
Richie sedang melakukan sebuah upaya untuk bisa semakin dekat dengan Laura.
Bukan hanya gadis itu, tetapi juga dengan auntie Yola Karina, uncle Ben dan saudara laki-lakinya yakni Garry.
Papi dan mami Bramantyo kelihatannya juga sudah sangat akrab, bahkan mereka saling mengganggu dan berkelakar.
Papi bersama uncle Ben, Mami dengan auntie Yola Karina, bak sahabat
lama yang bertemu kembali. Mereka kelihatan satu sama lain tidak sungkan. Sepertinya keempat orang itu usianya sama. Sehingga apa apa yang mereka lakukan itu merupakan refleksi masa lalu yang pernah mereka rasakan.
"Lihat! mereka bermain air siram-siraman lucu sekali, seperti anak kecil, he he he Papimu mengejar Dad, ingin membalas he he he. ampun deh."
Laura tertawa geli melihat tingkah orang tuanya dan juga Papi-Mami Richie. Ketiganya terpingkal memperhatikan kelakuan orang dewasa itu saling berkejaran di danau biru.
Sementara pasangan bahagia Raka Bramantyo yang dikenal sebagai pria idola sedang menikmati hari -hari manis bersama istri nya Mardo.
Sudah tujuh hari pasangan itu berada di Korea. Mereka mengambil paket tour khusus jelajah dunia. Pilihan negara Korea. Ada puluhan orang yang pergi bersama mereka. Namun special honeymoon ada lima pasangan. Dengan biaya hampir dua puluh juta perorang. Raka mentransfer ke rekening travel tersebut sebesar empat puluh juta. Keduanya tak mau pusing mengurus pesawat, hotel, makan, serta ***** bengek lainnya.
Pasangan-pasangan tersebut tinggal mengikuti kemana saja tour leader mereka membawa.
Berbagai tempat destinasi yang indah, bersejarah romantis, unik dan luar biasa mereka nikmati penuh kebahagiaan. Raka dan Mardo, selalu saling berpelukkan di mana saja berada, membuat pasangan lain cemburu, dan ingin seperti pasangan itu. Sesekali saling berpandangan, lantas Raka mencium pipi istrinya. Setiap hari saling merangkul penuh ungkapan cinta dan sayang.
Mardo tak bisa mengngkapkan kegembiraannya karena impiannya untuk mengunjungi Korea terealisasi bahkan bersama orang yang ia cintai dan sayangi yakni Raka Bramantyo si pria idola.
Selama kurang lebih enam hingga tujuh jam mereka dalam perjalanan Jakarta ke Seoul. Sepasang suami istri itu saling memeluk dan berpegangan tangan dibangku mereka. Mardo tidak merasakan lelah sedikitpun oleh penerbangan yang cukup lama. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bandara internasional yang sangat megah.
Sebuah bis yang telah dipersiapkan menjemput mereka di bandara dan membawa mereka semua ke hotel untuk beristirahat.
Karena mereka sampai ke ke kota Seoul sudah menjelang malam. Sehingga usai dinner rombongan yang membeli paket wisata tersebut beristirahat.
Tour leader yang bernama Ibu Merry memberitahu mereka bahwa jam delapan pagi akan memulai kunjungan wisata yang pertama yakni Nami island.
Malam harinya kegembiraan Mardo terus berlanjut, Saat Raka sudah di tempat tidur yang sangat lembut dan
mewah serta harum. Sengaja di buat sedemikan rupa untuk bulan madu. Mardp menyusun baju-bajunya
dan Raka. Barang-barang serta pernak-pernik. Mardo menyiapkan pakaian serta mantel untuk mereka pakai
besok. Barulah perempuan itu naik ke atas tempat tidur. Segera menempelkan tubuhnya dan memeluk dada
Raka yang terbuka. Jemari Mardo mengusap-usap lembut kulit liat suaminya.
"Gantian dong, aku juga mau." Raka berbalik sembari tanganya bersiap menyentuh bagian dada
yang terasa lembut dan mengemaskan. Mardo buru-buru membalikkan tubuhnya sembari tertawa geli.
"Eh jangan menghindar ya, tanggung jawab sudah menggoda dan membuat si kecil berdiri."
Raka tak mau berhenti sebelum mendapatkan jatah menjelang tidurnya. Setelah puas dan saling
tersenyum bahagia, keduanya terlelap.
Masih sangat pagi ketika telpun di dekat tempat tidur berbunyi. kemalasan Mardo mengangkatnya.
"Pagi mba Mardo, hari ini kita ke Nami Island ya, jangan terlambat. Breakfast sudah tersedia sejak
jam enam pagi di lantai bawah, makasih mba."
"Ok, makasih."
Mba Merry menelpuni pasangan-pasangan yang sedang honeymoon. Mengingatkan agar tepat
waktu. Mardo menolehi Raka yang masih terlelap. Ia mendekatkan bibirnya dan mencium pipi
suaminya. "Pi, bangun, ayo siap-siap. Tadi bu Merry menelpun."
Jemarinya membelai dada yang bidang, hingga perut dan menyerempet-nyerempet. Bibir Mardo
tersenyum geli.
"Hemmm, aku mau lagi."
Raka terbangun dan menangkap tangan istrinya yang nakal itu. Suka sekali membelai tubuhnya.
Pria itu masih dengan mata terpejam, memeluk tubuh indah istrinya. Di pagi yang dingin saat
itu, kembali keduanya bercumbu rayu dan bercinta. Raka tiada puasnya membuat perempuan
itu berdesah sembari *******-***** rambut suaminya. Raka memagut dan mengabsen sekujur
tubuh istrinya. Setelah puas, barulah keduanya bersiap untuk turun ke bawah. Bertemu dengan
pasangan lain. Mereka menikmati breakfast yang telah dipesan khusus untuk pasangan
__ADS_1
penganten dengan suasana romantis.
Kebetulan serta keberuntungan yang luar biasa karena saat itu musim dingin, salju berjatuhan
dan beberapa tempat dipenuhi salju yang putih. Mardo memakaikan suaminya mantel tebal seperti
dirinya. Kaos kaki serta manset dan kacamata. Keduanya tampak keren dan mendapat perhatian.
Yang laki-laki tampan ganteng, tipis senyumnya tapi ramah dan suka humor. Sedangkan istrinya
itu kelihatan manja, selalu memeluk pinggang suaminya, kayak takut ditinggal lari he he he. Dia
cantik, mempesona serta memiliki mata yang indah. Jika dia memandang dengan mata indahnya
itu membuat seseorang akan terjerat di sana, hingga ia melepaskannya.
Pasangan-pasangan lain justru merasa tak bisa seluwes Raka dan Mardo mengeksperesikan
cinta mereka. Raka selalu terlihat menyentuh pinggang belakang istrinya dan menyimpan tangannya
di sana. Sebuah keintiman suami istri tersirat di tangan serta sentuhan itu. Terasa betapa dia
sangat mencintai dan selalu ingin melindungi istrinya. Hal yang membuat pasangan wanitanya
ingin diperlakukan juga seperti Raka memperlakukan istrinya.
"Lihat mereka, sangat mesra. Mas Raka itu selalu menyentuh bagian belakang istrinya, seperti
memberikan perlindungan dan perhatian yag besar.
Dengan berkata seperti itu pada pasangannya, ia berharap bisa mendapatkan hal yang sama.
Pasangannya hanya mesem saja.
Usai breakfast rombongan berangkat menuju Nami island. Sekitar dua jam dari kota Seoul. Sepanjang
jalan, Mardo memandangi tempat-tempat yang terlewati, unik dan asing. Kemudian menyandarkan
kepalanya ke bahu Raka. Sesekali Raka menciumi rambut istrinya yang harum bunga birkin. Lagi-lagi
tertatap oleh pasangan lain yang membuat jealous.
"Pi, aku sudah sering melihat pulau itu loh, memang sangat indah dan unik."
"Itu Pi, aku mengenal pulau Nami island dari tivi Pi he he he, kan aku penggemar drakor Pi
jadi sering lihat. Musim dingin serta salju di drakor yang berjudul Winter Sonata Pi,"
"Hemmm, pantas ya Mimi ini anteng sekali kalau sudah di kamar, pasti nonton drakor, liatin
si Le minho itu ya?"
"Itu dulu Pipi, waktu remaja. Sekarang mah kalau ada yang bagus aja Pi."
"Ok, asal jangan mengabaikan suami ya."
"Nggak lah, suami kesayangan kok Pi."
"Gombal."
"Benaran kok, sini sun,"
Sembari menarik leher Raka dan memberinya ciuman sayang.
"Yang ini belum?"
Sembari menunjuk ke bibirnya, membuat Mardo mendelik dan mencebirkan bibirnya yang ketipisan.
"Entar malam itu mah Pi, banyak orang ginih,"
Raka hanya mesem, "katanya suami kesayangan, kesayangan apanya! minta kiss bibir aja
nggak mau,!
"Ich si Pipi mah gituh, sini sini."
Mardo menutupkan kepala mereka dengan pasmina, kemudian mencium bibir Raka.
Pria idola mengangkat jempolnya.
"Dasar ich.!"
Raka tergelak oleh sikap Mardo yang merajuk, serta merta ia memeluk perempuan itu.
__ADS_1
Istri kesayanganku, bisiknya berkali-kali di telinga Mardo.
Rombongan sampai, tetapi mereka harus menaiki kapal Feri menuju ke pulau itu. Hingga akhirnya
sampai ke pulau tersebut. Mata semua pengunjung yang baru pertama kali ke tempat itu
takjub, seperti surga yang dilukiskan oleh para pujangga. Beraneka pohon-pohon dengan ranting
serta daun-daun yang berwarna warni. Musim dingin membuat daun-daun itu menjadi segar hijau,
kuning, kemerahan serta terlihat eksotik.
Mba Merry menjelaskan dan membawa pasangan-pasangan itu ke tempat di mana shoting
drama Korea yang berjudul Winter Sonata di buat. Kata mba Merry film tersebut telah membuat
pulau itu menjadi terkenal dan populer. Meski drama Korea Winter Sonata telah lama sekali namun
kesan mendalam mereka yang menontonnya tidak akan terlupakan. Kisah cinta segitiga yang sangat
menyedihkan.
Masih terekam di benak Mardo kisah seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada teman sekolahnya.
Tetapi sebelumnya ia sudah berpacaran dengan pria lain yang juga teman sekolahnya. Yang
satu teman masa kecilnya sedangkan pria yang membuatnya jatuh cinta adalah teman yang baru
pindah ke sekolah itu. Berbagai kejadian membuat mereka tidak bisa bersama. Hanya kenangan
indah yang terjadi di Nami island tersebut. Saat keduanya berjanji untuk bertemu setiap musim
dingin, di sana juga mereka melakukan ciuman pertama yang sangat berkesan. Mardo menontonnya
berulang-ulang dan pernah bosan melihatnya. Salah satu adengan dalam drama tersebut dibuatkan
patungnya, sepasang kekasih yang sedang bergenggaman tangan dan saling memandang.
Pengunjung banyak yang ingin berfoto dan berpose seperti patung tersebut namun harus sabar
mengantri. Raka tentu saja tidak menyukainya. Ia menarik Mardo dan mengajaknya menikmati
pemandangan alam yang eksotik.
Terdengar suara guide yang menjelaskan tentang pulau itu. Tentang namanya yang berasal
dari salah satu pahlawan Korea Selatan yaitu Jenderal Nami.
Makam Sang Jenderal juga berada di pulau itu. Namun nama pulau itu menjadi semakin populer sebagai objek wisata setelah digunakan untuk serial drama Winter Sonata yang dibintangi Bae Yong Joon dan Choi Ji Woo.
Beberapa adengan dari drakor tersebut serta tempat shooting diberi tanda khusus dan keterangan. Pasangan-pasangan penganten terlihat masih membuat foto yang meniru adengan film drakor tersebut.
"Aku ingin membuat kenangan tersendiri denganmu sayangku, kemarilah."
Tiba-tiba Raka memeluk dan menjatuhkan ciuman yang hangat. Seseorang mengabadikannya
dan tertawa. Sebuah kenangan berpelukkan dan berciuman di bawah dan diantara pohon-pohon rindang
yang segar, indah dan cantik.
Pria itu memberikan handphone milik Raka. Dan Mardo memintanya untuk dirinya tapi Raka
menyembunyikan di mantel.
"Kirimkan ke hp ku Pi, aku ingin melihatnya."
Tapi Raka tidak memberikannya, ia senang melihat Mardo merajuk.
Mereka menghabiskan waktu di pulau itu, dan mengikuti programnya.
Terima kasih sahabat yang telah membaca dan mengikuti kisah Mardo dan Raka
Beri author dukungan dengan like, komen serta, vote.
Bersambung
__ADS_1