
Senin sudah datang lagi. Ara menghitung hari hampir tiga bulan Cindy dan Fani belum juga ada tanda-tanda berbaikan. Lingkaran merah, kuning, hijau di kalender membuktikan kenyataan itu.
'Ohh my God, apa yang musti Gwe lakuin, dua orang muslimah bermusuhan! bukankah sebaiknya kalau bermusuhan cukup tiga hari saja? aduhhhh.'
Ara menepuk-nepuk jidatnya pertanda sangat resah dengan dua orang yang keras dan egois.
Glek! bersamaan dengan menelan liur, Ara melihat kalender lagi dan di sana ada tanda ulang tahun...hemmm
jadi minggu ini ada tiga yang ulang tahun, dan ketiganya orang yang cukup penting di kelas.
Yang pertama namanya Aley walau tubuhnya gemuk tapi memiliki senyum manis dan lesung pipit di kedua pipinya dan dia lucu. Lalu Ulum, anak yang agak unik. bertubuh tinggi berisi, jago olah raga tapi kalau bicara bikin orang senyum-senyum akibat logat sundanya yang medok, kalau sudah berbicara alamat semua anak-anak terpana karena ganteng-ganteng gayanya persis pak RW...Diantos sok atuh aja khilap pilih Ulum anak 3A.
Lantas yang ketiga Delon, he he he namanya mirip penyanyi Idol di tivi. Dan memang punya kebisaan hampir sama
dengan Delon asli, kebanggaan sekolah, karena beberapa kali menang lomba nyanyi pop antar sekolah.
'Waduh tiga orang ultah sekaligus, bisa-bisa miskin mendadak nich.'
Pikir Ara membayangkan dompet yang harus mengeluarkan beberapa rupiah untuk persahabatan nan indah dan abadi.
Di pintu gerbang sekolah Ara ketemu Cindy yang segar wangi.
" Wiihhh tumben jam segini dah nyampe sekolah."
" He he he iya nih, habis kata bunda udah kelas tiga harus berubah, nggak baik telat terus apa lagi anak perempuan nanti rezekinya di sambar ayam."
" O, gituh yaa hubungannya apa sama sering telat?"
Ara Nggak ngonnect padahal Cindy juga asal jawab.
" Tanya aja sama rumput yang bergoyang."
Uch_mereka berlarian ke kelas.
Di kelas ada Eddy, cowo berjerawat batu he he he...jerawatnya gede-gede sebesar batu gituh, makanya anak-anak ngasih nama Eddy si jerawat batu. Cindy mendekat dan duduk di depan meja Eddy.
"Minggu ini yang ultah tiga orang ya Ed?"
"Hemmm."
Eddy nengok Cindy sekilas, soalnya lagi asik memindahkan catatan.
" Tenang aja Cintah, kita anak-anak udah punya rencana buat ketiga anak itu, tunggu aja tanggal mainnya."
Eddy mengedipkan mata, tanda-tanda akan membuat momen yang tak terlupakan oleh anak yang ultah.
"Lu jangan ikutan manggil cinta Ed, Gwe getok pala lu mau?"
Edy terkekeh, "Biarin napa Cintah, dah kebiasaan susah di rubah."
"Alah!"
"Kita bikin acara ngerjain masal ya he he he, salah sendiri napa tanggal lahirnya sama yak."
"Jahat Lue ya, nanti giliran sendirinya dijahati mau?"
Eddy tak membalas, ia malah pergi entah kemana
Maret tanggal 5 akhirnya hari itu datang juga, semua anak-anak 3A sudah tau rencana ulang tahun masal, Alay, Ulum dan Delon. Mau nggak mau semua musti ikut ambil andil dalam acara ini.
Pagi-pagi ketika Alay masuk kelas sembari senyum-senyum geer, kayaknya bakal ada 39 sapaan dan ucapan selamat ultah nich. Alay membayangkan sejak di gerbang sekolah. Tapi kok pada sepi gituh yaa? sama sekali nggak ada yangmnanggepin kedatangannya, bahkan senyumnya tak berbalas.
Glek! masa gituh seh, bukannya semua anak-anak sudah saling tau masing-masing hari ulang tahun, ohh...kejamnya.
Tapi Alay tidak kecil hati, ia tetap melebarkan bibir dan menyapa teman-temannya.
__ADS_1
"Coi, coiiii eke punya tebak-tebakkan nich?" Berusaha menarik perhatian
Apaan sih?
"Nih coba tebak, Pohon apaan yang kalau kita berteduh di bawahnya kita bisa mati?"
"Hayooo yang ngaku pintar coba tebak."
" Pasti pohon kelapa, ketiban buah kelapa trus mati."
Ada juga yang nanggepin Alay.
"Salah, siapa lagi?"
"Pada nyerah ya? gituh aja pada nggak tau payah!!!"
Apa sih?
"Pohon teratai ha ha ha."
Anak-anak malah mencibir.
"Kalian pada napa sih? tumben ginih, biasanya juga pada ngocol, heran Gwe mah."
Alay masukkin tasnya dan bergegas pergi, dia papasan sama Icha, demenannya.
"Cha buruan keluar nyusul Gwe ya, anak-anak lagi pada aneh."
"Ihh yayang Alay, yang aneh itu yayang Alay tau."
Icha toel pipi Alay centil. Jadi deh Alay kheki abis.
Hari ini benar-benar penyiksaan untuk Alay, Ulum dan Delon.
Di kantin, Alay ketemu Ulum dan Delon.
Tanya Alay, barangkali cuman dia yang sentimenin sama anak-anak sekelas.
"Belum tuh, kayaknya nggak ada yang ingat ultah kita bertiga cowo cakep dan keren, kecewa berat Gwe juga nih."
Delon kesal
"Gwe juga heran biasanya cewe-cewe ngejar-ngejar gwe, sekarang pada kemana?"
"Ngejar nagih utang yak, makanya Lon, hidup seadanya jangan suka minjam ama cewe."
"Gila loh mah, yang ada mereka yang minjam Lay."
Ulum dan Alay bisanya garuk-garuk kepala.
"Iya najiss, gwe dicuekin abiss. Mulut Gwe sampe berbusa ngasih teka teki, eh satu aja pada ngga ada yang jawab."
"Lo aja tebakan nggak lucu sih."
"Wu kata sapa ira? ni coba tebak? apa beda semut sama nenek-nenek?"
"Gampang itu mah, semut bisa ngerayangin nenek-nenek tapi nenek nggak bisa ngerayangin semut paling bisanya kesemutan doang ha ha ha."
"Wahhh ngeres bae ira mah Lon, bukan itu tau!"
Ulum mendorong kepala Delon.
"Nich dengarin jawaban Ulum, kalau nenek bisa kesemutan, kalau semut mana bisa kenenek-nenekan."
"Ha ha ha ha pintar dikau Lum."
__ADS_1
Ketiganya melupakan rasa kecewa dengan tertawa dan bercanda.
Anak-anak yang sejak pagi menahan segala sesuatu dengan Alay, Ulum dan Delon siap-siap memulai penyiksaan
mereka. Kebetulan setelah bel istirahat terakhir guru berhalangan. Ia hanya menitipkan catatan kepada sekretaris kelas. Untuk menyingkat waktu catatat tersebut di potocofi dan dibagikan. Jadilah mereka memiliki waktu yang panjang untuk merayakan ultah tiga cowo culun.
Eddy disuruh oleh anak-anak mencari Delon, Ulum, dan Alay yang belum masuk kelas. Ketiganya merajuk sebab anak-anak sekelas melupakan ultah mereka. Eddy mendapati ketiga anak tersebut sedang misah misuh di kantin.
"Ngapain lue kesini Dy? sana balik aja ke kelas."
"Ada pengumuman penting mengenai uan, memang nggak mau tau?"
"Serius Loe, bukannya nggak ada guru hingga jam akhir?"
"Ada, terserah lue pada deh."
Eddy berusaha membuat penasaran ketiga anak itu. Akhirnya Delon, Ulum, Alay bergegas ke kelas.
" Siap mereka datang?"
Kebetulan Alay, Ulum dan Delon masuk kelas barengan jadi tanpa tedeng aling-aling ketiganya kena tumpahan
air yang disangkutkan di pintu.
"Wauuu apaan nih wahhhh basah!!! basahhh."
"Hore, selamat ulang tahun Delon, Alay, Ulum! sehat selalu, banyak rejeki, lulus uan."
Sorak-sorak disertai kertas warna-warni yang dihamburkan kepada ketiganya. Belum lagi sempat mengambil napas. Beberapa anak laki-laki menyeret mereka ke pojok, dibukai baju dan celananya dan dipakaikan jubah ulang tahun, serta mahkota lengkap dengan selendang di sampirkan di dada. Ketiganya di dudukkan di sebuah tempat. Yang lain menaro meja di depan mereka. Sekejap berikutnya kue ulang tahun telah berada di depan mereka.
Sabrina yang dikenal kenes kayak Syahrini maju dan terlebih dahulu menyembah, lantas mengucapkan kata-kata yang membuat anak-anak sakit perut.
"Bhaginda, shelamat ultah ya, sehat selalu, banyak duit, lulus uan, silahkan ditiup lilinnya, karena dayang-dayang akan memberikan hadiah tarian boneka dari India."
Ketiga anak yang ultah itu meniup lilin bersamaan nyanyian ultah dan happy birthday. Memotong kue dan saling menyuapi.
"Enak! enak nih! kasih yang paling enak dia!"
Delon menunjuk Alay, dan Plak! sepotong kue mendarat di pipi Alay! mereka tertawa terkekeh. Plak! Alay menaro potongan kue di muka Delon dan juga Ulum. Kembali semua tertawa.
"Mari kita saksikan hadiah ultah untuk bagindah, genx anak enam, memberikan hadiah sebuah tarian boneka dari India, Alay, Ulum dan Delon terkekeh oleh aksi Wani, Friska, Salsa, Heni, Dea dan Irgi, benar-benar ngocol.
Terus genx anak laki-laki, pokoknya semua anak-anak giliran membuat Alay, Ulum, Delon sakit perut karena ketawa oleh ulah anak-anak satu kelas. Benar-benar gila dan tidak ada jeda. Macam-macam tingkah dan lagu-lagu yang mereka bawakan.
Parah! benar-benar nggak ada malunya. Diakhiri genxnya Cilia dengan lagu perawan lagi dari lagu Melangkah lagi.
"Aku perawan lagi lewat operasi plastik, nggak kemahalan."
Macam-macam gaya dan kekonyolan anak-anak di depan Alay, Ulum dan Delon. Sampai mereka semua menatap
pada Ara, Cindy dan Fani.
Cindy langsung menekap mulut, dari tertawa panjang. Semua anak memandangi gadis itu, bergantian pada Ara serta Fani.
Baikan nggak ya? makasih pada kehadirannya ya, othor sangat berterima kasih.
Jangan lupa beri like, komen, bintang lima dan votenya. Othor sangat berterima kasih.
__ADS_1
Bersambung