Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode. 75 Richi


__ADS_3

Lelaki itu mendonggakkan wajahnya menatap ke depan. Suasana sebuah bandara. Ia menghirup udara sepenuh paru-parunya. Lantas mulai melangkah pelan-pelan namun pasti.


"Aku datang Indonesia."


"Rindu sekaliiii."


Wajah halus nan tampan, bersih dan segar semakin sumringah oleh kebahagian. Lama sekali ia tak kembali ke kampung halaman. Pria muda itu mulai menuruni eskalator. Menuju pengambilan bagasi. Ia harus menunggu beberapa menit hingga koper-kopernya ia temukan. Dengan sedikit menggunakan tenaga ia mengangkat koper-kopernya ke atas troly kemudian mendorong melalui pintu.


"Mas Richi!"


Seorang laki laki melambaikan tangannya


memberi tanda.


Ya!!!


Wajah pria muda tersebut sumringah.


"Papi dan Mami di mana?"


"Ada di mobil mas, di depan, mariii."


Laki-laki muda tersebut mengikuti.


"Honey!!!"


"Mamiiii"


Perempuan dan anak muda tersebut berpelukkan.


"Ohhh, mami sangat merindukan dirimu."


"Aku juga Mi sangat rindu pada mami,"


"Kamu tambah ganteng aja sayangku."


Mereka kembali berpelukkan sembari tersenyum.


"Mami dah buatkan banyak masakkan kesukaanmu."


"Mami jadi repot dong"


"Nggak lah sayang, mami senang melakukannya


masa anak ganteng datang nggak ada apa apa.


He he he....


Beberapa tahun yang lalu, Richi memutuskan


melanjudkan studynya di Sidney. Delapan tahun berlalu dengan cepat. Ia sangat menikmati kehidupannya di sana. Sampai seminggu lalu Papi menyuruhnya pulang. Sebab kakaknya akan menikah. Hanya kabar seperti itu saja. Belum di beritahu siapa calon kakak iparnya tersebut.


Setelah begitu lama akhirnya ada yang akan menikah dalam keluarganya. Itu adalah kakak laki lakinya Raka Bramantyo. Ia terkejut sekaligus bertanya-tanya siapa calon istri kakaknya. Ada sedikit rasa penasaran. Kewajiban pulang sekaligus rasa keingin tauan yang besar.


"Richi!!! anakku selamat datang. Papi sangat rindu padamu."


Hari itu pria muda yang tampan dan keren tersebut, disambut meriah. Papinya mengembang tangan saat menyambutnya memasuki rumah.

__ADS_1


Raka juga ada di rumah, untuk menyambut adiknya. Mereka berpelukkan bahagia.


"Selamat ya Kak, Aku senang kakak akan


menikah, siapa perempuan yang beruntung itu kak?"


Richi memandang wajah kakaknya yang berseri seri.


" Nanti juga kau tahu, pokoknya calon kakak iparmu seseorang yang special."


"Hemmm, tak sabar ingin mengenalnya kak."


"Sekarang saatnya keluarga kita merayakan


kedatanganmu, apakah kau mau membersihkan diri dahulu, kemudian sama sama menikmati makan siang,?"


"Baiklah, Richi ke kamar dulu sebentar untuk bersih-bersih, oia oleh-olehnya di koper, bisa dibuka Ma, Papi."


"Makasih ya Rich, kamu kok sempat sempatnya


belanja NaK."


Richi hanya tersenyum, kemudian masuk ke kamarnya. Banyak sekali hal yang ingin ia lakukan


setelah kembali. Tapi sekarang rencana jangka pendek adalah, menjadi pendamping mempelai pria.


'Siapa sih perempuan itu? tak sabar ingin mengenalnya.'


Sembari menggeliat, meregang regangkan tubuh.


Baiklah ia harus bersabar menunggu hingga


Sejenak Richi harus melupakan keinginannya.


*******


Dan malam itu Richi benar-benar bosan menunggu hari H Raka kakaknya. Ia memutuskan


pergi mengenderai mobilnya untuk melihat dan


mengenang masa dia selama tiga tahun di Jakarta.


Setelah menamatkan SMU, Papi


mengantarkan dirinya ke Sydney Australia, negara tetangga yang


diharapkan bisa menjadikan Richi seorang pengusaha yang sukses.


Ia malah betah, dan hanya sekali


pulang Ke Indonesia. Lebih sering


mami, papi atau terkadang Kak Raka


yang datang menemuinya di Sydney.


Ia bahkan sudah meraih sekolah

__ADS_1


master. Tinggal lagi mengabdikan


ilmu yang telah ia dapatkan di sana.


Papi berencana mendirikan sebuah


universitas di sebuah kota berkembang yang nanti dipimpin oleh Richi. Papi berpikir bahwa usaha pendidikan terutama universitas, tiada matinya. Akan banyak pemuda-pemudi yang membutuhkannya. Mereka butuh sebuah universitas untuk meningkatkan tarap hidup serta tuntutan pekerjaan saat ini minimal sarjana.


Papi sudah merancang rencana itu jauh- jauh hari bahkan sebelum Richie menyelesaikan sekolahnya. Papi melihat bahwa putranya memiliki Bakat memimpin serta berjiwa tenang .


Setelah Raka dan Mardo menikah Papi akan mulai mengurus penugasan Richie di Universitas tersebut.


Sebenarnya Papi ingin menjadikan Richie sebagai Rektor muda tetapi hal itu akan mengejutkan bagi Richie. Sehingga Papi untuk pertama kalinya menjadikan Richi sebagai Dosen.


Papi berharap dengan penugasan Richie yang pertama ini nanti perlahan Richie akan menguasai seluk beluk di Universitas.


Rektor lama dan jajarannya akan memperlihatkan bagaimana mereka bekerja dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyangkut universitas serta mahasiswanya.


Papi yakin sekali Richie akan menguasai seluk beluk persoalan di sebuah perguruan tinggi setelah ia bekerja sebagai dosen selama satu hingga dua tahun.


Rifki memiliki sifat yang tenang, adil, serta bijaksana. Ia juga pejuang sejati. pantang menyerah sebelum dirinya berhasil di dalam pekerjaannya. Richi sangat tertarik dengan penawaran Papi sehingga ia pulang ke Indonesia untuk memimpin sebuah universitas.


Kata papi kemarin, "Setelah upacara pernikahan kakak kamu Raka dengan gadis itu, Papi ingin mengajakmu melihat universitas yang akan kamu Pimpin. Papi yakin kamu bisa! kamu pasti berhasil!. " Tidak ada target yang kamu kejar. Visi misinya adalah membantu orang-orang yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi dengan biaya yang murah bahkan gratis."


Richie mengangguk-anggukan kepalanya. Sejauh ini dia setuju dengan ide brilian Papi. Mereka sudah memiliki bisnis komersial yang membuat kehidupan mereka sangat baik dan mapan. Jadi ide mendirikan universitas tersebut adalah bukan semata-mata bisnis melainkan juga sisi sosial mereka.


Dengan bekal ilmu yang ia dapatkan selama di Sydney Australia, Richie yakin bisa memimpin Universitas tersebut dan mengembangkannya menjadi Universitas pilihan yang


menempati urutan nomer satu.


Ricky sangat berterima kasih kepada Papi yang sudah menyiapkan semua itu untuk dirinya. Dia berjanji akan membuat Papi bangga pada dirinya.


Dia akan bekerja keras mencurahkan seluruh pemikirannya, tenaga, bahkan jiwanya hanya untuk membesarkan


universitas itu.


Agaknya Richie akan mendapatkan tugas yang berat. Karena itu sebelum hari-harinya dihabiskan untuk bekerja melaksanakan tugas berat serta mulia di Universitas tersebut. Maka dia ingin bersenang-senang sejenak.


Richie merindukan sekolahnya yang dulu, teman-teman dan juga guru-gurunya. Ada beberapa teman yang masih berhubungan hingga saat ini . Richie ingin bertemu dengan mereka, berbincang-bincang dan bercerita hingga hilang perasaan


kangen serta keingin tahuan Bagaimana kehidupan mereka sekarang? apa yang mereka lakukan dan Apakah kehidupan mereka lebih baik dari yang dahulu?


Richie mengingat salah satu teman yang dekat dengan dirinya, kesanalah Richie pergi sekarang. Sambil Richie mengenang persahabatannya dengan


Fadly. Sejak kelas satu hingga kelas tiga SMA Richie dan Fadli selalu di kelas yang sama. Meski mereka tidak sebangku saat itu. Fadli sangat baik dan nilai laporan pelajaran selalu mendapatkan nilai A. Ia dan Fadli cocok satu sama lain sehingga mereka kerap berjalan dan pergi bersama.


misal pergi mencari perlengkapan untuk prakarya, bahan-bahan kimia, serta alat-alat eletro.


Pertemuan dengan Fadli , sangat menyenangkan. Dan berekor kepada


berkumpulnya mereka di suatu saat


yang telah di tetapkan. Richi setuju, Ia sangat senang dan akan menjadi


donatur demi pertemuan itu.


Richi senang melakukannya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


bersambung


__ADS_2