
Awalnya pertemuan di stasiun sedikit gugup dan berdebar. Keduanya juga sama-sama tak
begitu gaul dalam hal-hal pertama ini. Rakasiwi beberapa kali mengusap hidungnya. Setelah
saling menyapa. Langsung blank. Apa lagi Prita. Gempita di dadanya membuatnya tak bisa
mendengar apa yang diucapkan oleh Rakasiwi. Memang Rakasiwi tidak mengucapkan
apa pun. Hanya mulutnya yang bergumam, oh ini toh kota Semarang?
Beberapa detik keduanya terdiam, salah tingkah, menatap ke sana dan kemari. Untunglah
detik berikutnya Prita tersadar. "Kita cari tempat makan dulu ya, sambil mengobrol dan
istirahat, yuk."
"Oh iya benar, a-aku tadi belum sarapan, hanya minum segelas susu saja, baru nyadar
kalau perut udah keroncongan."
Prita tersenyum, kemudian mengajak Rakasiwi keluar dari stasiun. Di Depan stasiun banyak
taxi yang menunggu penumpang. Gadis itu mengajak Rakasiwi naik, sementara ia mengatakan
tujuan mereka ke pengendara.
"Ok."
Kata pengendara taxi.
"Wah kota Semarang ini besar juga ya? dan macetnya juga sudah seperti di Jakarta."
Rakasiwi memandangi kiri dan kanan. Suasana kota Semarang hangat dan menyenangkan.
"Iya dong, kota Semarang ini kan merupakan kota terbesar kelima setelah, Jakarta, Surabaya, Medan
dan Bandung."
"I-iya kamu benar Pus..."
Rakasiwi kenapa jadi tak bisa mengucapkan kata Puspita, dia malu. Padahal kalau di handphone
sangat lancar.
Prita menoleh pada Rakasiwi. "Apa? tadi seperti dengar Pus? kok nggak dilanjutin sih? memangnya
kucing."
Gadis itu misah-misuh, membuat manyun bibirnya. Rakasiwi menggosok-gosok telapak tangannya,
seperti bapak abu gosok yang baru saja menjual dagangannya pada emak-emak.
'Kenapa jadi gugup gini ya? apa karena baru pertama jalan berdua ya?'
Rakasiwi masih mengosok-gosok kedua telapak tangannya, biasanya ia menjadi tenang setelah
melakukan hal itu.
"Em, cobain soto khas Semarang ya?"
Prita menatap pria muda di sebelahnya, yang terlihat cool dan tenang, kakinya diangkat sebelah
di taro di atas paha, persis seperti ayahnya kalau sedang duduk di sofa, telapak kakinya
digoyang-goyang.
"Iya, aku mau cobain soto dan makanan khas lainnya."
Mereka sempat bercakap-cakap seputar kuliner kota Semarang. Yang terkenal tentu saja
soto Bangkong. Rasa sotonya benar-benar khas. Merupakan soto ayam khas Semarang.
Penggunaan ayam kampung membuat rasa gurih dan enak. Tampilannya bening , isinya
soun, tauge, tomat, dan irisan daging ayam nan melimpah. Bisa juga dengan daging sapi.
__ADS_1
Khasnya nasi sudah langsung dimasukkan ke dalam soto. Tetapi jika ingin dipisah harus
memesan pada pelayannya. Karena panyajiannya sederhana, nasi langsung dimasukkan
kedalam mangkok bersamaan dengan ayam dan sayurnya. Dinikmati hangat-hangat
sungguh sedap sekali.
Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat makan, untungnya tempatnya besar
dan memiliki banyak sekali meja, bahkan pemiliknya sudah membuat dua tingkat, agar
lebih banyak pelanggan yang bisa melahap soto semarang. Prita dan Rakasiwi memilih
tempat dan keduanya menghenyakkan tubuh. Sesaat menikmati suasana, hingga pelayan
menghampiri, meletakkan makanan-makanan tambahan. Sembari menanyakan pesanan
apakah soto dengan daging sapi atau ayam?. Prita memandang pada Rakasiwi.
"Em, soto ayam aja."
"Ok, dua soto ayam mangkok sedang saja."
Prita juga memesan minuman dua jus jeruk."
Ada tiga mangkok pilihan untuk menikmati soto Semarang, mangkok kecil, sedang dan
besar. Disesuaikan dengan kebutuhan saja. Sambil menunggu soto dibuat, para
pengunjung bisa menikmati tempe mendoan, sate telur puyuh, otak-otak hingga
gorengan yang renyah.
Tak lama soto pesanan sudah muncul, karena memang bahannya sudah disiapkan
tinggal menaro nasinya dan memasukkan kuahnya, menaro potongan jeruk nipis
dan langsung dibawa ke pemesan.
Prita mengangkat wajahnya, 'Pita? kenapa jadi sepotong-potong gituh ya.'
Gadis itu mengangkat alisnya. Perasaan kalau di whatsapp selalu lengkap tak
kurang sesuatu apa pun. Tapi biarlah, ia juga tak sanggup mengucapkan kata
camam di depan lelaki yang telah menggoyahkan kesendiriannya selama ini.
"Selamat menikmati soto Semarang mmm..."
Prita menahan senyumnya, sembari memerah jeruk nipis ke mangkoknya.
"Hem, sedap dan segar nih sotonya, enak!"
Rakasiwi menyuap dengan lahap, makanan berkuah dan beraroma segar itu
menggugah seleranya. Keduanya tenggelam oleh rasa soto khas Semarang
yang enak. Porsinya pas, sehingga sekejap saja soto tersebut sudah tandas.
"Alhamdulillah, enak sekali sotonya, sampai ludes nih ha ha ha."
Rakasiwi mentertawai dirinya yang menghabiskan soto tanpa sisa.
"Bisa nambah lagi, mau? mangkok kecil?"
"Nggak, cukup kok kenyang."
Sementara Prita menghabiskan makanannya, Rakasiwi melihat handphonenya
dan mencari-cari sesuatu. Dia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.
Ternyata di kota itu sudah ada lima cabang cafe Pria Idola. Ia ingin mengajak
Prita ke cafe Pria Idola di kota itu. Mungkin di hari kedua.
__ADS_1
Setelah usai menikmati makan siang di suasana hangat kota Semarang, mereka
melanjutkan perjalanan. Rakasiwi mengajak Prita mencari masjid karena sudah
waktunya sholat dhuhur. Lewat sedikit sih, karena tadi sangat lapar. Rakasiwi
paling duluan datang, ia menatap beberapa pria muda lainnya yang akan sholat
Rakasiwi menawarkan untuk sholat berjamaah, dan dia yang menjadi imamnya.
Yang lain menyetujui.
Rakaat pertama hingga keempat, berjalan dengan lancar hingga akhirnya salam.
Terlihat dari belakang, Rakasiwi merubah duduknya lantas berdoa. Prita juga
berdoa dan meminta kepada Rabbnya agar diberikan yang terbaik bagi
kehidupannya. Ia juga meminta agar diijinkan berjodoh dengan laki-laki
yang telah membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Jatuh cinta
karena Rabbnya. Dia yang memberi perasaan suka itu, cinta serta perasaan
sayang. Aamiin yra. Prita mengusap wajahnya. Ia lihat ke depan Rakasiwi
sudah tak ada, agaknya sudah keluar dan menunggunya di luar.
"Ke Lawang Sewu yuk, pengen tahu mumpung di Semarang."
Tak lama keduanya sudah menyusuri jalan menuju Lawang Sewu, atau bangunan
seribu pintu. Berada tepat di jantung kota Semarang. Prita sendiri meski hampir
dua tahun berada di kota Semarang belum sempat ke tempat tersebut. Jadi dia
sama butanya dengan Rakasiwi tentang bangunan yang disebut bangunan seribu
pintu.
"Apakah benar pintunya ada seribu?"
Rakasiwi penasaran, ternyata hanya sekedar nama. Pintu bangunan itu memang
sangat banyak ratusan pintu serta jendela-jendela yang besar dan kokoh. Pintu-pintu
tersebut dan jendelanya membuat bangunan tersebut nampak gagah dan berkharisma.
Ternyata gedung Lawang Sewu pada awalnya adalah kantor pusat perusahaan kereta
api tertua di Indonesia. Sempat menjadi tempat berhantu karena terbengkalai. Saat
ini menjadi salah satu tujuan wisata. Rakasiwi dan Prita menghabiskan waktu di sana.
Setelah lelah, Rakasiwi bilang ia akan mengantar Prita ke kostnya kemudian kembali
ke hotel yang telah ia booking sejak dari Jokja. Perjalanan ke kost yang berada di sekitar
kampus lumayan jauh. Melalui bukit dan lembah, kalau siang hari memang terlihat
sebagai pemandangan hijau yang membuat mata sejuk. Tetapi jika malam lumayan
seram juga. Untungnya para mahasiswa di sekitar kampus sudah mendapatkan
kebutuhan mereka di sana. Mulai dari makanan, hingga kesehatan. Banyak orang
membuka usaha untuk melayani kebutuhan mahasiswa yang berada di perantauan.
Bersambung
__ADS_1