Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 222. Ketemuan Kakak Ipar


__ADS_3

Assalamualaikum, saya sudah ngucapin minal aidin walfaizin belum ya? jadi lupa. Pembaca dan teman author yang baik. Minal Aidin wal faizin, maaf lahir dan bathin ya. Hari ini saya memeriksa karya saya Pria Idola, tiba-tiba air mata menetes. Lambat sekali kenaikkan performancenya. Ada perasaan jenuh, bosan dan kehabisan ide. Terkadang pernah ditinggal selama sebulan, seminggu, tiga, hingga dua hari. Hal tersebut agaknya yang membuat Pria Idola tidak ada kemajuan yang berarti. Plus ceritanya yang jauh dari bagus. Pria Idola adalah karya pertama di platform. Datang ke Mangatoon dan menulis. Meski banyal hal yang tidak diketahui dan tak dimengerti. Bertanya kesana dan kesini. Sambil terus menulis. Beberapa tahun lalu, betapa ngototnya saya untuk bisa menulis di media ibu kota. Setiap malam saya mengetik hingga jauh malam, mengirim keberbagai media selama berbulan-bulan. Memeriksa setiap hari tabloid serta koran, mempelajari gaya tulisan. Pokoknya banyak yang saya lakukan. Dan akhirnya cerpen-cerpen saya menembus media/ koran di Jakarta. Kali ini pun ada keyakinan yang kuat bahwa nanti Pria Idola bisa di terima oleh pembaca, semangat!  semangat!. Dan seluruh kepayahan, rasa kecewa, kurang tidur, serta ingin berhenti seketika pupus, dukung othor terus ya reades dan teman othor.  Badai Pasti Berlalu. He he he, yu kita semangat.


 


Cikidot!!! mari kita lanjut


Prita bergegas menuju lift bersama beberapa karyawan, setelah di dalam lift masing-masing memencet lantai berapa yang ingin mereka datangi. Prita menekan angka tujuh. Di sanalah ruangannya beserta beberapa yang lain. Gadis itu langsung menuju ruangannya. Ia sempat melirik ruangan pak Boy yang berada di sebrangnya. Masih sepi, agaknya direkturnya itu belum datang.


Setelah menghembuskan napasnya dan sekejap berkemas, barulah ia menarik kursinya dan menghidupkan laptop. Ia masih ingat permintaan pak Boy kemarin sore sebelum berpisah. Ia ingin dibuatkan neraca perdagangan bulan itu. Sesaat Prita tenggelam dengan pekerjaannya.  Jika sedang bekerja Priti memang selalu total. Ia mematikan handpone dan menyimpannya di dalam tas. Tidak ada seorang pun yang bisa menganggunya hingga tiba saat makan siang.


Sementara Rakasiwi memarkirkan kenderaannya di halaman parkir cafe Pria Idola. Ia janji bertemu dengan Edo dan Alan.  Rakasiwi datang lebih awal.  Pria muda itu tak suka menunggu sebab itu ia telah mengambil handphonenya dan call Edo.


"Hem, hello."


Suara orang yang bangun tidur terdengar di sebrang.


"Bangun! bangun! sudah jam berapa ini? Aku sudah di cafe Idola, buruan katanya mau ketemuan."


"Ini baru jam berapa kakak ipar, janjiannya kan jam sembilan."


Sejak jadian dengan Cindy, Edo lebih sering memanggil Rakasiwi dengan kakak ipar. Seolah-olah ia sudah terikat dengan keluarga tersebut. Alan beberapa kali meledeknya agar jangan mendahului ketetapan yang kuasa. Tapi Edo berdalih, bahwa apa yang kita pikirkan dan minta, itu yang terjadi. Ia seorang pria yang optimis.


"Tapi aku sudah di cafe, buruan! jangan banyak alasan."


"I-iya kakak Ipar, siap!"

__ADS_1


Edo buru-buru turun dari tempat tidur dan ngacir ke kamar mandi. Terdengar byur! byur! Byur  dan sekejap berikutnya ia telah di depan lemari pakaian. Tubuhnya dan rambutnya masih basah, karena asal kucek handuk.


"Gawat kalau kakak ipar ngambek, bisa-bisa satu dukungan hilang."


Brak!


Edo menutup pintu kamarnya, mengejutkan ibunya yang sedang membaca di ruang tamu.


"Ahmad Alfredo! kamu mau membuat jantung bunda putus ya? pelan-pelan kenapa sih!"


Pria muda itu nyengir kuda dan sedikit meraba belakang kepalanya.


"Maaf-maaf  Bun, buru-buru he he he."


"Buru-buru? mau kemana sih Nak, itu parfum berapa botol sih haicis! haicis! ya ampun wanginya setengah ampun deh. Memang mau ketemuan pacar?"


"Bukan Bun, diatasnya pacar he he he."


"Di atasnya pacar? apaan sih, bunda nggak ngerti deh."


"Mau ketemuan kakak ipar Bun."


Sembari nyengir.


Perempuan bersahaja itu menarik bibirnya ke samping.

__ADS_1


"Kakak ipar? oh. Kakak ipar ya."


Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya anak laki-lakinya itu masih kecil. Masih berlari-lari memeluk roknya di pinggang.


"Bunda! Bunda! Edo ganti baju yang bersih, ini sudah basah."


Edo kecil setiap hari bisa lima sampai sepuluh kali berganti baju, sebab bajunya di bagian dada  basah. Edo kecil  ileran terus menerus. Bibirnya yang agak dower seperti mick Jagger selalu keluar air liur. Sejak bayi Bunda sudah melihat kalau air liur anaknya berlebih. Tetapi ia pikir karena anaknya masih bayi. Hingga memasuki sekolah taman kanak-kanak ia selalu menyangkutkan celemek kecil untuk mengatasi ilerannya. Tapi masuk sekolah dasar, Edo menolak memakai celemek. Ia tak mau di tertawakan teman-temannya.


Bunda bilang agar Edo bisa menahan air liur yang ingin keluar. Sebab bunda sudah berkonsultasi dengan dokter yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tanda perkembangan yang normal. Semakin ia besar ngeces atau iler itu perlahan akan menghilang.


Itulah sebabnya bunda tenang-tenang saja menghadapi kelainan anaknya tersebut. Orang-orang tua bilang hal itu bisa dari keinginan bundanya yang tidak dituruti saat ngidam. Bunda mengingat-ingat, apakah ia pernah ngidam sesuatu sehingga anak laki-lakinya yang cakep itu menjadi ngeces.


"Jangan pulang malam-malam ya, Bunda juga kangen kamu, setiap liburan selalu menghilang hem."


Bundanya Edo, menarik-narik bibirnya ke pinggir. Kadang ia juga ingin merajuk seperti anak kecil pada anak lelakinya dan Edo meledeknya dengan, bunda jangan sok imut ah, geli.


"Iya bunda siap! Edo pergi dulu ya."


Rumah pun sepi, tanpa anak lelakinya itu. Suara musik dua puluh empat jam dari dalam kamarnya hening. Dulu teman-temannya sampai heran karena ia hapal lagu-lagu Ariel Piterpan. Saat mereka pergi ramai-ramai karaoke  ternyata bundanya Edo paling hebat menyanyinya. Mereka semua terbengong. Dia tertawa, semua berkat Edo yang memutar lagu-lagu di kamarnya selama dua puluh empat jam. Bundanya sampai hapal lagu-lagu anak muda.


Hahahaiiiii, jadi malu.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2