
Terlihat keempat orang itu asyik membahas sesuatu. Kadang terlihat serius, santai dan tertawa. Sesekali Prita mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu ia bawa. Hingga akhirnya mereka menuntaskan perbincangan tersebut dengan saling bersalaman dan berpisah. Prita dan Rakasiwi lebih awal meninggalkan restoran, tak lama Boy serta Melani juga keluar dari restoran tersebut. Boy senang sekali ia sekarang memiliki teman rasa saudara. Prita dan Rakasiwi telah ia anggap sahabat dekat saudara. Ia tak meragukan pasangan itu. Ia seratus persen mempercayai Prita dan juga Rakasiwi, ia merasa nyaman dan aman bersama keduanya. Senyumnya mengembang bahkan saa ia tertidur.
Esok paginya Prita meninjau sebuah gedung yang ditunjuk oleh Boy sebagai tempat resepsi pernikahan. Gedung yang merupakan bagian dari perusahaan. Lebih tepatnya sebuah aula disisi gedung kantor mereka. Boy bilang resepsinya tidak akan di lakukan di hotel atau restoran melainkan di aula perusahaan. Tempatnya bagus serta bisa menampung seribu lebih orang. Aula berlantai tiga itu tepat berada di sisi perkantoran. Sangat strategis dan mudah didatangi oleh tamu.
Aula itu selama ini memang sering disewakan, Untuk berbagai acara. Lebih seringnya dipakai untuk wisuda. Ada dua kampus yang letaknya tak jauh dari perusahaan. Kampus itulah yang bergantian menyewanya. Kadang ada senam bersama yang di koordinir perusahaan. Karyawan-karyawan dari berbagai perusahaan tetangga boleh ikutan senam bersama di aula tersebut.
Prita mendapat tugas untuk membuat aula tersebut menjadi tempat resepsi pernikahan Boy dan Melani. Ia dan beberapa orang tengah mereka-reka tentang di manakah letak pelaminan? yang merupakan sentral dari acara. Prita berdiskusi dan akhirnya ia mengangguk-anggukkan kepala pertanda setuju, pelaminan akan dibuat di bagian depan. Kursi-kursi di kiri dan kanan serta hamparan karpet merah bertabur bunga mawar di tengah. Hari itu Prita mengurus aula menjadi tempat resepsi yang megah dan menyenangkan. Prita tak melupakan tempat bagi keluarga adalah yang ternyaman.
Sedangkan untuk makanan minuman dan pernak-perniknya Rakasiwi telah menyanggupi. Ia akan mengerahkan karyawannya untuk membuat menu istimewa tak terlupakan ala pria idola untuk resepsi pernikahan Boy dan Melani. Agak gila juga Boy, mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang singkat. Padahal mencari vendor dekorasi, penata rias, fotografi dan vidiografi. Belum lagi busana untuk pengantin untuk pria dan wanita. MC dan entertainment, souvenir dan kartu undangan. Memang sekarang undangan bisa saja melalui media seperti whatsapp, tetap ada beberapa yang harus mengunakan kartu undangan. Terutama untuk family dekat serta klien perusahaan.
Sementara Boy dan Melani mengurus hal-hal khusus seperti mempersiapkan dokumen yang diperlukan saat akad nikah. Memesan tiket pesawat untuk bulan madu ke Bali. Serta hal-hal kecil lainnya mendatangi family dan mengharapkan doa para sesepuh. Juga memeriksa kesehatan dan memulai perawatan.
Baju pengantin, Prita merekomendasikan sebuah toko yang dulu pernah ia dan Rakasiwi temui. Boy dan Melani pergi kesana mencari baju pengantin yang telah jadi. Tetapi mereka tak mendapatkan yang sesuai. Pada akhirnya mereka menyerahkan pada Prita untuk mencari paket riasan sekaligus pakaiannya.
Seminggu menjelang harinya Prita memeriksa kembali persiapan yang telah ia lakukan. Ia cheklist gedung tempat resepsi ok, semua undangan telah mendapatkan pemberitahuan atau undangan, catering ok, paket wedding organizer ok, souvenir ok, seragam untuk panitia, gadis penari pembuka acara, seragam untuk keluarga. Alhamdulillah Prita mengucapkan syukur, ia telah melaksanakan tugas yang diberikan oleh Boy dan Melani. Sekaligus ia juga sekalian memilih dan memesan untuk pernikahannya yang tinggal dua bulan lagi. Tidak terasa waktu cepat sekali berjalan.
Rakasiwi dan team pria idola juga telah siap dengan penyediaan makanan dan minuman serta pernak-perniknya. Beberapa kali mereka meeting untuk kesiapan tersebut. Cafe terpaksa tutup demi pesta resepsi pernikahan Boy dan melani. Sesekali ia dan Prita bertemu. Keduanya berpelukkan erat setelah melaksanakan tugas. Seluruh kelelahan dan rasa lelah menguap oleh pelukkan.
__ADS_1
Hingga akhirnya pernikahan Boy dan Melani terlaksana. Akad nikah berjalan lancar di sebuah mesjid tak jauh dari aula tempat acara.
"Bagaimana hadirin sah?"
"Sah!"
Terdengar suara sahutan dari seluruh keluarga dan sahabat yang ikut menyaksikan akad nikah. Selanjutnya pengantin mendapatkan nasehat pernikahan dari ustaz kondang, dari orang tua serta sesepuh. Setelah selesai persiapan ke tempat resepsi. Tamu-tamu telah menunggu dengan pakaian mereka yang terbaik. Kedatangan kedua mempelai disambut oleh tarian serta musik ceria. Mempelai diiringi oleh orang tua serta keluarga dekat. Prita dan Rakasiwi memeriksa semua hidangan, minuman, buah serta dekorasi yang penuh dengan bunga.
MC cukup piawai mengiring undangan pada suasana yang ceria dan bahagia. Musik mengalun lembut dan menyelusup. Satu demi satu acara di lalui. Sesi foto bersama keluarga, orang tua, teman dan karyawan dari kedua belah pihak. Tak lupa Boy memanggil secara khusus Rakasiwi dan Prita yang telah mempersiapkan pesta pernikahannya dengan tulus dan sepenuh hati. Sehingga pesta itu menjadi sangat elagan, berkesan dan menyentuh. Mereka berempat berpelukkan erat kemudian membuat foto-foto dengan berbagai gaya. Rakasiwi terlihat bebas dan lepas. Begitu juga Prita. Lega sekali, bahagia tak terkatakan.
Hingga mereka tertegun oleh kedatangan Riri yang membawa bunga mawar, ia menghampiri Boy menyalami dan memeluk serta mencium pipi. Air mata Riri mengalir deras diantara senyumannya.
Melani hanya terbengong oleh pemandangan itu. Tetapi ia berusaha memaklumi. Boy menjabat tangan mantan kekasih sekaligus sahabat masa kecilnya.
"Aku berdoa kau menemukan kebahagianmu suatu waktu."
Riri tersenyum dan mengangguk-anggukkkan kepala, lalu ia beralih pada Melani. Menyalami dan juga memeluk tubuh Melani erat.
"Kau beruntung memilikinya, jagalah dan cintai dia sepenuh hatimu."
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan, Melani tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih."
Guman Melani.
Setelah itu Riri turun dari pelaminan dan menghilang diantara undangan. Ia segera pergi setelah mengucapkan selama pada Boy dan Riri. Ia memutuskan meninggalkan kota itu di hati pernikahan Boy. Ia telah membawa barang-barangnya ke sebuah kota kecil jauh dari kenanngannya bersama Boy.
Kedatangan Riri sempat mengoncangkan hati Boy, sentuhan Riri di jemarinya dan kecupan di pipinya membuatnya bagai melayang. Air mata gadis yang sangat ia cintai itu mengiris-ngiris dirinya. Ia sempat terdiam seribu bahasa. Ternyata sangat besar pengaruh kedatangan Riri terhadapnya. Meski ia berusaha menepiskannya tetapi tak bisa. Bayangan mata yang penuh linangan air, senyum yang terluka melekat kuat di pikiran Boy. Suasana hatinya berubah.
Boy marah, siapa yang mengundang perempuan itu? dia tak menginginkan Riri hadir, hanya membuat kekacauan saja. Laki-laki itu terlihat geram.
"Sayang, tenanglah. Ia hanya datang untuk mengucapkan selamat kepada kita."
Melani dengan lembut menggamit jemarinya dan menggenggamnya erat. Lama-kelamaan Boy menjadi tenang dan bibirnya kembali tersenyum.
__ADS_1
Bersambung