
Richi tak bisa memejamkan mata. Ia bangun dan termenung. 'Laura membuat hatiku hancur
berkeping-keping. Seharusnya saat ini aku bahagia bersama Laura dan anak-anakku. Tapi
perempuan itu membuatku seperti ini.'
Laki-laki itu mengemeretakkan gerahamnya. Sesaat pikirannya seperti kosong. Ia kembali
ke tempat tidurnya dan berbaring. Richi memang sangat menderita. Sifatnya yang selalu
mengalah dan rela berkorban ternyata sangat menyulitkan dirinya kini. Kariernya memang tidak
bermasalah, tetapi pernikahannya membuat jiwanya labil.
Pagi itu ia membawa kenderaannya ke sebuah tempat untuk bekerja. Setelah itu ia menelpon
Mardo, bahwa ia sudah memnyelesaikan pekerjaannya dan menawarkan diri untuk menjemput
Dode di sekolahnya.
"Biar aku menjemputnya, dan mengajaknya jalan-jalan minum es cream ya."
Mardo ingin menolak, tetapi ia berpikir lagi. Mungkin Richi perlu teman untuk berjalan-jalan.
"Oh, apa tidak merepotkan?"
"Sama sekali tidak, aku sudah selesai dan dari pada berdiam diri di rumah, kupikir akan lebih
baik aku pergi berjalan-jalan dengan Dode."
Akhirnya Mardo memberitahukan alamat sekolah Dode dan memberitahu guru kelasnya kalau
Om Dode yang menjemput. Jadi seharian itu Mardo kehilangan putra bungsunya. Karena
Uncle Richi mengajak Dode pergi jalan-jalan dan berbelanja.
Sementara Richi membawa Dode ke pantai. Mereka bermain pasir dan air laut yang setiap
beberapa menit mengejar ke atas pantai. Setelah puas Richi mengajak anak itu naik kapal laut
dan menyebrang menjauh dari pantai.
Hari telah malam dan Mardo menjadi khawatir sebab Dode dan Richi belum jua pulang. Ia
menelpon pria itu tapi nomernya tak aktif. Oh, Mardo berdebar dan sangat cemas. Meski
ia berusaha tenang, sebab Richi bukan orang lain melainkan Om Dode sendiri. Beberapa
saat tak bisa menghubungi Richi. Perempuan itu menelpon Raka.
"Apa, Richi belum pulang, dan membawa Dode?"
"Iya Pi, tadi dia menjemput Dode di sekolah. Katanya ingin menghabiskan waktu dengan
berbelanja, jalan-jalan dan minum es cream."
Raka terdiam, hanya saja dia menenangkan Mardo dengan bersabar dan menunggu. Sebab
Dode pergi bukan dengan orang lain melainkan Om nya sendiri. Akhirnya Mardo terdiam
dan menunggu Raka pulang.
Waktu terus berjalan, malam juga kian gelap dan suara petir pertanda hujan beberapa kali
menggelagar. Mardo berdiri di teras menunggu anaknya, tetapi hanya kesepian dan malam
yang gelap di depan mata. Tiba-tiba handphonenya berdering dan berasal dari Richi. Jantungnya
berdetak keras.
"Hello Richi! kalian di mana? jangan membuatku cemas, mana Dode anakku?"
"Hemmm, kau begitu cemas Mardo. Hanya mencemaskan anakmu?"
"Richi kalian di mana? cepat pulang sudah malam."
"Keluarlah dan cepat masuk ke mobilku, aku ada di depan rumah."
Mardo melihat sorotan cahaya di depannya, tanpa berpikir panjang perempuan itu
berlari menghampiri sebuah mobil yang berhenti, pintunya terbuka dan Mardo masuk
kedalam.
"Richi!"
Mardo menatap laki-laki di sebelahnya, ia kelihatan kusut masai.
"Mana Dode Rich? kenapa dia tak ada di mobil ini? mana anakku?"
Mardo parau suaranya, ia takut sesuatu terjadi padanya.
"Tenanglah, Ia sedang tidur di apartemenku."
__ADS_1
"Tidur? kenapa kau tak pulang bersamanya, kita mau kemana?"
Mardo tak mengerti, kenapa Richi membawa anaknya ke apartemen bahkan tidur di sana.
Kenapa tidak membawanya pulang, dan Richi mengenderai kenderaannya sangat kencang.
Mendahului dan menyalip, membuat Mardo ngeri. Namun akhirnya dia diam hanya bisa
berdoa, tidak akan ada hal buruk yang terjadi.
"Saat itu aku salah!"
Suara Richi diantara deru mobil.
"Dan aku baru menyadari kesalahanku!."
Mardo menoleh, ia tak mengerti mengapa Richi mengucapkan kata-kata itu.
Rintik-rintik hujan membasahi kaca mobil, sementara di luar semakin gelap.
"Richi, kau temanku, dan juga adik iparku. Ini sudah malam, Raka kakakmu pasti
menungguku dan Dode! kita mau kemana ini?"
"Aku tidak berusaha keras untuk mendapatkanmu dan cintamu, sementara Raka Ia
melakukan berbagai cara untuk mengalihkan perhatianmu kepadanya!"
"Dan Dia berhasil! padahal kau selalu di sisiku. Tapi dia yang memilikimu! itu kesalahanku!"
Mardo tercekat, rupanya Richi masih mempermasalahkan masa lalu itu. Wajah Richi membara
dan tegang. Sekian waktu terlalui bahkan Richi sudah menikah dan memiliki anak-anak. Tidak
berbeda, dia juga sudah punya empat anak. Bahkan dua diantaranya sudah remaja. Richi
tak di duga menuntut ketidak adilan cintanya.
"Richi! apa maksudmu?"
"Iya Mardo, aku tidak pernah bilang padamu bahwa aku mencintaimu! aku jatuh cinta
yang pertama kepadamu!"
Perempuan itu membesarkan matanya, dan dia tercekat oleh kata-kata Richi di saat
usia mereka telah mulai menua. Apa yang terjadi?
Tiba-tiba kenderaan mereka telah berada di tepi laut yang sunyi dan gelap.
"Sejak kau pergi, aku kesepian dan sendiri. Hidupku hampa. Hingga aku melanjutkan
sekolahku di Australia dalam kesendirian serta tanpa teman. Hanya kenangan indah
yang membuatku tersenyum.
"Hingga aku pulang ke Indonesia dan menghadapi kenyataan yang mengoyak-ngoyak dada, tercabik-
cabik perasaanku. Gadis yang selalu ada dalam doa-doaku bersanding dengan kakakku."
"Apa kau tau bagaimana rasanya! terbakar oleh amarah, hancur dan terkoyak jiwaku!"
"Aku berendam dalam kolam renang berjam-jam untuk meredakan gejolak kemarahan serta
kecewa yang amat sangat. Hingga aku bisa menerimanya dengan lapang dada, lalu menjauh
dari kalian di Merauke!"
Suara yang sarat kemarahan, serta hati yang hancur terdengar parau menahan tangis.
Mardo terenjuh, tak sadar ia mengulurkan tangannya menggenggam jemari Richi. Laki-laki itu
merasakan tangan yang lembut dan halus menyentuhnya.
"Richi, sudahlah. Kenapa harus mengungkit masa lalu?"
Laki-laki itu kembali menatap Mardo, hanya ada cahaya dari lampu mobil mereka.
"Tentu saja aku mengungkitnya, Aku sekarang terkoyak-koyak oleh pernikahan yang tidak
bahagia. Sebab kesalahanku yang tidak pernah mengungkapkan perasaan cinta kepadamu."
Berulang kali Mardo menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan mereka bertiga. Ia, Richi
dan juga Raka. Hanya memang Tuhan yang memberi dan mengatur jodoh, rejeki serta maut. Kita
manusia hanya bisa berencana dan berusaha tapi Tuhan yang menentukan.
Saat Richi menarik tubuhnya untuk berpindah ke jok belakang, ia tak berani berontak. Sebab seringai dan
suara dingin Richi membuat tubuhnya meremang. "Sikapmu yang menolakku akan membuat
kau kehilangan anakmu selamanya!"
__ADS_1
"Richi! apa yang lakukan, a-aku sahabatmu!"
"Mardo, a-aku mencintaimu dan selalu mencintaimu!"
Perempuan itu tak bisa mengelak saat tangan yang kuat itu menahan wajahnya, dan ia
merasakan bibir yang memburu dan menuntutnya memberikan semuanya. Richi tak lagi
lembut, ia menjatuhkan ciuman yang berulang serta remasan tangan di tubuh Mardo.
"Di mana Dode Rich?"
Mardo berusaha menjernihkan otak Richi yang telah dirasuki iblis, ia tak lagi ingat siapa
perempuan dalam pelukkannya itu.
"Richi! antar aku pada anakku, tolonglah."
"Tentu saja cintaku, aku akan mengantarkanmu padanya, nanti setelah kita bercinta."
Richi mendorong Mardo hingga tertelentang di jok belakang mobil.
"Richi! a-aku istri Raka kakak kandungmu!"
"Diam! aku hanya menelpon seseorang untuk membunuh anakmu, maka kau akan
kehilangannya selamanya!"
Mardo bergedik mendengarnya. Ia lantas terdiam dan membiarkan Richi sahabat baiknya
menyentuhnya, ia pejamkan matanya yang telah mengalir air mata. Jemari Richi mulai
membuka kancing bajunya. Perempuan yang ia rindukan puluhan tahun itu kini berada
dalam kekuasaannya. Ternyata kegilaan dan keberanian lebih menguntungkan dari bersikap
baik dan mengalah.
"Richi jangan yang satu itu!"
"A-aku tidak bisa, hanya jika kau mengembalikan Dode padaku."
Mardo menahan tangan lelaki itu yang ingin membuka miliknya serta kehormatannya
sebagai wanita.
"Lebih baik aku mati!"
Mardo bergumam. Richi bangun dan bertanya, "Jika aku mengembalikan Dode kau mau
menyerahkan dirimu padaku?"
Mardo terdiam.
"Hanya satu malam, aku ingin bersamamu, aku janji Raka tidak akan pernah tau!"
Perempuan itu tersudut, ia akhirnya menyanggupi permintaan Richi.
"Baiklah, kita jemput Dode dan sebelum aku kembali ke Merauke aku akan menelponmu
untuk memberitahukan tempatnya ok?"
"Iya."
Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, tak lama mereka sampai di apartemen
dan betapa bahagianya Mardo karena melihat putranya tengah tertidur pulas di atas
ranjang yang besar. Kaki dan tangannya terentang memenuhi tempat tidur.
Richi membopongnya dan membawanya ke mobil. Mereka pulang bertiga. Raka yang
kalang kabut karena tidak menemukan istri dan anaknya pergi mencari Richi. Ia mencari
tahu ke hotel tempat Richi tadi siang. Tapi orang hotel memberitahu bahwa kick of sudah
selesai dan ditutup tadi siang. Dan semua peserta sudah kembali ke kotanya masing-masing.
Tidak ada yang tau tentang kemana Richi pergi karena mereka orang hotel bukan panitia.
Saat kecemasan menderanya, telponnya berdering, dari Mardo yang memberitahu bahwa ia dan
Dode sudah di rumah. Ia bilang Dode tertidur sejak sore dan Richi tak tega membangunkan
anak itu. Sehingga membiarkannya bersamanya.
Raka lega dan tersenyum, "Dasar anak nakal, bikin orang cemas saja."
Laki-laki itu segera pulang ke rumahnya.
Bersambung
__ADS_1
Hello, jangan lupa beri like, komen, vote serta bintang lima ya
Othor sangat berterima kasih pada pembaca.