
Ada rasa kecewa serta sakit di malam yang mestinya ia bahagia. Ayah Jae mendatanginya saat ia baru berbaring. Setelah membersihkan dirinya ia menunggu suaminya sekian lama. Tapi matanya tak bisa tahan lagi karena lelah dan mengantuk.
Dan ia terbangun ketika merasakan tubuhnya tertindih sosok yang berat dan tengah bekerja di atas tubuhnya. Laki-laki itu sama sekali tak mencumbuinya terlebih dahulu. Yunna terperangah ketika ia merasakan hujaman-hujaman pada dirinya, namun tak berhasil memasuki dirinya. Beberapa kali terpeleset membuat kemarahan laki-laki itu memuncak.
Oh,Yunna menjerit tertahan karena tangan Jaelani berusaha menerobos, gadis itu replek menjauhkan dirinya.
"Sakit!"
Teriaknya, sekejap Jaelani terdiam.
Tapi berikutnya ia meraih tubuh Yunna kembali dan menekannya sekuat tenaganya. Keduanya saling mengeluarkan tenaga. Jaelani jauh lebih kuat, Yunna merasa tenaganya habis hanya untuk mengelak dari jari-jari Jaelani. Dan laki-laki itu merangsak di atas tubuh Yunna. Gadis itu tidak ada merasakan sesuatu yg bisa menerobos miliknya, hanya gesekan tubuh Jaelani yang sangat kuat. Membuat kulit sekitar kewanitaannya lecet dan sakit.
Ketika ia menggeser tubuhnya dari laki-laki itu ia melihat milik Jaelani yang seperti terong rebus, lemas dan keriput. Yunna menggigit bibirnya. Ia tidak merasakan apa-apa kecuali rasa sakit saja. Cekalan tangannya serta liat tubuhnya saja yang terasa. Yunna merasa kesal. Namun hanya bisa menahan dirinya. Yunna berbalik membelakangi tubuh Jaelani. Ia menggigit bibirnya. Dan berusaha memejamkan matanya.
Ketika matahari telah terbit dan cahayanya menerobos hingga ke kamar, Yunna terbangun. Ia merasa jemari yang bergerak di benda membuncah di dadanya. Ia membiarkannya tangan-tangan Jae yang bergerak liar. Lalu tubuhnya ditarik ke berbalikk ke arahnya. Yunna menggigit bibirnya saat mulut Jaelani sibuk bermain di benda membuncah miliknya. Kali ini Yunna mulai merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Yunna menyukai perlakuan Jaelani itu, dan tangannya menyentuh kepala dan meremas rambutnya lelaki itu.
Yunna mulai menggeliat, perlakuan Jae membuatnya mulai merintih, Jae menutup bibirnya ketipisan milik Yunna, bermain main di bibir kenyal itu.
Jae sangat beringas ketika ia bermaksud memasuki tubuh
Yunna, kali ini milik Jae telah berdiri tegak, dan Yunna sudah basah oleh cumbuan Jae sebelumnya.
Aaaa!
Keduanya sama-sama menjerit. Jae mengambil napas, lalu mulai bergerak liar di atas tubuh Yunna. Gadis itu menjerit dan hesteris, Jae tak perduli, ia menyalurkan hasratnya pada tubuh muda gadis yang telah menjadi istrinya. Hingga ia kehabisan tenaga dan napas.
Oh, laki-laki itu melepaskan tangannya dari tubuh Yunna, terbaring lemas di sebelah tubuh polos gadis muda yang menjadi istrinya itu, memejamkan matanya, beristirahat.
__ADS_1
Yunna, keluar dari kamarnya. Ia sudah membersihkan diri dan memakai bajunya yang baru. Jae masih tertidur setelah bertempur mati-matian dengan gadis muda istrinya. Dan baru terbangun ketika mencium wangì masakkan. Ia bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dan setelah selesai, ia mengenakan kemejanya serta celana jeans biru kesukaannya.
Ia beranjak ke balkon saat melihat sosok Yunna yang sedang berdiri di sana. Ia meraih minuman yang telah diseduh oleh Yunna. Lantas membawanya ke balkon dan berdiri di dekat Yunna. Gadis itu menoleh sekejap lalu kembali memandangi taman serta pemandangan di luar hotel.
Laki-laki itu melihat kepadanya kemudian menghirup minumannya. Kebisuan mencekam diantara keduanya. Yunna tak bisa mengeluarkan suaranya, ia merasa berada di dalam kekuasaan laki-laki itu. Kaku dan tidak mendapatkan kebersamaan yang ia idam-idamkan.
"Keluargamu mungkin sudah di restoran hotel untuk menikmati
breakfast, mari kita turun."
Terdengar suara Jaelani. Yunna mengikuti pria itu. Keduanya keluar dari kamar dan menyusuri koridor hingga tiba di depan lift. Kebisuan
yang sepi dan tidak ada kebersamaan.
Yunna baru terlihat ceria ketika bertemu dengan orang tua serta paman, bibi, adik-adiknya dan beberapa ponakan.
Bibi-bibinya menggoda Yunna dan
Jaelani, bagaimana malam pertamanya? Sudahkah belah durian?
Jaelani tertawa, serta tersenyum
malu-malu. Tak bilang apa-apa kecuali sedikit melirik pada Yunna.
Gadis itu hanya melengos. Hal yang membuat Jaelani gemas.
"Yunna, nanti siang bibi dan paman-paman kamu pulang ke kampungnya. Ibu sudah kehabisan uang untuk mempersiapkan pesta pernikahanmu, tolong beri mereka uang untuk ongkos ya."
__ADS_1
Ibunya berbisik di telinganya, ia tercekat karena saat ini ia tidak memiliki uang. Sementara uang mahar hanya secara simbolis saja. Belum berada di tangannya. Uang gajinya sudah habis untuk diberikan pada ibunya. Ia dan keluarganya berharap Jaelani akan mengganti
semuanya, bahkan ada lebih untuk
memberi ongkos paman, bibi, serta beberapa panitia yang membantunya dan keluarga.
Setelah usai sarapan, keluarganya mengatakan bahwa sebagian dari mereka akan keluar dari hotel dan pulang ke kampung. Jaelani hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya ia tak mengerti maksud dari keluarga istrinya Yunna. Paman paman dan bibi Yunna datang dari jauh dan mereka sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa menghadiri pernikahan Yunna. Sekarang mereka pamit pulang seharusnyalah Yunna dan Jaelani mengganti biaya perjalanan serta kelelahan mereka.
"Baik bu, setelah sarapan istirahat saja dulu, aku bicarakan dulu dengan Ayah Jae."
Ibunya hanya mengangguk-angguk.
Yunna meremas jemarinya berusaha menghilangkan keresahannya. Ia harus mengatakan ini pada Jaelani.
laki-laki itu terlihat tidak senang ketika Yunna mengatakan bahwa paman-paman serta saudaranya akan pulang. Ibunya bilang, supaya mereka memberi ongkos pengganti serta obat lelah mereka.
"Apakah kau tidak tahu? berapa yang sudah aku keluarkan membiayai pernikahan ini? cukup banyak tahu? masa hanya untuk ongkos paman dan bibimu saja tidak ada!"
Yunna terkejut, ia tak menyangka laki-laki yang telah menjadi suaminya itu, membentaknya marah.
"Apa maksudmu? Kenapa menjadi hitung-hitungan seperti itu? Saat lamaran uang yang kau berikan hanya sepuluh juta! memangnya tamu-tamu keluargaku yang jauh tidak di suguhi makanan dan minuman? uang gajiku juga sudah habis untuk keperluan keluargaku."
Yunna dan Jaelani bertengkar di kamar pengantin itu pada hari kedua pernikahan mereka. Dan Jaelani tak mau mengeluarkan uangnya lagi. Yunna, ibu dan ayahnya mencari kotak uang yang menjadi satu-satunya harapan mereka. Untungnya mereka menemukan kotak uang tersebut di kamar rias yang juga merupakan kamar tempat Yunna, Prita dan Elsa. Ternyata tukang rias yang sudah mengamankannya. Buru-buru Prita ibu dan ayahnya membuka kotak uang itu. Banyak sekali amplop yang bertebaran di lantai. Ibunya memasukkan semua amplop-amplop itu ke tas besarnya.
Yunna di hari kedua itu sangat marah pada Jaelani yang ia tuduh seorang laki-laki yang menyebalkan serta pelit.
Bersambung
__ADS_1
Tara, tèrima kasih semuanya yang sudah mampir ke cerita Pria Idola.Jangan lupa beri vote, like dan komen ya, juga bintang lima. Othor sangat berterima kasih, oia othor seminggu ini ada kesibukkan, jadi belum sempat feedback, begitu kerja othor selesai pasti othor datang feedback, ok. Selalu saling mendukung.