
"Hello Cindy selamat ya, semoga sukses."
Beberapa orang perempuan muda mendatangi Cindy yang sedang berjalan ke meja.
"Terima kasih, aamiin yra."
"Aku Melani, yang bekerja di cafe Pria Idola pak Rakasiwi."
Cindy berusaha mengingat, ia akhirnya mengajak empat perempuan muda itu duduk bersamanya di sebuah meja yang kosong. Sebelumnya ia memberitahu ayahnya kalau ia bersama para manager.
"Kita mengombrol sambil menikmati makan siang ini hemm."
Keempat gadis itu tampak senang dengan penerimaan Cindy.
"Iya aku ingat, kak Melani yang membantu kakakku Rakasiwi di cafenya. Hemmm jadi kakak masih di sana?"
Cindy memandang gadis itu.
"Masih dong, cafe pak Rakasiwi tempat aku mendapatkan pekerjaan pertamaku."
Cindy mengangguk-angguk, ia menatap gadis muda yang lain, seperti bertanya.
"Saya Katie mba Cindy, sudah lima tahun di perusahaan pak Raka."
"Witha, hampir sama dengan Katie, hanya beda sebulan saja."
"Saya Dara mba, area manager kota Bogor."
"Oh, ada berapa cafe di Bogor mba Dara?"
Cindy benar-benar tidak tau detail cafe Pria Idola. Ia pernah dengar sekitar 5.000 atau 10.000. Tersebar di berbagai tempat di jakarta dan juga di luar kota.
"Sepuluh cafe mba Cindy, dan bulan depan bertambah menjadi lima belas, sebab cafe baru itu sudah mendaftar ke kita."
__ADS_1
"Wah, cukup banyak juga."
"Aku ingin kita bekerja sama membesarkan perusahaan ini, kalian bantu aku ya. Soalnya ayah tiba-tiba membuat keputusan besar. Padahal aku belum siap, bahkan aku belum wisuda."
"Jangan cemas, kami pasti membantumu mba Cindy."
Mereka dalam waktu singkat menjadi akrab, bahkan langsung menyimpan nomer kontak.
"Kalian berkantor di perusahaan ya? kita akan sering ketemu kan?"
Keempat gadis itu saling bertatapan lalu mengangguk. Tetapi sesekali mereka bertugas ke tempat yang telah ditentukan oleh perusahaan. Setiap area manager memang mengurusi beberapa cafe yang diberikan tanggung jawab oleh perusahaan. Satu Area Manager mengurusi dan bertanggung jawab atas beberapa cafe di area mereka. Misal Dara, ia mengurusi dan bertanggung jawab atas semua cafe pria Idola yang berada di Bogor.
Melani bertanggung jawab pada cafe pria Idola yang berada di Jakarta Selatan. Ia berkantor di perusahaan dan sesekali di cafe milik Rakasiwi. Cindy akan belajar tentang area manager ini, dan apa yang harus ia lakukan pada para manager tersebut. Seba mereka bukan manager biasa.
"Ok, kita balik lagi ke perusahaan ya. Sampai jumpa."
Cindy mengakhiri perkenalannya dengan empat perempuan muda, Melani, Katie, Dara, dan Witha. Tanpa Cindy menyadari seseorang selalu memperhatikannya. Sepasang mata yang tajam bak Elang.
Hari itu agaknya sesuatu sekali di perusahaan Pria Idola Grup. Gadis bernama Cindy itu membuat para pegawai membicarakannya. Terlihat cantik dan smar.
"Biasanya air tak jauh jatuhnya dari pelimpahan, ayahnya baik pastilah anaknya juga."
"Asyik, akan ada pesta dong kan belum pengangkatan resmi."
"Beruntung banget ya jadi anak konglomerat, tinggal melanjutkan saja."
Bermacam-macam tanggapan tentang Cindy dari seluruh karyawan di perusahaan tersebut. Ada yang senang tetapi pasti ada yang tak suka serta sinis. Tak mungkin gadis muda itu bisa melejit seperti sekarang ini jika bukan karena warisan orang tuanya.
Kalau saja Cindy mengetahuinya ia pasti cerita bahwa dia sama seperti anak lainnya. Bahwa hidupnya juga tak mudah. Sejak kecil ia harus berkompetisi menjadi yang terbaik di kelasnya. Cindy pernah terluka saat teman sebangkunya menjadi juara kelas sedangkan dirinya hanya menjadi yang nomer dua. Ia cemberut dan marah kenapa bukan dirinya yang menjadi juara. Ia menangis di pelukkan Mardo, terisak-isak saat itu.
Mardo memeluk dan menenangkan Cindy. Gadis kecil itu memukul-mukul dada bundanya. Wajahnya penuh keringat dan air mata mengalir tiada henti.
"Sayangku, berhentilah menangis, matamu bisa bengkak."
__ADS_1
Tapi itu akan berlangsung lama hingga ia kelelahan dan tertidur. Raka mengangkatnya ke tempat tidur. Lalu bertanya apa yang membuat gadis kecilnya ngambek seperti itu? Mardo bilang ada yang mengalahkan dirinya di kelas. Teman sebangkunya juara satu dan dia sendiri juara dua.
"Biarkan dia tidur dan istirahat, coba dengar isaknya masih terdengar terus. Nanti biar ayah yang ngomong dengannya. Bahwa kehidupan itu tidak bisa melulu mengikuti kemauan kita. Tetapi ada sesuatub yang telah mengaturnya, yakni Allah. Cindy harus mengerti hal itu."
Maka malam harinya setelah makan malam ayah mengajak Cindy mengobrol. Dengan bahasa yang lembut dan sekiranya bisa diterima anak sekecil Cindy. Ayah membicarakan tentang kompetensi tapi juga tentang berbesar jiwa. Menerima kegagalan. Banyak hal yang dibicarakan oleh ayah dan Cindy, hingga akhirnya Cindy bisa mengerti. Ayah lantas mengembangkan tanganya dan mereka berpelukkan.
"Ayah mencintaimu dan selalu berdoa agar putri ayah menjadi yang terbaik."
"Terima kasih ayah."
Sejak itu, Cindy lebih giat belajar, ayah bilang pada putrinya usaha tidak akan menghianati hasil. Tetapi jika setelah berusaha tetapi hanya menjadi nomer dua itu sudah menjadi takdir dari Allah. Pasti ada hikmah dibaliknya. Tak perlu marah dan menangis.
Gadis mungil itu patut dipuji semangatnya, setiap hari rajin belajar dan mengikuti berbagai les. Tak pernah ia mengeluh. Wajahnya yang putih dengan bibir merah muda yang cantik selalu tersenyum. Tak merasakan kelelahan sedikit pun. Waktu istirahat dan tidurnya sedikit karena ia menghabiskannya untuk belajar.
Benar apa yang ayah katakan usaha tak menghianati hasil. Sejak kegagalannya meraih nomer satu, selanjutnya setelah itu Cindy terus-menerus menjadi nomer satu. Mulai kelas dua sd hingga akhirnya menjadi mahasiswi. Semua temannya mengenal dirinya sebagai Cindy si juara satu, si terajin. Gadis itu terobsesi oleh kata-kata ayah bahwa sekali lagi ia sangat percaya, usaha tak akan menghianati hasil.
Setiap kali penerimaah rapot, ia memberitahu ayahnya.
"Ayah! benar apa yang ayah katakan, jika aku banyak berusaha maka hasilnya juga memuaskan, aku menjadi juara satu lagi!"
Raka tersenyum dan tertawa senang.
"Selamat ya putri ayah, sebab ayah juga sudah membuktikan teori tersebut dan berhasil."
Raka memeluk erat putrinya, saat-saat libur itulah Raka dan Mardo mengajak anak-anak berlibur ke berbagai tempat wisata, berbelanja dan memberikan apa saja keinginan Cindy dan anak-anak. Hanya saat-saat libur Cindy menutup bukunya. Hari-hari sekolah maka ia berkutat di kamarnya belajar. Cindy patut mendapatkan keberuntungannya.
Bahkan saat Tria mengajaknya untuk menemani ke mall ia akan menolak. Lebih baik Tria mengajak yang lain saja. Ia harus mengerjakan pr. Membaca buku dan mendahului belajar bab-demi bab sebelum dipelajari di sekolah. Cindy gadis yang luar biasa. Raka dan Mardo takjub pada putri mereka itu. Entah siapa yang ditirunya, sangat tekun belajar.
__ADS_1
Bersambung