Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 26.Takut


__ADS_3

Sebuah sedan berwarna hitam membayangi mereka. Agaknya Raka dan temannya mengikuti di belakang.


Gadis-gadis saling berbisik, membuat keingin tauan Mardo timbul. Ia lantas melihat ke belakang dan deg!


jantungnya serasa putus. Ia kenal itu mobil Raka selama di kota Merauke. Kenapa ia selalu mengikuti? Mardo meremasi jemarinya. Ia menjadi sangat takut pada Raka. Padahal kemarin ia memeluknya, karena Raka telah melepaskannya dari perasaan takut yang amat sangat. Kenapa tiba-tiba rasa takut itu mencengkramnya. Sebab pemikiran dirinya sendiri tadi pagi. Dia menggigit bibirnya.


"Kenapa Do, kok tegang?"


Vana yang berada di sebrangnya melihat perubahan Mardo.


"Nggak apa-apa Van, tenang saja."


Mardo berusaha tenang. Ia tidak ingin menghancurkan liburan itu  dengan permasalahannya.


Ia harus bisa bersikap biasa saja. Kak Raka bukan seseorang yang patut di takuti. Ia gentle, smar dan baik.


Yups, Mardo harus menanamkan pemikiran itu, ia tidak takut hanya takut jatuh cinta. Pemikiran yang membuatnya tersenyum.


"Hemmm, senyum sendiri nih, tadi kelihatan tegang! sebenarnya apa yang terjadi."


Vana penasaran, ia mendekat ke bangku gadis itu. Mobil mini bis itu memang bisa memuat dua puluh hingga dua puluh lima penumpang, sedangkan Richi dan teman-temannya hanya sekitar sebelas orang. Jadi bisa bebas menempati kursi yang kosong.


"Vana, kamu pengen tahu aja, udah ah. Tuh kita sudah sampai di pintu gerbang."


Gadis itu melihat ke depan mereka pada pintu masuk yang besar. Penjaga pos langsung mengarahkan mereka untuk masuk. Kenderaan kembali melaju kedalam taman Wasur tersebut yang sangat luas. Memang kalau dengan berjalan kaki akan sangat melelahkan. Banyak pilihan spot wisata yang dituju dan disinggahi.  Mas Arif membawa ke bumi perkemahan Wasur. Di tempat ini mas Arif menghentikan kenderaan. Ada banyak wahana permainan serta pemandangan yang indah. Terlebih dulu mereka berfoto bersama dengan senyum lebar serta narsir heboh. Selanjutnya mereka melihat-lihat dan mencobai permainan yang ada.


Setelah puas bermain, perjalanan lanjut ke Rawa biru.


Sepanjang perjalanan mereka melewati hutan hutan berbagai ragam.


Juga pohon pohon dan tanah lapang yang luas. Sesekali mobil berhenti untuk menikmati pemandangan. Juga perlu diperjelas sarang sarang semut yang terdapat di tepi jalan. Sangat unik dan langka. Sarang semut yang berupa bangunan-bangunan kecil berserak di hutan itu.


 


Setelah puas membuat foto, lanjut  ke Rawa biru sebuah tempat yang elok dan eksotik. Hati semua cewe tercekat saat di hadapan mereka membentang rawa yang airnya biru. Sebab itulah  dinamai rawa biru.


Rawa biru melewati hutan rimba dan beberpa kampung. Melewati pos penjagaan yang ketat. Hingga akhirnya tampak di hadapan mereka hamparan air berwarna biru di bawah langit yang maha luas. Tercekat dan terpesona oleh pemandangan luar biasa.


"Ohh, sungguh indah, tak bisa dilukiskan dengan kata kata"

__ADS_1


Hingga senja mereka berada di sana melihat dan merasakan semua yang ada. Juga bertemu penduduk asli yang telah tinggal lama sana. Rawa biru merupakan tempat mata pencaharian penduduk asli. Setiap hari mereka mengambil ikan untuk di jual dan dimakan sekeluarga.


Hasan dan Wiliam rupanya lebih suka diam diam mendengarkan bunyi bunyi burung yang sangat banyak di atas pohon. Mereka berusaha mendekati sarang sarang burung tersebut. Di sebuah pohon yang tengah berbuah lebat tampak sepasang burung cendrawasih. Cantik sekali, berwarna warni dengan ekor panjang. Kedua burung cendrawasih itu melompat lompat dan berpindah pindah dari satu dahan ke dahan yang lain.Mengepakkan sayapnya seolah memamerkan kecantikkan yang tiada duanya.


"Itu mereka sedang menari tarian Cendrawasih."


Semua mendongak ke atas pohon menikmati show special  si cantik burung cenderawasih.


Ada yang menawarkan naik perahu, menikmati rawa biru. Mardo menolak, membiarkan teman-temannya


saja yang ikut dengan pemilik perahu. Gadis itu memilih duduk di bawah pohon.


Berperahu dan berselancar di atas tumbuhan yang berjuntaian ke atas. Merupakan sesuatu yang keren.


Hingga perahu sampai ke danau di tengah-tengah. Ratusan ikan dan hewan hidup dibawah danau tersebut.


Rusa-rusa datang dan pergi untuk minum. Begitu juga berbagai jenis burung.


Menjelang siang, baru mereka kembali. Pemilik perahu juga menyempatkan menangkap dan menjaring ikan di rawa biru, selanjutnya membakar ikan di bawah tenda. Ada nasi yang telah di sediakan serta sambal.


Mereka menikmati hasil menjaring dan menangkap ikan siang itu,  enak sekali.


"Masih ada kah? kami juga mau menangkap ikan."


Raka awalnya menolak, Richi dan pemilik perahu meyakinkan bahwa masih ada empat ikan besar yang belum di bakar.


"Mataharinya sudah tinggi, tak baik untuk ke rawa," Kata bapak pemilik perahu.


"O, baiklah kami tak ke rawa."


Istri dan anak perempuan pemilik perahu, mulai membakar dan memasak nasi lagi. Ada yang membuatkan teh dan kopi juga. Suasana damai dan santai. Gadis-gadis menanyakan kemana dulu pria-pria tampan itu. Deni bilang mereka ke beberapa tempat dulu baru ke rawa biru.


Tiba-tiba Raka melihat pada Mardo yang sedang menghirup minumannya.


Gadis itu balik menatapnya dan menganggukan kepala dan tersenyum. Oh, Raka merasa sejuk sekali.


Ia berhati-hati sekali pada gadis itu. Takut jika gadis itu hesteris lagi seperti tadi malam.


Sebenarnya Mardo ingin lari menjauh. Namun Laki-laki itu sudah ada di antara mereka. ia tak berkutik di tempatnya. Ia berusaha melawan perasaan takut dalam dirinya. Raka tersenyum dengan lembut padanya dengan wajah agak kelelahan. Ia kemudian membuang wajahnya menatap bentangan rawa biru. Jantungnya berdebar amat keras. Mengapa ia takut,  ia takut  jatuh cinta. Kak Raka itu memiliki banyak hal yang membuat perempuan-perempuan menyukainya. Mulai dari wajah dan tubuhnya yang tampan dan atletis. Sikap baik dan perhatian, bahkan  juga acuh dan marahnya. Mardo takut sekali.  Ia belum siap jatuh cinta.

__ADS_1


"Sudah siap ikan dan  nasinya,"


Suara ibu pemilik perahu membuyarkan lamunan, "Siap! siapa lagi yang belum maksi? ayo!"


"Sudah semua, kak Deni."


Gadis-gadis menjawab. Tempat itu sejuk oleh angin yang berhembus.


Mereka beristirahat sejenak di kampung dekat rawa biru.


Selanjutnya mereka akan ke destinasi lain yang masih banyak di taman Wasur Merauke.


Lagu Janji satu tungku tiga batu, terdengar sayup sayup. Indah.


Idu idu manina, biarkan kami hidup dengan tenang


idu idu manina, biarkan kami hidup dengan damai.


Ini teluk kami, laut kami


kami lahir di  negeri ini


Ini gunung kami, tanjung kami


Bukan pilihan kami karena takdir


Sebuah lagu yang menyatakan cinta dan menghormati tanah leluhur.


Setiap kali mendengarnya maka cinta itu semakin kuat pada tanah kelahiran


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2