
Prita gelisah, sepulang dari rumah keluarga Bramantyo dia langsung masuk ke kamarnya
dan menatapi lemari pakaiannya. Besok malam Rakasiwi mengajaknya ke acara reunian
dan kalau tak salah tadi mereka yang hadir harus membawa pacarnya. Berarti dia pacar
Rakasiwi wahhh!!! gadis itu membesarkan matanya, ingin melompat setinggi-tingginya.
Suttt, jangan geer, cuman minta temanin aja kok!
Hati kecilnya mengingatkan dirinya agar jangan terlalu berharap banyak.
Ia menghempaskan tangannya menjadi sedih.
Heiii jangan patah arang, semangat, Prita bukan gadis cengeng dan lemah
Prita gadis yang kuat bak seonggok karang di tengah laut, kuat sangat kuat.
*Mama, ternyata baju-bajuku hanya kemeja dan celana jeans saja, aku tidak punya
gaun, baju terusan! "
Prita setengah berteriak, membuat mamanya yang sedang menonton tivi menoleh
ke arah kamar Prita.
"Itulah, yang kau beli selalu baju lelaki itu, memangnya ada apa rupanya?"
Ibunya berteriak di depan tivi.
"Ada acara dinner ma."
"Wah, apa kau mau pakai baju gamis mama? cantik-cantik kok gamis punya mama."
Mama Risa menawari anaknya, tentu saja Prita monyong, "Ich baju mama, gede-gede
begitu, sudahlah besok aku mau beli gaun dinner saja Ma."
"Iya, terserah kau Nak, perlu juga punya sepotong dua potong baju terusan, jangan
melulu kemeja sama kaos saja yang dibeli."
"Iya Ma, apa lagi kalau aku nanti sudah mulai kerja, pasti butuh."
Kemudian Prita menelpon Yunna menanyakan apakah besok berangkat kerja
karena ia ingin ditemani ke mall mencari baju terusan. Yunna bilang tidak bisa, juga
tak enak jika ijin keluar, karena ia dan Elsa masih pegawai baru, masih dalam masa
percobaan. Hemmm, apa boleh buat dia harus sendirian mencari baju untuk pergi
dinner bersama Rakasiwi.
Setelah selesai mengajar, Prita segera ke mall terdekat. Sebenarnya ia senang
berbelanja di Gajahmada Plaza, di sana model dan kwalitasnya bagus, jika bersabar
bisa mendapatkan baju-baju yang harganya miring. Prita sering berbelanja ke tempat
itu bersama Yunna dan Elsa, meski pun mereka gadis-gadis biasa yang sederhana
tetapi soal selera sama saja dengan gadis-gadis anak konglomerat. Baju-baju Prita
meskipun hanya jeans serta kemeja tetapi semua dibeli di Plaza, satu buah jeans yang
ia miliki berharga sejuta lebih, yang lainya diatas lima ratus ribu, sebab itu sosoknya
tak mencerminkan seorang gadis yang kesusahan. Seluruh barang-barangnya
__ADS_1
ia beli satu demi satu di pusat-pusat perbelanjaan besar di Jakarta.
Meski jauh akhirnya Prita memutuskan pergi ke gajahmada Plaza, pastinya disana
lebih banyak pilihan model serta harga yang bersaing, lagi pula ia sudah tau tempat
tempat khusus yang menjual gaun-gaun terusan yang nyaman di pakai dan membuatnya
terlihat anggun.
Tak lama ia sudah sampai di tempat perbelanjaan kelas menengah ke atas tersebut.
Beberapa deretan toko besar pernah ia lihat khusus menjual baju-baju terusan yang
sedang ia butuhkan. Bahkan penyanyi dan artis sering berbelanja di tempat tersebut.
Prita mendapatkan senyuman ramah dari pramuniagawatinya, dan menyilahkan
gadis itu melihat-lihat, sekejap saja Prita tau ia tidak menemukan yang cocok. Ia segera
ke toko berikutnya, terjadi hal yang sama. Hingga lima toko dan waktu terus berjalan.
Ia mulai berkeringat.
Tak mudah mendapatkan baju yang diinginkan yang cocok dengan kepribadian Prita.
Rata-rata gaun-gaun tersebut tidak memiliki lengan, terbuka atau sangat ribet pada
bagian bawah yang berimpel. Atau pendek menampakkan kakinya. Semua gaun-gaun
cantik ada saja kekurangannya. Kalau tidak pundak yang terbuka lebar, ya dada yang
memperlihatkan belahannya.
"Masa ngak ada sih?"
modelnya, tidak juga memperlihatkan lekuk tubuh serta terbuka. Hingga setelah
pencarian yang melelahkan Prita tertegun oleh sebuah gaun berwarna peach yang
cocok dengan kepribadiannya, gaun bernama esmeralda. Seolah gaun itu memang
diciptakan untuknya. Begitu pas dan melekat di tubuhnya. Anggun sekali dan
membuatnya sepuluh kali lebih berbeda dan lebih cantik.
Potongannya sederhana, panjangnya di bawah lutut, rimpel kecil di pinggang, serta
memiliki lengan hingga pergelangan. Leher yang sedikit terbuka. Baju yang cantik
Prita langsung mengambilnya dan membayar.
Ia juga harus membeli sepatu yang sedikit bertumit, dia tidak mungkin mengunakan sepatu
sneakers ke acara dinner tersebut. Sialnya semua sepatunya adalah sepatu kets sebanyak
lima atau enam pasang. Baru menyadari kalau ia adalah seorang perempuan dengan
kebutuhan pernak-pernik yang banyak saat ia mulai menyukai seorang pria.
Sebenarnya ia ingin membeli high heels bertumit lima atau tujuh inci tetapi seumur hidup
ia belum pernah memakai sepatu tinggi, ia cemas jika nanti terpeleset dan hal itu bisa menjadi
tragedi buruk yang terkenang seumur hidup. Prita akan mencari sepatu bertumit dua atau
tiga inci yang sepadan dengan gaun pilihannya nanti, tentunya itu lebih aman.
Setelah selesai ia berlari-lari kecil untuk mengajar satu lagi les privatnya.Dan akhirnya
__ADS_1
selesai tepat waktu. Prita pulang ke rumah dan sesaat bersantai menghembuskan
napasnya. Ia membongkar belanjaannya dan merasa puas. Belanja di tempat-tempat
langganannya di gajahmada plaza tak pernah membuatnya kecewa, berbeda jika
berbelanja di pasar tradisional, dia merasa tak pede memakainya. Entah kenapa ia
tak mengerti dengan seleranya. Memanglah benar barang-barang branded membuat
orang yang memakainya bangga serta lebih percaya diri. Hanya sugesti saja sih.
Sebenarnya di pasar-pasar juga banyak baju-baju yang bagus dan lebih murah. Hanya
saja ada semacam permainan harga di sana. Harus pintar-pintar menawar. Oraang
seperti Prita yang tidak bisa tawar menawar merupakan makanan empuk. Beberapa
kali ia kecewa, saat membeli sepatu di pasar tradisional, harga sepatu tersebut
sama dengan sepatu branded di mall. Ternyata kwalitasnya berbeda, juga saat
ia membeli sebuah kemeja yang terlihat cantik dan cocok untuknya, sebab tak
bisa menawar, harganya menjadi mahal.
Sejak kejadian-kejadian yang tak menyenangkan itu, ia lebih memilih belanja berbagai
keperluannya di pusat-pusat perbelanjaan. Suasananya yang nyaman, tidak panas
dan harga-harga sudah dibandrol. Tidak perlu main tarik urat leher menawar.
Prita tak bisa tawar menawar, takut salah. Sebab itu ia lebih memilih belanja
di pusat-pusat perbelanjaan.
Rakasiwi, tak kalah gelisah dengan Prita. Ia juga sejak siang, membongkar
bongkar baju mana yang sekiranya ia pakai. Ini adalah yang pertama
baginya pergi bersama seorang gadis. Ia melamunkan Prita. Dulu sekali ia berusaha
mengingat, gadis mungil pemberani yang sering berangkat dan pulang sendirian
dengan tas yang digoyang-goyang. Ia sangat berbeda dengan anak-anak
perempuan yang lain. Ia bergerak ke sana dan kemari, tersenyum, bertanya
atau mengatakan sesuatu.
Prita, Rajasiwi mendesah dan bibirnya yang bagus tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa ya gaes, untuk memberi like, komen serta vote
tinggalkan jejak agar saya datang kembali.
terima kasih banyak
__ADS_1