Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 178. Hati Yang Hancur Berkeping-Keping II


__ADS_3

Richi tak bisa memejamkan mata. Ia bangun dan termenung. 'Laura membuat hatiku hancur


berkeping-keping. Seharusnya saat ini aku bahagia bersama Laura dan anak-anakku. Tapi


perempuan itu membuatku seperti ini.'


Laki-laki itu mengemeretakkan gerahamnya. Sesaat pikirannya seperti kosong. Ia kembali


ke tempat tidurnya dan berbaring. Richi memang sangat menderita. Sifatnya yang selalu


mengalah dan rela berkorban ternyata sangat menyulitkan dirinya kini. Kariernya memang tidak


bermasalah, tetapi pernikahannya membuat jiwanya labil.


Pagi itu ia membawa kenderaannya ke sebuah tempat untuk bekerja. Setelah itu ia menelpon


Mardo, bahwa ia sudah memnyelesaikan pekerjaannya dan menawarkan diri untuk menjemput


Dode di sekolahnya.


"Biar aku menjemputnya, dan mengajaknya jalan-jalan minum es cream ya."


Mardo ingin menolak, tetapi ia berpikir lagi. Mungkin Richi perlu teman untuk berjalan-jalan.


"Oh, apa tidak merepotkan?"


"Sama sekali tidak, aku sudah selesai dan dari pada berdiam diri di rumah, kupikir akan lebih


baik aku pergi berjalan-jalan dengan Dode."


Akhirnya Mardo memberitahukan alamat sekolah Dode dan memberitahu guru kelasnya kalau


Om Dode yang menjemput. Jadi seharian itu Mardo kehilangan putra bungsunya. Karena


Uncle Richi mengajak Dode pergi jalan-jalan dan berbelanja.


Sementara Richi membawa Dode ke pantai. Mereka bermain pasir dan air laut yang setiap


beberapa menit mengejar ke atas pantai. Setelah puas Richi mengajak anak itu naik kapal laut


dan menyebrang menjauh dari pantai.


Hari telah malam dan Mardo menjadi khawatir sebab Dode dan Richi belum jua pulang. Ia


menelpon pria itu tapi nomernya tak aktif. Oh, Mardo berdebar dan sangat cemas. Meski


ia berusaha tenang, sebab Richi bukan orang lain melainkan Om Dode sendiri. Beberapa


saat tak bisa menghubungi Richi. Perempuan itu menelpon Raka.


"Apa, Richi belum pulang, dan membawa Dode?"


"Iya  Pi, tadi dia menjemput Dode  di sekolah. Katanya ingin menghabiskan waktu dengan


berbelanja, jalan-jalan dan minum es cream."


Raka terdiam, hanya saja dia menenangkan Mardo dengan bersabar dan menunggu. Sebab


Dode pergi bukan dengan orang lain melainkan Om nya sendiri. Akhirnya Mardo terdiam


dan menunggu Raka pulang.


Waktu terus berjalan, malam juga kian gelap dan suara petir pertanda hujan beberapa kali


menggelagar. Mardo berdiri di teras menunggu anaknya, tetapi hanya kesepian dan malam


yang gelap di depan mata. Tiba-tiba handphonenya berdering dan berasal dari Richi. Jantungnya


berdetak keras.


"Hello Richi! kalian di mana? jangan membuatku cemas, mana Dode anakku?"


"Hemmm, kau begitu cemas Mardo. Hanya mencemaskan anakmu?"


"Richi kalian di mana? cepat pulang sudah malam."


"Keluarlah dan cepat masuk ke mobilku, aku ada di depan rumah."


Mardo melihat sorotan cahaya di depannya, tanpa berpikir panjang perempuan itu


berlari menghampiri sebuah mobil yang berhenti, pintunya terbuka dan Mardo masuk


kedalam.


"Richi!"


Mardo menatap laki-laki di sebelahnya, ia kelihatan kusut masai.


"Mana Dode Rich? kenapa dia tak ada di mobil ini? mana anakku?"


Mardo parau suaranya, ia takut sesuatu terjadi padanya.


"Tenanglah, Ia sedang tidur di apartemenku."

__ADS_1


"Tidur? kenapa kau tak pulang bersamanya, kita mau kemana?"


Mardo tak mengerti, kenapa Richi membawa anaknya ke apartemen bahkan tidur di sana.


Kenapa tidak membawanya pulang, dan Richi mengenderai kenderaannya sangat kencang.


Mendahului dan menyalip, membuat Mardo ngeri. Namun akhirnya dia diam hanya bisa


berdoa, tidak akan ada hal buruk yang terjadi.


"Saat itu aku salah!"


Suara Richi diantara deru mobil.


"Dan aku baru menyadari kesalahanku!."


Mardo menoleh, ia tak mengerti mengapa Richi mengucapkan kata-kata itu.


Rintik-rintik hujan membasahi kaca mobil, sementara di luar semakin gelap.


"Richi, kau temanku, dan juga adik iparku. Ini sudah malam, Raka kakakmu pasti


menungguku dan Dode! kita mau kemana ini?"


"Aku tidak berusaha keras untuk mendapatkanmu dan cintamu, sementara Raka Ia


melakukan berbagai cara untuk mengalihkan perhatianmu kepadanya!"


"Dan Dia berhasil! padahal kau selalu di sisiku. Tapi dia yang memilikimu! itu kesalahanku!"


Mardo tercekat, rupanya Richi masih mempermasalahkan masa lalu itu. Wajah Richi membara


dan tegang. Sekian waktu terlalui bahkan Richi sudah menikah dan memiliki anak-anak. Tidak


berbeda, dia juga sudah punya empat anak. Bahkan dua diantaranya sudah remaja. Richi


tak di duga menuntut ketidak adilan cintanya.


"Richi! apa maksudmu?"


"Iya Mardo, aku tidak pernah bilang padamu bahwa aku mencintaimu! aku jatuh cinta


yang pertama kepadamu!"


Perempuan itu membesarkan matanya, dan dia tercekat oleh kata-kata Richi di saat


usia mereka telah mulai menua. Apa yang terjadi?


Tiba-tiba kenderaan mereka telah berada di tepi laut yang sunyi dan gelap.


"Sejak kau pergi, aku kesepian dan sendiri. Hidupku hampa. Hingga aku melanjutkan


sekolahku di Australia dalam kesendirian serta tanpa teman. Hanya kenangan indah


yang membuatku tersenyum.


"Hingga aku pulang ke Indonesia dan menghadapi kenyataan yang mengoyak-ngoyak dada, tercabik-


cabik perasaanku. Gadis yang selalu ada dalam doa-doaku bersanding dengan kakakku."


"Apa kau tau bagaimana rasanya! terbakar oleh amarah, hancur dan terkoyak jiwaku!"


"Aku berendam dalam kolam renang berjam-jam untuk meredakan gejolak kemarahan serta


kecewa yang amat sangat. Hingga aku bisa menerimanya dengan lapang dada, lalu menjauh


dari kalian di Merauke!"


Suara yang sarat kemarahan, serta hati yang hancur terdengar parau menahan tangis.


Mardo terenjuh, tak sadar ia mengulurkan tangannya menggenggam jemari Richi. Laki-laki itu


merasakan tangan yang lembut dan halus menyentuhnya.


"Richi, sudahlah. Kenapa harus mengungkit masa lalu?"


Laki-laki itu kembali menatap Mardo, hanya ada cahaya dari lampu mobil mereka.


"Tentu saja aku mengungkitnya, Aku sekarang terkoyak-koyak oleh pernikahan yang tidak


bahagia. Sebab kesalahanku yang tidak pernah mengungkapkan perasaan cinta kepadamu."


Berulang kali Mardo menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan mereka bertiga. Ia, Richi


dan juga Raka. Hanya memang Tuhan yang memberi dan mengatur jodoh, rejeki serta maut. Kita


manusia hanya bisa berencana dan berusaha tapi Tuhan yang menentukan.


Saat Richi menarik tubuhnya untuk berpindah ke jok belakang, ia tak  berani berontak. Sebab seringai dan


suara dingin Richi membuat tubuhnya meremang. "Sikapmu yang menolakku akan membuat


kau kehilangan anakmu selamanya!"

__ADS_1


"Richi! apa yang lakukan, a-aku sahabatmu!"


"Mardo, a-aku mencintaimu dan selalu mencintaimu!"


Perempuan itu tak bisa mengelak saat tangan yang kuat itu menahan wajahnya, dan ia


merasakan bibir yang memburu dan menuntutnya memberikan semuanya. Richi tak lagi


lembut, ia menjatuhkan ciuman yang berulang serta remasan tangan di tubuh Mardo.


"Di mana Dode Rich?"


Mardo berusaha menjernihkan otak Richi yang telah dirasuki iblis, ia tak lagi ingat siapa


perempuan dalam pelukkannya itu.


"Richi! antar aku pada anakku, tolonglah."


"Tentu saja cintaku, aku akan mengantarkanmu padanya, nanti setelah kita bercinta."


Richi mendorong Mardo hingga tertelentang di jok belakang mobil.


"Richi! a-aku istri Raka kakak kandungmu!"


"Diam! aku hanya menelpon seseorang untuk membunuh anakmu, maka kau akan


kehilangannya selamanya!"


Mardo bergedik mendengarnya. Ia lantas terdiam dan membiarkan Richi sahabat baiknya


menyentuhnya, ia pejamkan matanya yang telah mengalir air mata. Jemari Richi mulai


membuka kancing bajunya. Perempuan yang ia rindukan puluhan tahun itu kini berada


dalam kekuasaannya. Ternyata kegilaan dan keberanian lebih menguntungkan dari bersikap


baik dan mengalah.


"Richi jangan yang satu itu!"


"A-aku tidak bisa, hanya jika kau mengembalikan Dode padaku."


Mardo menahan tangan lelaki itu yang ingin membuka miliknya serta kehormatannya


sebagai wanita.


"Lebih baik aku mati!"


Mardo bergumam. Richi bangun dan bertanya, "Jika aku mengembalikan Dode kau mau


menyerahkan dirimu padaku?"


Mardo terdiam.


"Hanya satu malam, aku ingin bersamamu, aku janji Raka tidak akan pernah tau!"


Perempuan itu tersudut, ia akhirnya menyanggupi permintaan Richi.


"Baiklah, kita jemput Dode dan sebelum aku kembali ke Merauke aku akan menelponmu


untuk memberitahukan tempatnya ok?"


"Iya."


Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, tak lama mereka sampai di apartemen


dan betapa bahagianya Mardo karena melihat putranya tengah tertidur pulas di atas


ranjang yang besar. Kaki dan tangannya terentang memenuhi tempat tidur.


Richi membopongnya dan membawanya ke mobil. Mereka pulang bertiga. Raka yang


kalang kabut karena tidak menemukan istri dan anaknya pergi mencari Richi. Ia mencari


tahu ke hotel tempat Richi tadi siang. Tapi orang hotel memberitahu bahwa kick of  sudah


selesai dan ditutup tadi siang. Dan semua peserta sudah kembali ke kotanya masing-masing.


Tidak ada yang tau tentang kemana Richi pergi karena mereka orang hotel bukan panitia.


Saat kecemasan menderanya, telponnya berdering, dari Mardo yang memberitahu bahwa ia dan


Dode sudah di rumah. Ia bilang Dode tertidur sejak sore dan Richi tak tega membangunkan


anak itu. Sehingga membiarkannya bersamanya.


Raka lega dan tersenyum, "Dasar anak nakal, bikin orang cemas saja."


Laki-laki itu segera pulang ke rumahnya.


 


Bersambung

__ADS_1


Hello, jangan lupa beri like, komen, vote serta bintang lima ya


Othor sangat berterima kasih pada pembaca.


__ADS_2