Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 157. Perbincangan II


__ADS_3

Ketiga gadis cantik itu memasuki mansion yang tenang dan damai. Bunyi gemericik dari kolam yang


terlihat dari ruang tamu menggugah hati. Ketiganya saling berpandangan dan bertanya-tanya. Mana


ayah Jae? terutama Yunna dan Elsa  yang penasaran tentang pria dewasa yang diceritakan oleh


Prita. Kalau memang tampan kenapa tidak, begitu di dalam hati kedua gadis itu. Sedangkan Prita


berpikir kalau Yunna dan Elsa bisa menjadi teman berbagi cerita di kehidupan Ayah Jae. Ia merasa


kasihan karena laki-laki itu agaknya sangat kesepian.


"Hello gadis-gadis cantik!"


Terdengar suara dan hampir bersamaan gadis-gadis itu berbalik dan melihat laki-laki dengan


senyum lebar muncul dari dalam. Dan laki-laki itu  membuat Yunna dan Elsa terpesona, bibir


keduanya terperangah. Pria itu tampan, dan sama sekali tidak terlihat tua. Ia muncul dengan


berpakaian kaos berwarna putih yang menampakkan kekekaran dadanya serta lengannya


yang berotot. Ia seperti laki-laki berusia tiga puluh limaan, atau empat puluh tahunan. Makanan,


perawatan serta olah raga membuat Ayah Jae tetap muda. Beberapa rambut putih yang sebenarnya


sudah bermunculan, telah hilang tanpa bekas. Ia sangat tampan dan berkharisma. Prita juga


melihat perubahan itu, wajah laki-laki itu sumringah dan berseri-seri. Laki-laki yang sedang


jatuh cinta, terlihat menarik. Sama halnya seperti wanita.


"Kenapa kalian hanya berdiam diri di sini? yuk kita duduk-duduk di taman, di sana lebih


segar dan nanti ada yang sedang memetik kelapa dan membawakannya untuk kalian."


Setelah selesai berkenalan dengan Yunna yang lincah dan cantik serta Elsa yang mungil


lembut dan juga cantik, Ayah Jae mengajak gadis-gadis itu duduk-duduk di taman belakang


tak jauh dari kolam renang sehingga bunyi gemericik masih terdengar.


"Wah! rumah Ayah Jae ini cantik sekali, membuat betah ya."


Yunna memandangi sekitar rumah tersebut. Gadis itu terkagum-kagum. Tentu saja sangat jauh berbeda


dengan rumah orang tuanya serta rumah-rumah yang pernah ia kunjungi. Rumah hasil daya


pikir seorang arsitek yang mumpuni. Berapa uang yang dihabiskan untuk membuat rumah seindah


dan semegah ini? Yunna memikirkannya. Betapa banyak uang laki-laki ini. Ia terkagum-kagum.


Sementara Elsa lebih banyak menyembunyikan senyumnya yang memang lebih pendiam


dan pemalu, diantara Prita dan Yunna.


"Kalian suka di sini?"


Ayah Jae memandangi gadis-gadis yang mengelilinginya. Sesekali wajahnya menyambar mata


Prita. Dua gadis yang bernama Yunna dan Elsa memang memiliki kecantikan yang berbeda, tetapi


ia tak bisa melepaskan Prita dari rasa yang ia miliki.  Ia bukan saja jatuh cinta pada Prita tetapi juga


memuja gadis itu. Ia akan melakukan apa saja untuk Prita.


Yunna bisa melihat mata yang penuh makna saat memandangi Prita. Senyumnya dan semua


sikapnya terlihat begitu memperhatikan Prita. Tetapi Yunna tau Prita tidak mungkin memiliki


perasaan pada laki-laki itu. Membuatnya kasihan.

__ADS_1


"Ayah Jae, rumah ini kok tidak ada nyonya rumahnya? tiada sempurna ayah Jae!"


Mendadak Yunna mengalihkan pembicaraan, terlihat Ayah Jae mengerutkan keningnya.


"Aku sudah menawarkankan pada Prita."


Wah!!!!!


Yunna, Elsa, dan Prita berbarengan membesarkan matanya.


"Tapi Prita sudah memiliki kekasih Ayah Jae, setelah selesai kuliah keduannya akan


menikah!"


Yunna!


Prita menghentak! ia tak mau urusan dirinya disangkut pautkan dengan laki-laki ini.


Sementara Ayah Jae tak kalah terkejutnya. Sebab pencarian tentang Prita tidak ada


informasi tentang Prita yang memiliki kekasih. Sedang Yunna hanya asal bicara saja


agar Ayah Jae bisa melupakan impiannya menjadikan Prita pasangannya. Yunna


mengerling pada Prita, bukankah lebih baik katakan terus terang.


Laki-laki itu menarik senyumnya dan ia terlihat tegang.


"Be-benarkah? Prita sudah memiliki kekasih? ayah tidak tau!"


Ia menatap Prita dengan mata yang terluka. Senyumnya seketika menghilang.


"Aku masih fokus mengurus studyku kok."


Prita gugup. Kegagalan terasa menghantam perasaannya. Ia membenci itu.


Hingga kelapa-kelapa muda yang sudah siap diminum, datang dan di susun


di atas meja. Pelayan juga membawakan berbagai macam makanan.


"Aku, sangat senang berkenalan dengan Ayah Jae, kamu juga kan ya Elsa?


seumur umur baru sekali ini bisa bertemu dan berbincang dengan pengusaha


seperti ayah Jae, semoga bisa ketularan menjadi pengusaha  seperti ayah


Jae."


Aamiin!!!


"Hemmm, minum dulu yok kelapa manisnya, dari kebun sendiri, di halaman


belakang sana ada puluhan pohon kelapa yang sedang berbuah."


 


Ayah Jae, mengajak gadis-gadis menikmati minuman dan makanan yang


tersaji. Sembari gadis-gadis mencari tau bagaimana cara hingga bisa


memiliki bisnis yang besar dan berkembang. Pasti tidak mudah dan banyak


perjuangannya.


Laki-laki itu mengercitkan keningnya, 'Seandainya mereka tau dari mana ini


semua bermula, akankah kekaguman itu masih ada? ' Ayah Jae termenung


sesaat. Tetapi kedua orang itu memang jahat. Perempuan yang merampas


kepolosannya sebagai seorang laki-laki muda dari desa. Dan laki-laki

__ADS_1


yang gila bekerja, sehingga mengabaikan istri serta keluarganya. Dan Dirinya


hanya mengurangi dosa-dosa agar tidak menjadi lebih bertumpuk.


"Yah, Ayah berjuang dari usia muda seperti kalian, datang dari desa, bekerja


sambil kuliah. Selanjutnya merintis usaha kecil-kecilan. Setelah puluhan


tahun barulah ayah menjadi seperti yang sekarang, tidak seperti membalikkan


telapak tangan, tetapi dengan berdarah-darah serta air mata."


Yunna mengangguk-angguk, "Pastilah, tidak akan mudah menjalaninya


dan sendirian."


"Hemmm, Elsa tak tanya, sangat pendiam kelihatannya."


Tiba-tiba ayah Jae memandang pada Elsa yang mungil dan cantik. Pandangan


keduanya bertemu, ayah Jae memberikan senyumnya. "Kalau Elsa apakah


sudah memiliki kekasih?"


Elsa tersentak, ia gelagapan memandang pada Yunna dan Prita, sementara


Ayah Jae menunggu jawabannya.


"Eng, eng, be..."


"Sudah juga Ayah Jae, malah sudah bertunangan, tahun depan ia dan kekasihnya


bakal menikah!"


Ayah Jae, sekarang menatap pada Yunna. "Bagaimana dengan Yunna?"


Gadis itu langsung tersenyum-senyum, pipinya memerah. "Kalau saya masih


belum ada, Ayah Jae he he he."


Prita membuang muka, Apakah Yunna siap menjadi kekasih Ayah Jae, dia begitu


terobsesi pada ayah Jae. Ya ampun, apakah saat ini sedang melakukan sebuah


kesalahan? ia yang membuat ini terjadi.


"Kamu siap menjadi nyonya rumah ini?"


Tak basa-basi ayah Jae langsung menembak Yunna yang memperlihatkan rasa


ketertarikkannya pada laki-laki itu. Ketiganya sama mendengarkan hal tersebut.


lantas memandang pada Yunna.


"A-apa Ayah Jae bisa melupakan perasaan suka itu dari Prita kepada saya?"


"Tentu saja sangat sukar, tapi saya seorang yang realistis. Bukan lagi masanya


bagi saya untuk memaksakan cinta saya, usia ini telah mengingatkan saya akan


penerus."


"Oh, saya mengerti. Beri saya waktu untuk mempertimbangkannya."


Akhinrya Yunna memberikan keputusannya. Prita dan Elsa hanya mendengarkan


obrolan tersebut.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2