Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 173. Acara Empat Bulanan


__ADS_3

Hari-ke hari perut Yunna semakin besar. Ia terlihat sulit bergerak dan berjalan.


Sesekali anak di dalam perutnya juga menendang-nendang hingga terasa ada


benda keras yang menonjol di perutnya. Jaelani beberapa kali menyuruh Yunna


mengundang teman dekatnya datang untuk berbagi kebahagian.


"Undang teman dekatmu Prita dan Elsa, mereka pasti senang karena sudah lama


tak bertemu denganmu, dan mereka akan memiliki ponakan."


Kata Jaelani  berusaha sekuat tenaga menyembunyikan maksud sebenarnya.


Yunna mengangguk, apa yang dikatakan oleh suaminya benar juga. Usia kehamilan


empat bulan rencananya Yunna membuat syukuran tersebut.


"Baiklah, aku akan mengajak ibu dan bibiku kesini agar mereka menyiapkan


acaranya."


Jaelani setuju saja sembari menghirup minumannya. Pikirannya mengembara


pada sosok gadis muda. Ia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga terkadang


ia ingin melakukan sesuatu untuk menculik gadis itu dan mengurungnya. Tetapi


hingga saat itu ia belum juga sempat    menyiapkan apa yang ada di pikirannya.


Namun jika ia membayangkan sebuah tempat di mana hanya ada dirinya dan


gadis yang ia cintai itu. Bibir laki-laki itu tersenyum lebar. Matanya menjadi


sendu, wajahnya sumringah membayangkan bahwa tidak ada yang bisa


menghalangi dirinya melakukan apa pun di tempat tersebut. Jaelani


merencanakan untuk membuat tempat seperti yang ada di pikirannya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Jaelani, Yunna segera menghubungi


ibunya, ia ingin ibu mengurus acara empat bulanan. Yunna sering mendengar


bahwa usia empat kehamilan adalah saat roh ditiupkan ke janin yang sudah


memiliki anggota tubuh yang lengkap.  Hukum melaksanakan selamatan empat


bulanan terdapat dalam sebuah hadis riwayat yang berbunyi, 'Sesungguhnya


setiap orang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya. Selama


empat puluh hari berupa ******, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu


empat puluh hari, lalu menjadi segumpal daging di dalam empat puluh hari.


Lalu di utuslah seorang malaikat meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan


untuk menuliskan empat yakni, rezekinya, ajalnya, amalnya dan apakah dia menjadi


orang yang celaka atau bahagia.


Atas dalil tersebut sudah menjadi kebiasaan pasangan suami-istri yang sedang


menantikan kehadiran anak bayinya melaksanakan acara doa bersama keluarga

__ADS_1


besar. Biasanya memanggil jamaah pengajian untuk sama-sama mengaji, kemudian


bergiliran memberikan doa kepada ibu yang sedang hamil. Agar kelak anaknya


menjadi anak yang sholeh atau sholehah, lancar dan dimudahkan persalinan serta


selamat untuk ibu dan anaknya.


Yunna juga menulis pesan pesan pada Elsa dan Prita agar datang ke acara empat


bulanannya yang jatuh di hari sabtu minggu depan. Masih banyak waktu untuk


mempersiapkannya. dan tidak ada alasan dengan mengatakan kok dadakan.


Biasanya Elsa dan Prita begitu, mentang-mentang keduanya sibuk berkarier


harus selalu membuat janji.


Perempuan itu tersenyum, apa kabar ya mereka? Elsa? apakah dia masih bekerja di cafe


Pria Idola? pasti masih karena tidak ada kabar darinya. Bahwa ia tak lagi bekerja di sana


Elsa bukan gadis yang rajin mencari-cari tempat lain yang memberikan lebih. Ia seorang


yang mudah menerima dan bertahan di sebuah tempat yang tidak memiliki kendala atau


masalah. Selama ia bekerja sesuai dengan perjanjian dan ia di bayar, baginya itu lebih


dari cukup.


Dan Priti, di gadis ambisius itu? sedang apa dia? belajar? membaca buku-buku yang


tebal, mencatat atau sedang menghapal? Lalu kapan dia mendapatkan uang? hemmm


Yunna tersenyum. Namun senyuman itu ia tarik dan mengerutkan keningnya. Prita sudah


Priti ke pesta pernikahannya. Tapi nihil. Prita tidak ada mempublish kebersamaannya dengan


pria tampan itu.


Prita itu. Yunna menggeleng-gelengkan kepalanya. Diam-diam ternyata ia pun mencari kekasih


dan mendapatkannya. Dalam segala hal Prita selalu menang beberapa langkah darinya. Tapi


itu tidak membuatnhya iri. Ia senang dan bahagia melihat Prita. Kehidupan gadis itu sangat


memotivasi dirinya, untuk tidak pernah mengalah dengan kegagalan. Bangkit dan berjuang


terus hingga berhasil. Begitulah Prita sejak dia masih kecil..


Yunna teringat ketika pertama kali bertemu Prita. Mereka sama-sama kelas satu sekolah dasar.


Ia diantar ayahnya dan menunggu di depan kelas. Tapi Prita datang sendrian dengan roknya


yang panjang dan rambutnya di ikat sebagian. Senyumnya lepas menebar kesemua anak-anak


yang tegang karena merupakan hari pertama di sekolah.


"Bangkunya kosong?"


Ia berkeliling mencari bangku yang masih kosong, dan bibir mungilnya selalu tersenyum dengan


tatapan yang menghujam.


Ia tidak menemukan bangku yang kosong di bagian depan melainkan di belakang dan di pojok.

__ADS_1


Tapi Prita tak membiarkan dirinya tersudut di sana. Dengan keberanian yang tidak dimiliki


anak-anak lain gadis kecil itu mencari ibu guru dan mengatakan kalau ia keberatan duduk


di belakang. Ia begitu mungil dan kecil, ia tidak bisa melihat ke papan tulis. Prita menyampaikan


keluhannya.


Ibu guru dengan bijaksana mencari tahu siapa murid laki-laki yang mau bertukar tempat


dengan Prita. Anak laki-laki lebih cocok di belakang, sedangkan anak perempuan di depan.


Akhirnya seorang anak laki-laki mau bertukar tempat. Yunna melihat kejadian itu dan ia


menjadi sering memperhatikan Prita.


Gadis kecil itu paling sering menunjuk tangan, dan maju ke depan. Ia gadis yang menonjol


dibanding yang lain. Padahal tubuhnya kecil dan mungil. Teman-teman sekelas ingin


menjadi temannya. Ia selalu ditunggu dan diharapkan kehadirannya. Sejak kecil Prita


sudah menjadi juru bicara bagi teman-temannya. Dan ia tak pernah menolak untuk


menyampaikan sebuah hal pada ibu guru.


Prita, dia pemberani, jujur serta penolong dan satu lagi sangat mandiri.  Saat pertemuan


orang tua, ibu guru tak pernah bertemu dengan ibu atau ayah Prita. Gadis itu berterus


terang bahwa ayahnya sudah meninggal dan ibunya sakit. Prita meyakinkan bahwa ia bisa


mewakili dirinya sendiri.


Bertahun-tahun seperti itu, ia selalu berhasil meyakinkan siapa pun untuk perihal


orang tuanya. Beberapa guru akhirnya mendatangi rumah Prita dan apa yang


dikatakan oleh Prita memang benar. Guru-guru akhirnya memberikan hak yang berbeda


dengan yang lain.


Yunna merindukan Prita, saat ada momen Ia berharap bisa bertemu dan berbagi cerita.


Gadis itu segera membuat pesan untuk Prita dan juga Elsa. Kedua sahabatnya itu


harus datang dan bersama dengannya merayakan selamatan empat bulanan. Rasanya


ia tak sabar.


Elsa merasakan handphonenya bergetar dan ia cepat mengambil dan melihat pesan


masuk dari Yunna. Oh, Yunna sudah empat bulan. Elsa terlalu sibuk hingga tak menyadari


kalau setengah tahun nyaris terlalui. Elsa bahkan akan mengelar acara selamatan. Elsa


segera membalas bahwa ia akan hadir di momen bahagia Yunna. Ia juga akan memberitahu


ibunya agar nanti datang bersama ibu Yunna dan ibu Priti. Yunna mengucapkan terima kasih


atas perhatian tersebut, ia menunggu sahabat-sahabatnya.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2