Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 53. Pertemuan Mardo Dan Raka


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah karyawannya yang bernama Ajeng, Raka membisu.


Bayangan masa lalu tentang Mardo berputar-putar di kepalanya. Saat pertemuan di bandara kecil di kota Sorong.


Kemarahan gadis itu, cibirannya tak pernah hilang. Senyumnya begitu ceria, ada di semua sudut dan tempat.


Raka mengigit bibirnya, matanya terasa buram, ia menyebut nama Mardo dari jiwanya. Semua kejadian yang ia alami bersama Mardo tergambar jelas. Seperti baru saja terjadi.


"Belok kanan Pak Raka."


Suara Ajeng mengejutkan pria Idola.


"Rumah yang paling ujung itu."


Ajeng menunjuk ke sebuah rumah mungil yang terakhir . Rumah- rumah berjejer kiri dan kanan, dan rumah Ajeng berada yang paling pojok. Agak susah mobil masuk. Terpaksa mereka parkir agak jauh. Ajeng langsung lari menemui ibunya yang sudah menunggu di teras. Perempuan setengah baya tersebut tak sabar menunggu. Ia telah berkali-kali masuk dan keluar lagi sambil memandang ke jalan. Ia tak pernah menyangka kedatangannya ke penerbit tersebut telah membuahkan hasil. Memang bukan secara langsung. Seseorang yang telah lama mencari dan kebetulan ia memiliki foto yang sama.  Perempuan itu yang  bernama Triana, seorang penulis yang belum dikenal. Namun rajin dan eksis mengirim cerpen-cerpen ke koran dan majalah. Dan putrinya yang baru saja selesai wisuda mendapatkan pekerjaan sebagai administrasi di perusahaan Raka. Dua orang itu telah menghubung kembali Raka dan Mardo. Sungguh sebuah keajaiban.


"Saya menemui ibu Mardo untuk menawarkan naskah saya pak."


Perempuan yang bernama Triana tersebut menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Mardo.


"Seorang editor yang mereferensikan ibu Mardo kepada saya pak.'


Raka mengangguk-angguk. Selanjutnya ia meminta alamat perusahaan tersebut.


"Alhamdulillah, aku menemukanmu."


Raka berkali-kali mengucapkan perasaan syukurnya.


Sementara Ajeng dan ibunya tengah membuka amplop berisi uang sepuluh juta. Rejeki yang tak terduga.


"Seperti mimpi ya Jeng,  kita bisa membayar hutang dan buat modal Nak, alhamdulillah."


"Iya Bu, Ajeng minta dua juta ya Bu, buat beli keperluan Ajeng."


Ajeng membayangkan ia akan membeli baju, tas, sepatu yang bagus. Barang-barang yang ia  inginkan sudah menari-nari  di pikirannya. Besok ia tak akan menunda kepergiannya ke mall.


Ibunya juga sangat bersyukur. Besok ia akan melunasi seluruh hutang-hutangnya di warung dan tetangga. Ia masih ada sisa tigaa jutaan. Ia memikirkan sebuah usaha dengan sisa uangnya.


****


Pagi telah datang, Raka bangun dan duduk, menolehi jam beker di meja. Jam delapan. Raka merasa sedikit pusing. Ia hanya tidur tiga jam. Jantungku serasa melompat. Aku akan menemuinya hari ini.


Bunyi tivi yang selalu hidup setiap pagi meributi ruangannya.


'Kadang-kadang kau begitu dekat dengan apa yang kau inginkan.


Lalu kau terbangun dan menyadari bahwa mungkin hal itu tidak akan sehebat yang


kau bayangkan. Lalu apa yang akan kau lakukan?'


'Hah, mana aku tahu, pikir saja sendiri'


Raka menjawab perkataan host di tivi, sekedar menghilangkan nerveosnya.


Kemudian menyempatkan membuat susu hangat, membakar roti dan memakannya dengan cepat.

__ADS_1


Ia ingin secepatnya berada di jalanan lalu mencari alamat yang tertera di kartu nama.


"Apa kamu sudah berangkat ke kantor Do?"


Raka bicara sendiri, agak gugup


Mestinya ia ditemani oleh Deni. Tapi mereke pasti sudah berangkat ke kantor pegawai negerinya.


Deni dan Sammy menyempatkan mengirim pesan, "Bro, selamat ya. Semoga pertemuannya sangat menyenangkan. Segeralah ke pelaminan agar tak menghilang lagi."


Raka hanya membalas dengan emotion tersenyum.


Laki-laki muda itu sesaat menatap bangunan mungil di depannya. Sekeliling gedung  bertumbuhan pohon-pohon dan bunga. Sebuah suasana yang meneduhkan. Raka segera memasuki area parkir. Ia mencari yang terdekat dengan pintu masuk. Sebelum keluar dari mobilnya ia menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan. Mengusap dadanya yang berdebar, memeriksa rambutnya. Kemudian keluar lantas berlari-lari kecil  menuju pintu masuk. Ia mencium wangi ruangan yang lembut dan segar.


Seorang penjaga tersenyum  menyambut dan menanyakan keperluannya.


Raka langsung bilang akan bertemu dengan Mardo. Si penjaga mengantarnya ke ruang tamu.


Lalu menawari minum dingin atau hangat?


"Teh saja pak."


Kata Raka, ia terkesan sekali pada pegawai-pegawai di kantor itu yang perhatian dan loyal.


Tak lama seorang gadis mengantarkannya teh panas. Raka mengangguk, mengucapkan terima kasih.


Ia duduk dengan tenang di sebuah ruangan khusus tamu. Raka melihat-lihat sekelilingnya, Sebuah lemari besar yang berisi buku. Beberapa Lukisan yang juga memuat buku. Ada pot bunga besar yang berisi bunga segar yang indah. Sebuah kantor yang tertata anggun dan cantik. Karena pemiliknya seorang gadis yang cantik. Sangat sesuai. laki-laki itu mengangguk-angguk sendiri.


Sekitar setengah jam, seseorang memanggilnya.


"Pak, ibu Mardo sudah ada di dalam, silahkan."


Ruangan tempat Mardo bekerja.


"Oh, terima kasih."


Jantung Raka berdebar-debar lebih kencang.


Ia bergegas dan berjalan memasuki ruangan yang ditunjuk.


Ia sekarang sudah berada di ruangan itu. Seorang perempuan memakai hijab, cantik dan berbeda.


"Selamat pagi," Raka merasa lidahnya kelu.


Perempuan itu membesarkan mata dan mengerutkan dahinya.


"Silahkan duduk p-mas."


Mardo memutuskan memanggil mas, melihat tamunya yang masih muda. Ia belum juga ngeh pada pria


dihadapannya.


"Ada yang bisa saya lakukan?"


Raka menghembuskan napasnya, " Hei Mardo, apa kamu tak mengenali aku?"

__ADS_1


Laki-laki itu mendekatkan dirinya. Menatap perempuan cantik itu lekat-lekat.


Terkejut dengan pandangan tajam, yang ini tak berubah dari dulu. Sorot mata yang tajam menyelidik.


Sekejap Mardo berusaha mengingat, mengumpulkan segenap memori tentang wajah laki-laki itu. Ia mengerutkan keningnya, "K-kau oh kau kak Raka oh! ya ampun oh!"


Mardo setengah hesteris,  ia berdiri dan menyalami Raka dengan erat. Bibirnya tersenyum lebar dan mata gadis itu bercahaya lebih cemerlang.


"Bagaimana kak Raka bisa sampai ke sini? oh! aku tak menjangka."


Mardo sangat gembira, ia menanyakan Richi , serta keluarganya. Raka bahagia.


Gadis itu ternyata masih mengingatnya. Bibirnya tersenyum melihat betapa terkejut dan bingungnya ia menghadapi kedatangan Raka.


Mereka berpindah ke sofa besar untuk bertukar cerita.


"Tiba-tiba saja kalian seperti menghilang, tak bisa dihubungi."


Raka mengungkapkan kekecewaannya yang dalam. Mardo membisu.


"Banyak yang akan kuceritakan padamu."


Mardo menatap mata laki-laki di depannya.


Begitu juga Raka, ia tak mau melepaskan pandangannya.


"Aku siap mendengarkannya, meski seribu satu malam."


Hemmm, gombal.


"Aku merindukan gadis beliaku."


Raka mengharapkan sebuah pelukkan.


Mardo tersenyum, ia tak bisa memberikannya karena ia sekarang gadis dewasa yang


mengenakan pakaian syariah. Meski pun mereka sangat dekat.


Pertemuan mengejutkan itu, sungguh sesuatu yang dahsyat. Raka dan Mardo lebih sering berpandang-pandangan dibanding bicara. Mata mereka bicara lebih banyak. Kerinduan  keduanya yang ingin tertuangkan.


Senyum serta sikap yang kikuk.


 


 


Bersambung


 


Makasih sudah membaca


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2