Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 54.Apakah Kau Mencintaiku


__ADS_3

Hari-hari  Raka telah berubah, Ia kini selalu berseri dan bersemangat. Deni dan Sammy mendorongnya untuk menjadi pria idola yang sempurna, yakni menikah.


"Ayo, menikahlah, jangan menunggu kami."


Deni sebenarnya ingin melihat proses sebuah pernikahan, karena ia juga ingin melamar seseorang.


Padahal ia berjanji akan menikah diusia empat puluh. Dasar pembohong, maki Sammy. Kalau kalian menikah aku juga tak mau sendirian menjomblo. Aku juga akan menikah.


"Siapa yang menunggu kalian? urus saja hidup kalian sendiri jangan ikut-ikutan."


"Siapa yang ikut-ikutan?  memang udah saatnya kita menikah ya Sam?"


"Terus kenapa sekarang? nggak nanti saja, kalian belum menemukan cinta sejati, sepertiku."


Mereka akan terus bertengkar dan tidak ada yang mengalah. Raka kesal karena saat ia sedang memikirkan pernikahannya, justru dua temannya ikut sibuk mau menikah juga.


"Pokoknya kalian tidak boleh menikah, sebelum aku.!"


Raka keluar membanting pintu. Deni dan Sammy mengelus dada.


"Kelakuan dari dulu  nggak berubah, senangnya  membanting pintu, tapi nggak apa-apalah jantung udah kebal."


"Den, kita harus membicarakan sesuatu yang penting!"


Sammy menarik Deni kesebuah pojok, Ia ingin bertukar pikiran dengan Deni.


"Paan sih, serius banget."


"Den, kita harus saling membantu untuk menemukan cinta sejati kita, kemudian menyusul Raka menikah."


"Seandainya Susi tak menggelapkan uang! aku ingin menikahinya."


Deni kelihatan masghul.


"Sudahlah, lupakan saja. Yang penting sekarang kita harus mencari kencan dengan gadis-gadis. Kita memilih yang terbaik."


"Untuk apa? bukankah Raka bilang kita tak boleh meninggalkan jejak dengan membuat seorang gadis patah hati."


"Hanya itu cara yang paling cepat untuk mendapatkan kekasih, karena selama ini kita tak melakukannya."


"Maksudmu selama ini kita bertiga, muda, bebas dan single."


"Kemudian kita masing-masing akan mempunyai penghalang di rumah, dan ini memang sudah waktunya"


Deni tersenyum, "Jadi bagaimana perasaanmu dengan pernikahan? takut ya? ayolah bilang iya."


Keduanya saling bertatapan, Sammy melebarkan matanya, "Tidak, aku justru tak sabar lagi. Wanita yang kucintai, sebuah pesta, hadiah-hadiah darimu dan Raka, juga bulan madu ke Bali."


Deni terdiam, bagaimana tiba-tiba Sammy yang selama ini tak pernah memikirkan seorang gadis. Tiba-tiba menggebu-gebu merencanakan pernikahan. Deni sendiri pikirannya sedang dipenuhi oleh orang lain. Lebih tepatnya Elsa. Raka dan juga Sammy sudah memberikan hak preogatif padanya. Bagaimana kalau ia menerima saja perempuan itu, kemudian melamar untuk dinikahi?


"Yah, terserah apa rencanamu, aku akan membantu sebisaku."


Keduanya saling menjalinkan tangan, pertanda deal.


*****

__ADS_1


Siang itu Raka mengajak Mardo makan siang di sebuah restoran, Raka akan mulai membicarakan


tentang pernikahan.


"A-aku akan datang menemui Papi dan Mami untuk melamarmu, bagaimana kalau malam ini saja?"


Raka menatap gadis di depannya yang seperti tersedak, Mardo terkejut sekali oleh kata-kata lugas Raka. Sebaliknya Raka juga kaget melihat reaksi gadis itu.


"Kenapa? apa kau tak ingin menikah denganku?"


Mardo batuk-batuk, dan kembali mereguk minumannya. Dia mengigit bibirnya kuat-kuat.


"Sebaiknya kita selesaikan dulu makan siangnya, kemudian kita pergi ke sebuah tempat


untuk bicara? bagaimana?"


Mardo mengganggukkan kepala. Matanya yang jernih tiba-tiba dibanjiri air mata. Dia buru-buru pamit ke toilet.


Sementara Raka melihat sesuatu. Mardo seperti tertekan. ' Ya Tuhan, ada apa lagi?"


Raka teringat Deni yang selalu menjelekkan  perempuan, 'Aku melihat sebuah fenomena baru, mungkin pencetusnya dari internet.  Perempuan sekarang lebih berharap menikah dengan lelaki khayalan, tinggi seratus delapan puluh, perut rata enam bidang, dan yang terpenting penghasilan enam digit.


Setelah selesai makan siang yang kurang menyenangkan, mereka ke pantai.


Sepanjang jalan Mardo lebih banyak membisu. Dan Raka bertanya-tanya ada apa?


Mereka duduk menghadap pantai, teringat beberapa tahun yang lalu di pantai Merauke.


"Setiap kali aku melihat laut selalu teringat kota Eksotik dan Merauke."


Mardo mengembangkan senyumnya, ia merindukan Zam-zam, Betty, Rose, Sarah Lee dan Halima.


"Oh, Halima menjadi guru? hebat, aku ingin sekali ketemu."


"Terlebih dahulu kita menikah, lalu jalan-jalan mengenang masa lalu."


Raka menolehi Mardo yang berada di sisinya, gadis itu menunduk.


"Betty sudah menikah dengan Sulaiman, kalau tak salah Betty baru melahirkan."


"Oh! benarkah, sahabat-sahabatku semuanya bahagia."


"Sarah Lee, menikah dengan bule, ia sekarang tinggal di Florida."


"Hah! benarkah?  ohhh, itu memang impiannya."


"Sekarang giliran kita Mardo, kau mau menikah denganku?"


Raka bertanya tanpa tedeng aling-aling lagi. Mardo berdiri dan berjalan ke pantai.


'Dia menghindar setiap kali aku bicara tentang pernikahan, Raka menyipitkan matanya.


Ia tiba-tiba berdiri lantas menarik lengan Mardo kuat, hingga gadis itu jatuh ke rengkuhannya.


"Ada apa? ketika bertemu kau gembira dan bahagia seperti menemukan hartamu yang hilang, namun setiap kali aku mengajak menikah kau kelihatan sedih dan tertekan. Katakan! berceritalah! apa yang terjadi selama tujuh tahun kita terpisah? katakan!"

__ADS_1


Raka menggoyang tubuh gadis itu.


"Kak Raka,"


Terdengar suara Mardo yang menahan isak.


"Maafkan aku, kita tak bisa menikah kak,"


Seperti tersambar petir mendengar kata-kata itu, Raka terpaku,  pegangannya terlepas. Mardo berlari sekuat-kuatnya. Ia lari meninggalkan pria itu dengan air mata berjatuhan. Ia memanggil taxi dan meninggalkan Raka yang bagai tersambar petir. Ia menoleh ke belakang, melihat bayangan Raka yang masih terbengong di pantai.


"Mardo! Mardo!"


Pria itu panik, ia tak menemukan Mardo.


Ia berteriak memanggil gadis itu, hatinya sangat sakit. Mardo tak mau menikah dengannya.


Ia tak siap dengan penolakkan itu. Sementara ia telah berjanji, hanya memiliki satu cinta untuk satu perempuan.


Berarti ia  akan membujang selamanya?


'Tidak! jangan lakukan ini padaku Mardo! jangan! Raka merasa matanya basah.


'Mardo, kita begitu bahagia saat bertemu, aku melihat kerinduan yang dalam, cinta sejatimu, tetapi sesuatu menghalangimu. Kenapa Do! Kenapa Mardo!


Raka berteriak sekeras-kerasnya, hingga beberapa orang menoleh dan bertanya-tanya.


"Mas, kekasih anda sudah pergi tadi dengan taxi."


Seseorang yang melihat sejak awal kedatangan pasangan itu memberitahu Raka.


"Iya pak, terima kasih."


Raka memasang kacamata hitamnya menyembunyikan mata yang merah.


Ia lantas menuju tempat parkir dan pergi.


Seratus pertanyaan bergelayutan di otaknya, Kenapa Mardo tak mau menikah dengannya?


Apakah telah ada seseorang yang menggantikannya.  Apakah itu Richi? kenapa Richi begitu tenang di Sydney?


Memangnya ia bisa melupakan Mardo?


Berbagai kecurigaan dan dugaan terhadapa Richi berkecamuk di kepalanya.


Raka ingin menjerit sekuat tenaganya.


'Mardo, aku yakin kau mencintai aku, aku juga mencintaimu. Keyakinanku seperti matahari.


Ia pasti terbit setiap hari. Aku sangat yakin.


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2