
Rakasiwi sempat terbegong ketika melihat tubuh semampai yang beranjak masuk.
"Gadis itu?"
"Kamu lihat siapa Ka?"
Alan, Alfredo mengikuti tatapan Rakasiwi, mereka hanya melihat punggung seorang gadis
dan punggung dua karyawan di cafe itu.
"Gadis itu, aku sepertinya sering bertemu dengannya."
"Wah, sering bertemu? tapi tak pernah menegur ya?"
Rakasiwi hanya tersenyum kecil. Iya ya kenapa ia tak pernah bisa bertegur sapa
dengan gadis itu.
Lupakan! jadi bagaimana menurut kalian tentang cafe milikku ini?"
"Keren! keren!"
"Aku mau orang-orang datang ke sini untuk mencari sesuatu yang mereka sukai, seperti
menikmati es cream rasa durian atau jus mangga gedong, kalian tau sendiri cafe Pria idola
sudah memiliki cafe PI chocolatier, strawberry, mangga gedong, durian juga sudah ada sih
tapi mungkin aku akan lebih memboomingkan markisa, durian monthong dan mangga gedong."
"Jangan lupa menu andalan Cafe PI adalah minuman kopi dengan dua ratus rasa!"
"Iya, kopi rasa alpukat, gula aren, pandan, regal, leci dan lain-lain, kopi tentu saja
tersedia tetapi bagi mereka yang tidak suka kopi ada pilihan lain seperti minum jus mangga
gedong, es cream durian, serta markisa."
"Jadi aku butuh banyak durian, markisa dan juga mangga gedong."
"Bukankah kau sudah mulai membuat kebun markisa di villa? serta menambah tanaman durian
dan mangga gedong?"
Alan menatap Rakasiwi, beberapa minggu yang lalu temannya itu mengajak mereka ke villa
Tanahnya ribuan hektar, sebagian sudah ditanami pohon durian serta mangga, Rakasiwi
berpikir akan membuat kebun markisa dan sudah menyiapkan ribuan anak pohon markisa.
Karyawan-karyawannya sedang mengerjakannya di sana. Dan itu butuh waktu yang cukup
lama.
"Serahkan padaku untuk pengadaan mangga dan durian, aku bisa mendatangkan durian
dari sumatra sana, atau dari Thailand."
Alfredo yang paling kalem di antara mereka menawarkan diri untuk membantu.
"Ok, kau boleh bilang padaku, tentang durian dan mangga, aku lebih pilih mangga gedong ya
sebab wangi berserat dan warnanya segar."
"Kalau kau mau, aku akan mengajak kalian ke rumah opaku di daerah sindang laut, ia punya
hektaran kebun mangga, diantaranya mangga gedong, ia menjual mangga-mangganya hingga
ke Malaysia, Singapura, Batam dan beberapa kota lain."
"Oh ya?, kenapa baru bilang sekarang?"
"Yah kan aku baru dengar kalian bicara bisnis tentang buah-buahan."
"Bolehlah, yuk atur waktu kita pergi ke kota tempat opa kamu."
"Siap kapan saja."
"Ka, pesan nasi goreng teri medan dong, ada nggak?"
__ADS_1
"Ada dong, nasi goreng pete, sambal terasi, usus, peda pokoknya olahan kuliner khas
bumi pertiwi, berbagai mie juga siap. panggil saja pramusaji, tinggal lambai saja kok."
Alan langsung melambai pada seorang yang berseragam dan kebetulan tengah
memandang pada mereka. Serta merta gadis itu datang membawa buku menu dan
menyerahkannya pada Alan.
"Nasi goreng teri mba, kamu pesan makan Do? kalau Rakasiwi nggak usah ditawarin
orang dia yang punya he he he."
"Do, cobain tuh nasi goreng kambing, atau nasi goreng bebek, udang, ayam kampung,
cumi, ada nasi goreng Jawa, Sumatra, Jakarta, padang, Semarang, nasi goreng nusantara,
Menado sampai nasi goreng Singapura, Amerika, Jepang, Korea dan lain-lain dah, oh iya
ada paket nasi liwet juga untuk grup atau keluarga."
"Wih gile loe Ka, segala macam kuliner Loe bawa semua kesini, gimana makannya?"
Alfredo geleng-geleng kepala. Mereka akhirnya pesan nasi goreng yang saling berbeda,
juga menambah minuman. Si gadis pramusaji mengulang kembali pesanan dan kemudian
pergi. Tak lama ia sudah kembali dengan tiga minuman segar dari buah markisa.
Sementara di ruangan karyawan, Prita, Yunna dan juga Elsa sedang menikmati makanan
yang mereka pesan, karena mereka sudah bosan dengan menu nasi goreng, mereka
pesan nasi liwet porsi empat orang, itu adalah paket paling ekonomis, itu saja harganya
sudah dua ratus lima puluh ribu rupiah, tetapi hitung-hitung sebagai syukuran tidak
apalah, Elsa dan Yunna patungan membayarnya.
Dan ketiganya menikmati makanan itu sambil mengobrol, nasi liwet itu adalah nasi yang
peda dan lain-lain. Di sajikan lengkap dengan pada tampah yang di beri tatakan daun
pisang. Ada potongan ayam goreng, tempe, tahu, karedok, lalapan pete, terong, timun.semangi
dan sambal terasi.
"Wah cafe ini ada paket liwet begini Yunna? hebat banget ya? keren!"
"Iya Prita, cafe ini paling besar dari semua cafe Pria Idola, dan paling lengkap
banyak yang pesan buat makan di rumah atau acara-acara."
"Kamu tau nggak Prita? pemiliknya masih muda, seusia kita-kita."
"Hah! benar sih?"
"Iya tapi kita juga belum tau orangnya, belum beruntung ketemu he he he."
"Palingan dapat modalnya dari orang tuanya, mana mungkin seusai kita udah
punya bisnis besar, atau palingan bisnis yang diwarisin, masuk akal Gwe ini mah."
"Iya sih, tapi tetap keren dan hebat lah."
Mereka kembali membisu sembari menyuap makanan di depan mereka.
"Jadi pengen bawa buat mama Gwe Yunna, memang ngga bisa ya beli
ketengan?"
Menikmati makanan enak, Prita selalu teringat ibundanya. Dan ia ingin membawa
untuk ibunya. Tetapi kalau membeli secara paket, selain maha juga kebanyakkan.
"Emang loe pikir warung bibi Minah pakai ketengan, he he he."
Ketiganya tertawa.
__ADS_1
"Tapi Gwe senang banget Yunna, Elsa, kalian pindah kerja ke sini dar pada kalian
di bar remang-remang itu, Gwe bahagia melihat kalian berdua di sini."
"Iya, ada kemudahan dan keajaiban yang menimpa kita berdua ya."
Yunna dan Elsa saling memandang dan mereka menceritakan kronologis mereka
diterima bekerja di tempat itu. Lalu mereka menanyakan apa yang dikerjakan oleh
Prita? waktu itu pulang sampai malam?
Prita menjawab apa adanya bahwa sekarang ia mengajar les privat khusus
anak-anak orang kaya. Terpaksa ia melakukan hal tersebut, karena kalau ia
membutuhkan uang yang banyak untuk kuliah dan kehidupannya.
"Wahhh, selamat siapa tau nanti ketemu jodoh konglomerat, seperti pemilik tempat ini, pasti
dia anak konglomerat."
"Aamiin, semoga kalian berdua juga dapat anaknya konglomerat."
Ketiganya saling bertatapan dan tersenyum penuh rasa syukur dan bahagia.
"Iya, semoga saja kehidupan kita jauh berbeda dengan ibu-ibu kita, kasihan
mereka dan kita anak-anaknya. Aku tak ingin anakku nanti hidup susah, sampai
tidak bisa melanjutkan sekolah."
Elsa ikut berkomentar. Ia merasa sangat sedih akan kehidupan masa kanak-kanak serta
remajanya yang susah dan menderita, Yunna dan Prita juga pernah merasakan
hal itu. Sekarang berbeda, mereka akan memperjuangkan kehidupan yang mapan
serba berkecukupan untuk anak-anak mereka kelak.
"Kita selalu meminta jodoh yang terbaik, anak-anak konglomerat! heh!"
Yunna tertawa.
"Kenapa tertawa? jika kita meminta terus pada Tuhan, pasti dikasih. iya kan
Prita?"
"Mudah-mudahan, terus saja meminta dan berdoa, sudah kenyang nih, aku pulang ya
karena harus mempersiapkan materi pembelajaran untuk anak lesku."
"Iya pulanglah, kami juga sebentar lagi akan mulai bekerja. Good job sahabat-sahabatku."
Mereka saling menepukkan tangan di atas kepala.
Bersambung
Hello jangan lupa berikan like yang banyak ya
komen/jejak agar bisa feetback
vote juga, author sangat berterima kasih
__ADS_1