
Hari-ke hari perut Yunna semakin besar. Ia terlihat sulit bergerak dan berjalan.
Sesekali anak di dalam perutnya juga menendang-nendang hingga terasa ada
benda keras yang menonjol di perutnya. Jaelani beberapa kali menyuruh Yunna
mengundang teman dekatnya datang untuk berbagi kebahagian.
"Undang teman dekatmu Prita dan Elsa, mereka pasti senang karena sudah lama
tak bertemu denganmu, dan mereka akan memiliki ponakan."
Kata Jaelani berusaha sekuat tenaga menyembunyikan maksud sebenarnya.
Yunna mengangguk, apa yang dikatakan oleh suaminya benar juga. Usia kehamilan
empat bulan rencananya Yunna membuat syukuran tersebut.
"Baiklah, aku akan mengajak ibu dan bibiku kesini agar mereka menyiapkan
acaranya."
Jaelani setuju saja sembari menghirup minumannya. Pikirannya mengembara
pada sosok gadis muda. Ia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga terkadang
ia ingin melakukan sesuatu untuk menculik gadis itu dan mengurungnya. Tetapi
hingga saat itu ia belum juga sempat menyiapkan apa yang ada di pikirannya.
Namun jika ia membayangkan sebuah tempat di mana hanya ada dirinya dan
gadis yang ia cintai itu. Bibir laki-laki itu tersenyum lebar. Matanya menjadi
sendu, wajahnya sumringah membayangkan bahwa tidak ada yang bisa
menghalangi dirinya melakukan apa pun di tempat tersebut. Jaelani
merencanakan untuk membuat tempat seperti yang ada di pikirannya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Jaelani, Yunna segera menghubungi
ibunya, ia ingin ibu mengurus acara empat bulanan. Yunna sering mendengar
bahwa usia empat kehamilan adalah saat roh ditiupkan ke janin yang sudah
memiliki anggota tubuh yang lengkap. Hukum melaksanakan selamatan empat
bulanan terdapat dalam sebuah hadis riwayat yang berbunyi, 'Sesungguhnya
setiap orang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya. Selama
empat puluh hari berupa ******, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu
empat puluh hari, lalu menjadi segumpal daging di dalam empat puluh hari.
Lalu di utuslah seorang malaikat meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan
untuk menuliskan empat yakni, rezekinya, ajalnya, amalnya dan apakah dia menjadi
orang yang celaka atau bahagia.
Atas dalil tersebut sudah menjadi kebiasaan pasangan suami-istri yang sedang
menantikan kehadiran anak bayinya melaksanakan acara doa bersama keluarga
__ADS_1
besar. Biasanya memanggil jamaah pengajian untuk sama-sama mengaji, kemudian
bergiliran memberikan doa kepada ibu yang sedang hamil. Agar kelak anaknya
menjadi anak yang sholeh atau sholehah, lancar dan dimudahkan persalinan serta
selamat untuk ibu dan anaknya.
Yunna juga menulis pesan pesan pada Elsa dan Prita agar datang ke acara empat
bulanannya yang jatuh di hari sabtu minggu depan. Masih banyak waktu untuk
mempersiapkannya. dan tidak ada alasan dengan mengatakan kok dadakan.
Biasanya Elsa dan Prita begitu, mentang-mentang keduanya sibuk berkarier
harus selalu membuat janji.
Perempuan itu tersenyum, apa kabar ya mereka? Elsa? apakah dia masih bekerja di cafe
Pria Idola? pasti masih karena tidak ada kabar darinya. Bahwa ia tak lagi bekerja di sana
Elsa bukan gadis yang rajin mencari-cari tempat lain yang memberikan lebih. Ia seorang
yang mudah menerima dan bertahan di sebuah tempat yang tidak memiliki kendala atau
masalah. Selama ia bekerja sesuai dengan perjanjian dan ia di bayar, baginya itu lebih
dari cukup.
Dan Priti, di gadis ambisius itu? sedang apa dia? belajar? membaca buku-buku yang
tebal, mencatat atau sedang menghapal? Lalu kapan dia mendapatkan uang? hemmm
Yunna tersenyum. Namun senyuman itu ia tarik dan mengerutkan keningnya. Prita sudah
Priti ke pesta pernikahannya. Tapi nihil. Prita tidak ada mempublish kebersamaannya dengan
pria tampan itu.
Prita itu. Yunna menggeleng-gelengkan kepalanya. Diam-diam ternyata ia pun mencari kekasih
dan mendapatkannya. Dalam segala hal Prita selalu menang beberapa langkah darinya. Tapi
itu tidak membuatnhya iri. Ia senang dan bahagia melihat Prita. Kehidupan gadis itu sangat
memotivasi dirinya, untuk tidak pernah mengalah dengan kegagalan. Bangkit dan berjuang
terus hingga berhasil. Begitulah Prita sejak dia masih kecil..
Yunna teringat ketika pertama kali bertemu Prita. Mereka sama-sama kelas satu sekolah dasar.
Ia diantar ayahnya dan menunggu di depan kelas. Tapi Prita datang sendrian dengan roknya
yang panjang dan rambutnya di ikat sebagian. Senyumnya lepas menebar kesemua anak-anak
yang tegang karena merupakan hari pertama di sekolah.
"Bangkunya kosong?"
Ia berkeliling mencari bangku yang masih kosong, dan bibir mungilnya selalu tersenyum dengan
tatapan yang menghujam.
Ia tidak menemukan bangku yang kosong di bagian depan melainkan di belakang dan di pojok.
__ADS_1
Tapi Prita tak membiarkan dirinya tersudut di sana. Dengan keberanian yang tidak dimiliki
anak-anak lain gadis kecil itu mencari ibu guru dan mengatakan kalau ia keberatan duduk
di belakang. Ia begitu mungil dan kecil, ia tidak bisa melihat ke papan tulis. Prita menyampaikan
keluhannya.
Ibu guru dengan bijaksana mencari tahu siapa murid laki-laki yang mau bertukar tempat
dengan Prita. Anak laki-laki lebih cocok di belakang, sedangkan anak perempuan di depan.
Akhirnya seorang anak laki-laki mau bertukar tempat. Yunna melihat kejadian itu dan ia
menjadi sering memperhatikan Prita.
Gadis kecil itu paling sering menunjuk tangan, dan maju ke depan. Ia gadis yang menonjol
dibanding yang lain. Padahal tubuhnya kecil dan mungil. Teman-teman sekelas ingin
menjadi temannya. Ia selalu ditunggu dan diharapkan kehadirannya. Sejak kecil Prita
sudah menjadi juru bicara bagi teman-temannya. Dan ia tak pernah menolak untuk
menyampaikan sebuah hal pada ibu guru.
Prita, dia pemberani, jujur serta penolong dan satu lagi sangat mandiri. Saat pertemuan
orang tua, ibu guru tak pernah bertemu dengan ibu atau ayah Prita. Gadis itu berterus
terang bahwa ayahnya sudah meninggal dan ibunya sakit. Prita meyakinkan bahwa ia bisa
mewakili dirinya sendiri.
Bertahun-tahun seperti itu, ia selalu berhasil meyakinkan siapa pun untuk perihal
orang tuanya. Beberapa guru akhirnya mendatangi rumah Prita dan apa yang
dikatakan oleh Prita memang benar. Guru-guru akhirnya memberikan hak yang berbeda
dengan yang lain.
Yunna merindukan Prita, saat ada momen Ia berharap bisa bertemu dan berbagi cerita.
Gadis itu segera membuat pesan untuk Prita dan juga Elsa. Kedua sahabatnya itu
harus datang dan bersama dengannya merayakan selamatan empat bulanan. Rasanya
ia tak sabar.
Elsa merasakan handphonenya bergetar dan ia cepat mengambil dan melihat pesan
masuk dari Yunna. Oh, Yunna sudah empat bulan. Elsa terlalu sibuk hingga tak menyadari
kalau setengah tahun nyaris terlalui. Elsa bahkan akan mengelar acara selamatan. Elsa
segera membalas bahwa ia akan hadir di momen bahagia Yunna. Ia juga akan memberitahu
ibunya agar nanti datang bersama ibu Yunna dan ibu Priti. Yunna mengucapkan terima kasih
atas perhatian tersebut, ia menunggu sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Bersambung