Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 52. Gundah


__ADS_3

Sejak melihat Mardo meski hanya di cctv, Raka memiliki harapan baru. Jelas sekali kalau Mardo di kota ini. Aneh sekali mereka tak pernah bertemu selama tujuh tahun. Mardo dan keluarganya seperti menghilang.  Mardo sama sekali tak memberitahunya saat pergi. Raka sempat sedih dan kecewa mengetahui Mardo telah pergi. Memang  jauh-jauh hari gadis itu sudah mengatakan tentang tugas pak Wijaya yang telah berakhir. Bahkan mereka telah makan malam di sebuah restoran. Tinggal sebuah janji untuk menonton. Hanya itu saja. Tetap saja Raka kecewa dan seribu pertanyaan di benaknya mengapa tega tak memberitahu? padahal mereka sudah sangat dekat.


Bahkan berhari, berbulan dan bertahun, Mardo tak memberi kabar. Saat ia menelpun menghubungi Mardo, handphonenya tak aktif. Begitu juga handphone Mangara. Terbersit pikiran kalau Mardo memang menginginkan hal ini. Ia sengaja memutus komunikasinya. Teman-temannya juga tak tau. Mereka bahkan menangis karena merindukan Mardo yang baik dan ramah.


Apa yang telah terjadi? Jika memikirkan hal tersebut ia menjadi gundah dan hatinya sakit.


Mardo, kenapa kamu menghilang?


Tak mengabari? kenapa? kenapa?


Tak pernah ada jawaban dari ratusan pertanyaan yang menumpuk di kepalanya.


Raka sangat ingin tahu keberadaan Mardo, tapi ia tak berdaya untuk menemukannya.


Ia membuka facebook, Mardo tak memiliki akun facebook. Begitu juga Instagram. Gelap dan sunyi selama tujuh tahun ini. Hingga hesteris Sammy siang itu mengejutkannya. Ya Rabb, Mardo ada di kota ini, ia ada di dekatku. Mengapa selama ini kami tak bertemu? Mengapa ya Rabb? ada apa dengan semua ini?


Raka belum juga mendapatkan jawaban yang menyenangkan. Setelah bertemu gadis itu, semua kegundahannya akan selesai.


Teringat pertengkarannya dengan Richi, ia pikir adiknya itu menyembunyikan hubungannya dengan Mardo. Ia memaksa agar Richi memberitahu nomer handphone dan alamat rumah Mardo. Richi bilang ia tidak tau dan Raka tak percaya, karena terlalu kesal ia memukul adiknya. Dan mereka saling pukul hingga lebam-lebam. Meski akhirnya  Richi menangis dan mengakui bahwa ia juga merindukan sahabatnya itu. Tapi ia juga tak berdaya. Keduanya saling berpelukkan dan menangis. Richi ternyata menyimpan kegundahan yang sama.


Sekarang harapan Raka hanya ke empat gadis itu kembali ke cafe Pria Idola. Dan ia akan selalu menunggu di cafenya. Raka berdoa, gadisnya akan datang. Kalau bukan hari ini mungkin besok, lusa atau minggu depan. Jika minuman dan makanan sajian mereka lezat, bisa dipastikan gadis-gadis itu akan kembali. Raka sudah mewanti-wanti pegawainya untuk mengenali empat orang gadis yang terdapat fotonya. Siapa saja yang melihat dan mengabari tentang gadis-gadis itu kepadanya, ia akan memberi hadiah sepuluh juta.


Pegawai-pegawai Raka tentu saja sangat bersemangat mendengar sayembara itu. Sekarang mereka selalu memandangi wajah-wajah perempuan yang masuk ke cafe Pria idola. mencocokkannya dengan foto yang mereka miliki. Namun sudah hampir sebulan keempat gadis itu tak juga kembali ke cafe. Entah kenapa mereka tak kembali lagi. Sammy malah mengusulkan agar mereka memberi diskon lima puluh persen bagi pengunjung cafe. Dan agaknya ide itu berhasil. Karena Sashinata yang gemar membuka medsos melihat iklan cafe Pria Idola. Ia langsung mengirim pesan di whatsapp grup cewe smart.


"Kita ngopi dan maksi di PI lagi yuk, kebetulan ada diskon lima puluh persen."


Sashinata memperlihatkan iklan di instagramnya yang ia screnshoot.


"Wah iya, lumayan, ayo."


"Sorry say, coba lihat sampai kapan? soalnya aku ada kerjaan yang belum beres."


"Hemmm, sebentar aja say."


Mereka saling jawab di grup whatsapp.


"Besok aja sih say, kerjaan aku lagi tanggung nih."


"Oh iya, aku juga kayaknya nggak bisa keluar nih, besok aja deh say."


"Hemmm ok deh."

__ADS_1


Lalu grup Whatsapp itu sepi kembali.


Cafe PI di serbu pengunjung setelah iklan mereka tayang di medsos. Pegawai-pegawai sampai kewalahan oleh pengunjung yang silih datang dan pergi. Tak sempat lagi memperhatikan perempuan dan gadis-gadis yang masuk dan pergi. Raka kian gundah. Kenapa ia tak boleh bertemu dengan gadis cinta pertamanya?


Saat tengah mondar-mandir di kantornya, seseorang mengetuk pintu.


"Ada yang mengetuk pintu ya?"


Deni bertanya pada Sammy, pertanda ia sedang malas bangun.


Raka memandang kedua sahabatnya itu, "Biar aku yang buka."


"Iya baguslah dari pada mondar mandir seperti angkot."


Seorang pegawai perempuan membungkukkan tubuhnya, "Maaf pak. Ada yang ingin saya bicarakan?"


Ketiga orang pria yang berada di dalam kantor itu saling tatap. Biasanya akan saling menunjuk. Tapi kali ini Raka menyuruh perempuan muda itu masuk dan mengikutinya ke meja kerjanya.


"Duduklah, kamu Ajeng ya. Ada yang bisa saya bantu?"


Gadis itu sesaat membisu, Ia ingin menanyakan sesuatu tentang sayembara itu.


"Apakah saya akan mendapatkan sepuluh juta jika bisa memberitahu tentang perempuan yang sedang bapak cari?"


Raka serta merta membuka lacinya dan meraih sebuah amplop berisi uang sepuluh juta.


Deni dan Sammy ikut bangun mendengar pembicaraan itu.


"Kamu sudah melihatnya?"


Mata Raka membesar, hatinya berdebar.


"Hemm, bukan saya pak. Tapi ibu saya."


Perempuan itu mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan sebuah foto.


Dua orang perempuan yang sedang duduk dan tersenyum. Satu seorang perempuan setengah baya sedangkan yang satunya perempuan muda yang Raka rindukan.


"Oh, benar itu Mardo!"


Sammy dan Deni berseru bersamaan.

__ADS_1


"Ya itu memang Mardo!"


Raka menyuruh gadis itu mengirim foto tersebut ke handphonenya.


Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berguncang.


"Cepat katakan di mana saya bisa bertemu dengannya?"


Raka menatap gadis muda yang gelagapan itu. Baru sekali ini berbincang langsung  dengan pria tampan tempat ia bekerja.


"I-ibu saya Pak, beberapa bulan yang lalu mendatangi kantornya, i-ibu yang tau kantornya pak."


Ajeng masih gelagapan, ia beberapa kali meyakinkan ibunya bahwa foto itu sama dengan foto yang ia miliki dari cafe Idola. Mereka berdua sudah melotot dan membesarkan mata, dan yakin bahwa itu orang yang sama. Akhirnya Ajeng memberanikan diri  memberitahu pada pemilik cafe PI.


"Mah, pak Raka pemilik cafe PI mau bicara dengan Mamah."


Ajeng memberikan handphonenya pada Raka.


"Bu, anak ibu Ajeng sudah menceritakan dan memperlihatkan foto milik ibu.


D-dia wanita yang sedang saya cari Bu, saya kehilangan kontak hampir tujuh tahun."


"Iya, Namanya Mardo Paristiowati,S.S."


"Oh, Itu dia!, saya ingin bertemu dengannya, ibu bisa membantu saya?"


"Emm, bagaimana ya? a-apakah nanti saya tidak disalahkan?"


"Apa maksud ibu?, saya kekasihnya Bu, tunangannya!"


"Oh, benarkah?"


"Saya ke rumah ibu bersama Ajeng, ok bu?"


Tak menunggu jawaban, Raka bergegas mengajak Ajeng. Deni mengikuti. Sammy menurut saja.


Semoga, Raka bertemu dengan Mardo, tak tahan melihatnya selalu Galau.


Sammy berdoa dengan tulus.


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2