Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 285. Si pemilik Resep


__ADS_3

Si pemilik resep mengantar kepergian bosnya di cafe PI Fazza. Setelah melihat kenderaan itu menghilang ia serta merta melompat tinggi-tinggi dan berteriak senang.


"Yes! akhirnya impianku menjadi seorang pebisnis kue menemukan jalan."


Ia bersungkur ke lantai dan mengucapkan syukur. Ia masuk ke kamarnya yang sederhana, dan menatap sosoknya di cermin. Lihat saja nanti ya pak Raffa, kau akan mengejar-ngejarku dan mengemis agar mau menjadi kekasihku.  Hemmm, dengan menjadi seorang pebisnis aku bisa menjadi seseorang yang berbeda. Lihat saja nanti.


Tak sabar menunggu hari cepat berganti. Dia sudah bersabar sekian tahun menjadi seseorang yang selalu berhemat. Ada untungnya ia hobby memasak. Mungkin penyebabnya lingkungan. Mulai dari nenek, bibi-bibinya dan ibunya yang sudah meninggal memiliki ketrampilan memasak berbagai jenis kue serta masakkan.


Umur dua tahun ia sudah didudukkan dibangku kecil sementara nenek dan bibi-bibinya sibuk membuat pesanan kue. Berbagai macam kue dengan rasa mulai asin, tawar hingga manis bisa dengan mudah mereka buat. Seringnya ia bersama nenek dan bibi-bibinya membuat kue, terserap begitu saja di otak kecilnya. Jika ia mengangankan sebuah kue, semua bahannya telah berdatangan kedalam pikirannya, bersama cara pembuatannya.


Nenek dan bibi-bibinya terkejut ketika suatu saat ia menyajikan kue buatannya yang berasal dari jagung manis. Gadis itu bekerja cepat melepaskan biji-biji jagung manis, merendamnya dan kemudian membuatnya menjadi tepung. Ia membuat adonan dengan menambahkan beberapa bahan lain, setelah itu memasukkannya kedalam cetakkan dan mengukusnya.


Mereka yang mencicipi kue buatan yang timbul dari inspirasinya terkaget-kaget oleh rasanya.  Tak menyangka bahannya dari jagung manis. Rasanya seperti kue mewah yang berada dalam mall. Kata bibi-bibinya.


"Lihat saja nanti Bi, kue mungil ini akan masuk ke mall, percayalah."


"Aamiin."


Bibi dan neneknya sangat senang sebab gadis kecil mereka bersemangat membuat kue.


"Apa kubilang bahwa kue mungil  kekuningan itu akan menjadi terkenal dan semua orang menyukainya, aku bisa membuat variantnya dengan durian, nangka, mangga,dan pisang."


Ia membayangkan kue penutup itu akan menjadi favorit di kalangan penikmat jajan. Kue penutup itu bukan hanya dinikmati saat usai makan. Tetapi bahkan teman minum kopi atau teh di pagi atau sore hari. Kue itu tak akan membosankan sebab ada rasa kenyal di dalamnya. Kenyal yang mengejutkan dan membuat penasaran hingga penikmat jajan akan mengambilnya lagi dan mencari tahu apa yang kenyal tersebut.


Dari mana ia mendapatkan resep tersebut?. Dia sendiri tidak tahu. Tiba-tiba meloncat sendiri kedalam pikirannya dan ia melihat sendiri rupa dari kue tersebut. Mungil, menarik, dan manis yang gurih. Warnanya bisa terdiri dari dua hingga tiga warna, hijau bagian luarnya, lalu putih dan bagian tengah kuning. Memiliki aroma yang sedap, tidak merubah rasa saat dimasukkan ke dalam lemari pendingin.


Resep kue penutup itu tersimpan rapi dalam otaknya. Ia tidak perlu mencatatnya. Ia yakin mengingat semua bahan-bahan yang ia perlukan untuk mempresentasikan kue penutup di depan meeting. Mana mungkin lupa ia yang menciptakannya di dalam pikirannya.

__ADS_1


Esoknya si pemilik resep bangun pagi-pagi, ia membuat minuman untuk nenek dan dua bibinya yang sudah menjadi janda. Membuat nasi goreng dengan resep buatannya dan dadar telur. Ketika nenek dan bibi-bibinya bangun mereka selalu terkejut oleh rasa nasi goreng buatan anak itu.


"Dia sungguh berbakat!"


Tiga wanita itu menganggu-angguk sambil menikmati nasi goreng buatan si pemilik resep. Tiba-tiba orang yang mereka bicarakan keluar dari dalam kamarnya.


"Nek, Bi Mala, dan bi Maya, doakan aku ya. Hari ini aku akan mempresentasikan resep milikku, sebuah perusahaan besar ingin mengomersilkannya."


"Oh, benarkah itu sayang? Nenek berdoa untuk kesuksesanmu Ya, semoga perusahaan itu terkesan dan mau membantumu Nak."


"Terima kasih Nek, aamiin yra."


"Bibi juga mendoakanmu Diana, kau pasti berhasil!"


"Doaku juga untukmu anakku, kamu akan berhasil, semangat."


Gadis itu berbalik dan membuat janji. Nenek dan bibinya mengucapkan aamiin yra. Lalu gadia yang bernama Diana itu bergegas keluar. Raffaza menjemputnya di halaman. Tiga wanita itu secara serentak bergerak ke depan melihat dengan penuh tanda tanya siapa yang menjemput gadis kesayangan mereka.


"Ayo cepat berangkat! jangan sampai kita terlambat!"


Kepala Raffa keluar dari jendela dan berteriak sehingga nenek dan kedua bibi gadis itu mendengarnya. Diana sedikit berlari dan memasuki mobil. Laki-laki itu melihat penampilan si gadis yang lain dari biasanya. Ia memakai rok selutut warna hitam, serta dalaman putih yang dibalut jas hitam. Tak menyangka ternyata Diana cantik dan modis.


Gadis itu menoleh dan mengercitkan keningnya, hidungnya menghembuskan napasnya.


"Kenapa? tak pernah melihatku seperti ini ya?"


Raffaza memalingkan wajahnya dan tersenyum. Ia mau bilang kalau gadis itu keren, tapi ia takut nanti malah jadi geer dan menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Tentu saja, kau tak pernah ke cafe PI Fazza dengan blous itu."


Raffaza memperlihatkan wajah bingung dan heran.


"Untuk apa? sesampai di sana aku harus menganti baju seragam pramusaji."


"Lagi pula nanti orang-orang pikir aku adalah manager cafe tersebut."


Raffaza hanya menoleh sekejap dan menggeleng-gelengkan kepalanya, gadis yang sangat percaya diri. Pikirnya. Tetapi ia memikirkan Candy. Bagaimana penampilan gadis cantik itu hari ini? Beberapa kali bertemu dengan gadis itu. Baju-baju kerjanya membuat gadis-gadis melirik. Pilihan bajunya tidak terlalu mencolok tetapi sebagai seorang pimpinan perusahaan besar, Cindy rupanya sudah berkonsultasi dengan sahabatnya yang bergerak dibidang fashion. Penampilan kekantornya memukau dan menarik. Dengan bentuk tubuh yang langsing berisi, Cindy pantas dan  mudah mendapatkan  baju-baju kantor yang cocok dengannya.


Laki-laki itu menolehi Diana dan tersenyum kecut. Mana mungkin, ia harus melalui berbagai persyaratan serta target yang besar untuk bisa dipercaya menjadi seorang manager. Bukan tergantung dengan baju. Gadis itu seenaknya saja ngomong. Dia belum tahu bagaimana beratnya menjadi seorang manager di perusahaan yang mengejar target setiap bulannya.


"Apakah nanti kita akan bertemu Ceonya? apakah dia tampan? menarik? mempesona?"


Diana dengan wajahnya yang polos serta lugu menolehi Raffa yang lantas tersenyum geli.


"Ya, nanti kita akan bertemu dengan orang yang seperti impianmu itu, herannya senang banget menonton film korea."


"Bukan begitu, menonton film Korea membuatku bersemangat dan memiliki impian bakal ada pria tampan yang serta kaya  jatuh cinta dengan gadis miskin yang lugu dan murni."


Mendengar  hal seperti itu Raffa ingin tertawa, murni apa pikirnya buktinya yang ia pikirkan harta dan laki-laki tampan. Gadis murni tak memikirkan uang yang banyak. Ia membiarkan gadis itu diam dan bersikap manis bak seorang putri. Bermimpilah terus Din.  Senyumnya mengejek.


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2