Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 142.Pergi Dinner


__ADS_3

Prita gelisah, sepulang dari rumah keluarga Bramantyo dia langsung masuk ke kamarnya


dan menatapi lemari pakaiannya. Besok malam Rakasiwi mengajaknya ke acara reunian


dan kalau tak salah tadi mereka yang hadir harus membawa pacarnya. Berarti dia pacar


Rakasiwi wahhh!!! gadis itu membesarkan matanya, ingin melompat setinggi-tingginya.


Suttt, jangan geer, cuman minta temanin aja kok!


Hati kecilnya mengingatkan dirinya agar jangan terlalu berharap banyak.


Ia menghempaskan tangannya menjadi sedih.


Heiii jangan patah arang, semangat, Prita bukan gadis cengeng dan lemah


Prita gadis yang kuat bak seonggok karang di tengah laut, kuat sangat kuat.


*Mama, ternyata baju-bajuku hanya kemeja dan celana jeans saja, aku tidak punya


gaun, baju terusan! "


Prita setengah berteriak, membuat mamanya yang sedang menonton tivi menoleh


ke arah kamar Prita.


"Itulah, yang kau beli selalu baju lelaki itu, memangnya ada apa rupanya?"


Ibunya berteriak di depan tivi.


"Ada acara dinner ma."


"Wah, apa kau mau pakai baju gamis mama? cantik-cantik kok gamis punya mama."


Mama Risa menawari anaknya, tentu saja Prita monyong, "Ich baju mama, gede-gede


begitu, sudahlah besok aku mau beli gaun dinner saja Ma."


"Iya, terserah kau Nak, perlu juga punya sepotong dua potong baju terusan, jangan


melulu kemeja sama kaos saja yang dibeli."


"Iya Ma, apa lagi kalau aku nanti sudah mulai kerja, pasti butuh."


Kemudian Prita menelpon Yunna menanyakan apakah besok berangkat kerja


karena ia ingin ditemani ke mall mencari baju terusan. Yunna bilang tidak bisa, juga


tak enak jika ijin keluar, karena ia dan Elsa masih pegawai baru, masih dalam masa


percobaan. Hemmm, apa boleh buat dia harus sendirian mencari baju untuk pergi


dinner bersama Rakasiwi.


Setelah selesai mengajar, Prita segera ke mall terdekat. Sebenarnya ia senang


berbelanja di Gajahmada Plaza, di sana model dan kwalitasnya bagus, jika bersabar


bisa mendapatkan baju-baju yang harganya miring. Prita sering berbelanja ke tempat


itu bersama Yunna dan Elsa, meski pun mereka gadis-gadis biasa yang sederhana


tetapi soal selera sama saja dengan gadis-gadis anak konglomerat. Baju-baju Prita


meskipun hanya jeans serta kemeja tetapi semua dibeli di Plaza, satu buah jeans yang


ia miliki berharga sejuta lebih, yang lainya diatas lima ratus ribu, sebab itu  sosoknya


tak mencerminkan seorang gadis yang kesusahan. Seluruh barang-barangnya

__ADS_1


ia beli satu demi satu di pusat-pusat perbelanjaan besar di Jakarta.


Meski jauh akhirnya Prita memutuskan pergi ke gajahmada Plaza, pastinya disana


lebih banyak pilihan model serta harga yang bersaing, lagi pula ia sudah tau tempat


tempat khusus yang menjual gaun-gaun terusan yang nyaman di pakai dan membuatnya


terlihat anggun.


Tak lama ia sudah sampai di tempat perbelanjaan kelas menengah ke atas tersebut.


Beberapa deretan toko besar pernah ia  lihat khusus menjual baju-baju terusan yang


sedang ia butuhkan. Bahkan penyanyi dan artis sering berbelanja di tempat tersebut.


Prita mendapatkan senyuman ramah dari pramuniagawatinya, dan menyilahkan


gadis itu melihat-lihat, sekejap saja Prita tau ia tidak menemukan yang cocok. Ia segera


ke toko berikutnya, terjadi hal yang sama.  Hingga lima toko dan waktu terus berjalan.


Ia mulai berkeringat.


Tak mudah mendapatkan baju yang diinginkan yang cocok dengan kepribadian Prita.


Rata-rata gaun-gaun tersebut tidak memiliki lengan, terbuka atau sangat ribet pada


bagian bawah yang berimpel. Atau pendek menampakkan kakinya. Semua gaun-gaun


cantik ada saja kekurangannya. Kalau tidak pundak yang terbuka lebar, ya dada yang


memperlihatkan belahannya.


"Masa ngak ada sih?"


modelnya, tidak juga memperlihatkan lekuk tubuh serta terbuka. Hingga setelah


pencarian yang melelahkan Prita tertegun oleh sebuah  gaun berwarna peach yang


cocok dengan kepribadiannya, gaun bernama esmeralda. Seolah gaun itu memang


diciptakan untuknya. Begitu pas dan melekat di tubuhnya. Anggun sekali dan


membuatnya sepuluh kali lebih berbeda dan lebih cantik.


Potongannya sederhana, panjangnya di bawah lutut, rimpel kecil di pinggang, serta


memiliki lengan hingga pergelangan. Leher yang sedikit terbuka. Baju yang cantik


Prita langsung mengambilnya dan membayar.


Ia juga harus membeli sepatu yang sedikit bertumit, dia tidak mungkin mengunakan sepatu


sneakers  ke acara dinner tersebut. Sialnya semua sepatunya adalah sepatu kets sebanyak


lima atau enam pasang. Baru menyadari kalau ia adalah seorang perempuan dengan


kebutuhan pernak-pernik yang banyak saat ia mulai menyukai seorang pria.


Sebenarnya ia ingin membeli high heels bertumit lima atau tujuh inci tetapi seumur hidup


ia belum pernah memakai sepatu tinggi, ia cemas jika nanti terpeleset dan hal itu bisa menjadi


tragedi buruk yang terkenang seumur hidup. Prita akan mencari sepatu bertumit dua atau


tiga inci yang sepadan dengan gaun pilihannya nanti, tentunya itu lebih aman.


Setelah selesai ia berlari-lari kecil untuk mengajar satu lagi les privatnya.Dan akhirnya

__ADS_1


selesai tepat waktu. Prita pulang ke rumah dan sesaat bersantai menghembuskan


napasnya. Ia membongkar belanjaannya dan merasa puas. Belanja di tempat-tempat


langganannya di gajahmada plaza tak pernah membuatnya kecewa, berbeda jika


berbelanja di pasar tradisional, dia merasa tak pede memakainya. Entah kenapa ia


tak mengerti dengan seleranya. Memanglah benar barang-barang branded membuat


orang yang memakainya bangga serta lebih percaya diri. Hanya sugesti saja sih.


Sebenarnya di pasar-pasar juga banyak baju-baju yang bagus dan lebih murah. Hanya


saja ada semacam permainan harga di sana. Harus pintar-pintar menawar. Oraang


seperti Prita yang tidak bisa tawar menawar merupakan makanan empuk. Beberapa


kali ia kecewa, saat membeli sepatu di pasar tradisional, harga sepatu tersebut


sama dengan sepatu branded di mall. Ternyata kwalitasnya berbeda, juga saat


ia membeli sebuah kemeja yang terlihat cantik dan cocok untuknya, sebab tak


bisa menawar, harganya menjadi mahal.


Sejak kejadian-kejadian yang tak menyenangkan itu, ia lebih memilih belanja berbagai


keperluannya di pusat-pusat perbelanjaan. Suasananya yang nyaman, tidak panas


dan harga-harga sudah dibandrol. Tidak perlu main tarik urat leher menawar.


Prita tak bisa tawar menawar, takut salah. Sebab itu ia lebih memilih belanja


di pusat-pusat perbelanjaan.


Rakasiwi, tak kalah gelisah dengan Prita. Ia juga sejak siang, membongkar


bongkar baju mana yang sekiranya ia pakai. Ini adalah yang pertama


baginya pergi bersama seorang gadis. Ia melamunkan Prita. Dulu  sekali ia berusaha


mengingat, gadis mungil pemberani yang sering berangkat dan pulang sendirian


dengan tas yang digoyang-goyang. Ia sangat berbeda dengan anak-anak


perempuan yang lain. Ia bergerak ke sana dan kemari, tersenyum, bertanya


atau mengatakan sesuatu.


Prita, Rajasiwi mendesah dan bibirnya yang bagus tersenyum.


 


 


Bersambung


 


Jangan lupa ya gaes, untuk memberi like, komen serta vote


tinggalkan jejak agar saya datang kembali.


terima kasih banyak


 


 

__ADS_1


__ADS_2