
Malam itu terasa berbeda. Tenang, dan panjang. Mardo dan Pat menunggu Papi dan Mami, tapi sangat lama. Keduanya mengantuk dan masuk ke kamar. Pat agak cerewet dan meminta tidur bersama Mardo. Gadis itu membiarkan saja. Pat tidur di sebelah dinding dan dia di pinggir. Mardo agak gelisah. Kenapa Papi dan Mami lama sekali? apakah terjadi sesuatu?
Berbagai bayangan berlintasan di pikirannya. Wajah Vana yang pucat, senyum dan suara tertawanya yang melengking. Lalu teringat Raka, saat pertemuan di bandara Zapman, kejadian buah manggga hingga kuda. Dan kejadian tadi sore. Setelah lama tak bertemu, terakhir di rumahnya saat pulang berlibur. Tadi sore itu yang lewat hanya mobil Raka, tidak yang lain. Hari sudah sepi. Dengan berani ia berlari ke jalan dan langsung menghentikan mobil yang pertama lewat. Raka sudah akan marah, tetapi ia melihat itu adalah Mardo yang panik karena temannya Vana pingsan. Demi Vana ia mengenyampingkan urusannya dengan Raka. Justru yang terjadi mereka banyak mengobrol dan bertengkar kecil-kecilan. Perasaan benci dan sebalnya sedikit demi sedikit terkikis dan memupus.
Hanya saja saat itu Mardo merasa dirinya masih sangat belia. Belum pantas untuk memasuki dunia tersebut, rasanya berkhianat pada orang tua yang sudah bekerja keras membiayai sekolah kita. Apa lagi ia memiliki sebuah cita-cita menjadi penulis dan mendirikan perusahaan penerbit. Kata Papi tidak ada cerita sukses jika kerjanya sudah pacaran. Yang banyak terjadi adalah kegagalan dan kehancuran. Sebab itu sebisa mungkin Mardo menghindari hubungan yang bisa menggodanya berbuat yang bisa menghancurkan masa depannya.
'Aku dan kak Mardo hanya akan berteman, begitu juga dengan Richi. Mereka berdua adalah teman baikku.
Mardo tersenyum oleh pemikirannya. Perlahan matanya memejam dan jatuh tertidur. Ia sangat lelah hari itu hingga nikmat sekali tidurnya. Napasnya dan Pat terdengar bergantian keluar dengan teratur.
Baru sekejap rasanya ia tertidur ketika mami membangunkannya. "Do, bangun Nak.Kita ke rumah sakit sekarang."
Sayup terdengar suara mami. Dan sepertinya terjadi sesuatu karena suaranya tak biasa. Serta merta Mardo bangun," siapa yang di rumah sakit Mi?"
Gadis itu bergerak cepat ke kamar abangnya Manggara, melihat Patricia dan juga kamar Papi. Mereka semua terlihat baik baik saja. Mami memandangi anak perempuannya. Ia tak sanggup menyampaikan berita itu. Baru saja bapak Vana menelpun mengabarkan berita yang membuat mami terhenyak. Mardo menatap mata mami, pandangan mereka bertemu. Mami memalingkan wajahnya menahan air mata yang meluncur. Ia tau hati putrinya akan hancur mendengar kabar tersebut.
Tadi malam, Vana dipindahkan ke rumah sakit karena kondisinya terus menurun. Ketika Papi dan Mami sampai di sana bertemu pak Malik yang wajahnya terpukul. Ia sedang mengusahakan Vana pindah ke rumah sakit. Karena perlengkapan klinik tidak memadai. Belum diketahui penyakitnya tetapi ketahanan tubuh Vana menurun dengan drastis. Papi dan Mami menemani Pak Malik memindahkan Vana hingga tiba di rumah sakit di pusat kota.
Hampir dini hari ketika Papi dan Mami pamit pulang. Pak Malik sangat berterima kasih atas dukungan dan perhatian yang tulus. Papi menggenggam jemari pak Malik dan mendoakan Vana sembuh seperti semula.
Hanya beberapa jam setelah itu, ketika terdengar suara pak Malik menangis di telpun.
"Anakku sudah meninggal, putriku yang cantik sudah tiada, Vana telah pergi, hiks hiks hiks."
"Innalillahi wa inna ilahi rojiun, yang sabar pak. kami segera kesana."
Papi bisa merasakan kehilangan yang amat sangat, mata Papi seketika berkaca-kaca oleh berita itu. Mereka ingin cepat-cepat pergi ke rumah sakit memberikan pelukkan kekuatan untuk laki-laki itu.
"Mi, ada apa? Mami menyembunyikan sesuatu?"
"Cepat ambil jaketmu, kita ke rumah sakit sekarang."
Mami bergegas, sementara Papi membangunkan Mangara dan menyuruh pergi ke rumah pak Malik.
"Ayo Mardo!"
Mami berlari menyusul Papi yang sudah lebih dulu di bawah. Azan Shubuh berkumandang memanggil untuk sholat.
Papi sangat tegang, ia merasakan apa kesedihan pak Malik, Sebab itu ia tak mau membuang waktu.
"Nanti kita sholat shubuh di sana."
Bisik Mami, tiba-tiba aku bisa menangkap sesuatu telah terjadi. Ini tentang sahabatku Vana.
Aku menangis terisak-isak, Mami menolehiku yang sendirian duduk di jok belakang.
__ADS_1
"Sabar sayang, ini kehendak dari Allah Swt."
"Oh Rabb, Vana! Vana!"
Mardo bercucuran air matanya, kenangan bersama Vana datang silih berganti, wajahnya yang mungil dengan senyum yang ceria. Kejadian di kapal. Ada apa dibalik kesedihan yang dalam.
"Vana, kamu kenapa secepat ini pergi? kenapa Vana?"
Air mata berderai lagi.
Hingga Papi menghentikan mobil di parkiran rumah sakit.
Setengah berlari ketiganya menuju ruang icu yang ditunjukkan oleh penjaga. Saat pintu dibuka, seorang laki laki terduduk lesu di sofa. Di depannya terbaring tubuh yang terbujur diam.
"Vanaaa!!!"
Bagaikan tersetrum, Mardo menjerit hesteris melihat tubuh Vana yang membeku.
"Van, ini nggak mungkin. Bangun Vana! bangun Vana!!!"
Mardo menangis sejadi jadinya.Ia tak bisa menerima sahabat baiknya telah tiada. Mami mendekat dan meraihnya ke dadanya. "Mami, suruh Vana bangun Mi, kita harus ke sekolah hari ini. Kita belum selesai membuat tugas, kita sudah janjian mau ke toko foto hari ini. Bangun Vana .hiks hiks hiks.'
Mardo memukul mukul tubuh mami dengan tangisnya yang hesteris.
Mami hanya bisa memeluk dan mengusapi rambut anaknya yang sedang shok.
Lalu menutup tubuh Vana dengan kain panjang yang Mami bawa dari rumah.
"Antar Vana dengan doa kita Nak, jangan menangis."
Bagaimana pun Mami menyuruhnya agar tak menangis, tetap saja air matanya berderai tiada terhentikan.
Persahabatnnya dengan Vana sangatlah dalam.
Kota Eksotik itu seperti terguncang oleh kabar berita yang disiarkan radio. Tentang meninggalnya Vana. Mereka semua terpukau mendengarkan radio kota eksotik. Tak ada yang percaya. Terutama teman teman sekolah Vana. Hati mereka dipenuhi tanda tanya, apa yang terjadi? Vana gadis yang hebat, selalu ceria serta kuat. Tak mungkin Vana secepat itu pergi. Berita yang menghebohkan kota eksotik.
Rumah Vana telah penuh dengan orang orang yang bertakziah. Manggara menyusun kursi kursi di halaman. Juga menyiapkan ruangan untuk menempatkan jenasah Vana. Ririen tak hentinya menangis. Ia memeluk adik adiknya yang masih kecil dan belum mengerti. Boni juga terkejut.Ia sempat terkesiap oleh berita itu.
"Nona Vana, kenapa torang pergi begitu saja?Nona tidak sayang adik adikkah? tidak mau merawat mereka? nona Vana kenapa nona pergi hiks hiks hiks."
Boni pergi ke belakang dan menyembunyikan air matanya.
Banyak kenangan yang telah teruntai bersama Vana.
Ia dan Vana bekerjasama memomong adik adik, berdua meredakan tangis, saat sakit dan rewel. Mereka saling membantu meringankan pekerjaan di rumah.
__ADS_1
Boni melihat kebaikan dan tanggung jawab yang besar dalam diri Vana.
Keadaan telah membuat Vana dewasa sebelum waktunya, ia menjadi ibu bagi adik adiknya di usia belia. Dan kini kesedihan Vana telah berakhir.Ia telah tenang bersama ibunya. Oh, Boni menghapus air matanya.
Teman teman Vana telah menunggu memenuhi halaman dan rumah. Raka dan Richi hampir bersamaan datang. Raka tak kalah terkejut mendengar berita itu. Karena ia yang menggendong Vana ke klinik. Ia memikirkan Mardo yang pasti sangat kehilangan. Di mana gadis itu?
Baru saja ia memikirkan Mardo ketika mobil mobil dan ambulan masuk ke halaman. Vana! suara sahabat sahabat memanggil namannya, air mata mereka menetes mengenang sosok Vana yang ceria.
Semua mata memandang berdegup saat jenazah Vana di angkat ke dalam rumah. Mangara serta Boni sudah menyiapkan tempat di ruang tamu. Pak Malik berjalan dengan wajah menunduk, Ia menggendong salah satu anaknya sedang yang lain di sisi kiri dan kanannya. Di belakangnya pak Malik berjalan Mardo dan Mami juga Papi.
"Mardo! apa yang terjadi?"
Richi berusaha mendekat, namun Mardo terus saja berjalan mengiringi jenazah Vana masuk ke rumah. Raka sudah di dalam menyambut bersama Manggara dan Papi. Keadaan sangat mengharukan. Pak Malik lagi-lagi menangis ketika anak-anaknya yang masih kecil berlarian menyongsong dan menangis melihat tubuh kakak mereka Vana yang diam tak bergerak . pak Malik terlihat sangat terpukul. Ia tau penyebab kepergian Vana adalah karena sikapnya. Pak Malik tak hentinya meneteskan air mata. Ia menyesali yang telah terjadi. "Maafin Papi Vana, maffin papi sayang. Papi yang salah. Papi yang menyebabkan dirimu meninggal, ya Rabb ambil nyawaku juga, kenapa Kau ambil anakku , kenapa bukan nyawaku? hiks hiks..
Semua larut dalam kesedihan, Mardo meraih jemari seseorang di sampingnya. Ia tau itu adalah jemari kak Raka.
Entah kenapa ia ingin menyalurkan perasaannya yang kehilangan dan kesedihan yang raya. Ia merasa melemah
dan kembali terisak, menyandarkan kepalanya di lengan seseorang. Raka merasakan jemari yang halus dan lembut menyentuh jemarinya. Ia serta merta mengenggam jemari itu, membiarkan lengannya menjadi tumpuan
kepala gadis itu.
Richi melihat adengan itu, dan ingin berteriak bahwa itu bukan dirinya melainkan Raka kakaknya. Mardo pasti tak sadar dan menyangka itu adalah Richi. Karena sebelumnya Richi berjalan di sisinya. Namun ia sempat terhalangi saat akan masuk ke dalam.
"Sabar ya Do, Vana sudah tenang sekarang. Ia sudah tak sakit lagi."
Sembari mengusap lembut bahu dan rambut gadis itu.
Mardo merasakan nyaman dalam pelukkan itu, dan ia membiarkan rambutnya di usap lembut. Ia kuatkan jemarinya menaut di jemari Raka. Keduanya saling menautkan jemari dengan erat.
Do! Mardo!
Richi memanggil dari sebrang, tapi Mardo tak mendengarnya.Ia bagai tenggelam dipelukkan Raka.
Betty mengurusi adik-adik Vana yang menangis oleh perasaan mereka yang peka. Betty, Zamzam, Rose serta Sarah Lee, membantu hingga pemberangkatan Vana ke peristirahatan yang terakhir.
Selamat Jalan sahabat kami tercinta, Tuhan begitu menyayangimu.
Bersambung
__ADS_1