Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 118 Sebuah Villa


__ADS_3

Ketiga gadis muda tersebut, Prita, Yunna dan Elsa berhenti di pintu gerbang tersebut. Sejenak mereka


teringat beberapa tahun yang lalu saat mereka bersekolah tak jauh dari tempat itu.  Puswati teman


sekelas mereka mengajak ke sana.


"Hai teman-teman, main ke rumahku yuk, ibu aku menyuruhku membawa teman-temanku, dia sudah


memasak untuk makan siang, se-sebenarnya aku ulang tahun hari ini. Dan ibuku ingin merayakannya


untukku dan teman-teman dekatku."


Saat itu Puswati malu-malu, sebab baru sekali itu ia bisa merayakan ulang tahunnya. Dan ia hanya


mengajak teman-teman dekatnya saja, yaknio Prita, Yunna dan Elsa. Hanya mereka bertiga  yang


selama ini bersikap baik dan membuatnya nyaman. Sedangkan yang lain, Puswati tak merasakan


apa pun, hanya teman biasa saja. Tidak bisa membuatnya mencurahkan perasaan, atau nyaman


saat bercengkrama. ketiga gadis yang bersahabat itu selalu baik dan tak pernah membuatnya kecewa.


Berbeda dengan temannya yang lain. Meski tak jahat tetapi mereka semuanya menjaga jarak


dengannya. Seperlunya saja.


"Hanya kami bertiga yang diundang kerumahmu Pus!"


Tanya Yunna, meski berkali-kali sudah diingatkan jangan memanggil dengan Pus, tetapi Yunna


tetap saja memanggilnya Pus, sehingga ia lantas menyambung, watiiii. Repot memang, tetapi


dari pada terdengar seperti memanggil si meong, repot sedikit biarlah, Puswati terpaksa membiarkan


hal itu.


"Iya, ibuku hanya memasak sedikit katanya, nggak apa kan? bukan pesta ulang tahun seperti


Henny, Ribka atau teman-teman yang lain."


"Baiklah, kami ikut bersama denganmu, tapi kami tak bawa kado, bagaimana kalau menyusul?"


Yunna memandangi Prita dan Elsa, ia menegaskan pada kedua temannya harus membelikan


Puswati kado ulang tahun dengan patungan.  Prita dan Elsa mengangguk, mereka tak keberatan.


Mereka berdua percaya Yunna bisa mengatasi terlebih dahulu. Prita dan Elsa sering kali


harus berjuang untuk mendapatkan uang di luar kebutuhan sekolah.


Dan ketiganya melonggo saat Puswati  membawa mereka ke sebuah rumah yang besar dan megah


hingga ketiganya menyadari itu bukan rumah melainkan sebuah Villa.


"I-ini rumah kamu Pus?"


Yunna tak percaya, sebab selama ini mereka mengenal Puswati sebagai anak yang sederhana.


"Wati!, hemmm ayo masuk, ibuku sudah menunggu."


Ketiganya memasuki gerbang Villa tersebut dan taman bunga yang luas menyambut mereka.


Puswati membawa mereka ke arah belakang. Ketiga gadis itu kian tercengang oleh pemandangan


kebun berhektar tak kelihatan batasnya.


"Ayo sini masuk!"


Puswati mengajak mereka ke sebuah ruangan yang besar, ruangan makan dengan meja


yang sangat elegan. Juga ada bentangan karpet tebal yang membuat ruangan itu menjadi


hangat.


Ketiga gadis itu belum pernah sekali pun masuk ke sebuah ruangan yang megah seperti itu


jadi mereka sempat gamang dan salah tingkah.


"Eh, teman-temannya Puswati sudah datang, sini Nak!  ibu sudah buatkan kalian minuman


dan makanan, hari ini Puswati ulang tahun yang ke enam belas tahun."


Seorang perempuan berpakaian sederhana seperti halnya ibu Yunna, Elsa dan juga Prita


menyambut mereka. Sempat terpikir, kenapa orang kaya kok pakaiannya sederhana sekali

__ADS_1


sama seperti baju-baju yang digunakan oleh ibu mereka. Dan langsung terjawab.


"Nak, jangan salah paham yo, ibu di sini hanya bekerja mengurus Villa ini, bersama sepuluh


karyawan lainnya, ibu sudah minta ijin sama majikan agar anak ibu boleh membawa


temannya ke tempat ini hanya untuk merayakan ulang tahunnya."


Barulah Prita, Yunna dan Elsa mengerti. Ternyata ibu Puswati hanya bekerja di tempat


tersebut. Lantas acara ulang tahun Puswati berlangsung. Yunna memimpin teman-temannya


berdoa untuk kebahagiaan dan kesuksesan Puswati, lalu menyanyikan lagu ulang tahun


dan meniup lilin.


Enak sekali es dawet serta nasi kuning beserta lauk-pauk lengkap buatan ibu Puswati.


Semua karyawan juga mendapatkan bagian dan mereka membawa makanan itu dan


menikmatinya di bawah pohon sembari memandang lepas ke pada rumput menghijau serta


ratusan pohon rambutan di sana. Mereka menghabiskan makanan sembari menggelar


tikar dan berbahagia hingga senja.


Puswati bersama ketiga gadis temannya mengajak berkeliling kebun luas itu dan mereka


berlarian di bawah pohon dan diatas rerumputan hijau yang terjaga dan terawat.


Senang sekali hari itu hingga lupa pulang.


"Hei sedang apa kalian?"


Lamunan ketiganya buyar ketika seorang penjaga menghampiri mereka. Yunna segera


turun dari motornya.


"Pak, maaf beberapa tahun yang lalu kami pernah bermain ke sini. A-apakah bapak


mengenal Puswati? mereka teman kami."


Yunna mengutarakan maksudnya.


"Puswati? saya tak pernah mendengar nama itu. Saya orang baru  di sini."


"Sebentar! saya harus tanya dulu ya!"


"Pak, tolong panggilkan ibu Sur, dia adalah ibu Puswati, ibu Sur bekerja di sini


bersama sepuluh yang lain."


"Iya sebentar!"


Pak satpam itu yang cukup bijaksana berjalan ke belakang, untuk melaporkan


tentang tiga orang gadis tersebut.


Kebetulan ibu Sur melihat pak satpam yang baru  itu sedang celinguk mencari kepala


keamanan, ia menegurnya.


"Oh kebetulan bu Sur, ada tiga orang gadis yang sedang mencarimu, mereka ada


di depan."


Satpam baru tersebut merasa lega karena tugasnya menjadi ringan, ia telah menemukan


orang yang dikenal oleh Prita, Yunna dan juga Elsa. Sementara ibu Sur yang tak lain adalah


ibu Puswati sedang berjalan ke pintu gerbang.


Perempuan itu memandangi dan menghampiri mereka. Ia sudah lupa pada ketiga gadis


yang sekarang memiliki tubuh tinggi dan cantik.


"Hai Naik, kalian mencari siapa?"


"Hai ibu! ini kami bertiga teman Puswati! apa ibu sudah melupakan kami?"


"Nak Yunna! Prita dan Elsa?"


"Iya bu tak salah lagi."


"Hoalahhh kalian toh? sini masuk! kenapa tak pernah main lagi setelah hari ulang tahun

__ADS_1


itu?"


Mereka segera masuk dan villa itu masih cantik dan asri seperti dulu, hampir tidak ada yang


berubah.


"Bagaimana kabar Puswati Bu?"


Yunna menanyakan kabar Puswati, sejak lulus smp dan melanjutkan ke smu, mereka tak


lagi pernah bertemu.


"Puswati sudah menikah Nak, begitu tamat smu ada pria yang melamarnya, dan ibu


merelakannya pergi bersama laki-laki yang menikahinya itu, mereka tinggal di Bandung."


O, ketiga gadis itu hanya membentuk hurup O, berarti itu dua tahun yang lalu. Ibu Sur


tetap bersikap ramah dan gembira, ia banyak bercerita tentang Puswati putri satu-satunya.


Menurutnya Puswati mendapatkan pria yang baik dan bertanggung jawab. Hal yang


membuatnya bahagia dan tidak lagi risau memikirkan masa depan anaknya.


"Hemmm, Puswati sudah bahagia bu bersama keluarga kecilnya, sementara kami masih


berjuang Bu."


Yunna curhat. Selanjutnya mereka minta ijin untuk berkeliling kebun, mereka rindu


tempat seperti itu, setelah bergelut dengan buku, laptop, serta kebisingan.


"Silahkan nak, setelah kalian puas, temani ibu nanti makan durian ya, di bawah pohon


sana, ibu punya lima durian jatuhan, dari kemarin bingung mau menikmati bersama


siapa? karena yang lain juga sudah kebagian."


"Wah kami sungguh beruntung sekali Bu."


***


Sementara di sebuah rumah juga sedang berpesta durian. Seseorang mengantarkannya


sehari yang lalu. Dan sekarang wanginya merebak.


"Ayah, kita panen durian lagi?"


"Cindy menanyai ayahnya yang sedang fokus membuka durian."


"Kenapa kita tak menikmati durian itu di tempatnya Yah? pasti lebih asyik iya kan?"


Cindy yang cerewet membayangkan sebuah kebun lain yang jauh.


"Oh iya, kau benar juga, kapan-kapan kita kesana bersama-sama mumpung


Kakak Rakasiwi libur.


"Yah, sesekali aku juga mau menginap bersama teman-temannku di villa baru kita


itu ya Yah, dari pada menginap di hotel, kan lebih berhemat."


Raka yang membantu membuka buah-buah durian, memiliki rencana mengajak


teman-temannya ke sana. Pasti sangat menyenangkan menghabiskan waktu


di tempat tersebut.


"Om Richi, mau pulang minggu ini dan mau menghabiskan cutinya bersama


istri dan anak-anaknya juga, apa tak mengganggu mereka ya?"


"Oh, Om dan tante Laura akan ke Jakarta Yah? asyiiik aku mau bermain sepuasnya


dengan Ibra dan Anggel horeee!"


Cindy, Tria dan Dode saling berpandangan. Mereka sangat senang bertemu dengan om


serta tante mereka yang sangat baik dan ramah. Anak-anak mereka juga lucu, cantik


dan menggemaskan.


Bersambung


Jangan lupa berikan dukungan like, bintang lima dan vote serta hadiah

__ADS_1


author sangat berterima kasih dan balik balas


__ADS_2