
Hello pembaca tercinta, setelah dipikir-pikir saya akan melanjutkan kisah Pria Idola Season Empat. Beberapa pembaca meminta untuk lanjut karena ada beberapa tokoh yang belum ketauan nasibnya. Sebelumnya melanjutkan kisahnya kilas balik dulu ya biar yang baru membaca tahu kisah sebelumnya.
Season I
Mengisahkan tentang pertemuan pertama Mardo dan Raka Bramantyo di Bandar Zepman Sorong Irian Jaya. Mardo dan keluarganya pindah ke sebuah kota yang dikelilingi oleh laut. Semula Mardo dan kakak lelakinya menentang kepindahan tersebut karena menyangka kota itu terpencil dan primitif. Ternyata dugaan mereka salah. Remaja kota Eksotik itu sangat hebat dan maju. Meski memang ada satu cewe asli yang tertatih-tatih mengikuti gaya pergaulan gadis-gadis pendatang.
Mardo berkenalan dengan gadis-gadis populer di kota itu, Betty Sapacua yang pintar menyanyi, dia pemenang lomba lagu pop sekota Eksotik. Anna Dianasari, si juara umum esema negeri puncak kapas, Zam-zam, Sarah Lee, serta Richi putra pengusaha kapal.
Pada beberapa kesempatan Mardo bertemu dengan Raka Bramantyo, mereka pernah bertabrakan di bandara dan juga pada saat Mangara di keroyok di sebuah Cafe, Raka membantu Mangara. Sikap Mardo yang memarahi kakak lelakinya serta perhatiannya yang besar membuat Raka jatuh cinta yang pertama. Ia mengejar-ngejar gadis belia itu kemana saja dia pergi.
Raka belum pernah jatuh cinta, padahal banyak gadis-gadis yang jatuh cinta padanya. Raka menjauhkan dirinya dari gadis-gadis yang tidak mengetarkan hatinya. Ia memiliki kata-kata yang selalu ia perdengarkan pada teman-temannya, 'Jangan pernah meninggalkan jejak dengan menyakiti hati satu orang pun perempuan, hanya satu cinta saja di hati.'
Populer, kaya raya, pintar bermain gitar serta tampan dan baik hati membuat gadis-gadis menjulukinya Pria Idola, mereka semua menunggu siapa gadis yang beruntung mendapatkan cinta Pria Idola. Gadis-gadis itu hesteris saat Raka mengumumkan cinta pertama dan ciuman pertamanya telah ia berikan pada gadis bernama Mardo Prameswari. Richi yang merupakan adik kandungnya mengamuk menghancurkan kamar dan gitar kesayanganya karena cemburu. Ia juga jatuh cinta yang pertama pada sahabatnya Mardo.
Bagaimana kisah cinta Mardo dan Raka silahkan baca Season pertama ya Bestie.
Season Dua.
Kisah pertemuan Rakasiwi dengan Prita Pujaningrum di stasiun Gambir. Keduanya bertabrakan mirip dengan cara Raka dan Mardo bertemu. Rakasiwi putra pertama Raka dan Mardo meskipun anak pertama tetapi sifatnya manja dan cengeng. Berbeda dengan Prita yang sejak kecil berjuang mati-matian untuk bisa bersekolah. Ia gadis yang tomboy, pemberani, dan sangat mandiri selain cantik dan menarik tentunya.
Kisah Rakasiwi dan Prita Pujaningrum dapat kalian ikuti di Pria Idola season dua.
Season tiga
Ini kisah putri kedua Raka dan Mardo Cindy Larasati Bramantyo, gadis cantik yang mirip Mardo jatuh cinta pada sahabat kakaknya Muhammad Alfredo. Hampir saja pernikahan mereka gagal sebab ulah Raffa yang jatuh cinta pada pimpinan perusahaan Pria Idola itu. Cindy Larasati pada usia yang muda telah dipercaya oleh ayahnya memimpin perusahaan mengantikan dirinya. Siapakah Raffa Ravanza? Cari tahu ya di season tiga.
__ADS_1
Lantas Season empat
Rencananya akan mengisahkan tentang Putri ketiga Raka dan Mardo yang bernama Tria Paramitha, gadis berkulit sawo matang seperti ayahnya. Manja, cengeng serta mudah terpengaruh. Siapakah cinta pertama Tria dan bagaimana kisah Tria, yuk ikuti kisahnya di Pria Idola season Empat.
Episode 314 Tidak Bisa membedakan
Kisah Tria Paramita putri cantik yang nomer tiga dari pasangan Raka dan Mardo dimulai saat ia masuk ke esempe. Sebelumnya gadis kecil itu telah berdiskusi dengan bundanya tentang kelanjutan sekolahnya.
"Bunda."
Panggil Tria saat melihat perempuan cantik itu sedang duduk menonton tivi di ruang tengah. Perempuan itu menolehi Tria yang terlihat resah.
"Ada apa putri cantik Bunda wajahnya begitu?" Gadis kecil itu lantas menghenyakkan tubuhnya dekat Mardo.
"Bunda! Ada nggak sih sekolah yang tidak ada belajar matematikanya?" Tanya Tria dengan suara pelan hampir tak terdengar. Mardo cemberut, ia tahu gadis kecilnya itu memang tidak suka matematika. Mardo melihat gadis kecilnya itu menyukai hal lain seperti membuat baju-baju dan mendandani boneka. Jika ia sedang asyik di kamar pertanda sedang membuat dan mereka-reka baju yang mungil untuk bonekanya.
"Aku tidak suka matematika Bun, membuat kepalaku pusing tujuh keliling."
"Itu karena putri bunda bilang tidak suka, coba dari sekarang ucapkan aku suka matematika, sangat menyenangkan belajar matematika."
"Ah Bunda begitu, aku mau tanya Ayah saja." Gadis kecil itu yang merasa jawaban bundanya tak sesuai keinginan ia meninggalkan Mardo. Berlari ke depan mencari ayahnya. Jawaban bunda tidak memuaskan, ia ingin ayah mencarikan ia sekolah yang tidak ada pelajaran matematikanya.
"Ayah!" Tria mendapati ayahnya yang sedang membaca buku sambil menikmati hembusan angin dari taman.
"Eh Putri cantik ayah, ada apa nih kok merajuk begitu."
__ADS_1
"Ayah, apakah ada sekolah yang tidak belajar matematika? Aku tidak suka belajar matematika, tolonglah putri ayah ini." Gadis kecil itu bersungut-sungut di dekat ayahnya. Raka menaro bukunya dan memeluk bahu gadis kecil itu.
"Kita harus mencarinya, memangnya kenapa putri ayah yang cantik ini tidak suka matematika?"
"Aku tidak bisa Yah, membuat kepalaku pusing."
"Semuanya tidak bisa pada awalnya, makanya nanti ada guru yang mengajari matematika hingga bisa." Raka pelan-pelan menjelaskan pada Tria, bahwa matematika itu sangat penting. Bahkan untuk membuat baju-baju perlu diukur terlebih dahulu.
"Seseorang tidak bisa karena belum belajar. Kalau bapak dan ibu guru sudah mengajari pasti bisa, ayah yakin." Gadis itu hanya mangut-mangut mendengar kata-kata ayahnya.
"Jadi tidak ada sekolah yang kuinginkan itu Yah? Hemmm lihat saja nanti aku akan membuat sekolah yang tidak ada belajar matematikanya."
Raka geleng-geleng kepala oleh ketakutan putrinya pada pelajaran matematika. "Ini kayaknya keturunan bundanya deh yang juga tidak menyukai matematika, soalnya Ayah jago matematika." Raka menoleh pada Mardo yang masih mendengarkan tausiah di tivi. Perempuan itu balas menolehi suaminya. Ia memang tidak menyukai matematika tetapi Papi memaksanya masuk ipa, ia toh bisa mendapat nilai bagus karena tekun.
Sering sekali Tria seperti itu uring-uringan dengan pelajaran matematika. Ayah Raka sudah menasehatinya agar merubah mindset dari menyebalkan menjadi menyenangkan. Gadis kecil itu pun mematuhi ayahnya ia berusaha menyukai matematika.
Hingga suatu hari gadis kecil itu berlari-lari pulang dari sekolah, wajahnya berbinar-binar ceria. "Bunda-bunda coba lihat nilai matematikaku, semua anak-anak nilainya seperti ini Bun, berarti aku lebih tinggi dari nilai mereka iya kan?"
Mardo menerima kertas ulangan gadis kecilnya dan ia melihat nilai setengah di sana, satu strip dua. Kening perempuan itu berkerut. "Ini lebih tinggi dari teman-temanmu?"
"Iya Bun." Jawab Tria masih sumringah.
"Memangnya berapa nilai teman-temanmu itu?" Balas Mardo menatap Tria.
"Satu!" Jawab Tria tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Guprak, ingin ketawa takut Tria patah hati dan kecewa. Saat Mardo menceritakan hal ini pada Raka di tempat tidur pada malam harinya, laki-laki itu tertawa terpingkal-pingkal.
Bersambung