangat berdebar dan panas dingin. Sebentar lagi Prita datang untuk mengajar adiknya. Dia sekarang bertanya-tanya apakah mengajak Prita sekarang sebelum ia mengajar atau sebaiknya sesudah selesai mengajar. Baiknya yang mana ya? Rakasiwi mondar-mandir lebih dari puluhan kali.
Derung! grunge! grung!
Rakasiwi terlonjak mendengar suara motor Prita. Tak lama terdengar suara penjaga yang menyambut gadis itu.
Rakasiwi sedikit panik dan tiba-tiba Ia keluar dari kamarnya berlari dan membuka pintu kamar Tria dan Dode.
Kebetulan kedua anak itu sedang asyik bermain game di kamar Tria. Bocah itu sama menoleh saat Rakasiwi muncul di pintu.
"Apa sih Kakak? kayak dikejar anjing galak aja."
Rakasiwi menaruh telunjuk di bibir supaya kedua bocah itu jangan berisik.
"Suttt, kak Prita sudah datang, tapi kakak minta tolong ya, kalian jangan
turun dulu. Kakak ingin bicara sedikit dengan kak Prita, nanti kalau sudah selesai kakak akan panggil kalian, ok!"
"Kenapa sih Kak kok kita nggak boleh turun?"
"Bukan nggak boleh turun! Kakak ada perlu dengan Kak Prita sebentar kok, setelah selesai kakak akan panggil kalian."
mereka sama-sama mendengar Ucapan salam dari Prita dan dijawab oleh Cindy yang kebetulan sedang berada di meja makan dekat pintu samping.
Saat Rakasiwi turun, ia melihat Prita sedang berbincang dengan Cindy. Agaknya Cindy menawari gadis itu makan malam. Tapi Prita bilang kalau dia sudah sudah makan malam, tinggal lagi mengajar Tria dan Dode. Rakasiwi dan Prita saling pandang saat sosok Rakasiwi terlihat menuruni tangga dan ia menjejak ke bawah.
"Hello Prita, kamu sudah datang ya. Tria dan Dede sedang bersiap, sebentar lagi mereka turun . Oh iya! Prita ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu!"
"Oh ya?"
Rakasiwi mengajaknya ke ruang keluarga, dan Prita beranjak mengikuti pria muda itu. Cindy menjulurkan kepalanya melihat kakak lelakinya sedikit berbeda.
Seperti orang yang sedang jatuh
cinta hi hi hi. Cindy mendekap
mulutnya.
Rakasiwi menghenyakkan tubuhnya di sofa, begitu juga Prita. Sesaat Rakasiwi kehilangan kata dan dia mendadak blank. Hingga suara gadis di sebrangnya menyadarkannya, "Ada apa kak!"
"Mmm, eeng, emmm gimana ya?"
Rakasiwi lupa apa yang akan ia katakan, duh mendadak lupa semua!"
Rakasiwi mengalami panik serta gugup, keringat dingin mengucur
__ADS_1
dibalik bajunya, ia meremas-remas jemarinya. Prita mengerutkan keningnya. Kenapa Rakasiwi nih?
kayak mau nembak aja! Prita teringat teman laki-lakinya persis Rakasiwi waktu nembak.
Prita tersenyum samar, ia menundukkan wajahnya. Bahwa ia pun sejak kejadian di stasiun tak bisa melupakan kejadian tersebut.
Di antara hari-harinya serta kesibukannya mencari uang bahwa dia pun seringkali terpikir tentang Rakasiwi.
Hanya perempuan bodoh saja yang tidak mengindahkan kehadiran pria muda tampan, segar dengan mata
yang tajam dan baik.
Hanya saja Prita berusaha melenyapkan semua perasaan yang ada di dalam hatinya. Sebab perbedaan antara dia dengan Rakasiwi seperti langit dan bumi.
Rakasiwi tidak mungkin tertarik dengan gadis miskin dan sederhana sepertinya. Jadi Ia memutuskan untuk menyelesaikan terlebih dahulu studynya lantas berkarir. Jikalau memang dia berjodoh dengan Rakasiwi maka biarlah itu terjadi saat dia telah menjadi wanita sukses, telah memiliki sebuah kebanggaan terhadap dirinya dan keluarganya. Itu yang Prita tanamkan pada dirinya sendiri.
"Prita maaf..."
"Maaf kenapa memangnya?"
"Oh he he he," Rakasiwi menggaruk kepala yang tak gatal.
"Itu, temanku ada undangan reuni dengan pasangan, kalau kamu nggak ada acara aku mau ngajak kamu pergi ke acara itu."
Hoahhhh, lega sekali rasanya, seperti baru saja lolos dari lubang jarum, kayak benang he he he. Ia mendadak haus dan mengambil minuman serta meneguknya. Ia
menunggu dengan berdebar.
"Iya, aku nggak ada acara, bagaimana pakaiannya? apakah bebas atau resmi?"
Rakasiwi terkejut dia tidak menyangka ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Prita terlihat sangat gembira ketika dia mengajaknya ke acara tersebut.
Bahkan sangat antusias, dan
menanyakan jam, pakaian dan
beberapa hal.
"Alhamdulillah, pakaiannya biasa saja, acaranya temu kangen, makan malam."
"Baiklah, aku siap!"
Yuhuuuuuu!!!!
Rakasiwi sebenarnya ingin melompat setinggi-tingginya, tapi hanya ucapan terima kasih yang
bisa ia ucapkan.
Bersambung
Jangan lupa ya berilah like, vote
dan komen, biar kian semangat menulis.
__ADS_1
Makasih yaa.