Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 160. Dua Sejoli Menikmati Soto Semarang


__ADS_3

Awalnya pertemuan di stasiun sedikit gugup dan berdebar. Keduanya juga sama-sama tak


begitu gaul dalam hal-hal pertama ini. Rakasiwi beberapa kali mengusap hidungnya. Setelah


saling menyapa. Langsung blank. Apa lagi Prita. Gempita di dadanya membuatnya tak bisa


mendengar apa yang diucapkan oleh Rakasiwi. Memang Rakasiwi tidak mengucapkan


apa pun. Hanya mulutnya yang bergumam, oh ini toh kota Semarang?


Beberapa detik keduanya terdiam, salah tingkah, menatap ke sana dan kemari. Untunglah


detik berikutnya Prita tersadar. "Kita cari tempat makan dulu ya, sambil mengobrol dan


istirahat, yuk."


"Oh iya benar, a-aku tadi belum sarapan, hanya minum segelas susu saja, baru nyadar


kalau perut udah keroncongan."


Prita tersenyum, kemudian mengajak Rakasiwi keluar dari stasiun.  Di Depan stasiun banyak


taxi yang menunggu penumpang. Gadis itu mengajak Rakasiwi naik, sementara ia mengatakan


tujuan mereka ke pengendara.


"Ok."


Kata pengendara taxi.


"Wah kota Semarang ini besar juga ya? dan macetnya juga sudah seperti di Jakarta."


Rakasiwi memandangi kiri dan kanan. Suasana kota Semarang hangat dan menyenangkan.


"Iya dong, kota Semarang ini kan merupakan kota terbesar kelima setelah, Jakarta, Surabaya, Medan


dan Bandung."


"I-iya kamu benar Pus..."


Rakasiwi kenapa jadi tak bisa mengucapkan kata Puspita, dia malu. Padahal kalau di handphone


sangat lancar.


Prita menoleh pada Rakasiwi. "Apa? tadi seperti dengar Pus? kok nggak dilanjutin sih? memangnya


kucing."


Gadis itu misah-misuh, membuat manyun bibirnya. Rakasiwi  menggosok-gosok telapak tangannya,


seperti bapak abu gosok yang baru saja menjual dagangannya pada emak-emak.


'Kenapa jadi gugup gini ya? apa karena baru pertama jalan berdua ya?'


Rakasiwi masih mengosok-gosok kedua telapak tangannya, biasanya ia menjadi tenang setelah


melakukan hal itu.


"Em, cobain soto khas Semarang ya?"


Prita menatap pria muda di sebelahnya, yang terlihat cool dan tenang, kakinya diangkat sebelah


di taro di atas paha, persis seperti ayahnya kalau sedang duduk di sofa, telapak kakinya


digoyang-goyang.


"Iya, aku mau cobain soto dan makanan khas lainnya."


Mereka sempat bercakap-cakap seputar kuliner kota Semarang. Yang terkenal tentu saja


soto Bangkong.  Rasa sotonya benar-benar khas. Merupakan soto ayam khas Semarang.


Penggunaan ayam kampung membuat rasa gurih dan enak. Tampilannya bening , isinya


soun, tauge, tomat, dan irisan daging ayam nan melimpah. Bisa juga dengan daging sapi.

__ADS_1


Khasnya nasi sudah langsung dimasukkan ke dalam soto. Tetapi jika ingin dipisah harus


memesan pada pelayannya. Karena panyajiannya sederhana, nasi langsung dimasukkan


kedalam mangkok bersamaan dengan ayam dan sayurnya. Dinikmati hangat-hangat


sungguh sedap sekali.


Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat makan, untungnya tempatnya besar


dan memiliki banyak sekali meja, bahkan pemiliknya sudah membuat dua tingkat, agar


lebih banyak pelanggan yang bisa melahap soto semarang. Prita dan Rakasiwi memilih


tempat dan keduanya  menghenyakkan tubuh. Sesaat menikmati suasana, hingga pelayan


menghampiri, meletakkan makanan-makanan tambahan. Sembari menanyakan pesanan


apakah soto dengan daging sapi atau ayam?. Prita memandang pada Rakasiwi.


"Em, soto ayam aja."


"Ok, dua soto ayam mangkok sedang saja."


Prita juga memesan minuman dua jus jeruk."


Ada tiga mangkok pilihan untuk menikmati soto Semarang, mangkok kecil, sedang dan


besar. Disesuaikan dengan kebutuhan saja. Sambil menunggu soto dibuat, para


pengunjung bisa menikmati tempe mendoan, sate telur puyuh, otak-otak hingga


gorengan yang renyah.


Tak lama soto pesanan sudah muncul, karena memang bahannya sudah disiapkan


tinggal menaro nasinya dan memasukkan kuahnya, menaro potongan jeruk nipis


dan langsung dibawa ke pemesan.


Prita mengangkat wajahnya, 'Pita? kenapa jadi sepotong-potong gituh ya.'


Gadis itu mengangkat alisnya. Perasaan kalau di whatsapp selalu lengkap tak


kurang sesuatu apa pun. Tapi biarlah, ia juga tak sanggup mengucapkan kata


camam di depan lelaki yang telah menggoyahkan kesendiriannya selama ini.


"Selamat menikmati soto Semarang mmm..."


Prita menahan senyumnya, sembari memerah jeruk nipis ke mangkoknya.


"Hem, sedap dan segar nih sotonya, enak!"


Rakasiwi menyuap dengan lahap, makanan berkuah dan beraroma segar itu


menggugah seleranya. Keduanya tenggelam oleh rasa soto khas Semarang


yang enak. Porsinya pas, sehingga sekejap saja soto tersebut sudah tandas.


"Alhamdulillah, enak sekali sotonya, sampai ludes nih ha ha ha."


Rakasiwi mentertawai dirinya yang menghabiskan soto tanpa sisa.


"Bisa nambah lagi, mau? mangkok kecil?"


"Nggak, cukup kok kenyang."


Sementara Prita menghabiskan makanannya, Rakasiwi melihat handphonenya


dan mencari-cari sesuatu. Dia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.


Ternyata di kota itu sudah ada lima cabang cafe Pria Idola. Ia ingin mengajak


Prita ke cafe Pria Idola di kota itu. Mungkin di hari kedua.

__ADS_1


Setelah usai menikmati makan siang di suasana hangat kota Semarang, mereka


melanjutkan perjalanan. Rakasiwi mengajak Prita mencari masjid karena sudah


waktunya sholat dhuhur. Lewat sedikit sih, karena tadi sangat lapar. Rakasiwi


paling duluan datang, ia menatap beberapa pria muda lainnya yang akan sholat


Rakasiwi menawarkan untuk sholat berjamaah, dan dia yang menjadi imamnya.


Yang lain menyetujui.


Rakaat pertama hingga keempat, berjalan dengan lancar hingga akhirnya salam.


Terlihat dari belakang, Rakasiwi merubah duduknya lantas berdoa. Prita juga


berdoa dan meminta kepada Rabbnya agar diberikan yang terbaik bagi


kehidupannya. Ia juga meminta agar diijinkan berjodoh dengan laki-laki


yang telah membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Jatuh cinta


karena Rabbnya. Dia yang memberi perasaan suka itu, cinta serta perasaan


sayang. Aamiin yra. Prita mengusap wajahnya. Ia lihat ke depan Rakasiwi


sudah tak ada, agaknya sudah keluar dan menunggunya di luar.


"Ke Lawang Sewu yuk, pengen tahu mumpung di Semarang."


Tak lama keduanya sudah menyusuri jalan menuju Lawang Sewu, atau bangunan


seribu pintu. Berada tepat di jantung kota Semarang.  Prita sendiri meski hampir


dua tahun berada di kota Semarang belum sempat ke tempat tersebut. Jadi dia


sama butanya dengan Rakasiwi tentang bangunan yang disebut bangunan seribu


pintu.


"Apakah benar pintunya ada seribu?"


Rakasiwi penasaran, ternyata hanya sekedar nama. Pintu bangunan itu memang


sangat banyak ratusan pintu serta jendela-jendela yang besar dan kokoh. Pintu-pintu


tersebut dan jendelanya membuat bangunan tersebut nampak gagah dan berkharisma.


Ternyata gedung Lawang Sewu pada awalnya adalah kantor pusat perusahaan kereta


api tertua di Indonesia. Sempat menjadi tempat berhantu karena terbengkalai. Saat


ini menjadi salah satu tujuan wisata. Rakasiwi dan Prita menghabiskan waktu di sana.


Setelah lelah, Rakasiwi bilang ia akan mengantar Prita ke kostnya kemudian kembali


ke hotel yang telah ia booking sejak dari Jokja. Perjalanan ke kost yang berada di sekitar


kampus lumayan jauh. Melalui bukit dan lembah, kalau siang hari memang terlihat


sebagai pemandangan hijau yang membuat mata sejuk. Tetapi jika malam lumayan


seram juga. Untungnya para mahasiswa di sekitar kampus sudah mendapatkan


kebutuhan mereka di sana. Mulai dari makanan, hingga kesehatan. Banyak orang


membuka usaha untuk melayani kebutuhan mahasiswa yang berada di perantauan.


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2