
Yunna dan Elsa memasuki tempat tersebut, sesaat cilingak-cilunguk hingga seseorang
menghampiri, "Dik, kalian mau melamar? mari saya antar."
Hah!
Yunna dan Elsa membesarkan mata, sebelum mereka bertanya justru pak satpam telah
paham dan memberi kemudahan pada mereka. Tak banyak macam segera mereka
mengikuti satpam tersebut memasuki lift dan naik ke lantai dua. Setelah sampai di sana
mereka masih berjalan ke sebuah ruangan yang luas. Sudah banyak gadis-gadis
yang membawa map lamaran di tangan mereka.
Yunna menarik tangan Elsa, karena mereka belum membawa apa-apa untuk melamar
pekerjaan. Segera Yunna memanggil pak satpam yang tengah berjalan dengan gagahnya
ke tempat gadis-gadis yang tengah menunggu giliran.
Tahap paling awal, tubuh para pelamar di ukur, minimal tinggi badan yang diterima
adalah gadis dengan tubuh tinggi seratus enam puluh dan berat badan lima puluh
lima kilo, banyak juga gadis pelamar yang menyayangkan persyaratan tersebut. Gara-gara
persyaratan itu mereka tak lolos ke tahap berikutnya.
"Pak, ka-kami belum membawa surat lamaran kerja, karena baru sesaat tadi membaca
iklanya di koran, tapi kami ingin sekali bekerja di sini pak, rumah kami tidak terlalu
jauh, ada di belakang gedung ini."
"Benarkah?, prioritas memang untuk mereka yang tinggal tidak jauh dari tempat
kerja, tidak apa-apa kalian mendaftarkan saja dengan ktp, bawa ktp kan?
mari saya cofikan."
Kembali harapan itu menyala, keduanya memberikan ktp pada pak satpam dan menunggu
giliran untuk mengukur tingga dan berat badan. Yunna dan Elsa yakin mereka bakal
lolos tahap pertama, karena Yunna memiliki tinggi lebih dari seratus enam puluh.
Begitu juga Elsa, mereka memiliki tubuh yang proporsonal. Dan benar saja Yunna dan
Elsa melewati tahap awal.
Pak satpam merekomendasikan kedua gadis itu dengan memberikan ktp pada petugas
yang mewawancarai. "Mereka prioritas pak."
"Kalian boleh kembali besok pagi kesini dengan membawa persyaratan, ok? ada lagi
yang ingin ditanyakan?"
Yunna dan Elsa saling tatap, dan keduanya menggelang. "Tidak ada pak, besok pagi
kami akan datang ke sini membawa persyaratan."
Pak Satpam yang tadi mengantar mereka, ikut turun bersama Yunna dan Elsa. Kedua
gadis itu merasa pak satpam kantor itu sangat baik.
"Terima kasih pak, kami pulang dulu."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Pak Satpam membukakan pintu kaca yang berat sekali karena tebal dan kuat. Beberapa
orang gadis pelamar juga keluar dan meninggalkan halaman gedung tersebut.
"Sa, meski hari ini terasa melelahkan, namun ujungnya kita diberi kemudahan
__ADS_1
untuk mendapatkan pekerjaan, kita pulang sekarang, mandi biar segar, ganti
baju dan tidur untuk memulihkan tenaga."
"Yup, semoga besok kita langsung diterima dan bekerja, mari pulang aku juga
sangat lelah, oia jangan lupa untuk merahasiakan hal ini pada Priti ok."
Keduanya saling tersenyum. Kemudian keduanya menaiki kenderaannya dan pulang
ke rumah. Sementara Priti sedang berada di sebuah rumah yang mewah pada
ruang belajar. Ia tengah berhadapan dengan seorang gadis kecil bertubuh sehat.
Gadis kecil yang berusia delapan tahun, ia betul-betul tidak bisa membaca tetapi
ia mengenali hurub-hurub. Ia lemah saat merangkaikan kata-kata. Sebuah
awal yang sulit karena gadis itu keras, ia tidak mau mengikuti apa yang saja
yang dikatakan oleh Prita. Keringat gadis cantik itu membasahi keningnya
karena berusaha menggugah ketertarikkan gadis kecil itu untuk membaca,
"Anggie cantik deh, kakak Prita suka sekali sama Anggie, kalau orang cantik
mesti apa?"
Gadis kecil itu hanya bengong dan tidak menjawab. Prita menyentuh jemari
Anggie nama gadis kecil itu, mengajaknya tersenyum dan saling berpandangan.
"Gadis cantik itu mesti pintar, karena kalau tak pintar cantiknya hilang."
Prita meminta Anggie mengikutinya dan perlahan gadis kecil itu mengikuti
dengan hati-hati, "Gadis cantik itu mesti pintar, karena kalau tak pintar cantiknya
hilang."
Si gadis kecil itu perlahan memandang Prita dan menggelengkan kepalanya.
"Nah! sebab itu kakak mau mengajari Anggie menjadi gadis cantik dan pintar.
mau? Anggie mau menjadi gadis cantik yang pintar?"
"Mau."
Barulah terdengar suaranya, setelah hampir dua jam bersama. Serta merta Prita
memberikan jempolnya. Sekarang Anggie ambil buku tulisnya kita sama-sama
menulis dan membaca, kakak yakin Anggie gadis kecil cantik yang pintar."
Prita menulis di bukunya sebuah kata. Anggie menulis kata sama, lalu keduanya
mengeja secara berulang-ulang. Prita juga memperkenalkan hurup vokal. Lebih
memudahkan Anggie belajar membaca.
Hingga akhirnya tiga jam yang menyenangkan selesai, Prita mendapatkan
hasil kerjanya, ibu Anggie memberikan amplop pembayarannya langsung
untuk satu minggu, setiap sore Prita harus datang mengajari Anggie belajar.
Prita tak sabar membuka amplop pemberian upah les privatnya, ternyata
ada dua juta lebih, yes yes! alhamdulillah! senyum yang sumringah dibibir
gadis itu, ia langsung teringat untuk membelikan oleh-oleh untuk ibu
dirumah. Ia segera singgah di super market dan membeli kebutuhan di dapur
untuk ibunya. Juga membeli martabak manis dan asin. Makanan kesukaan
ibunya dan juga dirinya. Saat-saat ingin makan martabak tetapi tidak ada
__ADS_1
uang untuk membelinya. Sedih jika mengingat hal itu.
Mumpung memiliki uang, Prita segera membeli dan membawa untuk
dimikmati berdua dengan ibunya. Tetapi mendadak ia teringat Yunna
dan Elsa, ah apakah kedua temannya itu sudah pulang dari Bar? Ia ingin
mentraktir keduanya makan baso.
Serta merta ia menelpon Yunna, kebetulan orang yang dimaksud sedang
menggenggam handphonenya, langsung diangkat, "Hello Prita, kamu di mana
say, kangen ya?"
"Hei say, nanti habis magrib aku traktir makan baso yuk sama Elsa ya, kita
ketemuan di tempat biasa, ok!"
"Hah! asyikk, kamu lagi dapat rejeki ya Prita? ok say, nanti aku kasih tau
Elsa ya."
Prita lega sekali setelah menelpon Yunna dan mengajak kedua temannya
itu menikmati makan baso. Setelah menghubungi Yunna ia segera bersiap
pulang memberikan barang-barang ia beli untuk ibu. Ia membayangkan
ibunya pasti senang dengan oleh-oleh darinya.
Prita pulang dengan menegadahkan wajahnya, beruntung sekali ia hari ini
bertemu orang tua muridnya yang membayarnya sekaligus. Prita sangat
bersyukur. Dan ibu menyambutnya dengan senyuman di pintu. Prita
memberikan barang belanjaan pada ibunya, dan juga martabak. Ibu sangat
bersemangat dan segera menggodok air panas untuk membuat minuman.
Tiba-tiba Prita mendapat telpon dari nomer tak dikenal, "Hello apakah ini
dengan mba Prita?"
Suara yang sangat halus dan merdu.
"Iya benar, bagaimana bun, ada yang bisa saya bantu?"
"Anak saya ingin les privat matematika dan bahasa Inggris, bagaimana ya
mba? apakah besok mba bisa datang ke rumah?"
Prita dan perempuan di sebrang sesaat berbincang tentang les privat. Dan akhirnya
gadis itu menyetujui akan mampir sebelum ke tempat les privatnya untuk
mencari waktu yang tepat. Karena saat ini, sore hari telah ada yang mengisi, sedangkan
pagi jam sembilan ia juga sudah harus mengajar. Prita sudah sangat sibuk.
Bersambung
Hello, jangan lupa beri dukungannya ya, like, komen/jejak dan vote
author sangat berterima kasih
__ADS_1