Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 199. Baby Yunna


__ADS_3

Prita membiarkan mama Risa tidur bersamanya. Mungkin Mama Risa merindukannya. Lagi pula sudah lama sekali mereka tidak pernah tidur bersama. Sejak Prita memasuki sma. Gadis itu mendapatkan kamarnya. Dulu ia tidur bersama Mama Risa di kamarnya. Tapi sejak nenek membagikan rumah kepada masing-masing anaknya. Mama Risa merehap rumah tersebut dan membuatkan Prita kamnar tidur sendiri. Sejak itu Prita menempati kamarnya. Biarlah sekali ini Mama Risa dan Prita bernostalgia.


Menjelang tidur Mama Risa pada akhirnya memang bernostalgia. Ia ingat Prita yang mungil. Dulu sering menangis di pangkuannya lalu jatuh tertidur. Ia lalu menidurkan Prita bersamanya. Diantara sakitnya ia masih mengingat dan melihat Prita sering menangis sebab dinakali oleh sepupunya yang menempati rumah itu juga. Ia hanya bisa menatapi Prita yang mungil dan tak bisa apa-apa kecuali menangis.


Kenakalan sepupu-sepupunya ternyata membangkitkan keberanian serta kemandiriannya. Prita melindungi dirinya sendiri. Ia tau tidak bisa meminta pertolongan pada mama Risa yang sakit. Juga Nenek yang tak berdaya. keadaan itu memaksa Prita bertindak dengan caranya sendiri. Prita dewasa sebelum waktunya. Ia berpikir bagaimana caranya ia selamat dari kenakalan sepupunya atau orang lain. Prita yang mungil harus cerdik dan pintar supaya tidak menjadi bulan-bulanan orang. Ia melawan setiap ada yang akan menjahatinya.


Mama Risa membelai rambut putrinya yang hitam lebat. Sosok gadis kecil yang mungil dan imut tak akan pernah hilang dari pikirannnya. Gadis kecill yang berjuang dengan tubuhnya yang mungil. Kecerdasannya serta akal-akalannya yang menyelamatkannya.


"Kamu sudah besar sehkarang. Juga cantik. Mama selalu berdoa untuk gadis kecil Mama dilindungi dan kelak menikah dengan pria yang baik, sholeh serta mapan. Agar kehidupan gadis kecil Mama bahagia."


"Aamiin yra, terima kasih Ma."


Prita mencium pipi Mama Risa dan memeluk tubuhnya. Ia merasa hangat berada di pelukkan mama. Seperti dulu ketika ia masih kecil. Meski Mama sakit tetapi ia selalu memperhatikan Prita. Mengelus rambutnya saat gadis mungil itu menangis di pangkuannya. Ia tidak mengucapkan apa pun kecuali belaian serta usapan lembut di rambut Prita. Kelembutan serta belaian tangan Mama Risa akhirnya membuat Prita tertidur di pangkuannya


"Mama pernah kehilangan diri ini, sehingga Mama tidak bisa merawat dan menjagamu Nak. Tetapi pikiran Mama selalu kepadamu, tidak pernah sedetikpun tidak memikirkanmu. Tapi mama tak berdaya."


"Sudahlah Ma, yu ah tidur. Sudah malam."


"Iya, tidurlah Mama menjagamu. Seharian Mama sudah tidur, biarkan Mama mengelus rambutmu dan menina bobokanmu."


"Ok Ma, makasih ya."


Prita memejamkan matanya. Ia merasa sangat mengantuk dan juga lelah. Ia pun tertidur dengan jari-jemari mama mengelus rambutnya dan menina bobokannya.


Mama Risa sangat bahagia, ia memeluk anaknya dan akhinnya tertidur pula. Pagi-pagi sekali ia membangunkan Prita untuk sholat shubuh. Ia membukai jendela dan membiarkan udara pagi memasuki rumah. Selanjutnya Ia membuat sarapan untuk Prita dan dirinya.


Prita sangat suka lauk ikan teri medan dengan kacang. Teri medannya dan juga kacang tanah itu digoreng dan kemudian dibumbui dengan cabe merah serta tomat dan bawang putih yang dihaluskan. Lauk itu saja bisa membuat Prita nambah tiga kali.


Prita mencium wangi ikan teri medan yang wangi merebak hingga ke ruang tamu. Prita beranjak ke belakang dan matanya menjadi cerah oleh halaman yang berubah. Dulu halaman belakang itu berantakan penuh barang-barang bekas bertumpuk. Sekarang barang-barangnya sudah tak ada. Telah berganti dengan bunga-bunga yang bermekaran cantik dan indah.


"Ma, halaman belakang ini jadi indah sekali he he he. Kapan Mama menyulap halaman ini menjadi indah dan keren."


Mama Risa yang sudah menyelesaikan memasaknya menyusul ke halaman belakang dekat dapur. Ia menghirup udara pagi yang segar.


"Iya, Mama membuangi semua rongsok tak berguna kemudian menata halaman ini menjadi taman bunga yang indah, untuk menghilangkan suntuk."

__ADS_1


"Bagus Ma, bunga-bunganya subur. Pohon Jeruk dan alpukat ini juga menjadi subur dan meneduhkan."


"Iya, sejak halaman ini Mama tanami dengan bunga-bungaan, setiap pagi burung berdatangan dan berkicau di atas dahan pohon jeruk. Juga banyak kupu-kupu. Pokoknya tempat ini membuat Mama merasa sejuk dan nyaman."


"Mama memang luar biasa, tapi jangan cape-cape ya Ma."


Kedua anak dan ibu itu menikmati kebersamaan yang jarang terjadi. Keduanya meregangkan tubuh dan menghirup udara pagi serta wangi bunga mawar yang mekar indah di sudut taman.


"Oh, Ma aku mandi dulu ya. Sebentar lagi Elsa datang. Kami akan ke rumah Yunna."


Prita buru-buru masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju. Ia janji dengan Elsa bertemu jam sembilan. Elsa kebetulan bertugas siang.


Beberapa menit Prita sudah mengenakan celana jeansnya dan kemeja panjang yang menutupi bokongnya hingga lutut. Ia membiarkan rambutnya yang tergerai sebahu. Model agak ngebob itu cocok untuknya. Membuatnya terlihat manis.


Tepat jam sembilan Prita mengeluarkan motor besarnya. Sesaat ia memanaskan mesin motor tersebut. Ia mengenakan jaketnya lalu helm lalu meluncur setelah mencium tangan ibunya.


Elsa sudah menunggu di depan rumahnya. Wajahnya tegang dan seperti ada sesuatu. Elsa langsung menyongsong Priti dan menariknya masuk kedalam rumah.


Tiba-tiba Elsa menangis sesengukkan dan memeluk Prita.


Sesaat Prita tercekat. Ia tak percaya. Tapi Elsa berkali-kali mengatakan bahwa Yunna sudah meninggal. Orang tua Elsa juga ada di ruangan itu dan menguatkan berita itu.


"Yunna sudah dikuburkan kemarin."


Prita mengigit bibirnya dan kelopak matanya telah dipenuhi oleh air mata, Yunnaaa!!!


Gadis itu menjerit sekencang-kencangnya. Sembari mengingat bahwa ia seperti melihat sosok Yunna beberapa kali. Apakah Yunna ingin menemuinya untuk pamit?


"Tapi kenapa? anaknya sudah lahir dengan selamat? apakah ia mengalami pendarahan?"


Elsa dan ibunya saling berpandangan. Mereka tidak terlalu jelas. Jaelany memang buru-buru berpesan kepada semua keluarga Yunna agar tidak mengekspos tentang kematian gadis itu. Sebab sangat mengerikan dan hanya akan menjadi sensasi di kampung itu. Keluarga Yunna menutupi tentang perampokkan yang telah membuat Yunna dan ayahnya meninggal.


"Yunna sayang, semoga Allah Swt menerima semua amal ibadahmu dan menerimamu di sisiNya."


"Jadi bagaimana? apakah kita ke sana sekarang?"

__ADS_1


Elsa menatap Prita. Keduanya bimbang, Yang ingin sekali mereka datangi adalah Yunna dan bayinya. Tapi Yunna sudah tak ada. Tetapi mereka memutuskan untuk menemui keluarga Yunna dan juga Jaelany.


Keluarga Yunna sedang berduka. Kedatangan Elsa dan Prita membuat tangis ibu Yunna meledak. Perempuan itu sangat terpukul oleh musibah yang menimpa keluarganya.


"Prita oh Prita! Yunna meninggal! anakku meninggal! suamiku juga meninggal! untuk apa lagi aku hidup di dunia ini? anakku yang kusayangi."


Perempuan itu melolong dan seolah mendapatkan pelampiasan kesedihan serta kehilangan yang amat sangat. Ia memeluk Elsa, juga Prita bergantian. Mengadukan betapa hancur hati seorang ibu.


Adik-adik Yunna juga menangis dan tidak ada kegembiraan sedikitpun. Prita dan Elsa membimbing perempuan itu duduk di sofa. Menggenggam tangannya dan menenangkannya.


"Cucuku! cucuku! cucuku diculik!"


Elsa dan Prita saling pandang. Mereka ingin sekali mendapat atau mengetahui ceritanya. Tapi agaknya ibu Yunna masih tak sanggup menceritakannya. Beberapa jam mereka berada di rumah Yunna, membesarkan hatinya.


Di hari yang sama keduanya juga menemui Jaelany. Laki-laki itu menerima bela sungkawa yang dalam dari Prita dan Elsa. Laki-laki terlihat muram. Ia bilang sangat kehilangan Yunna. Sekaligus menunggu penculik yang akan meminta tebusan atas nyawa anaknya.


Laki-laki itu memang terlihat kusut masai meski ia memperlihatkan ketegarannya sebagai seorang laki-laki.


Lagi-Lagi Elsa dan Prita tak bisa mencari tahu kronologi kejadian yang membuat Yunna meninggal. Jaelany masih terlihat shok.


"Kasihan baby Yunna, tidak ada yang mengurus. A-apakah ada diantara kalian yang bersedia mengurus baby Yunna?"


Prita dan Elsa saling berpandangan. Sebuah pertanyaan yang tak mereka duga.


"Yunna pasti sangat senang jika kalian mau mengasuh anaknya."


Kedua gadis itu saling berpandangan. Prita tersenyum lebar, dan menghembuskan napasnya.


"Neneknya yang akan menjaga dan mengasuhnya."


Elsa tersenyum dan mengangguk, sedangkan wajah Jaelani mendadak berubah. Tetapi ia kemudian ia mengantar kedua gadis itu keluar dan mengucapkan terima kasih.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2