Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 71.Mardo, Raka Dan Donny


__ADS_3

Mardo menghapus air matanya. Kejadian itu terjadi belum lama. Donny mengakui


dan akan bertanggung jawab.


Plak!


Khairani menampar Donny sekuat tenaga, ketika malam itu Donny bicara padanya.


Sementara Mardo membisu dan sesekali air matanya bersimbah.


"Kenapa bang Donny melakukan hal itu? jahat! jahat sekali! aku tak menduga


sedikit pun!"


"A-aku mengaku salah!, aku khilap. Aku menyukai Mardo Khai! aku akan menikahinya.


Urus saja acara pernikahannya. Kami akan menikah dengan upacara adat yang meriah dan


besar-besaran."


Donny bersungguh-sungguh. Ia bertanggung jawab dan akan menikahi Mardo dengan


segera. Ia akan ikut ke Jakarta dan langsung melamar Mardo. Pria itu berusaha


meyakinkan Khairani.


Khairani terdiam. Memang kejadian itu  hanya diketahui mereka bertiga.


Gadis itu berusaha bicara dan membujuk Mardo.


Namun gadis itu tidak menjawab apa dan tidak juga menolak.


Hingga mereka kembali ke Jakarta. Donny dan Azhar mengantar kedua gadis itu


ke bandara Kuala Namu. Berempat bersama ke Jakarta.


Hari pertama, Mardo tak mengijinkan Donny datang, juga pada hari yang kedua.


Barulah pada hari yang ketiga saat Khairani mulai jengkel dengan sikap sepupunya


yang tidak punya tujuan dan keputusan.


Tentu saja Papi dan Mami agak kaget. Tetapi mereka senang karena ada seorang


pria yang serius meminang gadis mereka. Papi dan Mami memanggil Mardo dan


menanyakan tentang permintaan Donny.


"Papi dan Mami tergantung pada Mardo Nak Donny."


"Kalau Mardo ok, ya Papi dan Mami tentu ok juga."


Semua menatap pada Mardo? dan gadis itu membuang wajahnya.


"S-sekarang aku belum bisa memutuskannya!"


Dan Mardo berlari ke kamarnya.


Donny bertahan di Jakarta menunggu kepastian dari Mardo.


"Kak!, Om menelpun tadi, aku bilang kakak sedang tidur."


Mardo bangkit dari tempat tidur dan beranjak pergi mengambil


air minum. Ia memikirkan sesuatu.


'Apakah ia akan hamil?'


Kenapa ia tidak merasakan sakit? pada bagian bawahnya.


Mardo memikirkan sesuatu, 'kata mereka rasanya sangat sakit, bahkan


setelahnya.'


Tapi dia tidak! Mardo serta merta menyambar tasnya.


"Khai, kakak pulang!"


Mardo melesat ke mobilnya. Ia akan melakukan sesuatu.


Raka menghirup minumannya, pikirannya melayang entah


kemana?  Ia belum menemukan keberadaan gadis yang baru


saja ia temukan. Ada apa? kenapa Mardo lari dan menangis?


Ketika ia bertemu Papi dan Mami tidak ada pembicaraan


apa pun selain mereka senang bertemu kembali. Keduanya ingin


bertemu orang tua Raka.

__ADS_1


"Mungkin aku terlalu cepat, aku membuatnya terkejut."


Raka menaro gelasnya dan memutar-mutar sebentar.


Atau, telah ada pria lain?


Raka menggigit bibirnya hingga biru.


Bisa jadi dia sudah menikah? atau akan menikah?


Dia mondar-mandir di dalam ruangan itu. Berbagai kemungkinan


yang sekiranya cocok dengan keadaan Mardo saat ini.


"Jika Ia telah menikah!"


Raka membisu, menggigit bibir dan memasukkan jemarinya


kedalam saku celana.


Ia lantas mendongakkan kepala dan meremas kepalanya.


Kalau dia sudah menikah alamat bujangan seumur hidup.


Raka tersenyum tipis. Ia berusaha menghalau pikiran


yang menyakitkan itu.


"Apa yang terjadi? kami melihatmu kebingungan dari tadi?"


Denny dan Sammy.


"Apa kau memerlukan kecerdasanku?"


Sammy tersenyum, berusaha menghibur sahabatnya.


"Aku baru saja menemukan dua ratus jenis rasa kopi, diurutkan


berdasarkan kepahitannya serta tambahannya."


"Tapi kau belum menemukan nama untuk dua ratus jenis kopi tersebut.


Kau harus menyelesaikannya besok."


Dua laki-laki itu berdebat lucu di depan Raka.


"Mengenai pernikahan? bagaimana perkembangannya?"


Deni Melirik pria yang masih mengembara pikirannya tersebut.


memiliki pekerjaan yang tidak kalah penting dan bertanggung jawab. Sebelum hari itu


tiba, aku akan membuat pesta bujangan. Aku berencana meminta waktu untuk


mencari gedung. Aku sudah merencanakan membuat pesta bujangan di salah


satu gedung yang nanti akan kulihat."


"Berbicara mengenai perkawinan, Sammy nanti akan berpidato, sedikit menyangkut


kisah percintaan kalian berdua. Kalian bertabrakan di koridor bandara, Dia mengacuhkan


mu namun begitu kau terus mengejarnya hingga akhirnya cinta kalian menang. Bagaimana


Sam, kau sudah menghapalkannya di luar kepala?"


"Masih kuusahakan." Jawab Sammy penuh rahasia.


"Kau Den, sebaiknya mulai membooking gedungnya, bertingkah yang baik


agar kita tidak dicekal dan mendapat masalah, karena mungkin aku atau kau memerlukan


juga gedung tersebut untukmu menikah."


"Cukup membahas mengenai perkawaninan!"


Raka setengah berteriak, "Kalian ini! tidak lucu tau!"


"Kalau sampai aku tidak menikah dengan Mardo, maka aku akan


bujangan seumur hidupku, dan kalian juga!"


"Mana bisa seperti itu, jika kau tak menikah tahun ini, makan giliran Deni


yang menikah."


"Kau yang duluan menikah Sammy, aku sudah bilang baru menikah umur


empat puluh tahun, kau ingat tidak?"


"Kalian membuatku pusing!"

__ADS_1


Raka meraih kunci mobilnya dan pergi dengan membanting pintu.


Kedua temannya hanya menutup kuping.


"Sepertinya Raka dalam masalah!"


"Dia hanya mengenal satu perempuan sih."


"Itulah Raka."


"Bagaimana kalau dia membujang seumur hidupnya?"


"Biar saja, bukan urusan kita, kita tetap menikah."


"Hidup menikah!"


"Mardo katakan kamu di mana? kenapa kamu pergi?"


Raka memutuskan ke kantor Mardo. Ia memarkir mobilnya


dan beranjak masuk. Beberapa perempuan melirik dan mengamatinya


yang begitu ghentle dan tampan. Tubuh tinggi itu memasuki kantor


penerbitan yang berada di tepi jalan besar.


Pak satpam menyilahkannya duduk, hemmm ada dua anak muda yang


mencari ibu Mardo. Keduanya keren dan ganteng.


Pak satpam menduga-duga, begitu juga beberapa pegawai perempuan.


Apa keduanya penulis novel?


Atau pacar ibu Mardo?


Semua bertanya-tanya, dan penasaran. Donny sudah beberapa kali


ke kantor itu. Begitu juga Raka.


Donny mengangkat kepalanya saat Raka datang ke ruang tamu tersebut.


Raka tersenyum tipis. Ia sedang malas bicara.


Sementara Donny mengawasi laki-laki di depannya.


Teringat kata-kata Mardo di lembah biru, "Sudah ada seseorang


di hatiku!"


Apakah pria ini? Oh, dia memang tampan dan keren.


Raka mengangkat wajahnya, sesaat bertemu pandang, Donny buru-buru


menoleh ke samping.


Raka gantian mengawasi laki-laki itu.


'Apa dia menuggu Mardo? siapa dia? apakah yang membuat Mardo lari


meninggalkannya saat di pantai?


Raka menghela napas. Ia merasa pria itu lumayan tampan dan mempesona.


Hingga seorang karyawan menghampiri mereka dan menanyakan mau


minum apa?


Raka menggeleng, dan langsung menanyakana apa bisa mereka menghubungi


Mardo?


Dijawab, telepon ibu Mardo sejak kemarin tak aktif.


Raka menimbang-nimbang apakah ia menunggu bersama


laki-laki yang mencurigakan itu?


Raka menatap jamnya, lalu berdiri dan pergi. Ia ada pertemuan bisnis


hari ini. Raka tidak memperdulikan pria yang masih duduk menunggu


di ruang tamu itu. Jika memang harus bertemu dengan Mardo, maka


itu akan terjadi. Itulah keyakinan yang mantap dan  menenangkan hatinya.


Dengan langkah-langkah tegap ia meninggalkan gedung penerbitan


milik Mardo.


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2