Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 150. Kisah Cinta Tak Sampai Ayah Jae II


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


Hello, jangan bosan ya readers. Sebelumnya author mengucapkan banyak terima kasih


pada dukungannya yang tiada putus hingga tercapai episode 150. Outhor sendiri heran


kok bisa menulis sepanjang ini. Kisahnyanya memang panjang sekali. Tentang pria-pria


idola. Pria yang merupakan pencarian para wanita mendapatkan imam yang kelak dapat


mempertanggung jawabkan hidup mereka. Pria idola yakni pria yang memperlakukan


wanita dengan lembut, kasih sayang, bertanggung jawab serta memberikan kenyamanan


dan rasa indah di hati wanita.


Pria idola, tidak akan pernah meninggalkan jejak menyakiti hati seorang perempuan.


inilah makna kisah ini. Serta Cinta pertama dan terakhir.


Ok deh, author tak pintar bicara, segera kita lanjut ya gaes. Selamat membaca ya


gaes, jangan lupa selalu memberikan likenya yang mantap itu loh, komen/jejak


dan vote. Muahhhhhhh! he he he..I luv you!!!


Yuk nyambung lagi.


Ratna!


Jae membuka pintu mobil dan berteriak, membuat perempuan di sebrang itu terkejut.


Ratna, ya perempuan bertubuh langsing dan rambutnya terurai itu adalah Ratna.


Ia masih cantik seperti dulu, hanya usianya yang kelihatan lebih dewasa. Jae bergegas


menyebrang, sembari membawa oleh-oleh untuk perempuan yang sangat ia cintai.


Kedua orang itu berdiri saling bertatapan, Jae lebih dulu mengembangkan senyumnya.


"Oh! kaukah itu? Kau Jae! Jaelane! ya ampun!"


Perempuan berkulit putih itu terlihat terkejut, namun kemudian bibirnya mengembang


oleh kedatangan bekas kekasihnya.


"Jae! kapan kamu datang? tinggal di mana? menginap di mana?"


Perempuan itu gugup sekali hingga ia bingung apa yang mesti ia lakukan. Tetapi


kemudian ia menarik tangan Jae masuk ke rumahnya.


"Jae, mampirlah sebentar ya, ini sudah lama sekali!"


Terdengar suara Ratna serak, ia menahan tangisnya. Kenangan masa lalu yang


pernah terajut berputar di benaknya. Membuatnya merasa sentimental dan tak


dapat menahan isaknya serta air mata berderaian. Jae juga merasakan kesedihan


di dalam hatinya, tiba-tiba ia menarik pinggang Ratna dan memeluknya. Tidak ada


yang ia katakan hanya memeluk seolah mengatakan ia juga sangat sedih dan


merasakan betapa merananya cinta yang tak sampai.


Anak kecil dalam dekapan Ratna menyelusup turun dari gendongan ibunya dan berlari


ke belakang. Terdengar suaranya yang mengganggu kakaknya.


"Oh,"


Ratna melepaskan dirinya kemudian  dengan gurup menyuruh Jae duduk di ruang


tamu yang sejuk bagus penataannya.


"Aku buatkan minuman dulu ya Jae."


Ratna bergegas ke belakang. Jae memperhatikan ruangan tamu tersebut. Mebel


mahal, lemari pajang yang besar, serta foto Ratna dan suaminya. Jae mencoba


mengenali laki-laki itu tetapi ia tidak mengenalnya. Usianya kelihatan jauh lebih


tua dari Ratna, tetapi gagah dan kelihatan kalau laki-laki itu memiliki semua yang


bisa membuat perempuan bertahan di sisinya.


Jae dengar, suami Ratna seorang saudagar beras di kota itu. Banyak toko-toko

__ADS_1


kecil yang mengambil beras kepadanya dan menjual kembali di tempat mereka.


Setiap hari, toko grosir berasnya ramai oleh orang-orang yang berbelanja. Setiap


hari berkilo-kilo beras, ratusan karung diangkut keberbagai mobil dan dibawa


pergi. Setiap hari seperti itu. Sibuk oleh langganan.


Untunglah kekasihnya Ratna hidup bahagia. Perempuan itu tak berkekurangan


sedikitpun. Rumahnya besar dan mewah, mobil di garasi terlihat ada tiga, dan


merupakan mobil berharga di atas dua ratus jutaan. Keadaan dan kesenangan


hidup itu membuat Ratna kekasihnya tetap cantik dan lembut seperti saat dia


remaja. Justru sekarang terlihat kecantikannya sudah jadi, bertambah dengan


usianya yang matang, ia ibarat bunga mawar yang semakin hari warnanya


merah merona dan wangi.


Tak lama seorang pelayan membawakan minuman dan kue-kue, Ratna berada


di belakangnya, dan dua orang anak perempuan berusia  lima tahunan, agaknya


kembar, karena keduanya sangat mirip.


"Ini anakmu Na? kembar ya?"


"Iya Jae, Nina dan Nana, hei sayang! salam sama Om Jae, teman Mama waktu


sekolah dulu."


Ratna mendekatkan dua anak perempuan itu  pada Jae, dan terlihat keduanya


menghampiri pria tampan itu dan mencium tangannya.


"Cantik seperti kamu Na. Berapa anakmu Na?"


Jae mengelus rambut kedua anak itu dan menatap pada Ratna, setiap kali memandang


mata Ratna, ia merasakan kenangan mereka yang mengambang.


"Tiga Jae, sikembar dan yang tadi Jimmi. Dan kau? berapa anakmu Jae."


Jae berkata lirih.


Oh!


Ratna menyentuh dagunya. Ia teringat kenangan kepergian Jae ke kota. Jae memintanya


menunggu. Seandainya Jae pernah mengabarinya, bahwa ia sebentar lagi akan pulang.


Tetapi setahun, dua hingga hampir enam tahun tidak ada kabar berita sama sekali.


Tidak adanya  kepastian dari Jae, membuat Ratna menerima lamaran laki-laki suaminya.


Tapi sekarang Jae tiba-tiba kembali. Mereka memang sempat  mengambang dalam


bayang-bayang masa lalu yang indah, tetapi semuanya hanya tinggallah kenangan.


"Jae, aku senang  melihatmu. Kau hidup senang sekarang! mobilmu bagus."


Ratna mengembangkan senyumnya.


"Oia, makan siang di sini ya Jae, aku masak gulai ikan kesukaanmu."


Ratna tetap merasakan keakraban yang ada diantara mereka, ia tidak memiliki rasa


was-was, yang ia rasakan adalah persahabatan lebih diantara mereka.


"Jae kenapa kau belum menikah?"


Ratna menatap mata Jae. Mereka saling memandang.


"Mungkin sepulang dari melihatmu, aku akan menikah."


Jae tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, meski ia telah menduga bahwa Ratna


sudah menikah tetap saja ia ingin membuktikan sendiri Ratna menikah dengan siapa


dan apakah kekasihnya bahagia.


Tiba-tiba terdengar tangisan anak Ratna yang terkecil. Ratna berlari ke arah suara


tangis anaknya, agak lama Ratna tak muncul. Jae tiba-tiba masuk untuk melihat


bagian dalam rumah Ratna.

__ADS_1


"Rumahmu besar sekali Na?"


Ia melihat pintu kamar yang terbuka, dan matanya berserobok dengan mata Ratna.


Anaknya sedang beranjak tidur siang. Ratna akan keluar, tetapi Jae masuk dan


menutup pintu. Jarak mereka sangat dekat, di depan pintu. Tiba-tiba Jae tak dapat


menahan diri, ia meraih tubuh Ratna dan memiringkan kepalanya meraih bibir


perempuan itu yang sempat terkesiap.


"Jae!"


Ratna menyambut perlakuan Jae kepadanya, mereka saling berpelukkan dan


saling memagut, hingga napas keduanya terengah-engah. Suara tangis


Jimmi mengejutkan keduanya. Ratna melepaskan dirinya.


"A-aku pulang kepenginapan Na, besok aku pulang ke Jakarta."


Jae membuka pintu dan bergegas keluar. Ratna mengendong anaknya


menyusul keluar. Anak perempuannya sedang bermain kejar-kejaran


di ruang tamu. Dan mereka mengambil oleh-oleh dari Jae.


"Jae, makan siang dulu!"


Ratna berusaha menghentikan Jae yang setengah bergegas meninggalkan rumah.


Anak-anak perempuannya menikmati kue-kue di meja dan tertawa  melihat tamunya


sudah pulang, jadi mama tidak akan memarahi mereka.


"Jae! Jae!"


"Kenapa kau tergesa-gesa?"


"Iya Na, aku hanya ingin melihat kekasihku saja, ternyata keadaan kekasihku


baik-baik saja, aku senang Na."


Jae berbalik, mereka bertatapan lagi. "Selamat tinggal Na."


Mata Ratna mulai tergenang air mata.


"Jam berapa kau pulang Jae? mampirlah sekali lagi ya."


"Hemm, iya besok aku pulang jam sepuluh."


"Lewat sini ya Jae, aku akan memberimu oleh-oleh."


"Tidak perlu repot Na."


Setelah itu Jae menyebrang dan masuk ke dalam mobilnya, ia berbelok dan ketika


di dekat Ratna ia membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangan. Perempuan


itu melambai dengan wajah sendu. Setelah agak jauh Jae menoleh dan melihat


perempuan itu berlari masuk ke rumahnya, agaknya ia menangis. Jae juga menghapus


air mata yang menggenangi kelopak matanya. Cinta pertamanya yang tak sampai.


Keesokkan harinya ia sengaja melewati rumah Ratna dan ia melihat perempuan itu


di depan rumahnya, agaknya menunggunya. Tak tega melewatinya. Akhinrya Jae berhenti


dan sekali lagi berpamitan. Mereka berpelukkan dan melepaskannya dengan cepat.


Ratna mengambil sebuah kotak dan memberikan oleh-oleh untuk Jae.


Selanjutnya Jae berkenderaan dan membisu sepanjang jalan hingga akhirnya ia


sampai ke Jakarta. Selamat tinggal kisah cinta yang tak sampai.


Hatinya mengeras.


 


 


Bersambung


Jangan lupa ya gaes beri like dan tinggalkan jejak, author sangat


berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2