Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 127. Lowongan Di Cafe Pria Idola


__ADS_3

Yunna dan Elsa memasuki  tempat tersebut, sesaat cilingak-cilunguk hingga seseorang


menghampiri, "Dik, kalian mau melamar? mari saya antar."


Hah!


Yunna dan Elsa membesarkan mata, sebelum mereka bertanya justru pak satpam telah


paham dan memberi kemudahan pada mereka. Tak banyak macam segera mereka


mengikuti satpam tersebut memasuki lift dan naik ke lantai dua. Setelah sampai di sana


mereka masih berjalan ke sebuah ruangan yang luas.   Sudah banyak gadis-gadis


yang membawa map lamaran di tangan mereka.


Yunna menarik tangan Elsa, karena mereka belum membawa apa-apa untuk melamar


pekerjaan. Segera Yunna memanggil pak satpam yang tengah berjalan dengan gagahnya


ke tempat gadis-gadis yang tengah menunggu giliran.


Tahap paling awal, tubuh para pelamar di ukur, minimal tinggi badan yang diterima


adalah gadis dengan tubuh tinggi seratus enam puluh dan berat badan lima puluh


lima kilo, banyak juga gadis pelamar yang menyayangkan persyaratan tersebut. Gara-gara


persyaratan itu mereka tak lolos ke tahap berikutnya.


"Pak, ka-kami belum membawa surat lamaran kerja, karena baru sesaat tadi membaca


iklanya di koran, tapi kami ingin sekali bekerja di sini pak, rumah kami tidak terlalu


jauh, ada di belakang gedung ini."


"Benarkah?, prioritas memang untuk mereka yang tinggal tidak jauh dari tempat


kerja, tidak apa-apa kalian mendaftarkan saja dengan ktp, bawa ktp kan?


mari saya cofikan."


Kembali harapan itu menyala, keduanya memberikan ktp pada pak satpam dan menunggu


giliran untuk mengukur tingga dan berat badan. Yunna dan Elsa yakin  mereka bakal


lolos tahap pertama, karena Yunna memiliki tinggi  lebih dari seratus enam puluh.


Begitu juga Elsa, mereka memiliki tubuh yang proporsonal. Dan benar saja Yunna dan


Elsa melewati tahap awal.


Pak satpam merekomendasikan kedua gadis itu dengan memberikan ktp pada petugas


yang mewawancarai. "Mereka prioritas pak."


"Kalian boleh kembali besok pagi  kesini dengan membawa persyaratan, ok? ada lagi


yang ingin ditanyakan?"


Yunna dan Elsa saling tatap, dan keduanya menggelang. "Tidak ada pak, besok pagi


kami akan datang ke sini membawa persyaratan."


Pak Satpam yang tadi mengantar mereka, ikut turun bersama Yunna dan Elsa. Kedua


gadis itu merasa pak satpam kantor itu sangat baik.


"Terima kasih pak, kami pulang dulu."


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Pak Satpam membukakan pintu kaca yang berat sekali karena tebal dan kuat. Beberapa


orang gadis pelamar juga keluar dan meninggalkan halaman gedung tersebut.


"Sa, meski hari ini terasa melelahkan, namun ujungnya kita diberi kemudahan

__ADS_1


untuk mendapatkan pekerjaan, kita pulang sekarang, mandi biar segar, ganti


baju dan tidur untuk memulihkan tenaga."


"Yup, semoga besok kita langsung diterima dan bekerja, mari pulang aku juga


sangat lelah, oia jangan lupa untuk merahasiakan hal ini pada Priti ok."


Keduanya saling tersenyum. Kemudian keduanya menaiki kenderaannya dan pulang


ke rumah. Sementara Priti sedang berada di sebuah rumah yang mewah pada


ruang belajar. Ia tengah berhadapan dengan seorang gadis kecil bertubuh sehat.


Gadis kecil yang berusia delapan tahun, ia betul-betul tidak bisa membaca tetapi


ia mengenali hurub-hurub. Ia lemah saat merangkaikan kata-kata. Sebuah


awal yang sulit karena gadis itu keras, ia tidak mau mengikuti apa yang saja


yang dikatakan oleh Prita. Keringat gadis cantik itu membasahi keningnya


karena berusaha menggugah ketertarikkan gadis kecil itu untuk membaca,


"Anggie cantik deh, kakak Prita suka sekali sama Anggie, kalau orang cantik


mesti apa?"


Gadis kecil itu  hanya bengong dan tidak menjawab. Prita menyentuh jemari


Anggie nama gadis kecil itu, mengajaknya tersenyum dan saling berpandangan.


"Gadis cantik itu mesti pintar, karena kalau tak pintar cantiknya hilang."


Prita meminta Anggie mengikutinya dan perlahan gadis kecil itu mengikuti


dengan hati-hati, "Gadis cantik itu mesti pintar, karena kalau tak pintar cantiknya


hilang."


Si gadis kecil itu perlahan memandang Prita dan menggelengkan kepalanya.


"Nah! sebab itu kakak mau mengajari Anggie menjadi gadis cantik dan pintar.


mau? Anggie mau menjadi gadis cantik yang pintar?"


"Mau."


Barulah terdengar suaranya, setelah hampir dua jam bersama. Serta merta Prita


memberikan jempolnya. Sekarang Anggie ambil buku tulisnya kita sama-sama


menulis dan membaca, kakak yakin Anggie gadis kecil cantik yang pintar."


Prita menulis di bukunya sebuah kata. Anggie menulis kata sama, lalu keduanya


mengeja secara berulang-ulang. Prita juga memperkenalkan hurup vokal. Lebih


memudahkan Anggie belajar membaca.


Hingga akhirnya tiga jam yang menyenangkan selesai, Prita mendapatkan


hasil kerjanya, ibu Anggie memberikan amplop pembayarannya langsung


untuk satu minggu, setiap sore Prita harus datang mengajari Anggie belajar.


Prita tak sabar membuka amplop pemberian upah les privatnya, ternyata


ada dua juta lebih, yes yes! alhamdulillah! senyum yang sumringah dibibir


gadis itu, ia langsung teringat untuk membelikan oleh-oleh untuk ibu


dirumah. Ia segera singgah di super market dan membeli kebutuhan di dapur


untuk ibunya. Juga membeli martabak manis dan asin. Makanan kesukaan


ibunya dan juga dirinya. Saat-saat ingin makan martabak tetapi tidak ada

__ADS_1


uang untuk membelinya. Sedih jika mengingat hal itu.


Mumpung memiliki uang, Prita segera membeli dan membawa untuk


dimikmati berdua dengan ibunya. Tetapi mendadak ia teringat Yunna


dan Elsa, ah apakah kedua temannya itu sudah pulang dari Bar? Ia ingin


mentraktir keduanya makan baso.


Serta merta ia menelpon Yunna, kebetulan orang yang dimaksud sedang


menggenggam handphonenya, langsung diangkat, "Hello Prita, kamu di mana


say, kangen ya?"


"Hei say, nanti habis magrib aku traktir makan baso yuk sama Elsa ya, kita


ketemuan di tempat biasa, ok!"


"Hah! asyikk, kamu lagi dapat rejeki ya Prita? ok say, nanti aku kasih tau


Elsa ya."


Prita lega sekali setelah menelpon Yunna dan mengajak kedua temannya


itu menikmati makan baso. Setelah menghubungi Yunna ia segera bersiap


pulang memberikan barang-barang ia beli untuk ibu. Ia membayangkan


ibunya pasti senang dengan oleh-oleh darinya.


Prita pulang dengan menegadahkan wajahnya, beruntung sekali ia hari ini


bertemu orang tua muridnya yang membayarnya sekaligus. Prita sangat


bersyukur. Dan ibu menyambutnya dengan senyuman di pintu. Prita


memberikan barang belanjaan pada ibunya, dan juga martabak. Ibu sangat


bersemangat dan segera menggodok air panas untuk membuat minuman.


Tiba-tiba Prita mendapat telpon dari nomer tak dikenal, "Hello apakah ini


dengan mba Prita?"


Suara yang sangat halus dan merdu.


"Iya benar, bagaimana bun, ada yang bisa saya bantu?"


"Anak saya ingin les privat matematika dan bahasa Inggris, bagaimana ya


mba? apakah besok mba bisa datang ke rumah?"


Prita dan perempuan di sebrang sesaat berbincang tentang les privat. Dan akhirnya


gadis itu menyetujui akan mampir sebelum ke tempat les privatnya untuk


mencari waktu yang tepat. Karena saat ini, sore hari telah ada yang mengisi, sedangkan


pagi jam sembilan ia juga sudah harus mengajar. Prita sudah sangat sibuk.


 


 


Bersambung


 


Hello, jangan lupa beri dukungannya ya, like, komen/jejak dan vote


author sangat berterima kasih


 


 

__ADS_1


__ADS_2