
Bismillahirrohmanirrohim
Hello, jangan bosan ya readers. Sebelumnya author mengucapkan banyak terima kasih
pada dukungannya yang tiada putus hingga tercapai episode 150. Outhor sendiri heran
kok bisa menulis sepanjang ini. Kisahnyanya memang panjang sekali. Tentang pria-pria
idola. Pria yang merupakan pencarian para wanita mendapatkan imam yang kelak dapat
mempertanggung jawabkan hidup mereka. Pria idola yakni pria yang memperlakukan
wanita dengan lembut, kasih sayang, bertanggung jawab serta memberikan kenyamanan
dan rasa indah di hati wanita.
Pria idola, tidak akan pernah meninggalkan jejak menyakiti hati seorang perempuan.
inilah makna kisah ini. Serta Cinta pertama dan terakhir.
Ok deh, author tak pintar bicara, segera kita lanjut ya gaes. Selamat membaca ya
gaes, jangan lupa selalu memberikan likenya yang mantap itu loh, komen/jejak
dan vote. Muahhhhhhh! he he he..I luv you!!!
Yuk nyambung lagi.
Ratna!
Jae membuka pintu mobil dan berteriak, membuat perempuan di sebrang itu terkejut.
Ratna, ya perempuan bertubuh langsing dan rambutnya terurai itu adalah Ratna.
Ia masih cantik seperti dulu, hanya usianya yang kelihatan lebih dewasa. Jae bergegas
menyebrang, sembari membawa oleh-oleh untuk perempuan yang sangat ia cintai.
Kedua orang itu berdiri saling bertatapan, Jae lebih dulu mengembangkan senyumnya.
"Oh! kaukah itu? Kau Jae! Jaelane! ya ampun!"
Perempuan berkulit putih itu terlihat terkejut, namun kemudian bibirnya mengembang
oleh kedatangan bekas kekasihnya.
"Jae! kapan kamu datang? tinggal di mana? menginap di mana?"
Perempuan itu gugup sekali hingga ia bingung apa yang mesti ia lakukan. Tetapi
kemudian ia menarik tangan Jae masuk ke rumahnya.
"Jae, mampirlah sebentar ya, ini sudah lama sekali!"
Terdengar suara Ratna serak, ia menahan tangisnya. Kenangan masa lalu yang
pernah terajut berputar di benaknya. Membuatnya merasa sentimental dan tak
dapat menahan isaknya serta air mata berderaian. Jae juga merasakan kesedihan
di dalam hatinya, tiba-tiba ia menarik pinggang Ratna dan memeluknya. Tidak ada
yang ia katakan hanya memeluk seolah mengatakan ia juga sangat sedih dan
merasakan betapa merananya cinta yang tak sampai.
Anak kecil dalam dekapan Ratna menyelusup turun dari gendongan ibunya dan berlari
ke belakang. Terdengar suaranya yang mengganggu kakaknya.
"Oh,"
Ratna melepaskan dirinya kemudian dengan gurup menyuruh Jae duduk di ruang
tamu yang sejuk bagus penataannya.
"Aku buatkan minuman dulu ya Jae."
Ratna bergegas ke belakang. Jae memperhatikan ruangan tamu tersebut. Mebel
mahal, lemari pajang yang besar, serta foto Ratna dan suaminya. Jae mencoba
mengenali laki-laki itu tetapi ia tidak mengenalnya. Usianya kelihatan jauh lebih
tua dari Ratna, tetapi gagah dan kelihatan kalau laki-laki itu memiliki semua yang
bisa membuat perempuan bertahan di sisinya.
Jae dengar, suami Ratna seorang saudagar beras di kota itu. Banyak toko-toko
__ADS_1
kecil yang mengambil beras kepadanya dan menjual kembali di tempat mereka.
Setiap hari, toko grosir berasnya ramai oleh orang-orang yang berbelanja. Setiap
hari berkilo-kilo beras, ratusan karung diangkut keberbagai mobil dan dibawa
pergi. Setiap hari seperti itu. Sibuk oleh langganan.
Untunglah kekasihnya Ratna hidup bahagia. Perempuan itu tak berkekurangan
sedikitpun. Rumahnya besar dan mewah, mobil di garasi terlihat ada tiga, dan
merupakan mobil berharga di atas dua ratus jutaan. Keadaan dan kesenangan
hidup itu membuat Ratna kekasihnya tetap cantik dan lembut seperti saat dia
remaja. Justru sekarang terlihat kecantikannya sudah jadi, bertambah dengan
usianya yang matang, ia ibarat bunga mawar yang semakin hari warnanya
merah merona dan wangi.
Tak lama seorang pelayan membawakan minuman dan kue-kue, Ratna berada
di belakangnya, dan dua orang anak perempuan berusia lima tahunan, agaknya
kembar, karena keduanya sangat mirip.
"Ini anakmu Na? kembar ya?"
"Iya Jae, Nina dan Nana, hei sayang! salam sama Om Jae, teman Mama waktu
sekolah dulu."
Ratna mendekatkan dua anak perempuan itu pada Jae, dan terlihat keduanya
menghampiri pria tampan itu dan mencium tangannya.
"Cantik seperti kamu Na. Berapa anakmu Na?"
Jae mengelus rambut kedua anak itu dan menatap pada Ratna, setiap kali memandang
mata Ratna, ia merasakan kenangan mereka yang mengambang.
"Tiga Jae, sikembar dan yang tadi Jimmi. Dan kau? berapa anakmu Jae."
Jae berkata lirih.
Oh!
Ratna menyentuh dagunya. Ia teringat kenangan kepergian Jae ke kota. Jae memintanya
menunggu. Seandainya Jae pernah mengabarinya, bahwa ia sebentar lagi akan pulang.
Tetapi setahun, dua hingga hampir enam tahun tidak ada kabar berita sama sekali.
Tidak adanya kepastian dari Jae, membuat Ratna menerima lamaran laki-laki suaminya.
Tapi sekarang Jae tiba-tiba kembali. Mereka memang sempat mengambang dalam
bayang-bayang masa lalu yang indah, tetapi semuanya hanya tinggallah kenangan.
"Jae, aku senang melihatmu. Kau hidup senang sekarang! mobilmu bagus."
Ratna mengembangkan senyumnya.
"Oia, makan siang di sini ya Jae, aku masak gulai ikan kesukaanmu."
Ratna tetap merasakan keakraban yang ada diantara mereka, ia tidak memiliki rasa
was-was, yang ia rasakan adalah persahabatan lebih diantara mereka.
"Jae kenapa kau belum menikah?"
Ratna menatap mata Jae. Mereka saling memandang.
"Mungkin sepulang dari melihatmu, aku akan menikah."
Jae tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, meski ia telah menduga bahwa Ratna
sudah menikah tetap saja ia ingin membuktikan sendiri Ratna menikah dengan siapa
dan apakah kekasihnya bahagia.
Tiba-tiba terdengar tangisan anak Ratna yang terkecil. Ratna berlari ke arah suara
tangis anaknya, agak lama Ratna tak muncul. Jae tiba-tiba masuk untuk melihat
bagian dalam rumah Ratna.
__ADS_1
"Rumahmu besar sekali Na?"
Ia melihat pintu kamar yang terbuka, dan matanya berserobok dengan mata Ratna.
Anaknya sedang beranjak tidur siang. Ratna akan keluar, tetapi Jae masuk dan
menutup pintu. Jarak mereka sangat dekat, di depan pintu. Tiba-tiba Jae tak dapat
menahan diri, ia meraih tubuh Ratna dan memiringkan kepalanya meraih bibir
perempuan itu yang sempat terkesiap.
"Jae!"
Ratna menyambut perlakuan Jae kepadanya, mereka saling berpelukkan dan
saling memagut, hingga napas keduanya terengah-engah. Suara tangis
Jimmi mengejutkan keduanya. Ratna melepaskan dirinya.
"A-aku pulang kepenginapan Na, besok aku pulang ke Jakarta."
Jae membuka pintu dan bergegas keluar. Ratna mengendong anaknya
menyusul keluar. Anak perempuannya sedang bermain kejar-kejaran
di ruang tamu. Dan mereka mengambil oleh-oleh dari Jae.
"Jae, makan siang dulu!"
Ratna berusaha menghentikan Jae yang setengah bergegas meninggalkan rumah.
Anak-anak perempuannya menikmati kue-kue di meja dan tertawa melihat tamunya
sudah pulang, jadi mama tidak akan memarahi mereka.
"Jae! Jae!"
"Kenapa kau tergesa-gesa?"
"Iya Na, aku hanya ingin melihat kekasihku saja, ternyata keadaan kekasihku
baik-baik saja, aku senang Na."
Jae berbalik, mereka bertatapan lagi. "Selamat tinggal Na."
Mata Ratna mulai tergenang air mata.
"Jam berapa kau pulang Jae? mampirlah sekali lagi ya."
"Hemm, iya besok aku pulang jam sepuluh."
"Lewat sini ya Jae, aku akan memberimu oleh-oleh."
"Tidak perlu repot Na."
Setelah itu Jae menyebrang dan masuk ke dalam mobilnya, ia berbelok dan ketika
di dekat Ratna ia membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangan. Perempuan
itu melambai dengan wajah sendu. Setelah agak jauh Jae menoleh dan melihat
perempuan itu berlari masuk ke rumahnya, agaknya ia menangis. Jae juga menghapus
air mata yang menggenangi kelopak matanya. Cinta pertamanya yang tak sampai.
Keesokkan harinya ia sengaja melewati rumah Ratna dan ia melihat perempuan itu
di depan rumahnya, agaknya menunggunya. Tak tega melewatinya. Akhinrya Jae berhenti
dan sekali lagi berpamitan. Mereka berpelukkan dan melepaskannya dengan cepat.
Ratna mengambil sebuah kotak dan memberikan oleh-oleh untuk Jae.
Selanjutnya Jae berkenderaan dan membisu sepanjang jalan hingga akhirnya ia
sampai ke Jakarta. Selamat tinggal kisah cinta yang tak sampai.
Hatinya mengeras.
Bersambung
Jangan lupa ya gaes beri like dan tinggalkan jejak, author sangat
berterima kasih.
__ADS_1