
Raka dan Mardo kembali ke Jakarta meninggalkan Cindy dan Tria di kota Bandung. Kedua kakak adik itu terutama Tria sangat senang. Rasanya ia memulai kemandiriannya, Bunda Mardo dan ayah Raka keterlaluan dalam menjaganya.
Terbayang hari-hari Tria sejak dia bangun tidur sudah mendengar suara bunda yang mengetuk kamarnya. Ia pun membuka pintu dan kembali ke tempat tidurnya.
"Sholat shubuh cantik."
Kata Bunda sembari membukai horden jendela kamar, semilir angin segar menyelusup masuk. Padahal Tria masih ingin melanjutkan tidur. Kalau kesegaran udara pagi sudah menyentuhnya, ia engan tidur lagi. Sebab percuma saja. Bunda pasti datang lagi memeriksa apakah gadis cantiknya sudah ke kamar mandi dan sholat shubuh. Lagi pula suara-suara ribut Dode dan Rama sibungsu yang pagi-pagi sudah berkejaran di depan kamar membuat kupingnya sakit.
Tria terpaksa bangun dan membuka pintu kamar dengan gemas untuk menghentikan keributan tersebut. Anehnya saat ia membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya dua adik laki-lakinya sama sekali tak kelihatan. Agaknya buru-buru sembunyi dibalik tembok, sambil jemari mereka mendekap mulut menahan tawa. Bikin senewan.
Saat jam pulang sekolah bunda sudah mengecek keberadaannya.
"Cantik sudah pulang sekolah?"
Sesekali bilang mau pergi sama teman sih nggak apa-apa, tetapi keseringan membuat Tria akhirnya menjawab.
"Sudah bunda."
Padahal pergi dengan teman-teman saat pulang sekolah sangat menyenangkan. Mereka kadang main di mall, pergi ke rumah salah satu teman, atau sekedar menikmati kuliner yang bertaburan di kota Jakarta. Mesti setiap jam bunda chat, apakah sudah selesai main sama temannya atau belum. Kalau sudah selesai langsung pulang ke rumah, sholat dhurur, makan siang, boleh nonton tivi sebentar lalu tidur siang.
Sore hari, setelah tidur siang dibangunkan lagi supaya ikut les pelajaran. Hingga menjelang tidur, bunda selalu memantaunya dan adik-adiknya. Tria ingin seperti Cindy, tak lagi dipantau dan mesti begini dan begitu.
Cindy hanya tertawa mendengar keluhan Tria. Kakak adik itu saling menceritakan apa yang mereka rasakan dulu dan sekarang. Cindy bilang ia juga merasakan apa yang dialami Tria itu. Tetapi ia menikmatinya dan merasakan perhatian serta penjagaan orang tua terhadap anaknya.
"Kakak juga dulu begitu kok, kalau bukan bunda yang mengetuk pintu pasti Ayah, langsung membuka jendela sehingga udara dingin menyerbu masuk, ih saat itu memang terkadang kesal, sebab masih sangat mengantuk, tapi nggak bisa berbuat apa-apa, semua itu bentuk kasih sayang dan perhatian pada anak-anaknya."
"Iya Sis, rasanya aku nggak sabar, pengen cepat-cepat lulus sma dan kost di luar kota. Pasti asyik."
"Nggak semua asyik, tetapi satu waktu kamu juga nanti merindukan suasana rumah. Dibangunkan oleh bunda atau ayah, disuruh sholat, makan, tidur siang, mandi, les hingga menjelang akan tidur, selalu dalam pantauan bunda dan ayah."
__ADS_1
"Sangat berbeda jika tinggal sendiri, tidak ada yang mengurus, harus bangun sendiri sebab tak ada yang membangunkan. Mesti mengurus diri sendiri, mulai dari makan, minum, mandi, mencuci, menyetrika, ngepel, masak pokoknya semua serba sendiri."
"Terkadang karena malas masak, akhirnya nggak makan langsung pergi dan lupa berjam-jam kalau perut belum di isi, akhirnya sakit."
"Iya sih Sis, tapi aku tetap menunggu saat-saat bisa seperti kakak."
"Tak lama lagi kan? tak sampai dua tahun, bersabarlah."
"Aku bersabar kok menikmati bersama ayah, bunda, Dode dan sibungsu Rama. Dode itu loh yang nyebelin banget. Nakal setengah ampun. Kerjanya kalau nggak gangguin aku ya gangguin adiknya Rama."
"Anak cerdas memang begitu, bandel dan nggak bisa diam. Dode dulu kan bergelutnya dengan kak Rakasiwi sekarang Rama jadi pelariannya deh."
"Ampun pokoknya kak, setiap hari ribut melulu. Dode biang kerok sedunia. Terus kalau manggil nggak mau pakai kakak atau dek, kalau manggil aku aja nih Tria Tria aja, nggak ada sopan santunnya."
"Apa lagi ke kamu yang cuman beda tiga tahun, ke kakak juga nggak pernah manggil kak Cindy, tapi Cindy! Cindy udah kayak temannya aja."
Keduanya geleng-geleng kepala. Setelah mengobrol panjang lebar, Cindy mengajak adiknya jalan-jalan ke Mall Paris Van Java. Sudah beberapa kali sih Cindy ke tempat ini, termasuk sering. Sedangkan Tria baru yang kedua kali. Mall tempat jalan-jalan melihat dan mengitari pertokoan megah.
"Kan kamu memiliki impian pergi ke Paris. Ayo kakak ajak jalan-jalan ke Paris van java, biar terbiasa suasananya yang romantis."
Mereka berkemas, mengenakan celana jeans dan kemeja. Tria lebih tinggi dibanding Cindy. Seperti Ayah Raka, sedangkan Cindy lebih ke bundanya Mardo, yang memiliki tinggi sekitar 158 m. Sedangkan Tria 165 m. Orang-orang mengira Tria adalah kakaknya, sebab ia terlihat lebih tinggi dan dewasa. Sedangkan Cindy yang putih lembut terlihat lebih muda.
Sebuah sedan mungil yakni Mazda 6 elite berwarna hitam terparkir manis di garasi. Sedan itu menemani Cindy kemana saja, mulai dari ke kampus, olah raga, ke mall atau kemana saja. Beberapa kali Cindy memberanikan diri pulang ke Jakarta dengan mobil tersebut. Paling kena omelan Bunda yang menyatakan jangan berkendera sendirian jika jarak jauh, berbahaya.
"Aku hati-hati kok Bun."
Begitu pembelaannya terhadap bunda Mardo. Tetapi memang sangat berbahaya, ia pernah mengalami saat pulang, tiba-tiba diserang rasa mengantuk yang amat sangat. Ingin berhenti tetapi tidak memungkinkan. Hingga kejadian itu membuatnya trauma. Tiba-tiba sedan mungil yang dikenderainya keluar jalur melawan arus, dan darahnya tersirap ketika mobil itu lepas kendali akibat mengantuk. Hampir saja ia menabrak sebatang pohon besar yang sejak lama berdiri di tepi jalan itu.
Cindy gemetar saat mengalami itu. Hanya sekedipan mata saja nyawanya bisa melayang. Beruntung kenderaan sepi, jalur sebelah tidak ada satu pun kenderaan yang lewat. Seandainya ada, sudah pasti terjadi kecelakaan maut. Sejak kejadian itu, Cindy tak pernah lagi pulang mengenderai si Black, julukkan Cindy pada sedan mungilnya. Ia lebih baik menuruti bunda yang memang sudah makan asam garam kehidupan heu heu. Lebih aman pulang dengan naik travel, bisa tidur sepanjang jalan.
"Buka pagarnya ya Sis."
Cindy menyambar tas berisi dompet, handphone serta kunci mobil. Ia memeriksa dapur, dan semua ruangan, barulah ia keluar menutup pintu dan menyimpan kunci di dalam tas. Sementara Tria sudah membuka pintu pagar. Ia lihat Cindy membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Sesaat Cindy memanaskan kenderaannya, sembari memasang seatbelt. Memutar musik kesenangannya, mengatur suhu. Baru memundurkan si Black.
__ADS_1
Setelah berada di luar, Tria menutup pagar dan ia beranjak ke kenderaan yang menunggu. Cindy memajukan kenderaan meninggalkan rumah tersebut. Rumah itu berada di sebuah kompleks dengan pengamanan selama 24 jam. Mereka melewati pos dan membuka jendela. Penjaga tersenyum pada Cindy dan memberikan sebuah kartu.
Saat kembali ke kompleks harus memberikan kartu tersebut agar bisa masuk. Karena setiap enam jam ada pergantian petugas jaga.
"Mau jalan-jalan ya Non Cindy?"
"Iya nih pak, ngajak adik dulu menikmati kota Bandung hemm."
"Ok Non, hati-hati di jalan."
"Terima kasih pak."
Barulah mereka memasuki jalan besar dengan puluhan bahkan ratusan kenderaan yang memacu pergi ke suatu tempat. Kedua kakak adik itu mengobrol sembari memandangi keadaan jalan. Tak lama Cindy yang hapal tempat itu segera mencari tempat parkir. Mall berkonsep outdoor untuk hangout, tujuan yang pertama. Cindy mengajak Tria berjalan-jalan di suasana mall yang ramai tetapi tidak berdesak-desakkan. Cindy menyukai tempat ini sebab suasananya yang hangat, bersih dan nyaman untuk berbelanja.
Belanja pakaian dari berbagai brand terkenal sangat menyenangkan, H & M , Zara, berska, Uniqlo dan banyak yang lain. Tempat yang pas sekali untuk Tria yang menyukai dunia mode dan busana. Gadis remaja itu langsung terhisap perhatiannya oleh mode dan baju-baju.
"Bajumu udah banyak ngapain Sis, kita ke atas yuk."
Cindy mengajak adiknya itu ke lantai atas. Banyak tempat bermain dan spot foto, ada ice skating Rin Gardenice, wahana lainnya Skyfield yakni sebuah ladang dan tanaman seluas 2000 m. Terdapat kupu-kupu yang di isi dengan rarusan jenis spesies, hamparan taman bunga, area persawahan yang ditanami padi, kandang sapi perah hingga kolam ikan dan juga ada taman kura-kura. Mini zoo, taman bunga matahari dan air terjun. Buat yang suka nonton ada bioskop juga. Tempat yang sangat lengkap, ramah, ada persewaan mainan yang bisa di sewa. Sampai bingung mau milih yang mana.
Lelah menyusuri semua tempat, mereka menuju jejeran kafe-kafe. Cindy mengajak Tria beristirahat sambil menikmati minuman dan suasana kafe yang ceria oleh lagu-lagu.
"Tempat yang keren ya sis, nggak bosan, pasti sister sering banget kesini iya kan?"
"Nggak terlalu sering, hanya sesekali saja kok."
Minuman dan camilan yang dipesan telah terhidang, Tria langsung mencicipinya dan mangut-mangut keenakan. Dia masih teringat busana-busana yang dipamerkan di Departemen Store terbaik di Indonesia yakni Sogo Departemen Store.
Impian Tria adalah membangun pusat mode miliknya suatu saat nanti. Sebab itu ia sangat tertarik dengan detail toko serta penataannya, terutama busana-busananya yang dibuat oleh ahlinya. Ia merasa masih sangat lama untuk mencapainya.
Bersambung
__ADS_1