
Kelas delapan di semester dua Mardo pindah ke salah satu kota di Papua. Mereka terpisah oleh jarak serta waktu. Mulanya Putri, Sashi dan Emely rajin memberi kabar. Namun dengan berjalannya waktu perlahan tidak ada lagi yang diceritakan. Masing-masing sibuk dengan pelajaran dan kegiatan untuk meniti cita-cita. Saat itulah Mardo
menikmati hari-harinya bersama Richi dan teman-teman sekolahnya.
Assalamualaikum.
Mardo dan Satria yang tengah mengenang masa lalu mendongak melihat ke pintu.
"Sashi! Putri!! kalian kemana saja sih nggak pernah main ke rumah lagi."
Mardo menyambut dan memeluk hangat sahabatnya sejak smp. Satria tersenyum.
"Kalian ingat dia kan? teman smp kita juga."
Sashi dan Putri mengingat-ingat, tapi blank. Mereka menyerah.
"Dia Satria, ketua osis dan km kita dulu."
"Hah! yang benar saja, jauh banget berubah."
Ruangan itu menjadi lebih ramai setelah Mardo memberitahu laki-laki yang bersamanya.
"Kalau begitu dia harus mentraktir kita makan siang, iya mumpung ketemu."
Dan Satria tak bisa menolak, empat perempuan sedang dia hanya sendirian. Ok. katanya.
Setelah Emily tiba mereka berlima meninggalkan kantor. Mereka mengobrol dan menceritakan
masing-masing kehidupan yang telah mereka lewati. Putri dan Sashi akhirnya menikah dengan
laki-laki pilihannya. Tak jadi dengan Denny serta Sammy. Menurut mereka Denny dan Sammy plin plan terlalu banyak pertimbangan.
Putri sudah memiliki tiga anak, sedangkan Sashi dua. Sementara Emely yang menikah saat usianya menjelang 37 baru memiliki satu anak. Mereka menanya Satria berapa putranya, dan laki-laki itu menjawab dua. Keduanya laki-laki. Pasti sangat menyenangkan perempuan yang menjadi istri Satria. Ada tiga laki-laki yang melindungi dan menjaganya. Satria hanya tersenyum.
"Tumben kamu bisa keluar Cing."
Sashi menatap Mardo. Dan perempuan itu tersenyum. Sudah lama mereka tak pernah lagi pergi seperti dulu. Sejak Mardo menjadi nyonya Raka Bramantyo. Dunia perempuan itu hanya keluarganya.
"Em, anak-anak sudah besar semuanya, sekarang aku agak leluasa."
Mardo mengemukakan alasannya menghilang dari peredaran. Tapi menurutnya bukan hanya dia melainkan teman-temannya juga. Ada masa seseorang menghilang karena sibuk mengurus keluarganya. Dan setelah masa itu lewat muncul kembali sebab merindukan masa lalu.
"Kau benar Cing, aku juga jenuh melulu di rumah. Ingin berkumpul dengan teman-teman. Rasanya ini sangat
menyenangkan. Bagaiman kalau kita mengumpulkan teman-teman lain dan membuat reuni?"
"Wah, benar itu, yuk, kangen dengan teman-teman."
__ADS_1
Pembicaraan tersebut yang tak sengaja akhirnya menjadikan cikal bakal reuni smp dan juga sma. Di restoran
megah di pusat kota ke limanya merancang acar reuni tersebut. Sashi langsung membuat grup wa reuni smp. Lalu mulai mencari teman-teman sekelas di efbe. Sehari itu mereka menemukan 20 orang teman. Mereka saling
berjanji akan menginfokan teman-teman lain.
Makan siang yang terus berlangsung hingga senja. Entah berapa kali mereka meminta tambahan minuman. Hingga akhirnya mesti berpisah dan berkabar lewat whatsaap.
Raka sudah menunggu istrinya di rumah. Anak-anak bilang bunda tak pulang-pulang sejak mengantar Rakasiwi. Pria gagah dan tampan itu mengangkat wajahnya saat mendengar salam istrinya. Ia juga membalas salam tersebut.
"Mi, baru pulang. Ini sudah mau malam loh."
"Iya Pi, maaf tadi bertemu teman-temanku dan mereka mengajak makan siang sambil membicarakan sesuatu."
"Sesuatu? apa?"
"Bukan apa-apa, Putri dan Sashi ingin membuat reuni smp Pi, Mimi ke kamar dulu ya Pi."
Raka hanya mengangguk, ia senang melihat istrinya ceria dan bahagia. Membuatnya muda dan cantik
Pria itu tersenyum. Terbayang saat ia dulu mengejar-ngerjar gadis itu. Segala cara ia lakukan hingga akhirnya ia mendapatkan cintanya.
Terpikir olehnya untuk membuatkan seorang adik lagi untuk Dode. Mardo masih bisa memiliki satu atau dua anak lagi. Ia masih perempuan yang subur serta energik. Laki-laki berkharisma itu tersenyum memandang kedalam kamar.
"Mi, aku ingin seorang anak laki-laki lagi."
Bisik Raka saat keduanya bersiap tidur. Mardo tertegun oleh permintaan suaminya. Baru saja ia terlepas dan merasa bebas dari mengurus anak sekarang Raka menginginkan lagi seorang anak.
"Satu lagi Mi, aku merindukan bayi mungil yang menampar-nampar wajahku."
Raka sudah menaiki tubuh istrinya dan menjatuhi wajah Mardo dengan ciuman mautnya. Perempuan itu lantas memejamkan mata menikmati sentuhan-demi sentuhan pada tubuhnya. Mardo memiliki wajah cantik yang tak berubah sejak menikah. Tetap segar, kenyal dan halus. Begitu juga bibirnya. Raka ******* belahan itu dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Bunyi-bunyi tercipta diantara mereka.
"Mi, Pipi dibawah."
Raka menyentuh pinggang istrinya dan mengangkatnya ke atas. Dia sangat menyukai pemandangan indah tubuh istrinya terpampang di depannya. Berakhir dengan pelukkan dan melemahnya tubuh keduanya. Mardo memejamkan matanya di dada Raka. Pria itu juga langsung terlelap seusai olah raga yang melelahkan.
Tak lama setelah malam itu, Mardo mulai merasa sering mengantuk dan lemas. Ia kadang sebal pada Raka yang membuatnya seperti itu. Gejala hamil dialami oleh Mardo. Dan saat ia memeriksa ke dokter langanannya, benarlah ia dan Raka kembali dikarunia seorang anak.
"Alhamdulillan Mi, aku menjadi ayah untuk lima orang anak, oh aku bahagia."
Raka memeluk erat tubuh istrinya.
"Tapi aku merasa lemas Pi, dan jadi sering mengantuk."
"Tidak apa sayang, aku akan memijatmu hingga kau merasa nyaman dan tertidur."
Mardo hanya diam saja. Ia tahu sekali tabiat Raka. Memijatnya hanya sebentar, tetapi bermain dengan tubuhnya bisa berjam-jam. Hingga semua tubuhnya merah dan membengkak. Terutama bagian dadanya yang membuncah. Raka sering sekali gemas dan lupa diri. Mardo pun rajin merawat dan kerap meminum ramuan untuk mempertahankan keindahan ***********. Ia tak ingin Raka mengeluh pada tubuhnya. Selalu berusaha menjaga
__ADS_1
gairah suami terhadapnya.
"Nanti kalau Mimi gembrot lagi sabar ya Pi."
"Mau gembrot, mau langsing, yang penting kesukaan Pipi tak berubah."
"Iya-iya, lagian kan ini juga maunya Pipi. Pengen punya baby lagi."
Raka hanya tersenyum. Lagian mana mungkin Pipi berpaling pada perempuan lain. Pria Idola tidak akan pernah meninggalkan jejak dengan menyakiti hati seorang wanitapun.
Laki-laki itu tak akan pernah mengingkari hal itu. Ia selalu ingat betapa perjuangannya mendapatkan Mardo. Cinta sejatinya. Banyak sekali perempuan yang mengejar-ngejarnya bahkan hingga kini. Tetapi ia menampik semuanya. Mardo sudah memberikan yang ia inginkan sebagai seorang laki-laki, dan juga suami. Ia memilih setia dan bahagia bersama Mardo selamanya.
"Do, bisakah kita bertemu lagi untuk membahas reuni?"
Putri menelponnya. Dan Mardo mengigit bibirnya. Raka tak membolehkan pergi. Sebab usia kandungan Mardo yang masih rawan. Perempuan itu malu mengutarakan kehamilannya juga tentang Raka dengan rasa posesifnya.
"Put, kalian saja. Aku sedang tak enak badan, ini tadi juga habis dikerik tubuhku oleh Raka."
"Oh, kalau begitu menunggu dirimu sehat saja Cing. Nggak enak tanpa kamu Cing."
Mardo tak bisa menyuruh Putri, Sashi atau Emely saja yang mengurus, mereka tak akan mau. Sejak dulu ia lah motor dari teman-temannya itu. Jika ia tak bergerak. Maka mereka juga akan diam.
Sudah 30 orang teman yang ditemukan. Mereka mendesak supaya reuni pertama terlaksana. Bahkan Suryantorowati yang tinggal di Yokyakarta bakal datang ke Jakarta demi reuni itu. Bambang yang sudah menjadi warga sana juga menyatakan siap. Juga seseorang lagi yang tinggal di Cirebon. Bogor. Mereka rupanya yang dulu satu kelas sudah berserak di berbagai kota.
Ada yang karena pernikahan, pekerjaan dan sebagainya. Reuni ini mereka dambakan sebagai ajang menyambung silaturahim yang terputus puluhan tahun.
"Ayo kapan kita reuni, sudah tak sabar bertemu kalian."
Entah sudah berapa kali Bambang menulis di Wa grup.
"Aku juga kangen banget sama kalian, aku sendirian nih di Yogya."
Mardo menjadi tak enak hati, gara-gara dia semua menjadi tertunda. Ia menelpon Satria dan menunjuknya sebagai ketua saja. Tapi Satria tak mau jika mereka tak bertemu secara langsung. Terpaksa Mardo menceritakan tentang rencana reuni mereka yang sudah tertunda berbulan-bulan pada suaminya. Akhirnya Raka mengijinkan Mardo keluar dengan catatan hanya sebentar saja. Tidak boleh lama-lama.
Senang sekali rasanya mendapatkan kepercayaan dari suaminya. Akhirnya hari itu mereka janjian bertemu sambil makan siang. Mardo membuat cepat rancangan reuni mereka. Ketuanya Satria, bendahara Emely, sekretaris serta seksi lainnya. Hanya sementara. Sebab nanti setelah mereka bertemu bisa memilih pegurus lagi. Satria tak menolak. Lagi pula ia pantas. Dulu ia ketua osis dan juga pernah menjadi ketua murid. Tidak akan ada yang menolaknya.
Hari itu juga mereka menetapkan waktu serta tempat yang cocok. Untuk tempat Satria yang akan mencarinya. Sebuah tempat yang nyaman untuk mereka semua.
Deal. Reuni pertama smp setelah tiga puluh tahun akhirnya terealisasi. Suryantorowati terbang beberapa menit dari Yogyakarta ke Jakarta. Ia menginap di hotel. Sementara Bambang dari Bandung serta Pupu dari Cirebon berangkat pagi-pagi sekali dari kota asal mereka. Bambang janjian dengan Pupu bertemu di depan rumah sakit besar di jakarta timur.
Tepat jam sepuluh, satu persatu mereka sampai di sebuah restoran pinggir kota. Satria, Putri, Sashi, Emily menyambut hangat dengan pelukkan. Saat Suryantorowati muncul suasana heboh. Sebab memang dirinya paling centil dan heboh saat smp dulu.
__ADS_1
Bersambung