Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 104 Cengengnya Cindy


__ADS_3

Raka dan Mardo pernah membicarakan sikap Cindy tersebut. Kenapa Cindy sangat berbeda


dengan Rakasiwi. Cindy tidak mau dekat dengan siapa pun kecuali Mardo. Setiap kali ada orang


lain di dekatnya maka ia hanya akan berada dalam pelukkan ibu dan mengintip takut-takut. Jika


yang datang adalah ayahnya Raka, atau kakaknya ia tidak keterlaluan seperti itu. Asal ia sering


melihat orang tersebut, ia mau lepas dari pelukkan bundanya dan bermain sendirian atau dengan


kakaknya Rakasiwi.


Pernah Raka, Mardo dan Rakasiwi pura-pura tidur dan mereka memperhatikan Cindy yang melepaskan


dirinya dari pelukkan Mardo. Gadis kecil itu turun dari tempat tidur yang memang sengaja dibentangkan


di bawah. Cindy berjalan-jalan mengitari ruangan mereka. Lalu bermain dan berbicara sendiri dengan


suaranya yang belum jelas.


Yahh yahhhh,,,


Terdengar suaranya memanggil ayah atau memang hanya itu yang baru bisa ia ucapkan.


Tiba-tiba matanya melihat Raka memeluk Mardo, serta merta Cindy buru-buru naik ke tempat


tidur dan mendorong-dorong Raka sambil berteriak-teriak Yahhh  yahhhh!


Gemas sekali pada Cindy, Raka memeluk Mardo dan Cindy dan mereka tertawa-tawa karena


berebutan pelukkan. Rakasiwi tak mau ketinggalan ia ikutan bergelut dengan ayah dan adiknya


"Bundaaa! aku mau dipeluk juga."


Rakasiwi memeluk tubuh ibunya dan Cindy mendorong-dorong tubuh kakak lelakinya yang tak


mau lepas.


"Kakak! sakit bunda. Kakak sudah gede loh, sama ayah itu kosong."


"Cindy sini sayang, sama ayah, kenapa maunya sama bunda terus, Raka menarik anak perempuan


itu yang lantas menjerit-jerit karena tak mau dipisahkan dari Mardo. Punya kesempatan lepas dari


Cindy, biasanya Mardo lari ke kamar mandi untuk bab atau pipis. Selama itu Cindy akan menangis


hingga akhirnya Mardo muncul dan membesarkan matanya.


"Rewel! Cindy rewel!"


Mardo hanya bisa pura-pura marah pada bocah imut tersebut. Cindy tertawa lebar setelah berada


dalam pelukkan Mardo. Sementara Raka tak habis pikir. Cindy tak mau berlama-lama dengannya.


Agak lumayan masih mau bermain dan bercakap-cakap dengan kakaknya Raka.


Suatu saat mereka menanyakan hal tersebut pada dokter langganan, dan dokter mengatakan


itu hal yang normal saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Anak terutama dibawah dua tahun


merasa nyaman dan tenang dengan ibunya. Ia sering menganggap ibunya adalah cerminan


perilaku dirinya. Anak melihat orang lain melalui diri ibunya.


Bila tak mau digendong ayahnya, itu juga normal. Ibunya berusaha mengenalkan papanya kepada

__ADS_1


anak secara lebih sering. Dan ketika ayah sedang menggendongnya dan anak mulai gelisah mencari


ibu jangan buru-buru datang menyelamatkannya, tinggallah dalam ruangan yang sama  namun dengan


mengambil jarak tertentu. Ketika anak sudah terbiasa dengan ayah, cobalah meninggalkan mereka


berdua saja. Lakukan ketika anak dalam mood yang baik, misalnya setelah tidur siang atau setelah


menyusu.


Dokter juga mengatakan bahwa para pria sebenarnya memiliki senjata andalan untuk menenangkan


yakni dada yang bidang sebagai tempat bersandar serta suara pria yang bisa  mendatangkan efek


menenangkan. Jika anak rewel coba ayah mengendongnya dengan meletakkan kepala anak di antara


dagu dan leher dan bersenandunglah dengan lembut untuk menenangkannya.


Raka dan Mardo lantas berpandangan dan keduanya mengangguk-anggukkan kepala. Seharusnya


mereka sudah mengerti dengan keadaan sederhana itu. Mereka sudah melakukannya tetapi tak


berulang-ulang. Seharusnya untuk Cindy mereka berdua lebih santai dan melakukan hal tersebut dengan


sabar dan berulang. Keduanya segera pamit dan akan melakukan hal yang terbaik untuk Cindy.


"Ayo,Baby Raka kita berangkat sekolah."


Raka meraih kunci mobilnya, seharian ini Raka akan menunggui  Rakasiwi hingga selaesai. Ini


adalah hari pertamanya sekolah. Dan ibu guru kelasnya menjelaskan bahwa siswa di sekolah


itu hanya boleh diantar dan ditunggui selama satu minggu saja. Selanjutnya jika anak telah


masuk ke kelas, orang tua diharapkan pulang dan menjemput saat jam kepulangan sekolah.


menjemput Rakasiwi selama seminggu pertama sekolahnya. Akan sangat merepotkan jika ia


menyerahkan semuanya pada Mardo dengan Cindy yang cengeng sekali.


"Ayo, Opa ikutan mengantar juga Oma sekalian kita nanti ke super market ya Oma."


Mereka bersiap dan pergi beriringan mengantar Raka ke sekolah. Setibanya di sana suasana


sudah ramai. Rakasiwi terdiam melihat sekolahnya itu. Ia menggamit tangan ayahnya kuat.


"Mari Ayah antar ke kelasmu ya, kita taro tasmu dulu dan menyalami ibu guru."


Raka dengan lembut  berbisik di telinga Rakasiwi, ia berusaha menenangkan anak laki-laki


itu yang agaknya terkaget-kaget dengan suasana hari pertamanya. Bahkan Rakasiwi melepaskan


genggaman tangannya dan berlari ke bundanya sembari menjerit.


"Bunda!, aku mau pulang!"


Raka mendekati  anak laki-lakinya yang semula begitu bersemangat ke sekolah, tetapi


baru juga sampai di pintu gerbang, ia berubah dan menjadi tegang.


"Rakasiwi! ayo bunda antar, nggak boleh seperti ini, ayo bunda dan ayah antar ke kelas."


"Mau Ayah gendong atau berjalan sendiri ke kelasnya?"


"Jalan."

__ADS_1


"Ok ayo, anak hebat apa anak melempem?"


"Iya! anak hebat!"


Rakasiwi lantas menguatkan hatinya berjalan ke kelasnya. Banyak anak perempuan yang


tengah berdiri di depan kelas, mereka menatap dan tersenyum pada Rakasiwi.


"Hello ini Rakasiwi ya? selamat datang di taman kanak-kanak Cahaya Bangsa, mari ibu


temani masuk ke kelasmu."


Rakasiwi disambut ramah dan lembut oleh ibu guru kelas yang cantik dan lembut.


Ibu guru itu mengambil tas Rakasiwi dan meletakkannya di atas sebuah bangku.


"Sebentar lagi kita masuk dan belajar ya Rakasiwi."


Rakasiwi hanya mengangguk-angguk saja.


"Bu guru, dia namanya siapa?"


Seorang gadis kecil yang mungil mendekati bu guru yang tengah menggenggam tangan


Rakasiwi.


"Oh ini namanya Rakasiwi, dan hei Rakasiwi ini temanmu Prita."


Anak perempuan yang mungil tetapi pemberani itu mengulurkan tangannya pada Raka


mengajak bersalaman. Raka menggelengkan kepalanya dan menjauh dari anak perempuan


itu.


"He he he, Rakasiwi belum mau berkenalan ya Prita, tapi Prita sudah tau namanya ya."


Gadis kecil itu mengangguk-angguk lantas tersenyum dan kemudian pergi. Raka menatapi


gadis kecil yang berjalan menuju taman bunga, beberapa anak sedang bermain di taman


ada yang bermain ayunan, dan ada hanya duduk-duduk sambil mengobrol. Agaknya anak


anak yang mengulang dari kelas kecil ke kelas besar. Sehingga mereka sudah memiliki


teman dan berani.


Ada juga yang menangis dan menjerit-jerit, bahkan minta pulang.


Cindy yang mendengar tangisan tak jauh darinya ikut menangis dan menghentak-hentakkan


kakinya. Mardo pamit pada Raka yang duduk di tempat yang khusus dibuat bagi orang


tua yang menunggu. Sebuah ruangan sekaligus ada kantin sehat.


"Pi, Cindy nangis terus ini!"


Raka mengambil tubuh Cindy dari belakang dan berusaha mendiamkannya. Ia membawa


gadis kecilnya keluar sembari membujuk dan melihat mainan yang berwarna-warni.


Opa dan oma juga masih terlihat mengobrol di halaman tk Cahaya Bangsa. Tk itu sangat


besar sekali, memiliki tempat parkir serta lapangan yang luas untuk anak-anak berolah


raga dan baris berbaris. Di depan taman dibuatkan tempat-tempat duduk yang bisa

__ADS_1


dipakai oleh anak-anak saat beristirahat, atau juga oleh orang-tua yang menjemput.


Bersambung


__ADS_2