
Sementara Alan masih bersantai di depan rumahnya. Ia menatapi bunga-bunga tanaman segar yang cantik. Musim bunga di mana-mana membuat mama Alan tak mau ketinggalan. Halaman mungil di depan rumahnya sedikit demi sedikit bertambah dengan bunga-bunga baru. Mama Alan pandai menata halaman sehingga taman kecil itu terlihat indah dan menyenangkan. Beberapa bunga yang ditanami merupakan yang sedang populer. Teras dengan meja serta dua kursi dan sofa pada sudut-sudutnya di hiasi bunga monstera memberi kesan tropical yang segar. Jenis monstera yang paling terkenal adalah janda bolong, tanaman itu harganya menurut mama ratusan ribu hingga jutaan.
Tanaman kesayangan mama Alan berikutnya alocasia sejenis tanaman hias tropis yang masih berkerabat dengan keladi. Harganya juga bervariasi mulai dari tiga puluh ribu hingga ratusan ribu. Di halaman tak jauh dari teras pada sebuah pot yang besar telah beranak pinak tanaman hias yang berdaun besar, berkilau berbentuk hati, bercorak merah di bagian bawah, masih sejenis dengan keladi, kata mama namanya homalomena, julukannya ratu hati.
Alan bisa tau nama-nama tanaman hias itu sebab, ia ikut mengantar mamanya ke toko bunga dan menemaninya memilih-milih. Diatas meja mama juga meletakkan pot bunga dengan tanaman sansevieria atau lidah mertua. Cantik juga dan tak bosan memandangnya. Selebihnya sudut-sudut taman bergerumbul bunga keladi hias berwarna pink, kemerahan serta putih. Sungguh bunga-bunga hias itu memberi kesan adem, tenang dan manis. Membuat lupa waktu.
"Lan, Alan! kamu masih di sini? mama pikir sudah berangkat, katanya mau ketemu Rakasiwi dan Edo."
Alan menolehi mamanya dan tersenyum.
"Iya Ma, sebentar lagi. Asyik mandangin bunga-bunga Mama, sudah bertumbuh bagus Ma."
"Iya dong, Mama setiap pagi dan sore rajin menyirami kok."
"Hebat Mama, di sela kesibukkan masih sempat berkebun, top markotop."
"Mama perlu keseimbangan Lan, kalau mikir bisnis terus bisa stres."
"Iya betul Ma. Jangan sampai Mama kelelahan dan sakit ya Ma."
Alan menatap sayang pada perempuan yang masih menyisakan kecantikkan masa remajanya.
"Baiklah, tapi sebaiknya kamu berangakt Nak, temanmu sudah menunggu, tak baik membuat orang menunggu."
Alan tersenyum, ia merasa malas, sebab setiap kali bertemu Rakasiwi ia merasa kecil. Mamanya tahu hal tersebut. Dan berulang kali ia menasehati putra sulungnya itu tidak perlu merasa iri serta dengki pada keberuntungan teman. Semua memiliki takdirnya masing-masing. Juga tak perlu berkecil hati, sebab Rakasiwi memiliki segalanya sementara dirinya hanya orang biasa saja.
Mama tidak tahu, sakit sekali hati Alan setiap kali ia melihat keadaan Rakasiwi. Tidak pernah kesulitan di dalam kehidupannya. Sementara dirinya untuk membayar semesteran saja selalu yang paling terakhir. Menjelang saat-saat penutupan. Sering sekali berdebar putus sekolah atau lanjut. Untunglah Mama seorang perempuan yang rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan Alan dan adik-adiknya. Mama yang tekun pantang menyerah, ingin semua anak-anaknya berhasil dan sukses. Mama bekerja siang dan malam demi anak-anaknya.
Alan tersenyum getir, pertemuan-pertemuan mereka selama ini selalu di biayai Rakasiwi. Ia dan Edo hanya datang untuk mengobrol dan menghabiskan makanan. Uang Rakasiwi tak habis-habis meski sudah dibelikan apa saja. Dia tak pernah merasakan tak punya uang. Alan terobsesi seperti Rakasiwi bahkan melebihinya. Ia bekerja sepulang kuliah untuk mengumpulkan uang. Alan lebih suka menghilang dan menggunakan waktunya untuk bekerja.
"Ma, pinjam mobil ya, Mama nggak pergi kan?"
Alan menolehi Mamanya yang sedang beranjak ke taman bunganya.
__ADS_1
"Pakai saja Nak, Mama hari ini di rumah saja."
"Makasih Ma."
Alan mengambil kunci mobil lalu pamit pada Mama.
"Hati-hati di jalan ya Nak."
"Iya Ma."
Sementara Rakasiwi dan Edo sedang mengobrol sambil meminum kopi susu.
"Kenapa dia belum datang juga?"
"Biasa, dia kan memang selalu telat."
"Hei, kalian ngomongin aku ya!"
Alan memasuki ruangan tergopoh-gopoh, dia menyembunyikan senyumnya.
,
"Ini sudah jam sepuluh!"
Rakasiwi dan Edo sama berteriak.
"Perjalanannya di hitung dong, aku berangkat sih tadi jam sembilan kurang."
"Sudahlah, yang penting kamu sudah sampai di sini, pesan minum dulu sa dan ja."
Rakasiwi memanggil pelayan dan menyuruhnya melayani Alan. Pria muda itu mencongreng nama sebuah minuman dan makanan kesukaannya. Selanjutnya mereka bertiga asyik berbincang. Rakasiwi menawarkan kedua temannya untuk membuka usaha baru, mereka bertiga sebagai pemiliknya. Rakasiwi menyilahkan Edo dan Alan sekiranya ada ide.
Edo bilang ia ingin fokus menyelesaikan studynya yang tinggak selangkah lagi. Begitu juga Alan. Rakasiwi bilang usaha itu tentu saja untuk mereka setelah lulus. Jangan sampai study kacau sebab bisnis dan uang. Tinggal selangkah lagi maka mereka bisa fokus berbisnis.
"Kalian pikirkan saja usaha apa. Aku akan membantu semampuku."
"Siap Bos."
"Siap kakak Ipar."
__ADS_1
Alan menolehi Edo, "Kayak yang udah nikah aja Lo sama Cindy, kakak ipar!"
Edo cengir kuda, kebiasaan anak itu.
"Apa yang kita ucapkan adalah doa, bukan begitu kakak ipar?"
Rakasiwi tak menjawab, ia sibuk menulis pesan untuk Priti, mereka janjian makan malam. Apakah Priti sudah pulang atau masih di kantor. Setelah itu barulah Rakasiwi menatap Edo dan Alan.
"Apaan sih? Edo, Cindy ama Lu itu hanya cinta monyet, tau kan cinta monyet?"
Edo terhenyak, ia tidak berpikir seperti itu.
"Nggak kok, kita udah jadian. Cinta benaran."
"Ha ha ha, ya udah semoga menjadi adik iparku, ok kalian mau ke rumahku yu, pasti bunda masak banyak."
Edo gugup dan kalut, kalau Rakasiwi tak mendukungnya bisa runyam urusan.
"Yup kakak Ipar, aku mau ketemuan Cindy."
"Ayolah, dan kamu Lan? mau ikut."
Alan menggeleng, "Nanti aku hanya menjadi kambing congek bagi dia dan Cindy, ogah banget."
"Makanya cari pacar Bro, Kakak ipar udah punya Prita, aku dan Cindy, tinggal lu aja Bro."
Alan meledek dan memanasi.
"Tenang aja, tunggu tanggal mainnya."
"Main apa? film kali coming soon ha ha ha."
Alan hanya tersenyum getir. Begitulah derita jomblo.
Mereka bertiga menghabiskan waktu hingga senja tiba, setelah itu mereka pulang. Ketiganya kebetulan bersamaan kembali ke kampus masing-masing yang berada di luar kota.
__ADS_1
Bersambung