Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 242.Rakasiwi Menjauh


__ADS_3

Laki-laki itu berdiri memandang jauh ke depan. Ia berusaha menghilangkan sakit yang ia rasakan. Sejauh ini belum ada yang berubah. Ia masih yang dulu. Tapi Prita yang berubah sangat banyak. Tak lagi sederhana dan manis. Ia dengar Prita mendapat jabatan yang tinggi di perusahaan. Penghasilan besar dan sekarang ia mengenderai mobil mewah.


Ia mau bilang pada Prita bahwa laki-laki bosnya itu bersama seorang perempuan. Prita tak boleh mengharapkannya. Ia ingin bertemu perempuan cinta pertamanya itu tetapi ia tak sanggup mengungkapkan betapa ia ingin  memperbaiki semuanya. Ia takut kehilangan Prita.


Rakasiwi meremas-remas jemarinya. Rambutnya tertiup angin laut. Sejak lama ia berada di tepi pantai itu. Berusaha meredakan kemarahan, cemburu dan sakit yang ia rasakan. Ia berharap Prita menghubungi dan mengatakan sendiri yang terjadi. Tapi tak dilakukannya. Rakasiwi menendang sebuah batu kecil hingga terlempar ke laut.


"Sebaiknya aku menjauh, biar dia menikmati kebahagiaannya."


Ada kepedihan dan tak rela saat ia mengucapkannya. Tetapi perasaan kecewa serta sakit hati membuatnya mengambil keputusan itu. Rakasiwi memasuki restoran dan memesan minuman.


"Baiklah nikmati keberadaanmu sekarang ini Prita, lupakan aku."


Rakasiwi langsung meneguk minumannya begitu pramusaji meletakkannya di hadapannya. Sampai-sampai si pelayan tercekat, haus ya? ingin ia mengomentari sikap Rakasiwi. Tetapi melihat wajah yang dingin serta membara ia melupakan maksudnya dan pergi.


Tiba-tiba Rakasiwi ingat  seorang gadis di kantornya. Melina Halim. Ya dia teringat gadis itu. Tak kalah cantik jika dibanding Prita. Melina adalah manager marketing di cafe Pria Idola miliknya. Gadis itu mungil, lincah serta cekatan. Ia memiliki bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibirnya mungil. Saat pertama Rakasiwi melihatnya ia sempat terpukau satu saat.  Gadis yang cantik dan menarik. Tetapi ia sudah memiliki Prita di dalam hatinya. Ia mengacuhkan gadis itu. Hubungan diantara mereka hanya hubungan pekerjaan, bukan yang lain.


Tetapi sekarang Rakasiwi berpikir lain. Ia akan menjauh dari Prita. Itu yang terakhir ada di dalam pikiran Rakasiwi. Setelah itu ia pulang dan mengurung diri di kamarnya. Sementara Prita menulis pesan pada Mardo.


'Bunda, kalau tak sibuk besok Prita mau traktir makan siang, bisa kan bunda? tempatnya terserah bunda saja.'


Prita menunggu, sekilas bayangan pria idolanya. Gadis itu tersenyum. Biarin deh marah, yang penting tetap dekat sama bundanya Rakasiwi.


Tak lama terdengar bunyi notifikasi wa masuk.


'Wah, banyak rejeki ya Prita? ok besok Bunda ada di kantor. Kita makan siang di rumah makan daerah Pasar Minggu, kata teman enak  di sana. Bunda mau cobain gimana?'


Prita tersenyum, ia sangat senang sebab Mardo menanggapinya cepat dan memberi tahukan tempat makan yang diinginkan.


'Ok Bunda, Prita nurut aja, nanti Prita nyamper Bunda ke kantor ya.'

__ADS_1


Agak lama tapi akhirnya di jawab Ok.


'Terima kasih Bunda, sampai jumpa lagi.'


Gadis itu merasakan kebahagian yang belum pernah ia rasakan. Banyak uang, karier, kenderaan, ia memiliki semuanya. Serta rasa syukur teramat sangat sebab Rabbnya telah mengabulkan semua doa-doanya. Ia sekarang bisa memberikan apa saja pada Mama Risa mamanya. Prita membiarkan mama bahagia. Setiap kali menerima gajinya ia berikan sebagian pada mama. Terserah mamanya mau masak atau membeli apa saja. Saatnya gembira dan bahagia.


Dirinya mungkin juga berubah. Sekarang Prita mengenakan baju-baju modis, high heels dan berganti-ganti tas. Ia juga sudah mengenal salon perawatan kecantikan dengan menjadi member disebuah klinik kecantikan bernama emerald. Dua hari yang lalu ia dan Elsa mendatangi tempat itu untuk berkonsultasi mengenai riasan ke kantor. Dokter kecantikan di sana merias Prita dengan bahan-bahan racikkan sang dokter.  Setelah memeriksa jenis kulit gadis itu. Hasilnya Prita terlihat berbeda, riasan yang membuat Prita lebih memancarkan aura wanita muda yang penuh gairah kehidupan. Ia juga merapikan rambutnya yang sepundak, hingga rambut itu menjadi lembut tergerai indah.


Prita dan Elsa melakukan spa hingga tertidur. Tubuh mereka dipijat serta diberikan krim yang wanginya lembut. Setelah melakukan perawatan tubuh terasa lebih rileks dan segar. Wajah menjadi berseri-seri.


"Untuk wanita muda yang bekerja  riasan itu sangat perlu. Agar lebih kelihatan cerah dan energik. Pencahayaan di kantor juga berbeda dengan di luar. Kadang membuat wajah menjadi pucat. Sebaiknya memakai foundation, blush on yang tidak berlebihan."


Konsultan kecantikannya mencontohkan riasan ke kantor yang tidak mencolok dan ribet. Sesekali tidak ada salahnya menggunakan lipstik warna terang yang menarik perhatian. Lipstick warna terang cocok bagi seseorang yang memang kerap berbicara di depan, atau mempresentasikan sesuatu. Prita setuju, ia membeli semua perlengkapan riasan wajah ke kantor. Dan menyingkirkan benda-benda riasan wajahnya miliknya yang telah lama dan tak lengkap.


Jadi memang Prita sekarang bukan yang dulu. Ada sebuah perubahan, Prita memantaskan diri. Tetapi secara pribadi Prita tak berubah, ia tetap baik hati, pendengar yang baik, serta tanggap di situasi apa pun. Hanya orang yang tidak  mengenalnya melihat perubahan gadis itu menuduh ia berubah dalam tanda kutip jelek. Untuk hal seperti itu Prita tak perduli. Dulu saja banyak orang tak menyukainya  dalam keadaan susah dan kepayahan. Apa lagi sekarang, saat ia memiliki banyak uang dan karier yang gemilang. Omongan miring tentang dirinya, bibir serta mata sinis tertuju padanya. Prita tak menanggapi ia berprinsip, meski anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.


Tiba-tiba kepala Boy muncul di pintu ruangannya. Prita terkejut, dia sudah membuat janji dengan bunda Mardo, ich membuatnya kesal.


"Ngga bisa, pak Boy saja sendirian, saya sudah terlanjur ada janji dengan seseorang yang sangat penting."


Boy membesarkan matanya.


"Janji dengan seseorang yang penting? siapa? "


"Pokoknya ada, dari tadi malam kami sudah membuat janji, please jangan sekarang."


"Kau ini, ya sudah sana pergi dengan orang pentingmu, jangan lupa target perusahaan ya."


Prita memijat kepalanya yang tak sakit dan tak gatal,

__ADS_1


"Kapan perusahaan tak memiliki target?"


Rupanya Boy mendengarnya, ia kembali menonggolkan kepalanya di pintu ruangan gadis itu.


"Kalau target sudah terpenuhi,"


"Ah, setelah terpenuhi nanti ada target baru yang lebih besar lagi."


"Memang begitu!"


Akhirnya Prita diam. Kalau ia menjawab, maka pak Boy akan mengoceh, dia   akan terus memiliki jawaban untuknya sepanjang rel kereta api. Tak tahan pokoknya. Yang penting bosnya itu sudah memberi ijin. Ia lebih baik bersiap-siap sekarang. Takut pikiran pak Boy berubah.


Begitu jam istirahat tiba, Prita berlari-lari kecil meninggalkan ruangannya. Boy yang juga terburu keluar dari ruangannya melihat sosok Prita yang masuk ke dalam lift. Boy tersenyum.


"Dasar!  jadi sok sibuk sejak dikasih mobil. Kenapa dia tiba-tiba bisa menyetir ya."


Boy mengeleng-gelengkan kepala.  Laki-laki itu tidak tau, setelah Prita mendengar tentang fasilitas kenderaan yang akan diberikan padanya. Otak Prita langsung memikirkan tentang belajar menyetir. Dua hari saja ia menguasai tehnik mengenderai mobil yang benar dan aman. Untuk memperlancar ia pernah meminjam mobil milik Elsa, juga sempat dua kali rental mobil. Sebegitu seriusnya Prita dengan keinginannya.


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2