
Assalamualaikum, hello teman-teman semua
maaf ya, belum feedback nih, othor sedang sibuk sekali, sampai tidak up date kemarin.
semoga saling dukung dan bacanya terus berjalan ya. Terima kasih banget sudah selalu
mampir, vote dan like. Othor sangat berterima kasih.
Sementara Prita dan Rakasiwi sedang menata masa depan mereka berdua nun jauh
di sana, ok kita ikuti dulu ya kisah Yunna, sahabat dekat Prita.
Yuk Cikidot!!!
Pagi-pagi sekali Yunna sudah membereskan barang-barangnya. Ia tak ingin berlama-lama
berdua dengan laki-laki suaminya. Sikap Jae yang dingin serta tak mengabulkan permintaan
dirinya kemarin siang membuat sikap gadis itu menjadi menutup dirinya. Jae tak perduli
ia melakukan aktifitas seolah-olah tidak ada Yunna di dekatnya.
Yunna ingin menulis pesan pada Prita dan Elsa, ia ingin menceritakan bahwa bayangannya
tentang pernikahan sangat berbeda. Ayah Jae yang menjelang pernikahan sangat baik dan
perhatian padanya sekarang telah berubah. Hanya ingin pernikahannya saja!.
Semula saat Ayah Jae datang menemui orang tuanya. Sempat ada gerumit-gerumit kecil
di belakang. Ibunya tak menyukai ayah Jae.
"Yunna, apa tidak ada laki-laki lain? I-ibu kurang suka!"
"Ibu, memangnya kenapa? yang penting pria ini bertanggung jawab dan mencintai Yunna. Laki-laki
yang berdatangan dan mengajak Yunna berhubungan serius tidak ada yang cocok Bu."
Ibunya terdiam, tetap saja ia kurang suka. Tak lama ayahnya menyusul mereka ke belakang
dan ayahnya juga tak menyetujui jika Yunna menikahi pria yang seusia dengannya.
"Yunna, ayah dan ibu hanya ingin kau bahagia, bukan karena harta Nak! pertimbangkan lagi!."
Gadis itu meyakinkan ayah dan ibunya bahwa saat ini hanya pria ini yang bisa mmbuatnya
bahagia. Ia ingin membantu kedua orang tuanya. Tak ingin ayah selamanya menjadi
kuli bangunan. Dan ibu sampai mencuci dan menyetrika miliki orang lain, untuk tambahan
keuangan mereka.
Agak lama mereka meninggalkan Ayah Jae di ruang tamu sendirian. Ayah keberatan
menemui dan menemani laki-laki itu. Ia beralasan ada janji dengan seseorang.
Yunna sampai mencekal tangan ayahnya agar jangan seperti itu. Setengah menarik
ayahnya agar berbincang-bincang dengan Jaelani atau ayah Jae di ruang tamu.
Laki-laki ayahnya terpaksa bersungut-sungut serta memaksakan senyum. Penolakkan
orang tua Yunna membuat Ayah Jae berusaha keras mengambil hati.
Saat pulang, ia memberikan ibu Yunna amplop berisi uang untuk membelikan anak-anaknya
handphone, sebab ayah Jae mendengar adik-adik Yunna berebutan handphone. Uang lima
juta tersebut, sedikit mencairkan hati ibu Yunna. Saat kedatangan berikutnya Ayah Jae
membopong sendiri sebuah sepeda untuk adik Yunna. Sepeda yang membuat adik-adik
Yunna terpesona dan terkesan. Mereka sangat senang.
"Om, ini sepeda buat saya?"
"Oh iya tentu saja untukmu, tetapi saudara-saudaramu sesekali boleh juga meminjamnya
ok?"
__ADS_1
"Terima kasih ya Om."
Laki-laki itu hanya melebarkan bibirnya dan mengangguk-angguk.
Selama sebulan Ayah Jae, menarik perhatian ayah, ibu dan adik-adik
Yunna dengan hadiah serta oleh-oleh. Sebuah hal yang membuat
sikap ayah, serta ibu mulai berubah. Keduanya mulai tersenyum dan
senang setiap kali ayah Jae datang. Oleh-oleh martabak manis, kadang
pisang goreng serta roti bakar membuat ayah senang berlama-lama
menemani laki-laki itu.
Hingga berikutnya saat ia sudah masuk kedalam keluarga itu, Jae mengutarakan
maksudnya yaitu melamar Yunna. Meski ayah dan ibu sudah mengetahui sejak awal
kedatangan laki-laki itu. Toh saat Ayah Jae melamar anak mereka, keduanya
seperti tersambar petir, panik dan saling pandang memandang.
"Maaf, ka-kami harus menanyakan pada Yunna dulu ya."
Ayah dan ibunya bergegas masuk ke dalam sambil memanggil Yunna.
Mereka mengajak Yunna ke ruang tamu dan kemudian menanyai
gadis itu di depan ayah Jae, apakah mau menerima lamaran ayah Jae?
dan Yunna menjawab bahwa ia mau.
Ayah Jae, tersenyum. Ia melihat mobil mewah miliknya dan memberikannya
pada ayah Yunna sebagai rasa gembiranya. Laki-laki itu dan istrinya kembali
saling memandang. Rasanya seperti mimpi, mereka tiba-tiba memiliki mobil
mewah. Laki-laki itu juga melihat-lihat rumah kumuh mereka dan menaksir
"Bapak, apakah seratus juta cukup untuk mempercantik rumah ini?"
Kembali laki-laki ayah Yunna berpandangan dengan istrinya, "Oh sa-saya
pikir cukup."
Ayah Jae membuka tas berwarna hitamnya dan meletakkan amplop tebal
yang berisi uang seratus juta.
"Terima kasih, terima kasih."
Saat pernikahan rumah orang tua Yunna telah berubah menjadi cantik dan
terlihat bersih. Ayah Yunna dan Ayah Jae seperti menjadi sahabat. Keduanya
mengobrol berlama-lama, minum kopi dan bermain catur.
Laki-laki itu tersenyum sinis, apa yang tidak bisa dibeli dengan uang ha ha ha!
ia mentertawai keluarga Yunna. Mereka sekarang sudah seperti kerbau dicucuk
hidung. Apa saja yang ia inginkan dari keluarga itu dengan mudah ia dapat. Hanya
dengan memberi sedikit hadiah-hadiah.
Bahkan saat ia meminta Yunna untuk menjadi istrinya. Kedua orang tua Yunna
langsung menganggukkan kepala. Mereka akan menyiapkan anak gadis mereka
untuk dinikahi pria itu.
Ha ha ha! Jaelani terbahak-bahak oleh apa yang ia lakukan. Ia puas! Ia merasa
sangat senang. Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Yunna engkau sekarang
akan berada dalam kekuasaanku, budakku ha ha ha!
__ADS_1
"Dengan kau berada bersamaku, teman cantikmu itu akan sering datang
berkunjung, satu waktu aku akan mendapatkan juga si cantik Prita ha ha ha!"
Bahkan Jin takut mendengar suara tawa itu. Serta pikiran jahat yang ada
di kepala laki-laki itu.
Ia menjadikan Yunna istrinya hanya kedok belaka untuk mendapatkan Prita.
Tidak ada cara lain selain menjadikan salah satu diantara persahabatan itu
miliknya. Dengan Yunna berada bersamanya, harapan laki-laki itu ia bisa
memiliki kesempatan bertemu dengan Prita.
Cinta Ayah Jae pada Prita tak mudah ia singkirkan begitu saja. Cinta pertamanya
bahkan cinta sejatinya. Ada rasa geram saat melihat gadis itu bersama seorang
laki-laki muda yang ganteng dan berkharisma. Siapa laki-laki itu? menjadi pikiran
di kepalanya.
Prita adalah miliknya, ia tak akan membiarkan perempuan yang ia cintai diambil
oleh laki-laki lain seperti yang terjadi beberapa belas tahun yang lalu. Ia tak
akan biarkan hatinya terluka lagi.
***
Yunna melangkah keluar menyeret kopernya, tetapi sebelum ia sempat keluar
sebuah suara keras mengejutkannya.
"Kau mau kemana?"
Laki-laki itu menatapnya tajam, dan suaranya keras.
"Pulang!"
Sentak Yunna.
"Pulang kemana? aku belum menyuruhmu untuk pulang! taro kembali koper itu, kita
akan berada di hotel ini selama seminggu, di sini kita menghabiskan bulan madu kita."
Laki-laki itu menarik kopernya dan membuangnya ke dinding hingga terdengar suara
berdebum. Selanjutnya dengan kasar ia menarik Yunna ke pelukkannya, menarik
resluiting baju gadis itu hingga baju itu meluncur ke bawah, membuka pengait dalaman
hingga Yunna terkejut dan menutup dadanya dengan tangannya.
"Kau harus secepatnya memberikan aku seorang putra!"
Bisiknya mengerikan di telinga Yunna. Laki-laki itu menciumi pundak yang terbuka
dengan cepat dan berpindah-pindah. Jemarinya yang penuh otot meraup keras
milik Yunna yang indah. Jaelani tak memperdulikan suara Yunna yang kesakitan. Justru
semakin membuatnya terbangkit. Ia tarik tubuh polos itu ke atas tempat tidur dan
menindihnya dengan buas.
Yunna pada akhirnya pasrah. Ada sedikit kenikmatan, tubuhnya menjadi candu bagi
Jae, atau sebab obsesi mendapatkan seorang putra. Ketika Jae melemas di sisinya
Yunna buru-buru menjauh dan beranjak ke kamar mandi. Ia mencuci seluruh
tubuhnya dari sentuhan Jaelani tua itu.
Bersambung
__ADS_1