
Usai pembuatan dodol yang seru dan meriah, kakak-kakak sepupu pulang
ke rumahnya masing-masing. Sedangkan Mardo dan Khairani sudah mulai mengepak
koper dan barang-barang bawaan mereka. Karena hari kembali ke Jakarta sudah semakin dekat.
Hari Rabu mereka berangkat ke bandara Muara Namu Medan dan terbang ke Jakarta.
Sebelum hari itu tiba, mendadak kak Tania dan Kana datang dari kampung Martapotan. Ia bilang mau
mengajak Mardo dan Khairani karena pemuda-pemuda dari kampung mengundang mereka
untuk makan siang di sebrang. Di salah satu kediaman anak muda tersebut. Kak Tania sangat berharap
Mardo bisa ikut, agar lengkaplah mudik gadis itu. Mardo juga bisa tau kehidupan saudara-saudara yang
tinggal di sebrang sungai.
"Memang siapa saudara kita yang tinggal di sana Kak?"
Mardo mengercitkan keningnya. Semua rumah paman dan bibi sudah dia datangi.
Memangnya masih adakah yang belum dikunjungi?
"Ada Do, disana ada keluarga kita. Mereka saudara satu nenek sih."
Mardo mengangguk-angguk, "Yuk kesana, aku mau ikut kak."
"Aku juga mau ikut, udah lama Yulia tak kesana, ikut!"
Gadis bungsu paman dan bibi, merajuk tak mau ketinggalan.
"Alah kalau kau Li, kerjamu ikut-ikutan melulu! meribeti orang saja!"
Khairani selalu sengit pada adiknya itu, tepatnya senang membuat adiknya menangis terlebih
dahulu, sementara Yulia tak jua mengerti kebiasaan kakaknya. Jadilah setiap mereka akan
bepergian terjadi keributan.
Inang pun terpaksa berteriak-teriak, "Apa pula meribeti adikmu? memangnya kau gendong dia?
kau suapi? sana ikut saja sama kakak Mardomu."
Weeeee, Yulia pun menjulurkan lidahnya pada Khairani.
Mardo menjadi rindu pada adiknya Patricia, mereka jarang bertengkar. Mungkin karena perbedaan
usia yang mencolok. Justru seringnya mereka saling memeluk dan menciumi. Mardo sering gemas
pada adiknya yang mungil dan lucu itu.
Sedangkan dengan Mangara, ia lebih sering cengeng mencari perhatian dan pembelaan abangnya.
Hampir tak pernah ada pertengkaran antara adik dan kakak, adem ayem selalu.
Papi dan Mami juga mendidik mereka agar saling cinta mencintai, menyayangi saudara, karena
saudara adalah orang paling dekat yang bertaut jiwa dan darah.
"Tania, Kana! mampir kalian ke kebun opung, biar Mardo tahu, kita juga ada tanah di sebrang
sana."
"Iya unden, semoga waktunya sempat."
"Ka Mardo."
Khairani menatap mata sepupunya.
"Apakah kakak tau kalau opung kita punya tanah hektaran di sebrang sungai?"
Mardo menggeleng.
"Mana tau Mardo itu, masih kecil sekali dia dulu pergi ke kota bersama uwamu."
"Itulah kak, kita semua sudah pindah ke sebrang sini, sedangkan kebun-kebun masih
di sebrang sungai sana. Jadi ada keluarga transmigran mencari kehidupan dan penghidupan
bertemu sama opung kita, dan sama opung dipercayakan mengelola kebun-kebun itu."
"Oh begitu ya, aku nggak tahu Khai."
__ADS_1
"Di sana kak, kita punya kebun tebu, karet, jagung, padi, kacang tanan, pisang pokoknya
segala macam tumbuhan lah, kita tinggal minta saja kalau mau."
"Hasilnya itu kak, untuk membiayai kegiatan sekolah-sekolah, mulai dari paud hingga aliyah
untuk amal jariah opung berdua itu kak."
"Subhanallah, luar biasa ya."
Hampir seharian Khairani, Tania dan Kana juga Inang bercerita tentang keluarga besar
mereka yang pada awalnya dahulu merupakan orang pertama yang membuka perkampungan
baik yang sekarang mau pun yang di sebrang. Saat itu jika seseorang berhasil membuka
perkampungan maka dia diangkat sebagai raja di kampung itu. Nenek moyang mereka adalah
yang membuka perkampungan tersebut, pemilik dari semua tanah yang ada di sana. Nenek
moyang mereka merupakan raja pada dahulu kalanya. Lama-lama berkembang dan penduduknya
juga bertambah banyak, tentu saja tanah-tanah tersebut kemudian dibagikan kepada anak-anaknya
secara turun temurun. Hingga sampai ke pada Opung mereka yakni Opung Pinayungan Baginda Mangaraja.
"Berarti awalnya semua penduduk kampung Martapotan dan sebrang sana itu adalah saudara ya?"
Mardo takjub mendengar penuturan sepupunya dan Inang.
"Iyaaa, kakak sih kerjanya hanya belajar dan menulis, tak tau asal muasal diri. Makanya Khairani
ajak pulang."
"Hemmm, makasih ya Khai, sudah membuat kakak tau keluarga dan asal muasal diri."
Khairani tersenyum.
"Makan! makan!, nenek sudah masak ini loh."
Tiba-tiba nenek datang dari dapur, wangi masakkan menyebar membuat berselera.
"Masak apa rupanya Nenek?"
"Pasti enak nih Nek!"
Mereka semua segera beranjak ke belakang. Di sana ada sebuah ruangan berupa
sofa yang besar sekali, khusus di buat untuk memenuhi ruangan tersebut.
Ternyata Yulia bersama nenek sudah bekerja bahu membahu. Gadis tersebut
membawai masakkan yang sudah ditaro di wadah, lalu piring-piring, gelas serta buah pisang dan
pepaya yang baru saja di petik oleh ayah dari kebun di belakang.
"Ich rajin sekali Uli ya, anak gadis gitu loh."
Kak Kana memuji gadis remaja tersebut.
"Iya lah, kasihan Nenek, kalau Khairani kerjanya hanya berdandan saja bisanya."
"Diam kau Li! kupukul nanti mulutmu itu!"
Khairani mengancam.
"Weeeeee, memang kenyataannya. Nanti tak bisa masak, biar dimarahi suami."
Khairani menoleh dan membesarkan matanya.
"Jangan ikut kau ya, ke sebrang! awas aja kau Li?"
Inangggggggggg!
Menjerit lah gadis remaja itu sambil menghentak-hentak kakinya ke lantai.
"Aduh! yang payah kalian ini, sehari saja bersikap manis, tolong lah Nak."
Nenek juga berkomentar, tak senang kalau inang memarahi cucunya.
"Jangan kau marahi mereka, kau juga yang nakal dan bandel waktu seumuran itu."
Begitu selalu, nenek menengahi. Jadi lah Inang jarang marah sebab dibongkar nenek
__ADS_1
kelakuannya nanti, dan ketawa lah dunia. Mana tahan.
"Begitulah Mardo, kehidupan keluarga uda dan nangudamu, setiap hari ribut dan
bertengkar pepesan kosong."
Ayah Khairani biasanya datang jika sudah selesai pertengkaran, dan sudah damai. Kedatangannya
sudah tak diperlukan, Inang dan anak-anaknya sudah tak lagi memiliki perbendahaan kata-kata
untuk diucapkan, paling inang bergumam sebal, 'Ngomong tuh sama dinding.'
"Seru sekali Man,"
Sahut Mardo, tak memperpanjang kata.
Siang itu, nenek memasak ikan teri medan yang pedas sekali. Lalu daun singkong yang ditumbuk
halus, diberi bumbu seperti bawang merah, rimpang, dan sebuah rempah bernama kincung atau kecombrang jika
di Jawa. Daun ubi yang sudah ditumbuk tersebut kemudian di masukkan kedalam santan yang sudah
mendidih, dibubuhi pula teri medan atau ebi. Luar biasa enaknya, khas wangi buah kincung tersebut
Masakkan tangan itu ternyata lebih nikmat dibanding makanan instan di mall-mall. Menggunakan
rempah-rempah asli Indonesia. Sekali lagi makan siang yang nikmat dan berkesan rasa masakkannya.
********
Setelah Tania dan Kana pulang, Khairani menemui Azhar memberitahu perihal undangan itu.
"Boleh kami ikut kan."
Azhar memastikan.
"Iya boleh, makanya ini
memberitahu, kalau begitu besok pagi tunggu kami di depan kecamatan ya."
"Ok siap."
Esok paginya, Azhar dan Donny sudah
siap menunggu di depan kantor kecamatan. Donny beberapa kali
menoleh ke belakang tapi gadis-gadis itu belum jua muncul. Jangan-jangan tak
boleh sama pak Cik, ayah Khairani. Pikir Azhar, tapi mengingat sifar Khairani yang keras kepala
dan mesti dituruti kemauannya itu tak mungkin terjadi. Mereka mungkin hanya terlambat saja.
Setengah jam kemudian tiba-tiba berhenti beca mesin yang berisik di dekat. mobil. Ternyata Khairani, Mardo dan
Yulia.
Di kota kecil itu beroperasi beca mesin untuk hilir mudik penduduk keberbagai tempat. Selain ongkosnya
murah, juga cepat dan tepat waktu
Penduduk kota kecil itu sangat menyukai beca mesin. Sebuah beca yang dimodifikasi dengan motor.
Kata penduduk kampung sejak jaman Belanda beca mesin seperti itu sudah ada. Untuk kegiatan patroli belanda.
Kenderaan lalu melaju menuju kampung tempat kak Tania serta kakak yang lainnya.
Rumah mereka berdekatan. Sehingga mudah sekali berkumpul. Tinggal berjalan sebentar dan mengetuk pintu. Bahkan kalau malas bisa berteriak memanggil. Kali ini karena memang sudah janjian
mereka sudah siap dan menunggu kedatangan Khairani.
"Kakak!"
Khairani berteriak turun dari
mobil. Mereka senang sebab ada Donny. Laki-laki tampan dan seorang pengusaha muda di Medan.
Mereka berharap Mardo bisa berkelanjutan dengan Donny. Mereka bangga memiliki keluarga
pengusaha.
Bersambung
__ADS_1