
Theo, seorang pria asli Papua. Selama ini ia dikenal sebagai ketua sebuah perkumpulan yang bernama Pelindung Anak Papua. Banyak kejadian yang memunculkan perkumpulan tersebut. Anak anak pendatang berlaku sombong, semena mena serta tak mau bergaul dengan anak anak asli Papua. Anak anak pendatang merasa lebih tinggi dari anak anak asli Papua. Sering sekali ada ketidak adilan, penghinaan juga keengganan bergaul dengan mereka yang asli kota tersebut. Theo marah, kecewa dan tidak bisa menerima perlakuan tersebut. Ia lantas mendirikan perkumpulan tersebut. Ia akan menculik anak pendatang yang dianggap sombong, sok, angkuh serta sikap sikap yang menjengkelkan lainnya. Ia akan memberi 'pelajaran untuk anak-anak pendatang yang sombong, angkuh dan tak mau berteman, bergaul dengan penduduk asli Papua.
Kali ini telah datang seseorang kepadanya yang mengadukan tentang Mardo. Gadis pendatang itu telah membuat perpecahan anak anak pendatang dan anak anak asli. Theo gemes sekali serta marah. Ia menyuruh agar menculik Mardo dan memberinya ' pelajaran'
"Mardo! torang nona pendatang di kota ini! hargai anak anak asli Papua. Torang tidak boleh bertingkah macam macam. Theo tidak suka itu!"
Mardo membesarkan matanya."Beta tidak macam macam!, apa yang telah beta lakukan? jangan asal menuduh yaa kak."
Brakkk!
Theo memukul meja. Matanya tajam menatap kepada Mardo yang terkejut oleh suara geprakan meja.
"Dasar anak pendatang, selalu saja membangkang tak mau menerima kesalahan!"
Mardo lantas berdiri balas menatap tajam.
"Aku merasa benar kak, apa yang sudah aku lakukan sehingga membuat kakak marah padaku? katakan apa salahku?"
Mardo setengah berteriak.
Duduk!
Theo sekali lagi mengeprak meja.
Terpaksa Mardo duduk kembali dan meremas remas tangannya.
"Kenapa torang hanya berteman dengan empat atau lima orang yang itu itu saja? Torang pilih pilih teman, dan tidak mau kenal teman anak Papua lainnya. "Torang nona pendatang yang ekslusif hah!"
Mardo terkejut. Ia mencoba menelaah kata kata yang baru saja ia dengar. Benarkah seperti itu? Mardo menggigit bibirnya. Apa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak disukai anak anak Papua.T api ia dekat dengan Halima, Husen, Wiliam, mereka anak asli Papua. Ia tidak membedakan teman.
"Beta-aku tidak seperti itu. Beta berteman dengan siapa saja."
"Bohong! kalian anak anak pendatang bertingkah sombong pada kami anak anak Papua, tidak mau kenal tidak mau bergaul dengan kami."
"Tidak! itu salah kak! beta berteman dengan siapa saja. Beta berteman dekat dengan Halima Haremba, Husen, Wiliam,Sarah Lee dan anak anak lainnya. Beta baik baik saja dengan teman teman di sekolah. Beta menyapa setiap teman. "Beta tidak sombong."
Mardo menjelaskan dirinya panjang lebar membuat Theo terbengong. Gadis ini punya nyali yang besar.
__ADS_1
"Beta mau berteman dengan saudara saudara beta penduduk asli, juga dengan kak Theo, kita ini sama sama orang Indonesia. Sama semuanya kita bersaudara kak! beta tidak membeda bedakan teman, itu salah!"
Theo mengendorkan sikap kemarahannya. Entah kenapa sikap gadis ini membuat hatinya mencair.. Ia pemberani, tidak menangis dan minta dikasihani.
"Bahkan aku baru saja mengajari seorang gadis asli Papua bahasa Inggris...serius kak, aku mengajarinya matematika, bahasa Inggris dan pelajaran lain. Aku bahkan pergi ke rumahnya menyebrang lautan, ini kisah nyata kak..!"
"Sudah!, kenapa torang jadi banyak bicara! bagaimana pun torang mesti mendapat pelajaran!"
"Maksudnya pelajaran apa ya kak!"
"Apa torang pikir, pelajaran seperti di sekolah hah! Liat saja nanti!"
Theo, lantas meninggalkan tempat itu,dengan membanting pintu.
Mardo terdiam dan terpaku. Mimpi apa ya semalam? ketemu pria bernama Theo. Hanya saja Mardo yakin dalam hatinya Theo pria yang baik. Ia sempat saling tatap tadi dan mata Theo ada kelembutan hati. Hanya saja kedudukkannya sebagai ketua membuatnya harus keras, tegas juga menakutkan. Lantas ia memikirkan Halima, apakah Halima telah melakukan sesuatu untuk menolongnya?
Baru saja ia memikirkan hal tersebut ketika terdengar gerungan mobil yang berhenti di halaman rumah Theo.
Tak lama sepi. Ternyata mobil tersebut sudah di kepung oleh teman teman Theo. Mereka memegang panah di tangan, tinggal menunggu perintah untuk menariknya.
Theo muncul dan bertolak pinggang di atas rumahnya. Sesaat tegang. Orang orang asli tersebut sangat lugu dan penurut. Halima dan Raka yang berada di dalam mobil saling pandang.
Halima, hampir menangis. Ia mendapatkan kepercayaan yang besar dari seorang yang sangat istimewa.
'Lihat, aku akan melakukan yang terbaik' Halima yakin ia bisa.
Gadis itu pelan pelan membuka pintu mobil, Theo terkejut hingga mundur beberapa langkah. Demikian juga laki-laki yang berjaga-jaga dan memegang panah. Seorang gadis yang sukunya sama dengan mereka. Berdiri dan kemudian menatap pada Theo.
Terdengar gerumit gerumit dalam bahasa asli. Belum pernah ada nona Papua yang datang dengan mobil mewah apa lagi terlihat marah, ia agaknya akan mengacaukan pekerjaan Theo. Semua mengerutkan kening.
Halima dengan berani dan suara keras berteriak pada Theo.
"Brother, beta mengerti terhadap apa yang kalian lakukan. Beta juga setuju pada visi serta misi kalian yang membela dan mengangkat harkat anak anak Papua. Tapi Brother, nona pendatang yang ini berbeda. Dia sangat baik hati dan lembut. Dia tidak sombong. Tidak menghina, tidak mengecilkan kita orang Papua. Nona pendatang ini justru sudah membantu beta melewati rintangan rintangan di sekolah. Beta sangat merasakan terhadap apa yang dilakukan nona pendatang ini.Bahkan sekarang ini beta berani dan bisa bicara seperti ini karena nona pendatang. Dia mengajari kitong orang banyak hal terutama kepercayaan diri dan keberanian.Jangan sampai kita melakukan hal yang salah, tolong lepaskan nona Mardo, tolong Brother."
Sesaat hening.mencekam dan tegang. Raka mengawasi semuanya serta bersiap melakukan sesuatu jika Theo nekat melakukan hal yang membahayakan gadis belianya.
Tiba tiba Theo bertepuk tangan,"Luar biasa kau adikku. Benarkah nona pendatang itu yang sudah mengubahmu?"
__ADS_1
"Iya, beta meniru keberaniannya, saat saat ia bicara sangat banyak, keramahannya, dan banyak hal...iya banyak hal."
Theo terpukau lantas tersenyum." Kalau begitu kalian bukan tawanan kami melainkan tamu kehormatan kami."
Gumaman serta gerumit-gerumit anak buah Theo terdengar. Mereka masih belum mengerti. Hingga Theo berteriak.
"Kita tidak selalu benar toh? dan orang yang datang pada kita juga tidak selalu bertujuan baik, bisa saja bermaksud jahat, dengan memanfaatkan keberadaan kita. Belum pernah ada nona Papua datang untuk membela nona pendatang, baru kali ini terjadi."
Theo dan semua anak buahnya mengangguk-angguk, setuju.
"Aku percaya nona pendatang itu, bukan seperti yang dikatakannya, terbukti saudara kita sendiri membelanya habis-habisan, mereka sekarang adalah tamu kehormatan kita, mari kitong buat pesta meriah buat merayakan persaudaraan!"
Suara riuh kegembiraan meledak. Orang orang Theo bersorai sorai. Raka dan Halima terbengong. Sampai Theo turun untuk menyalami mereka dan menarik ke rumah panggung. Ia juga menyuruh anak buahnya menyiapkan makanan untuk pesta kegembiraan.
"Kak Raka! mereka tidak marah lagi!, mereka sudah tahu dan mengerti, nona Mardo sudah difitnah!"
"Jadi kita bisa pulang? "
Raka yang seumur-umur baru sekali ini masuk ke hutan pedalaman dan bertemu suku asli Papua sangat tercekat. Kalau bukan karena Mardo Ia tak akan pernah berani memasuki hutan rimba dimana banyak penduduk asli yang menguasai alam.
Ketegangan berubah seketika. Theo akan membuat acara pengangkatan saudara untuk Raka, Halima dan juga Mardo. Jadi malam itu Raka, Halima dan Mardo tak boleh pulang.
Halima banyak membantu acara tersebut. Membuat Theo menyukai Halima.
Mardo sangat bersyukur, karena Halima datang tepat pada waktunya. Ia merasa sangat lapar dan kelelahan.
Raka yang ada di sebelahnya menyadari keadaan Mardo. Ia mendekatkan tubuhnya agar gadis itu bisa menyandarkan dirinya.
Bersambung
__ADS_1