Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 68.Lembah Biru


__ADS_3

Usai pembuatan dodol yang seru dan meriah, kakak-kakak sepupu pulang


ke rumahnya masing-masing. Sedangkan Mardo dan Khairani sudah mulai mengepak


koper dan barang-barang bawaan  mereka. Karena hari  kembali ke Jakarta sudah semakin dekat.


Hari Rabu mereka berangkat ke bandara  Muara Namu Medan dan terbang ke Jakarta.


Sebelum hari itu tiba, mendadak kak Tania dan Kana datang dari kampung Martapotan. Ia bilang mau


mengajak Mardo dan Khairani karena pemuda-pemuda dari kampung mengundang mereka


untuk makan siang di sebrang. Di salah satu kediaman anak muda tersebut. Kak Tania sangat berharap


Mardo bisa ikut, agar lengkaplah mudik gadis itu. Mardo juga bisa tau kehidupan saudara-saudara yang


tinggal di sebrang sungai.


"Memang siapa saudara kita yang tinggal di sana Kak?"


Mardo mengercitkan keningnya. Semua rumah paman dan bibi sudah dia datangi.


Memangnya masih adakah yang belum dikunjungi?


"Ada Do, disana ada keluarga kita. Mereka saudara satu nenek sih."


Mardo mengangguk-angguk, "Yuk kesana, aku mau ikut kak."


"Aku juga mau ikut, udah lama Yulia tak kesana, ikut!"


Gadis bungsu paman dan bibi, merajuk tak mau ketinggalan.


"Alah kalau kau Li, kerjamu ikut-ikutan melulu! meribeti orang saja!"


Khairani selalu sengit pada adiknya itu, tepatnya senang membuat adiknya menangis terlebih


dahulu, sementara Yulia tak jua mengerti kebiasaan kakaknya. Jadilah setiap mereka akan


bepergian terjadi keributan.


Inang pun terpaksa berteriak-teriak, "Apa pula meribeti adikmu? memangnya kau gendong dia?


kau suapi? sana ikut saja sama kakak Mardomu."


Weeeee, Yulia pun menjulurkan lidahnya pada Khairani.


Mardo menjadi rindu pada adiknya Patricia, mereka jarang bertengkar. Mungkin karena perbedaan


usia yang mencolok. Justru seringnya mereka saling memeluk dan menciumi. Mardo sering gemas


pada adiknya yang mungil dan lucu itu.


Sedangkan dengan Mangara, ia lebih sering cengeng mencari perhatian dan pembelaan abangnya.


Hampir tak pernah ada pertengkaran antara adik dan kakak, adem ayem selalu.


Papi dan Mami juga mendidik mereka agar saling cinta mencintai, menyayangi saudara, karena


saudara adalah orang paling dekat yang bertaut jiwa dan darah.


"Tania, Kana! mampir kalian ke kebun opung, biar Mardo tahu, kita juga ada tanah di sebrang


sana."


"Iya unden, semoga waktunya sempat."


"Ka Mardo."


Khairani menatap mata sepupunya.


"Apakah kakak tau kalau opung kita punya tanah hektaran di sebrang sungai?"


Mardo menggeleng.


"Mana tau Mardo itu, masih kecil sekali dia dulu pergi ke kota bersama uwamu."


"Itulah kak, kita semua sudah pindah ke sebrang sini, sedangkan kebun-kebun masih


di sebrang sungai sana. Jadi ada keluarga transmigran mencari kehidupan dan penghidupan


bertemu sama opung kita, dan sama opung dipercayakan mengelola kebun-kebun itu."


"Oh begitu ya, aku nggak tahu Khai."

__ADS_1


"Di sana kak, kita punya kebun tebu, karet, jagung, padi, kacang tanan, pisang pokoknya


segala macam tumbuhan lah, kita tinggal minta saja kalau mau."


"Hasilnya itu kak, untuk membiayai kegiatan sekolah-sekolah, mulai dari paud  hingga aliyah


untuk amal jariah opung berdua itu kak."


"Subhanallah, luar biasa ya."


Hampir seharian Khairani, Tania dan Kana juga Inang bercerita tentang keluarga besar


mereka yang pada awalnya dahulu merupakan orang pertama yang membuka perkampungan


baik yang sekarang mau pun yang di sebrang. Saat itu jika seseorang berhasil membuka


perkampungan maka dia diangkat sebagai raja di kampung itu. Nenek moyang mereka adalah


yang membuka perkampungan tersebut, pemilik dari semua tanah yang ada di sana. Nenek


moyang mereka merupakan raja pada dahulu kalanya. Lama-lama berkembang dan penduduknya


juga bertambah banyak, tentu saja tanah-tanah tersebut kemudian dibagikan kepada anak-anaknya


secara turun temurun. Hingga sampai ke pada Opung mereka yakni Opung Pinayungan Baginda Mangaraja.


"Berarti awalnya semua penduduk kampung Martapotan dan sebrang sana itu adalah saudara ya?"


Mardo takjub mendengar penuturan sepupunya dan Inang.


"Iyaaa, kakak sih kerjanya hanya belajar dan menulis, tak tau asal muasal diri. Makanya Khairani


ajak pulang."


"Hemmm, makasih ya Khai, sudah membuat kakak tau keluarga dan asal muasal diri."


Khairani tersenyum.


"Makan! makan!, nenek sudah masak ini loh."


Tiba-tiba nenek datang dari dapur, wangi masakkan menyebar membuat berselera.


"Masak apa rupanya Nenek?"


"Pasti enak nih Nek!"


Mereka semua segera beranjak ke belakang. Di sana ada sebuah ruangan  berupa


sofa yang besar sekali, khusus di buat untuk memenuhi ruangan tersebut.


Ternyata Yulia bersama nenek sudah bekerja bahu membahu. Gadis tersebut


membawai masakkan yang sudah ditaro di wadah, lalu piring-piring, gelas serta buah pisang dan


pepaya yang baru saja di petik oleh ayah dari kebun di belakang.


"Ich rajin sekali Uli ya, anak gadis gitu loh."


Kak Kana memuji gadis remaja tersebut.


"Iya lah, kasihan Nenek, kalau Khairani kerjanya hanya berdandan saja bisanya."


"Diam kau Li! kupukul nanti mulutmu itu!"


Khairani mengancam.


"Weeeeee, memang kenyataannya. Nanti tak bisa masak, biar dimarahi suami."


Khairani menoleh dan membesarkan matanya.


"Jangan ikut kau ya, ke sebrang! awas aja kau Li?"


Inangggggggggg!


Menjerit lah gadis remaja itu sambil menghentak-hentak kakinya ke lantai.


"Aduh! yang payah kalian ini, sehari saja bersikap manis, tolong lah Nak."


Nenek juga berkomentar, tak senang kalau inang memarahi cucunya.


"Jangan kau marahi mereka, kau juga yang nakal dan bandel waktu seumuran itu."


Begitu selalu, nenek menengahi. Jadi lah Inang jarang marah sebab dibongkar nenek

__ADS_1


kelakuannya nanti, dan ketawa lah dunia. Mana tahan.


"Begitulah Mardo, kehidupan keluarga uda dan nangudamu, setiap hari ribut dan


bertengkar pepesan kosong."


Ayah Khairani biasanya datang jika sudah selesai pertengkaran, dan sudah damai. Kedatangannya


sudah tak diperlukan, Inang dan anak-anaknya sudah tak lagi memiliki perbendahaan kata-kata


untuk diucapkan, paling inang bergumam sebal, 'Ngomong tuh sama dinding.'


"Seru sekali Man,"


Sahut Mardo, tak memperpanjang kata.


Siang itu, nenek memasak ikan teri medan yang pedas sekali. Lalu daun singkong yang ditumbuk


halus, diberi bumbu seperti bawang merah, rimpang, dan sebuah rempah bernama kincung atau kecombrang jika


di Jawa. Daun ubi yang sudah ditumbuk tersebut kemudian di masukkan kedalam santan yang sudah


mendidih, dibubuhi pula teri medan atau ebi. Luar biasa enaknya, khas wangi buah kincung tersebut


Masakkan tangan itu ternyata lebih nikmat dibanding makanan instan di mall-mall. Menggunakan


rempah-rempah asli Indonesia. Sekali lagi makan siang yang nikmat dan berkesan rasa masakkannya.


********


Setelah Tania dan Kana pulang, Khairani menemui Azhar memberitahu perihal undangan itu.


"Boleh kami ikut kan."


Azhar memastikan.


"Iya boleh, makanya ini


memberitahu, kalau begitu besok pagi tunggu kami di depan kecamatan ya."


"Ok siap."


Esok paginya, Azhar dan Donny sudah


siap menunggu di depan kantor kecamatan. Donny beberapa kali


menoleh ke belakang tapi gadis-gadis itu belum jua muncul. Jangan-jangan tak


boleh sama pak Cik, ayah Khairani. Pikir Azhar, tapi mengingat sifar Khairani yang keras kepala


dan mesti dituruti kemauannya itu tak mungkin terjadi. Mereka mungkin hanya terlambat saja.


Setengah jam kemudian tiba-tiba berhenti beca mesin yang berisik di dekat. mobil. Ternyata Khairani, Mardo dan


Yulia.


Di kota kecil itu beroperasi beca mesin untuk hilir mudik penduduk keberbagai tempat. Selain ongkosnya


murah, juga cepat dan tepat waktu


Penduduk kota kecil itu sangat  menyukai beca mesin. Sebuah beca yang dimodifikasi dengan motor.


Kata penduduk kampung sejak jaman Belanda beca mesin seperti itu sudah ada. Untuk kegiatan patroli belanda.


Kenderaan lalu melaju menuju kampung tempat kak Tania serta kakak yang lainnya.


Rumah mereka berdekatan. Sehingga mudah sekali berkumpul. Tinggal berjalan sebentar dan mengetuk pintu. Bahkan kalau malas bisa berteriak memanggil. Kali ini karena memang sudah janjian


mereka sudah siap dan menunggu  kedatangan Khairani.


 "Kakak!"


Khairani berteriak turun dari


mobil.  Mereka senang sebab ada Donny. Laki-laki tampan dan seorang pengusaha muda di Medan.


Mereka berharap Mardo bisa berkelanjutan dengan Donny. Mereka bangga memiliki keluarga


pengusaha.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2