Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 154. Mata Yang Melemahkan


__ADS_3

Keselamatan mama lebih penting dari apa pun. Prita memutuskan kembali ke Jakarta.


Orang-orang Darto Keling telah menunggunya. Foto dan vidio mamanya yang terkurung


di dalam sebuah ruangan membuat Prita tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan


Darto Keling.


Di pintu keluar Darto Keling dan dua anak buahnya sudah menunggu dan memandunya


agar  bertemu di tempat itu. Dan Prita bertemu pandang dengan orang-orang penculik


ibunya. Mereka laki-laki bertubuh kekar dan besar. Wajah sangar dan dingin. Darto


memutar kepalanya sebagai tanda agar Prita mengikutinya.


Terpaksa gadis itu mengikuti saja ke tiga laki-laki itu. Mereka berjalan menuju kenderaan


yang terparkir. Sepanjang perjalanan Prita hanya membisu. Hingga akhirnya mereka


tiba di sebuah rumah yang sangat megah. Setelah melalui pintu gerbang kenderaan


berhenti. Darto membuka kan pintu untuk Prita. Ia mengajak Prita memasuki rumah


tersebut.


"Nona Prita, silahkan itu adalah kamar anda."


Prita menoleh pada sebuah pintu, dan seorang perempuan cantik datang menyambutnya.


Perempuan itu mengajak Prita memasuki kamar yang disediakan untuknya.


"Aku ingin bertemu ibuku, bawa dia ke sini!"


Prita menatap ketus pada Darto.


"Ibu Nona akan baik-baik saja selama perlakuan nona tidak menyulitkan saya."


"Tapi aku melakukan ini karena ibu saya, sekarang saya sudah berada bersama


kalian! lepaskan ibuku!, atau biarkan dia bersamaku."


"Baik nona Prita, saya akan membawa ibu anda ke sini. Silahkan nona mengikuti


apa yang diminta oleh pelayan,"


Prita mendengus, "Ibuku harus bersamaku terlebih dahulu baru aku mau menuruti


perintah berikutnya!"


Terpaksa Darto memerintahkan agar Risa dibawa ke rumah tersebut.


"Nona segera bersiaplah, ibu nona akan segera datang."


Darto mengatakan hal tersebut, barulah Prita memasuki kamar yang disediakan


untuknya. Perempuan cantik tadi ternyata adalah pelayan yang akan melayani


keperluan Prita. Ia menyuruh Prita membersihkan dirinya dan kemudian memilihkan


baju yang telah disediakan.


Prita menurut, ia merasa lelah dengan kejadian-kejadian yang beruntun menimpa


dirinya. Kali ini ia mengikuti permainan orang-orang yang tak ia kenal. Nuraninya


menuntun seperti itu. Lihat dulu apa yang mereka inginkan. Begitu hati kecilnya


membisikinya.


Tak lama Prita telah siap dengan pakaian yang menampilkan kecantikkannya. Perempuan


itu mengantarkan Prita pada Darto. Dan laki-laki botak itu mengajaknya menemui


seseorang. Mereka berjalan melewati beberapa ruangan hingga akhirnya tiba


di sebuah kolam renang yang airnya membiru.


Seorang laki-laki tengah membelakangi mereka. Darto Keling mendekati pria itu


dan menyapanya. "Ayah Jae, nona Prita sudah datang!"

__ADS_1


Laki-laki itu menoleh sesaat dan tersenyum senang. Ia lantas memandang pada


Prita yang berdiri tak jauh dari tempat itu.


Darto mengatakan sesuatu, dan laki-laki itu mengangguk-angguk.


"Apa yang bapak inginkan dari saya?"


Prita menatap tajam kepada laki-laki di depannya. Ia bukan gadis yang sedang


berada dalam situasi keuangan yang buruk. Seperti biasanya terjadi di dalam


novel-novel yang ia baca. Bahwa gadis-gadis menyerahkan dirinya karena


keadaan yang memaksa. Ayah yang membutuhkan uang untuk berobat, atau


harus membayar hutang yang harus segera dibayar, atau menjadi tumbal


orang tua yang perusahaannya diambang kebangkrutan.


Prita tidak dalam situasi tersebut. Ia tidak berada dalam keharusan menyerahkan


dirinya kepada pria yang sebaya dengan ayahnya jika masih hidup. Ia  sekarang


berada dalam tekanan karena orang-orang jahat itu mengancam keselamatan ibunya


karena menginginkan dirinya.


Laki-laki itu melemah oleh tatapan mata yang tajam serta mempertanyakan kenapa


ia dibawa ketempat itu. Gadis di depannya bukan seperti gadis lemah yang selama


ini berada di dalam kuasanya.


Dia mengusap-usap dagunya, tersenyum kecil. Kharisma serta ketampanannya


masih sangat mempesona. Tubuhnya kekar dan tegap, oleh kebiasaan olah tubuh


yang rutin, dan juga oleh pesona kekuasaan yang besar.


"Ini semua bermula dari Abidin, dia menjualmu padaku! jadi aku berhak mengambil


apa yang telah kubeli!"


"Kalau bapak tau, bahwa Abidin datang kedalam kehidupan ibuku untuk merampok!


Ia mengambil dokumen rumah ibuku, emas peninggalan ayahku, dan kemudian


menjual diriku! seolah-olah kami ini hanya barang yang bodoh bagi Abidin sialan


itu!"


Prita menahan kemarahannya. Ia harus menjelaskan pada pria ini bahwa dia


dan ibunya tidak berada dalam situasi keuangan yang buruk. Semua sebab


kerakusan Abidin!


"Berapa Abidin menjualku? aku akan kembalikan uang itu! aku dan ibuku


tidak tahu menahu dengan urusan bapak dengan Abidin. Kami tidak menjahati


orang, dan juga tidak ingin dijahati. Coba bayangkan jika situasi ini dialami


oleh istri dan anak perempuan anda Pak!"


Ayah Jae tercenung, dan Prita terus bicara tentang yang sebenarnya.


"Saya memang gadis miskin Pak, ibuku hanya memiliki empat rumah kontrakan


untuk kehidupannya dan aku.  Selama ini aku membayar uang sekolah dan


kuliahku dengan mengajar anak-anak les, aku bekerja keras untuk semua


hal!"


Ayah Jae terdiam. Ia tau gadis ini benar adanya. Abidinlah yang telah memanfaatkan


keadaan. Tetapi Ayah Jae telah jatuh cinta pada Prita. Jatuh cinta yang menghinggapi


dirinya tanpa bisa ia cegah. Perasaan yang melemahkan dirinya.

__ADS_1


"Dengan apa kau membayarnya? bukankah kau juga memerlukan uang untuk


kuliahmu."


"Bapak tidak perlu tahu dari mana saya mendapatkan uang, tetapi saya beritahu


bahwa uang itu halal."


Prita begitu yakin pada dirinya sendiri. Dan keyakinan yang besar itu telah membuat


ayah Jae berpikir ulang tentang apa yang ia lakukan. Bahwa ia juga pernah sangat


miskin, lebih miskin dari gadis ini. Sosok gadis di depannya ini sangat mandiri, serta


memiliki sebuah sikap yang membuat orang yang berhadapan dengannya merasa


bahwa ia harus mengalah.


"Saya dan ibu, tidak memiliki permusuhan dengan bapak. Kita tidak saling mengenal


bagaimana mungkin orang yang tidak saling mengenal bermusuhan."


Prita mengatakannya dengan lembut serta sikap yang menghormati laki-laki di depannya


yang menjadi lebih banyak diam. Kegarangannya, jahat serta kejamnya menghilang


begitu saja. Ia tak bisa mengatakan, "Jadilah baby sugarku, dan aku akan memberikanmu


berapa saja dan apa pun yang kau inginkan."


Karena Prita tidak membutuhkannya. Prita bukan gadis yang mengingikan hal seperti itu.


Ayah Jae tersenyum, berbincang-bincang dengan Prita membuat suasana terasa


menjadi indah dan luar biasa. Telah lama sekali Ayah Jae tak bertemu orang seperti


Prita. Gadis cantik yang luar biasa, yang membuatnya nyaman dan tidak akan


dicurangi.


"Oh ya, pada pertemuan pertama dulu, aku sangat terkesan dengan kehebatanmu


mengalahkan orang-orangku, yang menyebabkan aku selalu teringat dan bertanya-


tanya siapa gadis muda itu?"


Ayah Jae tersenyum, ia mengubah topik pembicaraan dan tersenyum tulus pada


Prita. Gadis itu menatapnya dan pandangannya yang dalam seolah-olah akan


menembus dadanya.


"Dan bapak sudah bertemu denganku. Aku biasa saja tidak ada yang istimewa,


terkadang kenekatanku tak terbendung demi menyelamatkan diriku dan ibuku."


"Itu luar biasa."


Hidangan makan siang diantarkan di tepi kolam renang dan suasana taman


yang indah. Prita tak menolak ketika pria itu mengajaknya menikmati sajian


yang telah di sediakan. Mereka makan siang sambil berbincang-bincang.


Prita melihat bahwa laki-laki di depannya membutuhkan kasih sayang dan juga


cinta. Dia juga merindukan kasih sayang dan cinta seorang ayah.


 


 


 


Bersambung


 


Hello pembaca, terima kasih banyak ya telah hadir di karyaku ini yang


sederhana dan apa adanya diriku he he he. Jangan bosan dan selalu

__ADS_1


dukung karya ini dengan like, vote serta komen, othor sangat berterima


kasih


__ADS_2