Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 31.Raka Bramantyo


__ADS_3

Raka berjalan menuju kapal Watam pone. Di samping kiri dan kanannya ada Deni dan Sammy. Sesekali mereka saling  bicara. Raka melihat ke atas kapal. Banyak penumpang yang bersandar menatapi pelabuhan Merauke.


"Raka! lihat pemujamu tuh, jangan sok acuh,"


Raka baru menyadari tangan-tangan yang melambai kepadanya. Kapal penuh, oleh remaja-remaja yang pulang berlibur. Setiap tahun seperti itu. Raka biasanya mengacuhkan gadis-gadis itu. Tapi kali ini ia membalasnya.


Membuat gadis-gadis itu hesteris kesenangan. " Oh, so sweet dia balas memlambai."


"Dia sudah membuka diri, tidak angkuh dan sombong lagi, syukurlah.


Gadis gadis seperti tak percaya,  "Coba kita lambai lambai lagi."


Kembali gadis gadis melambai dan memanggil namanya. Raka mendongak, tersenyum dan membalas melambai.


"Benar! dia tersenyum dan balas melambai! dia tidak sombong lagi mo, dia mau balas kita punya lambaian ya Tuhan. Dia sangat ganteng dan keren."


Kumpulan gadis gadis itu tertawa dan berlompatan saling peluk. Harapan bermekaran dalam hati masing masing. Lantas entah siapa yang memulai mereka berlarian ke dekat tangga seolah menyambut seorang aktor.


"Raka! Raka! Raka!."


Gadis gadis itu menyebut namanya. Raka Raka Raka!!! Bersahut sahutan. Ternyata di bagian atas juga ada gadis gadis yang memanggil manggil.


Semula Mardo sudah akan beranjak ke kamar. Namun mendengar suara suara tersebut ia menahan langkahnya. Ia melihat di bawah Raka yang sedang bergegas ke atas kapal. Melambai pada gadis gadis dan tersenyum. Mardo mengercitkan keningnya. Ada apa? kenapa gadis gadis memanggil manggil seperti itu?.   Oh yaa bukankan saat pesta remaja kota Eksotik. Saat Raka hadir, gadis gadis juga menyebut dan memanggil namanya.  Begitu Populernyakah cowo itu?  Mardo ingin memanggil teman-temannya.   Tapi mereka pun terpana dan terpaku di tempat. Pandangan semuanya terarah pada Raka dan temannya.  "Vana! ke kamar yuk." Tapi cewe itu tak mendengarnya. Bak terhipnotis. Yang lain sama saja.   Bahkan Halima Haremba dan Sarah Lee. Mardo geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya.


Saat Raka telah naik dan mendekati kumpulan gadis gadis tersebut,  semakin riuh dan ramai.


"Raka! Raka! Raka!


Mereka mengikuti Raka. Sampai akhirnya Deni menahan dan mengusir gadis gadis. "Sudah sudah! nanti Raka buat acara di kapal. Tenang aja.  Sekarang bubar! kembali ketempat masing masing. Atau kalian mau Raka marah dan membenci kalian?"

__ADS_1


Gadis gadis langsung terdiam. Satu yang paling cantik dan sepertinya berpengaruh cepat cepat bicara,"Iya baik  kami menunggu undangannya ya.  Kami bete berhari hari dari kapal,  tidak ada hiburan.Hanya nonton dan nonton tivi lagi, bosan."


Deni mengangguk anggukkan kepalanya.  Lalu menghalau gadis gadis.


Sudah menjadi kebiasaan setiap kali liburan sekolah.Banyak gadis gadis meninggalkan kota eksotik.  Mereka berlibur ke kota Jakarta, Surabaya, Bandung dan sebagainya. Gadis gadis itu pergi berkelompok kelompok. Naik kapal laut atau pesawat.   Bukan cuman gadis gadisnya, tapi juga pemudanya. Kota  sepi dan lenggang. Padahal begitu indah, elok dan eksotik kota tersebut.   Laut yang mengelilingi kota,  pantai pantai berpasir putih yang lembut dan cantik. Hutan belantara yang dihuni berbagai flora dan fauna. Kebun Pala berhektar hektar. Hingga kota itu disebut juga kota Pala.    Banyak penduduk yang membuat manisan buah pala. Tapi rupanya semua hal tersebut tidak dipandang oleh penduduknya.  Tiap kali ada kesempatan pastilah mengambilnya untuk pergi keluar. Bagi sebagian orang, kota eksotik itu mengurung diri mereka di dalam kota.  Karena kota tersebut di kelilingi laut. Kemana saja pergi yang terlihat hanya laut.


Usai liburan barulah kota tersebut hidup dan meriah. Gadis gadis dan lajang mulai berseliweran. Bioskop buka, plaza mulai ramai,  tempat tempat jajan pun selalu penuh oleh gadis gadis dan pemuda.Canda ,tawa,  sendau gurau terlihat di mana mana.  Pantai di senja hari menjadi tempat menghabiskan hari.  Di kota itulah sepuluh tahun yang lalu Raka dan Richi di besarkan. Dua anak yang cakep dan memiliki aura menyenangkan. Yang besar yakni Raka adalah kebanggan Papi. Seringka li mengajak anak sulungnya itu ke pertemuan pertemuan bisnis. Mengajak berdiskusi dan memperlihatkan semua apa pekerjaan Papi dan kepunyaan Papi.  Di usia yang muda Raka tumbuh menjadi pengusaha seperti yang Papi impikan dan harapkan. Raka bisa mengelola keseluruhan bisninya dengan baik. Tanggung jawab yang diberikan Papi tidak sia sia. Mewakili Papi keberbagai pertemuan bisnis mulai dari tingkat daerah,  pusat hingga luar negeri sudah pernah ia lakoni. Ia berteman dengan banyak pengusaha pengusaha dan berkomunikasi baik dengan teman-temannya.  Pintar, smart, matang serta berpengalaman. Dialah Raka Bramantyo.


Richi lebih kepada penghibur lara setelah bekerja membanting tulang. Melihat Richi yang mungil  rasa lelah Papi menghilang. Papi hingga saat ini masih menganggap Richi bocah kecil yang menggemaskan. Papi peluk dan angkat ke atas kepalanya. Baru tersadar kalau sekarang bocah kecil kesayangan sudah menanjak remaja. Papi tak kuat lagi mengangkatnya, selain itu bagi Papi  Richinya masih bocah kecil.


 


Kata dokter, mami tak bisa hamil lagi setalah melahirkan Raka, Tetapi saat Raka telah besar mendadak Mami hamil lagi, Richi hadiah terindah yang mereka terima. Jarak usia yang jauh  membuat Raka telah matang dan dipersiapkan menjadi seorang kakak. Mami dan Papi menunjukkan betapa  kecil dan tak berdaya  bayi Richi.


Sebagai seorang kakak  ia adalah pelindung adiknya, penjaga terbaik. Jadilah Raka sangat menyayangi


Raka meletakkan barang-barangnya, ia berpaling ke pintu melihat kepala Deni muncul.


"Apa kau ikut ke restoran? kami merasa lapar."


"Kalian duluan saja, aku mau menyegarkan diri terlebih dahulu."


"Baiklah, kami menunggumu, jangan telat makan kesehatan itu penting."


"Yup, tumben mengingatkan!"


Deni tersenyum, "Karena dompetku dan dompet Sammy kosong, akibat kalah bermain di arena kemairn malam,"


Hemmm, dasar!

__ADS_1


Raka, cemberut, dikira perhatian ternyata  ada maunya.


Tentu seringnya seperti itu, Raka tak akan tega menolak  jika itu datangnya dari Deni dan Sammy.


Tak lama Deni dan Sammy akan mengucapkan hal yang sama selama bertahun-tahun.


"Terima kasih ya, karena sudah menyelamatkan hidupku, kau sungguh seorang pria Idola dan sejati."


"Tapi!'


"Tidak ada tapi!, kau sudah menunjukkan bahwa kau benar-benar pria Idola, so sekarang jadilah  pria idola jangan  membantah."


 


Hemmm, mereka memojokkan aku untuk menjadi pria idola untuk kepentingan mereka, sampai kapan aku mengurus mereka? kuharap mereka cepat menikah sehingga bebanku berpindah ke istrinya.


Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum samar. Ia meraih handuknya dan berjalan ke kamar mandi.


Ia tadi bangun kesiangan karena  pesta  dan cemburu melihat adiknya yang berdansa dengan Mardo.


Raka berpikir sepanjang malam, apa yang harus ia lakukan? Ia sebetulnya ingin semua tau ia telah jatuh cinta pertama kalinya pada Mardo.


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2