
Raka dan Mardo pernah membicarakan sikap Cindy tersebut. Kenapa Cindy sangat berbeda
dengan Rakasiwi. Cindy tidak mau dekat dengan siapa pun kecuali Mardo. Setiap kali ada orang
lain di dekatnya maka ia hanya akan berada dalam pelukkan ibu dan mengintip takut-takut. Jika
yang datang adalah ayahnya Raka, atau kakaknya ia tidak keterlaluan seperti itu. Asal ia sering
melihat orang tersebut, ia mau lepas dari pelukkan bundanya dan bermain sendirian atau dengan
kakaknya Rakasiwi.
Pernah Raka, Mardo dan Rakasiwi pura-pura tidur dan mereka memperhatikan Cindy yang melepaskan
dirinya dari pelukkan Mardo. Gadis kecil itu turun dari tempat tidur yang memang sengaja dibentangkan
di bawah. Cindy berjalan-jalan mengitari ruangan mereka. Lalu bermain dan berbicara sendiri dengan
suaranya yang belum jelas.
Yahh yahhhh,,,
Terdengar suaranya memanggil ayah atau memang hanya itu yang baru bisa ia ucapkan.
Tiba-tiba matanya melihat Raka memeluk Mardo, serta merta Cindy buru-buru naik ke tempat
tidur dan mendorong-dorong Raka sambil berteriak-teriak Yahhh yahhhh!
Gemas sekali pada Cindy, Raka memeluk Mardo dan Cindy dan mereka tertawa-tawa karena
berebutan pelukkan. Rakasiwi tak mau ketinggalan ia ikutan bergelut dengan ayah dan adiknya
"Bundaaa! aku mau dipeluk juga."
Rakasiwi memeluk tubuh ibunya dan Cindy mendorong-dorong tubuh kakak lelakinya yang tak
mau lepas.
"Kakak! sakit bunda. Kakak sudah gede loh, sama ayah itu kosong."
"Cindy sini sayang, sama ayah, kenapa maunya sama bunda terus, Raka menarik anak perempuan
itu yang lantas menjerit-jerit karena tak mau dipisahkan dari Mardo. Punya kesempatan lepas dari
Cindy, biasanya Mardo lari ke kamar mandi untuk bab atau pipis. Selama itu Cindy akan menangis
hingga akhirnya Mardo muncul dan membesarkan matanya.
"Rewel! Cindy rewel!"
Mardo hanya bisa pura-pura marah pada bocah imut tersebut. Cindy tertawa lebar setelah berada
dalam pelukkan Mardo. Sementara Raka tak habis pikir. Cindy tak mau berlama-lama dengannya.
Agak lumayan masih mau bermain dan bercakap-cakap dengan kakaknya Raka.
Suatu saat mereka menanyakan hal tersebut pada dokter langganan, dan dokter mengatakan
itu hal yang normal saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Anak terutama dibawah dua tahun
merasa nyaman dan tenang dengan ibunya. Ia sering menganggap ibunya adalah cerminan
perilaku dirinya. Anak melihat orang lain melalui diri ibunya.
Bila tak mau digendong ayahnya, itu juga normal. Ibunya berusaha mengenalkan papanya kepada
__ADS_1
anak secara lebih sering. Dan ketika ayah sedang menggendongnya dan anak mulai gelisah mencari
ibu jangan buru-buru datang menyelamatkannya, tinggallah dalam ruangan yang sama namun dengan
mengambil jarak tertentu. Ketika anak sudah terbiasa dengan ayah, cobalah meninggalkan mereka
berdua saja. Lakukan ketika anak dalam mood yang baik, misalnya setelah tidur siang atau setelah
menyusu.
Dokter juga mengatakan bahwa para pria sebenarnya memiliki senjata andalan untuk menenangkan
yakni dada yang bidang sebagai tempat bersandar serta suara pria yang bisa mendatangkan efek
menenangkan. Jika anak rewel coba ayah mengendongnya dengan meletakkan kepala anak di antara
dagu dan leher dan bersenandunglah dengan lembut untuk menenangkannya.
Raka dan Mardo lantas berpandangan dan keduanya mengangguk-anggukkan kepala. Seharusnya
mereka sudah mengerti dengan keadaan sederhana itu. Mereka sudah melakukannya tetapi tak
berulang-ulang. Seharusnya untuk Cindy mereka berdua lebih santai dan melakukan hal tersebut dengan
sabar dan berulang. Keduanya segera pamit dan akan melakukan hal yang terbaik untuk Cindy.
"Ayo,Baby Raka kita berangkat sekolah."
Raka meraih kunci mobilnya, seharian ini Raka akan menunggui Rakasiwi hingga selaesai. Ini
adalah hari pertamanya sekolah. Dan ibu guru kelasnya menjelaskan bahwa siswa di sekolah
itu hanya boleh diantar dan ditunggui selama satu minggu saja. Selanjutnya jika anak telah
masuk ke kelas, orang tua diharapkan pulang dan menjemput saat jam kepulangan sekolah.
menjemput Rakasiwi selama seminggu pertama sekolahnya. Akan sangat merepotkan jika ia
menyerahkan semuanya pada Mardo dengan Cindy yang cengeng sekali.
"Ayo, Opa ikutan mengantar juga Oma sekalian kita nanti ke super market ya Oma."
Mereka bersiap dan pergi beriringan mengantar Raka ke sekolah. Setibanya di sana suasana
sudah ramai. Rakasiwi terdiam melihat sekolahnya itu. Ia menggamit tangan ayahnya kuat.
"Mari Ayah antar ke kelasmu ya, kita taro tasmu dulu dan menyalami ibu guru."
Raka dengan lembut berbisik di telinga Rakasiwi, ia berusaha menenangkan anak laki-laki
itu yang agaknya terkaget-kaget dengan suasana hari pertamanya. Bahkan Rakasiwi melepaskan
genggaman tangannya dan berlari ke bundanya sembari menjerit.
"Bunda!, aku mau pulang!"
Raka mendekati anak laki-lakinya yang semula begitu bersemangat ke sekolah, tetapi
baru juga sampai di pintu gerbang, ia berubah dan menjadi tegang.
"Rakasiwi! ayo bunda antar, nggak boleh seperti ini, ayo bunda dan ayah antar ke kelas."
"Mau Ayah gendong atau berjalan sendiri ke kelasnya?"
"Jalan."
__ADS_1
"Ok ayo, anak hebat apa anak melempem?"
"Iya! anak hebat!"
Rakasiwi lantas menguatkan hatinya berjalan ke kelasnya. Banyak anak perempuan yang
tengah berdiri di depan kelas, mereka menatap dan tersenyum pada Rakasiwi.
"Hello ini Rakasiwi ya? selamat datang di taman kanak-kanak Cahaya Bangsa, mari ibu
temani masuk ke kelasmu."
Rakasiwi disambut ramah dan lembut oleh ibu guru kelas yang cantik dan lembut.
Ibu guru itu mengambil tas Rakasiwi dan meletakkannya di atas sebuah bangku.
"Sebentar lagi kita masuk dan belajar ya Rakasiwi."
Rakasiwi hanya mengangguk-angguk saja.
"Bu guru, dia namanya siapa?"
Seorang gadis kecil yang mungil mendekati bu guru yang tengah menggenggam tangan
Rakasiwi.
"Oh ini namanya Rakasiwi, dan hei Rakasiwi ini temanmu Prita."
Anak perempuan yang mungil tetapi pemberani itu mengulurkan tangannya pada Raka
mengajak bersalaman. Raka menggelengkan kepalanya dan menjauh dari anak perempuan
itu.
"He he he, Rakasiwi belum mau berkenalan ya Prita, tapi Prita sudah tau namanya ya."
Gadis kecil itu mengangguk-angguk lantas tersenyum dan kemudian pergi. Raka menatapi
gadis kecil yang berjalan menuju taman bunga, beberapa anak sedang bermain di taman
ada yang bermain ayunan, dan ada hanya duduk-duduk sambil mengobrol. Agaknya anak
anak yang mengulang dari kelas kecil ke kelas besar. Sehingga mereka sudah memiliki
teman dan berani.
Ada juga yang menangis dan menjerit-jerit, bahkan minta pulang.
Cindy yang mendengar tangisan tak jauh darinya ikut menangis dan menghentak-hentakkan
kakinya. Mardo pamit pada Raka yang duduk di tempat yang khusus dibuat bagi orang
tua yang menunggu. Sebuah ruangan sekaligus ada kantin sehat.
"Pi, Cindy nangis terus ini!"
Raka mengambil tubuh Cindy dari belakang dan berusaha mendiamkannya. Ia membawa
gadis kecilnya keluar sembari membujuk dan melihat mainan yang berwarna-warni.
Opa dan oma juga masih terlihat mengobrol di halaman tk Cahaya Bangsa. Tk itu sangat
besar sekali, memiliki tempat parkir serta lapangan yang luas untuk anak-anak berolah
raga dan baris berbaris. Di depan taman dibuatkan tempat-tempat duduk yang bisa
__ADS_1
dipakai oleh anak-anak saat beristirahat, atau juga oleh orang-tua yang menjemput.
Bersambung